Blog

Latest stories

10.11.15

Neon Indian Live in Jakarta

Semenjak menyeruak diantara tren musik chillwave pada tahun 2009 melalui debut album Psychic Chasms yang meraih banyak pujian, Neon Indian muncul sebagai nama penting dalam scene ini. Pendekatannya yang cukup ekletik dalam musiknya membuka dimensi baru pada genre ini. Menggabungkan aroma psikedelia ringan dengan nostalgia, dan pancingan untuk dansa, Neon Indian kemudian tumbuh menjadi salah satu ikon sekaligus representasi movement musik ini. Kemauannya untuk terus berkembang pada setiap karyanya juga menjadi penanda bahwa Alan Palomo, otak dibalik nama Neon Indian memiliki dedikasi lebih dalam bermusik. Hal tersebut juga bisa dirasakan pada kualitas yang juga terus terjaga pada tiap rilisannya, termasuk dalam split albumnya bersama Flaming Lips yang dirilis pada tahun 2011. Kejutan muncul ketika Neon Indian mengumumkan VEGA INTL. Night School, full album-nya yang di rilis di penghujung tahun 2015 ini. Aspek dancey semakin menonjol pada musiknya yang semakin ekletik dan funk-y. Ada pula cuplikan rasa reggae yang menambah nuansa tropis pada musik Neon Indian. Dengan dirilisnya album VEGA INL ini, Neon Indian kini tak lagi menjadi perwakilan bagi scene chillwave, namun juga mampu tampil sebagai penghibur dengan kepekaan musik synth-pop, disco, funk, hingga R&B. Pengalaman musik yang demikian akan menjadi suguhan utama pada event Play Loud Session: Neon Indian Live in Jakarta. Digelar pada 24 November 2015, ini adalah kali pertama Alan Palomo bermain di Indonesia. Dibuka oleh Future Collective, acara ini akan bertempat di Rolling Stone Cafe, Ampera Jakarta Selatan. Kunjungi prasvana untuk info lebih lanjut mengenai acara ini.

02.11.15

Singapore Writers Festival

Dimulai pada tahun 1986 oleh National Arts Council, Singapore Writers Festival yang diadakan setahun sekali, telah menjadi ajang bagi penulis, publisher dan juga pelaku industri lainnya untuk memperkenalkan kondisi dunia literatur di Asia Tenggara, sekaligus juga menampilkan karya kontemporer yang berhubungan. Sebagai medium berekspresi, alktivitas menulis adalah medium yang tepat untuk membahas berbagai macam topik menggunakan bermacam gaya, juga kemungkinan untuk kolaborasi dengan medium ekspresi lainnya - di Singapore Writers Festival, elastisitas tersebut mendapat platform melalui seni pertunjukan, lecture, eksibisi, workshop, dan lain-lain. Tahun ini, Singapore Writers Festival bertema "Island of Dreams", sebuah perayaan seni literatur sekaligus titik refleksi akan harapan dan impian negara Singapura. Kali ini, Indonesia menjadi negara yang diundang sebagai "Country Focus", dimana beberapa penulis, musisi dan seniman Indonesia diundang untuk memberi gambaran tradisi dan kondisi seni di Indonesia. Nama-nama yang menjadi fokus festival ini termasuk Goenawan Muhammad, Agustinus Wibowo, Ayu Utami, dan Kroncong Tenggara, yang akan menampilkan literatur Indonesia dari berbagai macam sudut pandang. Whiteboard Journal menjadi salah satu tamu undangan untuk menyaksikan penutupan acara Singapore Writers Festival. Kami akan menyaksikan dan berpartisipasi dalam berbagai aktifitas termasuk 'Don Quixote', pentas multimedia oleh Goenawan Muhammad yang merayakan karya Cervantes, pertunjukan musik Island of Dreams oleh I am David Sparkle dan In Each Hand a Cutlass, dan Words Over Water, pembacaan berbagai teks di atas kapal yang akan melingkari Singapura. Untuk mengikuti pengalaman kami yang tentunya akan menarik, dimulai hari Jumat ini (6 November 2015) ikuti social media kami, dan tentunya nantikan artikel-artikel liputan kami. Media Sosial Whiteboard Journal: Instagram Whiteboard Journal Facebook Whiteboard Journal Twitter Whiteboard Journal Situs Singapore Writers Festival Facebook Singapore Writers Festival Instagram Singapore Writers Festival Twitter Singapore Writers Festival

30.10.15

Vague Merilis Video Musik “A Giant Blur”

