Blog

Latest stories

08.10.15

Lost in Translation Discussion Recap

Pada hari Minggu, 04 Oktober 2015, whiteboardjournal.com bekerja sama dengan Komunitas Salihara menggelar diskusi Lost in Translation di Serambi Salihara. Sebagai bagian dari gelaran Bienal Sastra 2015, diskusi ini merupakan upaya untuk melihat lebih jauh proses dan intensi pada aktivitas alih bahasa. Pilihan topik tersebut merupakan respon terhadap Indonesia yang menjadi Guest of Honor di Frankfurt Book Fair 2015, sekaligus untuk membahas posisi sastra Indonesia di pasar internasional. Yusi Avianto Pareanom dan Rain Chudori adalah dua pembicara pada diskusi ini. Keduanya dipilih dengan pertimbangan bahwa background masing-masing bisa menjadi representasi yang ideal mengenai dunia penerbitan, aktivitas translasi, hingga tren di anak muda mengenai dunia penulisan. Diskusi berjalan cukup menarik dengan jawaban dari Yusi dan Rain yang cukup sering menggelitik dan membuka wawasan baru. Pembahasan mengalir dari pembicaraan mengenai esensi pasar internasional, berbagai kendala yang dihadapi dalam proses alih bahasa serta hubungannya dengan bagaimana proses bagi penulis untuk memasuki pasar global, hingga kemungkinan-kemungkinan baru yang terbuka dengan jalur-jalur penerbitan dan promosi alternatif yang kini dimungkinkan oleh teknologi dan internet. Berbagai pertanyaan dan tanggapan dari penonton juga semakin melengkapi cakupan bahasan diskusi ini.

07.10.15

Frau Konser Tentang Rasa

TNGR mempersembahkan Frau Konser Tentang Rasa dibuka oleh: Tik! Tok! Sisir Tanah Kamis, 29 Okt 2015 - 19:30 WIB Jumat 30 Okt 2015 - 19:30 WIB Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta Tiket Mahasiswa:35,000 Umum: 50,000 Tiket mulai dijual 19 Oktober di Gedung Societet. info & kontak p: +62 823-2348-5121 e: konsertentangrasa@gmail.com f: leilaniFrau t: @kongsi_Jahat -- Dari penyelenggara: Musik memiliki beragam dimensi yang dapat dicecap oleh berbagai indera, tidak hanya dimonopoli oleh telinga dan mata. Eksplorasi dalam menikmati musik inilah yang ditawarkan oleh Frau dalam konser terbarunya di Gedung Societet, Taman Budaya Yogyakarta, pada 29-30 Oktober 2015 mendatang. Bertajuk “Konser Tentang Rasa”, sajian musik dari Frau ini mencoba menghadirkan pengalaman baru yang lebih menyeluruh dalam menikmati musik. Kesan lintas indera itu membuat penonton dapat terlibat secara aktif untuk merangkai impresi rasanya sendiri, bisa berupa senang, sedih, bosan, hingga kantuk. Dalam konser ini penonton juga diajak untuk berbagi narasi, ilustrasi, ataupun keluh kesah atas rasa yang muncul ketika mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Leilani Hermiasih (Lani) dan pianonya, Oskar. Soal pengalaman “mengalami musik”, Lani mempunyai cerita sendiri. Pada suatu kesempatan, Ia menceritakan bagaimana dirinya bisa menangis tersedu-sedu tanpa alasan ketika mendengarkan lagu “La Même Histoire” dari singer-songwriter Kanada, Feist, berulang-ulang kali. Meski sama sekali tidak mengerti apa dinyanyikan, tapi air matanya tetap mengalir deras. Tubuh yang berbaring pada pegas-pegas springbed lawas di kamarnya itu pun sesenggukan. Pasrah begitu saja ketika satu dua tetes air mata asin mengalir ke mulutnya. “Saya tidak sedih, tapi mungkin terharu karena bisa menikmati mewahnya pengalaman musikal seperti itu,” Ucap Lani mengenang. Dalam konser ini, Frau akan membawakan 16 lagu dari album Starlit Carousel dan Happy Coda serta beberapa materi lagu baru. Materi baru tersebut akan menjadi rujukan untuk album berikutnya. Sebelum di Yogyakarta, konser dengan tema yang sama telah berlangsung di Bandung 22 Mei Silam sebagai rangkaian program Printemp Francais atau Musim Semi Perancis 2015. Mengenai gagasan pertunjukan, Lani menjelaskan Konser Tentang Rasa disajikan bukan sebagai sebuah pernyataan, melainkan pertanyaan yang akan dijawab bersama di akhir pertunjukan nanti. Konser Tentang Rasa ini terbuka untuk umum. Tiket untuk mahasiswa/pelajar dijual seharga Rp 35.000,00, dan untuk umum seharga Rp 50.000,00. terbatas hanya 300 tiket. Tiket mulai diual pada 19 Oktober 2015 di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta jam 15.00 Wib. kami tidak menjual pembelian tiket melalui online. informasi perihal konser tentang rasa bisa menghubungi saudara Yudis +62 823 2348 5121 atau melalui email : konsertentangrasa@gmail.com

