In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
Sebagai salah satu pengajar fotografi di sebuah sanggar di Bukit Duri, Adrian Mulya memiliki kenangan tersendiri dengan lokasi tersebut. Ketika terjadi penggusuran di lokasi itu beberapa waktu lalu, Adrian mengunjungi kembali lokasi untuk merekam momen-momen terakhirnya di sana.
Pada Column kali ini, Febrina Anindita mencoba membahas momen yang awalnya hadir sebagai inspirasi dibalik fashion, kini terbayangi oleh penilaian orang terhadap fashion.
Melalui open column, Audry Rizki mengirimkan tulisan fiksi yang berkisah mengenai kejadian dibalik sebuah pesta keakraban. Melalui kisahnya, Audry mendedah mengenai kultur kampus, etos DIY, konsepsi masyarakat dan budaya bersenang-senang.
Pada esainya kali ini, Febrina Anindita menulis tentang bagaimana musik bergenre trip hop memiliki kemampuan untuk membuka pintu menuju ruang eksplorasi yang luas untuk mencapai level spiritual. Dengan mengambil contoh lagu-lagu dari Portishead, Febrina mencoba untuk menjelaskan bagaimana trip hop mampu menuntun pendengar untuk mengeksplorasi emosi yang biasanya dikesampingkan.
Dalam columnya kali ini, Muhammad Hilmi mengulas rilisan kedua dari Elevation Books yang berjudul, "Setelah Boombox Usai Menyalak". Berisi kumpulan tulisan Ucok yang lebih dikenal sebagai pentolan grup hip-hop seminal, Homicide, tulisan ini melihat bagaimana Ucok menyerang segala hal yang bertentangan dengan pendiriannya, tak terkecuali dirinya sendiri.