Pada tahun 2014, band Vague, yang terdiri dari Yudhis Tira, Januar Kristianto, dan Gary Hostage, dengan cepat menjadi unit band yang dikenal oleh penggemar musik independen melalui rilisan album pertamanya, Footsteps. Kombinasi musik mereka yang energetic dan lirik-lirik personal yang meratap dikemas di dalam rilisan yang berkualitas baik secara lagu individual ataupun album. Berkolaborasi dengan Kulturo, sebuah kolektif filmmaker yang terdiri dari Riar Rizaldi dan Adythia Utama, "A Giant Blur" dari album Footsteps sekarang memiliki tampilan visual. Narasi "A Giant Blur" dimulai dengan seorang pria paruh baya yang membaca sebuah surat dari rumah sakit. Kita tidak bisa melihat apakah isi surat itu, dan apakah atau tidak surat itu berisi berita baik atau buruk, pria ini berikutnya menyetir mobilnya di kota Jakarta tampaknya tanpa tujuan. Kadang berhenti di McDonald, dan merokok di sebuah lapangan parkir, ekspresi muka pria ini seperti sedang berkontemplasi mengenai konsekuensi isi surat dari rumah sakit. Visual yang menemani naratif pria ini pun bernuansa kontemplatif, dengan gambar yang semakin lama semakin samar. Video musik "A Giant Blur" di sutradarai dan edit oleh Riar Rizaldi. Berikut adalah esai oleh Dwiputri Pertiwi mengenai "A Giant Blur", dan untuk mengenal band Vague lebih baik silahkan ke Facebook page-nya. A Giant Blur - by Dwiputri Pertiwi