29.09.15

Pameran Wani Ditata Project

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah proyek seni sering muncul dalam berbagai diskusi dan tulisan seni rupa di Indonesia. Seni sebagai sebuah proyek—di mana di dalamnya terdapat berbagai kemungkinan pengembangan ide, baik secara kolaborasi dan individu—memang tidak terlalu dekat dengan sejarah seni rupa kita. Namun, jika merujuk pada sejarah, yang telah dilakukan oleh para founding fathers seni rupa modern kita sebenarnya ada yang sudah mengarah pada bentuk proyek seni seperti yang kita terjemahkan saat ini. Lihat saja proyek poster revolusi pascakemerdekaan Indonesia yang digagas oleh S. Sudjojono dan Affandi bersama Seniman Indonesia Muda (SIM). Ia tidak hanya meletakkan seni sebagai kegiatan mendedah estetika rupa, namun menjadi alat perjuangan yang berkolaborasi dengan para penulis pada masa itu, seperti Chairil Anwar. Seni rupa sebagai sebuah proyek seni memang tidak berkembang di Indonesia karena kecenderungan subjektivitas seniman dan orientasi untuk memproduksi kebendaan berupa 'karya' sebagai hasil akhir. Sebuah proyek seni menuntut keterbukaan dalam mengembangkan ide sebagai proses kerja. Keterbukaan itu bisa jadi berkolaborasi dengan aktivitas yang tidak ada hubungannya dengan kesenian. Mulai tahun 2015, Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta menginisiasi proyek seni seniman perempuan: Wani Ditata Project. Proyek seni ini adalah tanggapan Komite SR-DKJ terhadap perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, bahwa kegiatan seni yang mengarah pada riset dan fokus pada isu tertentu menjadi sangat relevan saat ini. Relevansi proyek seni ini adalah bagaimana pengembangan kegiatan kesenian dengan durasi tertentu dan mendalami satu subjek wacana akan sangat berdampak pada perkembangan seni rupa kontemporer—di mana dalam proses kerja sebuah proyek seni terdapat produksi ilmu pengetahuan yang akan didistribusikan di akhir proyek. Wani Ditata Project dengan sengaja mengundang delapan seniman perempuan dari Jakarta dan kurator muda Angga Wijaya sebagai fasilitator dalam mengembangkan proyek seni ini. Tujuan mengundang seniman perempuan adalah untuk membaca perkembangan seni rupa kontemporer di Jakarta, di mana seniman perempuan juga menjadi pemain utama saat ini. Sejak berdiri, Komite SR-DKJ belum pernah secara khusus meletakkan isu perempuan ini dalam program-programnya. Untuk itulah Komite SR-DKJ merasa perlu secara khusus mengembangkan proyek seniman perempuan, sekaligus untuk merangkum wacana sosial-politik kebudayaan yang dibaca melalui seniman-seniman perempuan. Semoga saja proyek seni ini dapat berkembang dan berkontribusi bagi perkembangan seni rupa kontemporer kita. Salam, Hafiz Rancajale Ketua Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Jakarta 2013 - 2015 -- Dewan Kesenian Jakarta mempersembahkan: Proyek Seni Perupa Perempuan Dewan Kesenian Jakarta: WANI DITATA PROJECT Aprilia Apsari, Julia Sarisetiati, Kartika Jahja, Keke Tumbuan, Marishka Soekarna, Otty Widasari, Tita Salina, Yaya Sung Kurator: Angga Wijaya Pembukaan: Sabtu, 3 Oktober 2015 | 19.00 – 22.00 WIB Dimeriahkan oleh: Disrobot Radio Irama Nusantara Pameran: 4 – 19 Oktober 2015 11.00 – 20.00 WIB Diskusi “Citra Dharma Wanita dalam Konstruksi Sosial”: Selasa, 6 Oktober 2015 | 15.00 – 17.00 WIB Pembicara: Julia Suryakusuma & Manneke Budiman Moderator: Maulida Raviola di Galeri Cipta II Jl. Cikini Raya No.73 Taman Ismail Marzuki Menteng, Jakarta Pusat 10330 Gratis!

