Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Unit Rhythm & Blues asal Jakarta, Indische Party, terpilih sebagai band Indonesia yang memenangkan Converse Rubber Tracks Recording Session 2015. Berawal dari informasi beberapa teman mengenai sesi rekaman Converse Rubber Tracks untuk tahun 2015, Indische Party mencoba peruntungan untuk mengikutsertakan karyanya lewat website resmi Converse Rubber Tracks, http://www.converse-music.com/rubbertracks/. Setelah menunggu sekitar satu bulan, tepatnya di pertengahan Juli 2015, akhirnya Indische Party email resmi berisi pemberitahuan mengenai terpilihnya mereka untuk berangkat menuju sesi rekaman bersama Converse Rubber Tracks. Perlu menunggu sekitar tiga minggu sejak pengumuman resmi untuk mengetahui studio mana yang akan Indische Party tuju. Di pertengahan Agustus 2015, Indische Party menerima informasi bahwa mereka akan bertolak ke studio legendaris Abbey Road Studios, London, Inggris, untuk melakukan sesi rekaman. Setelah melewati proses komunikasi panjang via email dengan pihak Converse Amerika Serikat, akhirnya Indische Party berhasil merampungkan syarat administrasi dan dinyatakan berhak berangkat ke Abbey Road, London, Inggris, untuk melakukan sesi rekaman Converse Rubber Tracks bersama 84 artis terpilih lainnya yang disebar ke dua belas studio rekaman Converse Rubber Tracks. Proses pemilihan pemenang Converse Rubber Tracks 2015 di Indonesia kali ini berbeda dengan tahun 2014 silam. Jika tahun lalu Converse Rubber Tracks diadakan lewat situs Whiteboard Journal (www.whiteboardjournal.com) dan penjurian dipilih oleh juri dari Indonesia, Converse Rubber Tracks 2015 diadakan dengan proses yang berbeda. Tahun ini, proses penjurian diadakan langsung oleh pihak Converse Amerika Serikat. Seluruh personil Indische Party akan melakukan sesi rekaman selama dua hari pada 21-22 September 2015 di Abbey Road Studios bersama dengan additional keyboardist David Tarigan yang juga akan membantu proses rekaman selama di sana. Mengenai materi rekaman sendiri, Indische Party berencana untuk merekam materi-materi baru. Di Abbey Road Studios, Indische Party akan bekerjasama dengan sound engineer Alan O’connell atau biasa dikenal dengan nama “alalal", seorang music producer dan sound engineer asal Inggris yang telah bekerjasama dengan Mark Ronson, Paul Epworth Erol Alkan, Bruno Mars, The Vaccines, Placebo, Duran Duran, Metronomy, Klaxons, The Future Heads, The Rapture, The Big Pink dan nama-nama besar lainnya (http://justmanaging.com/our-producers/alalal). Alan O’connell merupakan peraih “Recording Engineer of the Year” di tahun 2013 oleh UK Music Producers Guild dan juga nominator di ajang Grammy 2014. Sekilas mengenai Indische Party. Indische Party adalah band yang berdiri di Jakarta pada tahun 2011. Band ini sarat akan nuansa musik tahun 1960-an dengan mengusung genre Rhythm & Blues, Rock dan Pop. Band ini berisikan Japs Shadiq, vocalist flamboyan yang juga gitaris dari band pop psychedelic ‘It’s Different Class’, Kubil Idris sebagai guitarist yang sudah lebih dulu dikenal pada unit new wave ibukota ‘The Upstairs’, Jacobus Dimas atau Iyo sebagai bassist yang juga tergabung dalam unit Rock & Roll ‘Karon n Roll’, dan yang terakhir pada posisi drummer di isi dengan gadis berpostur kecil, Tika Pramesti, dengan pukulannya yang jazzy. Empat sekawan ini merupakan sahabat dari bangku kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Album debut Indische Party (selftitled) dirilis oleh label Demajors Independent Music Industry (DIMI) dan sudah disebarkanluaskan pada awal Juni 2013. Dari sepuluh lagu yang terdapat dalam album perdana, judul lagu “Waiting For You” di daulat menjadi single pertama mereka, menyusul “Sepeda" dan “Hey Girl”. Indische Party sendiri saat ini telah merampungkan rekaman untuk album kedua yang rencananya akan dirilis pada akhir tahun 2015 ini. Di album kedua, eksplorasi musik tentu dilakukan oleh masing-masing personil. Dipandu oleh David Tarigan sebagai produser, Indische Party akan menyajikan album kedua lebih matang, baik dari sisi sound maupun musikalitas. Berikut adalah beberapa link dari video clip dari Indische Party: https://www.youtube.com/watch?v=ytH2r-R_XxE https://www.youtube.com/watch?v=PHUmVNdSM1E https://www.youtube.com/watch?v=FuaOmv52s7Q