21.10.15

Design It Yourself Surabaya 2015

Konferensi-festival desain yang diselenggarakan secara tahunan di Surabaya sejak 2011 kini kembali untuk kelima kalinya. Tahun ini, DIYSUB melibatkan lebih dari 45 desainer dan seniman dari Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Singapura, Surakarta, Pekanbaru, Hong Kong, Malaysia, Australia, dan Belanda. Menggandeng Kebun Binatang Surabaya sebagai mitra dan lokasi utama, DIYSUB kali ini mengambil tema “networks” untuk mengeksplorasi gagasan desain sebagai proses yang saling terhubung dalam ekosistem jaringan, antara manusia dan bukan manusia, makhluk hidup dan benda mati. Selama 19 – 25 Oktober 2015, nikmati lebih dari 20 program interaktif yang mengeksplorasi desain dan tema networks, antara lain melalui diskusi santai, lokakarya, pameran, pentas storytelling dengan lampion, pasar Design Faire, tur blusukan jalan kaki, dan Open Lab. ACARA UTAMA 24 - 25 Oktober 2015 Lokasi: Kebun Binatang Surabaya (KBS) ACARA SATELIT (PRA-ACARA) 15 - 23 Oktober 2015 Lokasi: 1) Pusat Kebudayaan Prancis (IFI) Surabaya 2) Institut Teknologi Sepuluh Nopember 3) C2O library & collabtive, Jl. Dr. Cipto 22 TIKET Selain workshop, semua acara DIYSUB gratis dan terbuka untuk umum. Namun, Anda perlu memesan dulu (pre-order) tiket DIYSUB untuk reservasi. Tiket DIYSUB memberi Anda akses gratis masuk ke KBS selama 24 – 25 Oktober 2015. Dapatkan tiket DIYSUB di www.diysub.com atau hubungi tiket@diysub.com, SMS/WA: 0816 1522 1216. Untuk informasi lanjut silahkan ke www.diysub.com Saturday, 24 October 2015 10.00 - 17.30 Surabaya ZooTower Ground Level Design Faire Free & open to public 11.00 - 17.30 Surabaya ZooTower Level 2 Open Lab Free & open to public 13.00 - 16.00 Surabaya Zoo Library Handmade Bookbinding with @Vitarlenology IDR 250,000/person, limited to 20 persons (register) 14.00 - 16.00 Surabaya Zoo Stage Area Casual Talk with Mark Low IDR 100,000/person, limited to 40 persons 16.00 - 17.30 Surabaya Zoo Tower Level 2 Watercolour Lettering with with @BBBani (@SUB.letter) IDR 200,000/person, limited to 15 persons 10.00 - 10.10 Surabaya Zoo Tower Level 3 Welcome address & introduction to DIYSUB by DIYSUB Project Director 10.10 - 11.00 Surabaya Zoo Tower Level 3 Lightning talk: 5 minute intro for 10 speakers 11.00 - 12.30 Surabaya Zoo Tower Level 3 Panel 1: Sustainable Local Living: Food, Architecture, Technology Hayu Dyah (Mantasa), Yu Sing (Studio Akanoma), Haryadi (TETEG, Yogyakarta) Moderator: Erlin Goentoro (Holopis) 12.30 - 13.30 Surabaya Zoo Stage Area Networking Lunch For conference speakers & invited guests only 13.30 - 15.00 Surabaya Zoo Tower Level 3 Panel 2: Community-based design, science and technology Lifepatch, Paulista Surjadi (Kotakita), Gerdhu Moderator: Debrina Tedjawidjaja (WAFT-LAB) 15.00 - 15.30 Guided tour to DIYSUB market, workshop, etc. 15.30 - 16.00 Surabaya Zoo Stage Area Coffee break For conference speakers & invited guests only 16.00 - 17.30 Surabaya Zoo Tower Level 3 Panel 3: Eventful spaces: Festival and market organising Tarlen Handayani (Crafty Days), Nastasha Abigail (RRREC Fest), Adil Alba (Soledad & the Sisters Co.) Moderator: Anitha Silvia (Indonesia Netaudio Festival) 10.00 - 17.30 Surabaya Zoo Tower Ground Level Design Faire Free & open to public 11.30 - 17.30 Surabaya Zoo Tower Level 2 Open Lab Free & open to public 18.30 - 20.00 Surabaya Zoo Elephant Ride Area Lantern storytelling 11.30 - 15.30 Surabaya Zoo Tower Level 4 & Plaza Design Thinking Workshop with Make.Do.Nia 14.00 - 15.30 Surabaya Zoo Library Brush Pen Lettering with @alvianthelmi (@SUB.Letter) IDR 150,000/person, limited to 15 persons (register) 14.00 - 17.30 Surabaya Zoo Stage Area Tie dye by @Ikatcraft IDR 250,000/person, limited to 20 persons 14.30 - 16.00 Surabaya ZooLibrary Woodcarving by @Serbuk_Kayu IDR 120,000/person, limited to 15 persons Conference 09.00 - 09.30 Surabaya ZooTower Level 3 Honorary speech 09.30 - 11.00 Surabaya ZooTower Level 3 Panel 4: Design Thinking and Place-Making for Public Spaces Aschta Nita Boestani Tajudin (Surabaya Zoo), Agus Imam Sonhaji (Surabaya City Development Planning Agency), RA Retno Hastijanti (Universitas 17 Agustus 1945) Moderator: Paulista Surjadi (Kotakita) 11.00 - 11.30 Surabaya ZooStage Area Coffee break For conference speakers & invited guests only 11.30 - 13.00 Surabaya ZooTower Level 3 Panel 5: Internet, media, meaning-making Agung Iskandar (MakNews), Ken Jenie (Whiteboardjournal), Ricky Pradipta (Event Surabaya), Nadia Maya Ardiani (Merdeka FM) Moderator: kathleen azali (Ayorek!) 13.00 - 14.00 Surabaya ZooStage Area Networking Lunch For conference speakers & invited guests only 14.00 - 15.30 Surabaya ZooTower Level 3 Panel 6: Connected/ing learning & urban sustainability Zamroni (Kampung Sinau), Paulista Surjadi (Kotakita) Moderator: Ari Kurniawan (Anak Bertanya & Ayorek!) 15.30 - 16.00 Surabaya ZooStage Area Coffee break For conference speakers & invited guests only 16.00 - 17.30 Surabaya ZooTower Level 3 Wrap-up discussion: Sustainable networks, beyond green design 17.30 - 17.45 Surabaya ZooTower Level 3 Closing

15.10.15

Humming Mad #10: Yuk!