28.09.15

Lost in Translation

Proses dan Intensi Alih Bahasa Bersama : Yusi Avianto Pareanom Rain Chudori 04/10/15 15:00 - 17:00 Serambi Salihara Jl. Salihara No. 16 Kebagusan Pasar Minggu Jakarta Pembahasan mengenai konteks global-lokal selalu menjadi topik telaah yang menarik. Meski terbentang luas dan terdiri dari ribuan pulau, posisi Indonesia sebagai negara berkembang membuat uraian mengenai tarik-menarik diantara konsep nasional-internasional menjadi sebuah subjek yang acapkali mengusik. Konsep global lantas sering dijadikan sebagai visi yang kemudian mendasari berbagai pola aktivitas publik. Ada beberapa yang lalu mampu mewujudkannya dalam bentuk nyata, namun banyak pula yang tersesat di tengah jalan. Dalam kerangka sastra, isu globalitas ini juga muncul ketika gagasan mengenai posisi karya lokal di konteks internasional dipertanyakan. Kegiatan translasi kemudian menjadi salah satu daya yang diupayakan untuk publisitas sastra nasional. Berbagai karya sastra lokal pilihan diterjemahkan demi siarnya buah pikir anak bangsa. Melalui Lost in Translation, kami mengajak Anda untuk melihat lebih jauh ke dalam proses dan intensi dibalik aktivitas alih bahasa. Ada berbagai aspek yang harus ditafsirkan dalam proses translasi disamping sekedar terjemah literal kalimat per kalimat dari sebuah karya sastra. Kemungkinan distorsi pada dimensi linguistik, konteks budaya, hingga gaya bahasa adalah poin yang cukup menarik untuk menjadi wacana bersama dengan irisannya pada bagaimana sebenarnya esensi penerjemahan karya sastra bagi perkembangan literatur nasional. Pembicara: Penulis, Publisher Dikenal melalui kumpulan cerpen berjudul “Rumah Kopi Singa Tertawa”, karakter penulisan Yusi yang kental dengan percampuran yang menarik antara komedi, budaya populer menunjukkan kejelian beliau untuk memberikan dimensi baru pada berbagai kejadian sederhana yang akan dengan mudah terabaikan oleh awam. Juga merupakan sosok dibalik Penerbit Banana yang menawarkan alternatif penerbitan bagi tulisan-tulisan menarik yang lolos dari radar publisher besar. Penulis Pada usianya yang masih sangat belia, Rain Chudori telah mencatat namanya sebagai salah satu penulis muda potensial. Karya dan ceritanya telah diterbitkan pada berbagai media seperti The Jakarta Post, Majalah Tempo, Jakarta Globe hingga Whiteboardjournal.com. Kecintaannya pada dunia sastra juga membawanya pada inisiasi kolektif sastra muda, The Murmur House. Belakangan juga mulai berkarya dalam seni peran dengan keterlibatannya dalam film Rocket Rain. Moderator Seorang penulis dan jurnalis di Whiteboardjournal.com, hasrat Muhammad Hilmi untuk menulis dan ketertarikannya dengan dunia seni adalah kualitas terbaik di dalam karirnya. Sebagai individu yang aktif dalam aktivitas pada dunia musik, seni rupa, dan desain sebagai partisipan dan penikmat, pengetahuannya tercermin melalui esai-esainya yang telah diterbitkan di berbagai media seperti JakartaBeat, Yahoo!, dan Whiteboardjournal.com.

23.09.15

The Fabric of the Cosmos Documentaries

So if you have followed Whiteboard Journal these past two weeks, then you might have watched Theoretical Physicist Michio Kaku explain the universe via his video lecture on Big Think titled "The Universe in a Nutshell." Now that you are familiar with some of the concepts that go into constructing our reality, it's time to delve deeper into the subject through The Fabric of the Cosmos, a series of documentaries detailing 4 main concepts that are prevalent in explaining how the universe works today. The documentaries are hosted by Theoretical Physicist Brian Greene, an expert on string theory and a best-selling author whose books are known to explain the theories in a smart and accessible way (including these documentaries, which are based on his book with the same name). The Fabric of the Cosmos is divided into 4 parts: Space, Time, Quantum Physics, and the universe/multiverse. Each documentary is about one-hour in length, and explains concepts that seem bizarre with computer animation that makes them a whole lot easier to digest. As I watched these documentaries, it dawned on me at how bizarre some of the things in our universe can be. Some of the concepts that are explained are stranger than science fiction. As we learn more about our universe, we find things are familiar and elementary to simply be a matter of perception, and that reality perhaps holds more possibilities than we are accustomed to - that is what makes the gigantic universe we live in such a wonderful place to live in! Watch the trailer above, and enjoy the full documentaries below.