Hari Jumat, 21 Agustus 2015 yang lalu, brand TOMS Shoes dan RURU Radio bekerjasama dalam membuat pameran amal di Paviliun 28. Dengan mengundang seniman-seniman muda untuk berkarya menggunakan TOMS sebagai mediumnya, setiap karya dijual dan penghasilannya akan disumbangkan kepada Rumah Belajar Anak Bintang (RaJab), suatu program sosial TOMS. One for One sendiri adalah judul kampanye amal dari brand sepatu TOMS yang telah lama diinisiasi. Salah satu representatif TOMS bercerita bahwa Blake Mycoskie, founder TOMS, dalam suatu perjalanan ke Argentina untuk acara The Amazing Race melihat sepatu tradisional petani Argentina, dan sepatu ini yang menjadi inspirasi desain utama TOMS. Di perjalanan itu juga, Blake melihat ketidaksejahteraan yang dialami oleh banyak penduduk, khususnya anak-anak, di Argentina. Dari situ, konsep "One for One" terlahir - dimana setiap pembelian sepasang sepatu TOMS, akan didonasikan satu pasang untuk anak-anak yang memerlukannya. Dari situ kampanye "One for One" berevolusi untuk menyalurkan amal dalam berbagai bentuk. Untuk Indonesia, TOMS bekerjasama dengan Rumah Belajar Anak Bintang, CSR dari Mitra Adi Perkasa yang memberi bimbingan belajar gratis bagi anak-anak dan juga orang tua mereka. Di acara One for One ini, juga di display beberapa karya desain anak-anak bimbingan Rumah Belajar Anak Bintang. Pameran One for One ini dikurasi oleh Ayu Dila Martina, seorang seniman berbasis di ruangrupa yang juga merupakan bagian dari program Exist dari Dia Lo Gue. Pameran ini menampilkan 7 seniman, yakni Diela Maharani, El Gibranos, Marishka Soekarna, Nengiren, The Popo, Sarita Ibnoe, dan Syaiful Ardianto. Dengan sepatu TOMS sebagai medium utama seniman-seniman ini, terlihat bahwa alas kaki ini adalah focal-point dari setiap karya, dan hampir semua memodifikasi sepatunya dengan karakter seni masing-masing. Marishka Soekarna menambah layer bahan berbentuk kaki di atas sepatunya, boks sepatu dibuat menjadi kanvas lukisan. Sarita Ibnoe menata sepatu, tapestry, sketsa, serta kaos kaki di atas displaynya, membuat sebuah kolase yang mengingatkan akan suasana meja kerja. Syaiful Ardianto juga membuat kolase berisi artikel-artikel mengenai kaki, dan kolasenya dijadikan sebuah zine yang didistribusikan pada pembukaan pameran. Karya Diela Maharani terfokus kepada modifikasi desain sepatunya , menggunakan warna warni serabut benang. "Petualangan Mimpi" oleh Nengiren menaruh sepatu-sepatu dengan embroidery wajah di sebuah peta 3D dan yang di tahan oleh benang-benang, sangat mengingatkan terhadap salah satu bagian dari Gulliver's Travels dimana protagonisnya diikat oleh manusia-manusia kecil. Seniman-seniman yang terlibat membawa karakter masing-masing ke dalam pameran ini, dan yang menyatukan karya mereka adalah penggunaan sepatu TOMS sebagai medium. Pameran One for One ini juga di meriahkan oleh band Stars and Rabbit, yang baru saja merilis album perdananya. Performance mereka selalu menawan, dan kali ini tidak berbeda dengan karakter suara Elda yang sangat kuat dalam menangkap perhatian semua pengunjung pameran ini. Setelah Stars and Rabbit selesai berpentas, DJ Bondee mempersiapkan controllernya dan memeriahkan Paviliun 28 dengan lagu-lagu hiphop akhir 90an dan awal 2000an. Scroll image di atas untuk melihat foto-foto dari acara TOMS dan RURU Radio "One for One" di Paviliun 28
