In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
Berawal dari kejenuhan tinggal di Ibu Kota yang segalanya serba ada dan tidak ada tantangan, Mutiara Sobary memutuskan untuk pergi ke Palu, Sulawesi Tengah; berbekal buku untuk anak-anak yang akan disumbangkan untuk menjadi relawan pengajar di Skola Lipu guna mengedukasi Masyarakat Adat Tau Taa Wana yang tinggal di hutan,di wilayah Morowali Utara.
Di submisi Open Column-nya, Nadya Hari Putri menulis tentang kerinduannya mendapatkan kesempatan terakhir untuk menikmati hidup di kala ia - sang penyamun - dirundung kejamnya realita.
Jo Elaine conducts an imaginary conversation with the now deceased literary genius David Foster Wallace to prevent herself from spiraling into mental inertia.
Di submisi Open Column-nya, Intan Zariska Daniyanti menulis mengenai frase "Insya Allah." Apa asal usul frase ini? Seperti apa pemakaian sehari-harinya? Baca mengenai arti dan pemakaiannya pada artikel ini.
Dimulai dengan menyantap pizza, Nabilah Basuki menulis mengenai autentisitas dan kesederhanaan makanan asal Itali ini sebelum menjelaskan bagaimana dua karakter tersebut membentuk pola makan dan mempengaruhi kualitas kesehatan penikmatnya. Selamat membaca submisi Open Column ini!
Di "Surga dan Hipokrisi Kita," Muhammad Hilmi merenungkan retorika agamis yang sering dipakai kali sebagai alat menggerakan massa. Berlabuh pada pemahamannya mengenai ajaran Islam dan pengalaman pribadi, Hilmi memberi kritik pemakaian agama dalam mengesahkan pesan-pesan dan gerakan intoleran.