22.09.15

Polka Wars Axis Mundi Review

Sadar Akan Keadaan. Entah kenapa, setiap mendengar nama Polka Wars, yang terbayang pada benak saya justru mengenai segala aktivitas sosial personilnya. Aspek musik mereka baru muncul belakangan. Mungkin, perspektif saya ini cukup cetek, tapi memang begitu adanya. Tapi, saya akan berusaha untuk lebih optimis dalam menulis ulasan ini: segala aktivitas sosial dan luasnya jaringan Polka Wars sebenarnya di sisi lain juga menunjukkan etos mereka yang cukup professional. Bahwa mereka mampu membedakan persona di atas dan di luar panggung. Sewaktu saya mewawancarai keempat personilnya, Aeng, Deva, Billy dan Dega sama sekali tak terasa sebagai selebriti, padahal beberapa bulan setelah hari itu, mereka tampak dengan mudah menjual habis tiket konser tunggal yang mereka laksanakan di Institut Francais Indonesia. Hal inilah yang semakin terasa pada saat saya keluar dari gedung IFI pada hari Sabtu itu. Secara pribadi, saya sangat puas dengan konser perdana Polka Wars dalam artian, saya tidak menyangka hasilnya akan seperti itu. Sekeluarnya saya dari gedung, saya lantas menyampaikan kepuasan saya ke masing-masing anggota, dan ucapan tersebut jelas bukan basa-basi semata. Konser dibuka oleh Bedchamber. ‘Milenial’ adalah kata yang pas untuk mendeskripsikan karakter mereka, namun di saat yang sama, term tersebut cukup mengalihkan perhatian dari musik mereka sendiri yang sebenarnya cukup apik terlepas dari segala influence yang mempengaruhi mereka. Penampilan mereka cukup menyenangkan. Walau kalau boleh jujur, saya tidak terlalu ingat secara detil musik mereka sehabis turun panggung. Mungkin, saat itu ada yang mengajak saya ngobrol. Sudah berulang kali saya putar Axis Mundi, album perdana Polka Wars. Kurang lebih saya tahu arah dan alur dari lagu-lagunya. Namun saat konser dibuka dengan segue antara “Horse’s Hooves” dan “Coraline”, saya sangat terkesan dengan sequencing dan keseluruhan setlist mereka. Dari awal pula, aransemen Polka Wars terdengar lebih ketat; lebih sadar panggung, dan mereka mampu melakukannya pada panggung solo perdana. Instrumen-instrumen ditambahkan, (saksofon, tehiyan) dan semuanya bukan malah menjadi novelti, namun penyegar bagi lagu-lagu Polka Wars. Nomor-nomor favorit saya adalah ketika Aeng, di paruh kedua konser (setelah penayangan dokumenter yang sayang sekali saya lewati bagian awalnya), menyanyikan lagu “Mad World” dan Deva menyanyikan nomor “Lovers”. Saya juga tidak menyangka “This Providence”, “Mokéle” dan “Tall Stories” akan terdengar serapi itu pada konser ini. Polka Wars suka meloncat-loncat: Deva bisa tiba-tiba menyanyi, bisa tiba-tiba memegang bas, lalu kembali lagi ke drum. Aeng juga memainkan piano. Seperti di Axis Mundi, saya cukup senang dengan nirformat ini—saya juga menyebut konsep ini sebagai format band yang egaliter di Koran The Jakarta Post—karena hal tersebut menunjukan bahwa prioritas Polka Wars lebih ke aransemen lagu daripada siapa memegang instrumen apa. Siapapun yang cocok di lagu/instrumen, maka dia yang akan memainkannya. Lagu terbaik di Axis Mundi, pasnya, dimainkan di akhir konser: “Piano Song.” Setelah melewati stand-up comedy dari Aeng, dokumenter pendek soal karir, dan tentu saja penampilan lagu-lagu dari album Axis Mundi (serta lagu “Obese Elves” yang di rekam di New York), “Piano Song” membungkus konser ini dengan mantap dan apik. Saya tidak menyangka bahwa mereka bisa mengeksekusinya seeksploratif di luar kenyamanan studio rekaman. Layaknya limbah pabrik, musik pun memiliki faktor eksternalitas tersendiri: imej dan kawan-kawannya. Bedanya dengan limbah, dalam konteks musik, faktor tersebut tidak begitu menjadi masalah. Begitu pula dengan Polka Wars, apalagi kalau kualitas penampilan mereka se-prima hari itu. Dan di hari itu, mereka telah mencapai banyak prestasi: konser perdana, konser tunggal, tiket laku, dan lain-lain. Kedepannya? Saya belum berani menjamin. Namun, saya berani menjamin satu hal: jika ada yang bertanya mengenai pendapat saya mengenai Polka Wars, maka ada hal baru yang saya akan katakan kepada dia. teks oleh: Stanley Widianto foto oleh: Omar Annas

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.