IGDA2 mengundang segenap desainer grafis Indonesia untuk mengirimkan karya terbaiknya. Entri dapat diikuti oleh Mahasiswa, Dosen Full Time, perorangan atau perusahaan yang terlibat dalam pembuatan atau produksi pekerjaan dalam lingkup Desain Grafis. Karya yang diikutsertakan harus telah dibuat antara tanggal 01 Januari 2012 sampai dengan 31 Juli 2015 DEADLINE Seluruh karya peserta harus sudah diterima panitia pada saat batas akhir penerimaan karya: 30 November 2015 untuk info yang lebih detail kunjungi: igda.dgi.or.id
Desain Grafis Indonesia dan firma kolaboratif Corse Design Factory bekerja sama dalam menyelenggarakan COLLECTED, sebuah eksibisi yang memamerkan karya desainer grafis Indonesia dari dalam dan luar negeri dalam bentuk sebuah buku. Acara ini mengundang para pekerja desain untuk mengirim karya mereka untuk berpartisipasi dalam buku ini. Batas akhir pengiriman berakhir pada 31 Oktober, jadi kalau Anda seorang desainer grafis baca instruksi di bawah dan kirimkan karya anda ke COLLECTED. -- Desain Grafis Indonesia: Desain Grafis Indonesia bersama Corse Design Factory mengundang segenap desainer grafis Indonesia untuk menunjukkan jati diri melalui karya terbaiknya. COLLECTED adalah sebuah proyek kolaborasi DGI bersama Corse Design Factory yang akan menjadi sebuah kompilasi profil para desainer grafis kontemporer Indonesia, baik yang bekerja di dalam maupun luar negeri. Kami meyakini bahwa Indonesia memiliki begitu banyak talenta dalam desain grafis. Karenanya, COLLECTED hadir untuk menampilkan karya terbaik dari desainer grafis Indonesia dengan kurasi berskala internasional. Melihat kembali ke khasanah budaya, topeng telah menjadi sebuah obyek artistik dengan daya tariknya tersendiri. Ia membiarkan penggunanya untuk mengalami sebuah identitas perantara seturut dengan citra topeng yang dikenakan. Meski demikian, setiap subyek di balik topeng selalu memiliki interpretasi individual yang takkan seragam hingga membangun citraan yang unik dan signifikan terhadap suatu karakter di balik topeng-topeng itu. Sepanjang perjalanannya dalam usia yang masih terlampau muda dibandingkan negara-negara lain, para desainer Indonesia memiliki caranya tersendiri dalam membangun, mengalami, dan membentuk identitas dalam upaya pencarian jati diri sebagai desainer. Karenanya COLLECTED hadir dalam metafora topeng-topeng ini. Setiap desainer Indonesia mengenakan ‘topeng desain’-nya masing-masing yang telah secara organik berperan dalam membentuk rupa desain secara menyeluruh. Buku ini dimaksudkan untuk memanggil para individu di balik identitas topeng-topeng itu untuk menampilkan jati dirinya. COLLECTED menjadi sebuah artikulasi langkah untuk menemukan dan membentuk identitas yang kita sebut sebagai ‘desain grafis Indonesia’. Kami percaya bahwa desain yang baik tak akan ditelan waktu, sehingga sepanjang perjalanannya, karya setiap desainer menjelma menjadi identitas dirinya. Karya-karya seperti itulah yang kami cari. COLLECTED dibuka untuk para desainer grafis (individu) maupun studio desain (institusi) Indonesia. Silakan mengirimkan 5-15 proyek yang mendefinisikan Anda sebagai seorang desainer. Kategori yang dapat disubmisi adalah sebagai berikut: 1. Branding (desain logo hingga rancangan branding secara menyeluruh) 2. Print Design (poster, materi promosi) 3. Books + Publications 4. Packaging 5. Website + Interactive Media 6. Motion Graphic 7. Signage + Spatial Design 1. Kompilasi karya setiap pendaftar dapat terdiri lebih dari 1 kategori. 2. Tidak ada pembatasan tahun produksi karya yang disubmisi. 3. Masing-masing karya yang disubmisi dapat disertakan deskripsi singkat karya maks. 20 kata. 4. Sertakan profil tentang diri/studio Anda dalam paragraf singkat (80-100 kata) 5. Kirimkan seluruh persyaratan submisi Anda dalam dokumen PDF beresolusi rendah dengan format penamaan: namadepan_namabelakang.pdf atau namastudio.pdf 6. Persyaratan submisi dikirimkan melalui email ke submission@dgi.or.id 7. Submisi kami terima selambatnya 31 Oktober 2015 pukul 23.59 WIB (11.59 PM UTC+7) 8. Karya yang lolos kurasi akan diinformasikan melalui email.
