In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
Tiada habisnya jika bicara bahasa, terutama Bahasa Indonesia yang terus berkembang dan merespon waktu. Berangkat dari isu spesifik, yakni estetika dan makna dalam kata tertulis, Febrina Anindita membahas fenomena dalam bahasa untuk mengerti tren penyampaian pesan yang kini marak digunakan.
In this essay, Jo Elaine conducts an imaginary conversation with celebrated Japanese author, Haruki Murakami to illustrate the personal relevance of literature on ordinary, everyday lives.
Dari Pinkshinyultrablast sampai Radiohead, Muhammad Hilmi meretrospeksi rilisan musik dari berbagai genre, dimulai dari Shoegaze, Hip Hop, hingga Hardcore. Baca bagaimana Danny Brown mencampurkan berbagai gaya musik ke dalam karyanya, dan bagaimana Leonard Cohen masih salah satu penulis lagu terbaik sampai era sekarang di dalam Column ini.
Dimulai dengan penggunaan kata "menarik" dalam mendeskripsikan karya fotografi, Ridzki Noviansyah mengangkat topik bahasa yang dipakai untuk mengkritik sebuah karya. Kosa kata, gambar, dan referensi menjadi titik awal sebuah Column dimana Ridzki ingin memperkaya opini dan perspektif dalam mengkritik fotografi.
Melalui program Open Column, Jejen Jaelani menyampaikan isu mengenai pergeseran nilai permukiman di pinggir kali yang diwarnai oleh ideologi kapitalisme dan konsumerisme. Adanya representasi yang muncul atas peristiwa tersebut telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap nilai permukiman.
In this Open Column submission, Debora Irene Christine writes about freedom and nationality in Indonesia that have been vaguely interpreted by its people. Debora reveals how we’ve been living in utopian world and hopeful to the idea of freedom in the current sociopolitical condition of Indonesia.