I have been on a Youtube binge lately, and one of the channels that I always look forward to is Veritasium. The channel, created by host Derek Muller, offers viewers educational videos on the subject of science by way of experiments, interviews, coverage, and often talks with the public. Covering a wide range of topics such as The Magnus Effect, launching nuclear missiles, the Higgs Boson, to toilet swirls in different hemispheres, ice spikes, and global warming. The manner in which Veritasium presents its lessons is easy and fun to understand, with Muller's explaining each topic in a clever manner and language that is relatively easy to understand. Couple that with good editing and special effect, and we have a thoroughly engaging educational web channel. Below are a few favorites of mine, do visit his channel (click here) and subscribe if you enjoy what you see.
Back in 2013 a group of young Indonesians living in Berlin wanted to give young Indonesian filmmakers a chance to show what they're capable of. They started Pidjar, a platform showcasing Indonesian and South East Asian movies, and haven't looked back since. Whiteboard Journal sat down with one of their founding members, Stephanie Larassati, over breakfast to discuss why it's time for Indonesian filmmakers to shine. Interview by jan k Photos by Refan Ramadhan It started when me and my friend Audrey Juanda made a short film called “Anak dan Tebu” which was selected for the Arte Indonesia Arts Festival in Jakarta curated by Ade Darmawan and thanks to that we ended up being really into filmmaking. About the same time we got together with a few other film buffs from PPI Berlin and decided to stage a small film festival for Indonesian students in Germany. We wanted to give them a chance to showcase their work since there are a lot of film making enthusiasts who have so far been deterred because there wasn't any proper platform. And so in 2013 Pidjar was born. We were very surprised to see the amount of submissions and the event itself drew around 60-70 people. And we realized that there's this enthusiasm and interest. Seeing this and due to the success of the event we decided to make Pidjar its own independent organization. There's currently six of us, each with different backgrounds. I'm an architect and then there's Audrey, who's a website project manager. Yusuf Pratama, who's doing his Master in East Asian studies, Ludovicus Gees, a graphic designer, Reza Purnama Arief, a computer science student and Fiameta Dea, who studies business informatics. With the exception of Audrey we're all based in Berlin. When we did the first Pidjar event there was a special emphasis for short films without any restrictions content-wise. But soon after we focused on young Indonesian film makers who handles or discusses certain themes. To answer this question properly I think we should get back to the role and function of a film. I think film is a media form that has the ability to mirror the society and environment where it was created. And it's all compressed into 2 hours that can convey all of these things visually, sonically and emotionally. Indonesia is a developing country that is still finding its way and it's a process that causes certain problems to arise. And that's what makes independent Indonesian films very interesting, because it comes up with a way to show all of these problematics. Themes such as sexuality or identity searching in Jakarta. But they're not being given enough chance to be heard. And that's why we're trying to give them a platform to be seen by both Indonesian and international audiences in Germany. It doesn't have to be a complicated theme, nothing political or anything like that. Back in 2014 during the Berlinale we did a screening of “Selamat Pagi Malam” by Lucky Kuswandi. The film portrays Jakarta from the perspectives of three different women and it has a lot of scene that some may call over the top, but they really strike a chord for someone who's been away from Indonesia for so long. Things like the materialism or the overbearing importance placed on marriage or even the way the society handles sexuality like it's the biggest taboo even though in practice it's very different entirely. It's very atmospheric and funny but also sad at the same time. It's these kind of films that seems unspectacular on the surface but has a lot of surprising depth. It was! I read somewhere recently that attendance was low when it was first released even though they worked hard to get it screened in the local cinemas. And around one year later it was shown abroad and it did quite well and got good reviews. When I watched it I couldn't understand why it was unsuccessful, because it is a beautiful film and it has that right mix of independent and mainstream sensibilities. I can understand why films that are too artsy or experimental aren't everyone's cup of tea but Hollywood already does mainstream stuff very well, so why not mix it up a little? Basically each of us tries to suggest a film we like and we assess the theme and try to decide it whether would be a good movie to show. Other than that we try to consider smaller details, like if we're screening in the summer, it will be a movie with a kind of summery feel. I really want to screen a film called “Jalanan”, a documentary about street buskers in Jakarta by Daniel Ziv, an american living in Jakarta. Other than that “Sendiri Diana Sendiri” by Kamila Andini, “Kisah Cinta yang Asu” by Yosep Anggin Noen and “The Fox Exploits The Tiger's Might” by Lucky Kuswandi are also high on our wish list. We work pro bono and we're also busy with our own lives, so first and foremost there are organizational difficulties. But there's six of us and we're getting the hang of finding elegant solutions to our problems. We're also lucky to live in Berlin where there's a big Indonesian community where everyone helps each other. Film-wise, it could be quite a challenge to get the permission to show the films. There are directors who are very easy to correspondent with, while there are also those you don't hear back from. We'll be continuing our annual event during the Berlinale each year. Since last year we've also had the pleasure of being able to invite and showcase young Indonesian directors attending the Berlinale workshop and competition. Beside that we also organize smaller screenings every now and then. We had three smaller events last year in galleries or cafes with mainly short films from directors such as Ucu Agustin and Yosep Anggi Noen. I wish the Indonesian films, especially the independent ones, would get more support from the government. Now I know we tend to get exasperated when the talk turns into dealing with the government, because of the bureaucracy or the perceived ignorance and incompetence. But at the same time I think that now is them time for them to step up and show interest in this matter because there are a lot of young active filmmakers, the scene is throbbing. Without the missing link, the government's support, they won't achieve their potential. -- Pidjar's next event is on the 15th of August at the Filmrauschpalast in Berlin. They will be screening 'The Mirror Never Lies' by Kamila Andini. For more on Pidjar check their Facebook page. Refan Ramadhan is a photographer who recently documented Bandung's metal mainstay Burger Kill on tour. For more of his work follow his Instagram feed.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.