We.Hum Collective presents “Humming Mad #10: Yuk!” Sarang Kucing Jl. Perdatam Terusan no. 3B, Ulujami, Pesanggrahan Jakarta Selatan 12250 Peta: http://bit.ly/SarangKucing Kontak: +628118161475 (Tomo) Sabtu, 7 November 2015 19.00 – 23.00 WIB Free entry Sudah satu tahun berlalu sejak kami menyatakan rehat. Skena berjalan seperti biasa: band datang dan pergi. Namun, masalah yang dihadapi tetap sama: band-band baru masih kesulitan mendapatkan panggung—terutama mereka yang tidak mengenal siapapun di skena dan venue-venue yang berguguran satu demi satu. Problema pertama adalah masalah klasik dalam tiap skena di kota mana pun. Masalah kedua adalah hal baru yang seharusnya sudah dapat diprediksi melihat apa yang akan terjadi dengan rencana pembangunan Jakarta sebagai sebuah megapolitan: harga tanah yang melambung naik, sebuah fenomena yang juga melatarbelakangi peningkatan harga sewa ruko yang selama ini diandalkan para pemilik venue dan para pelaku skena musik arus non-arus utama, terutama yang beroperasi secara independen. KENAPA “YUK!”? “Yuk!” adalah sesederhana sebuah ajakan untuk terus berkesenian dengan independen. Kami melihat sebuah urgensi untuk mencari alternatif dari venue-venue konvensional jika ingin skena ini bisa tetap berjalan dengan independen dan menyenangkan. Sebuah urgensi yang akhirnya menyeret kami untuk kembali aktif dengan alternatif yang agak radikal: sebuah house gig. Sampai di poin ini mungkin sebagian dari kalian akan menyerngitkan dahi karena sebuah house gig jarang sekali digelar di Jakarta. Belum lagi, masalah yang biasanya muncul seperti komplain dari warga dan akses yang sulit. Namun, kami melihat bahwa masalahnya selama ini terjadi karena house gig gagal dalam menjawab pertanyaan fundamental: apa kontribusi positif yang dapat diberikan acara ini kepada warga sekitar? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami pun memutuskan untuk menjadikan sesi Humming Mad kali ini sebagai sebuah pilot project. Kami mengajak warga-warga sekitar rumah untuk berjualan makanan dan minuman di sekitar venue untuk menggerakkan perekonomian di daerah sekitar rumah agar warga juga turut diuntungkan dengan adanya keriaan ini. Jika respon warga terhadap acara ini bagus, bukan tidak mungkin kami akan mengadakannya dengan rutin. Untuk mencapai lokasi venue kalian dapat mengikuti peta yang tercantum pada tautan berikut: http://bit.ly/SarangKucing Pada sesi Humming Mad kali ini dan seterusnya, kami memutuskan untuk lebih memfokuskan diri pada skena lokal. Bisa dibilang, ini adalah sesi Humming Mad pertama yang tidak menampilkan musisi mancanegara. Pada sesi kali ini, kami ingin menyorot skena emo Malang yang mulai berdenyut. Berikut adalah para penampil yang kami undang untuk merayakan kembalinya sesi Humming Mad dengan konsep baru: 01. Much Much adalah kontribusi Malang untuk turut meriuhkan skena pop-punk bernafaskan indie-pop/indie-rock yang sedang ramai belakangan ini, terutama di UK. Mereka adalah band yang patut kamu simak jika kamu menyukai Lemuria, Personal Best, dan Colour Me Wednesday. 02. Shewn Masih dari Malang. Mendengarkan Shewn membuat kami berandai-andai apabila Pianos Become The Teeth era “Keep You” yang lebih tenang bertemu dengan diri mereka era “The Lack Long After” yang lebih agresif. Kami sangat merekomendasikan mereka apabila kamu menyukai skramz/post-hardcore ala The Wave. 03. Saturday Night Karaoke Ah, rasanya kami sudah tak perlu lagi memperkenalkan grup pop-punk asal Bandung ini. Mereka baru saja merilis sebuah album bertajuk “Slurp!” di bawah SP Records yang berbasis di Jepang jadi anggap saja ini sebagai bagian dari tur album mereka untuk bagian Jakarta. 04. Fuzzy, I Berhentilah berandai-andai Kim Gordon dan Thurston Moore akan berbaikan dan mengembalikan Sonic Youth ke era kejayaannya. Bandung sudah punya alternatif baru yang lebih segar untuk kalian: Fuzzy, I. 05. Barefood Barefood juga rasanya adalah band yang tak perlu kami perkenalkan lagi. Kalian sudah tahu siapa mereka. Yang mungkin kalian belum tahu adalah bahwa mereka akan merilis ulang materi-materi demo mereka dan EP “Sullen” ke dalam satu album di bawah label asal Jepang, THISTIME Records. 06. Laguna Bang Bang Laguna Bang Bang adalah semacam tamu misterius untuk kalian dari kami karena satu-satunya yang bisa kalian dengar dari laman Soundcloud-nya hanyalah satu track instrumental berbau surf punk yang direkam secara lo-fi. Penasaran? Tunggu saja aksi mereka di Humming Mad #10!

08.10.15

The Sastro Gelar Konser dan Rilis Format Piringan Hitam untuk Rayakan 10 Tahun Album Vol.1

Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat, dibulan Oktober 15 tahun lalu di sebuah acara tahunan anak-anak seni rupa IKJ (Institut Kesenian Jakarta) yang bernama “Oktaria” band ini lahir karena keempat orang ini tertinggal rombongan kloter awal, Ary Buy harus mengurus perpindahan jurusan dari Desain Interior ke Desain Grafis, Ritchie & Rege “literally” ga kebagian tempat duduk dan ketinggalan truk tronton, Sastro sibuk dengan kegiatannya di studio grafis murni. Dalam hitungan 2 hari lagu “Lari 100”, “Kaktus” dan “Penyair” menjadi 3 lagu pertama yang dibawakan live diatas panggung, waktu itu studio Armada di bilangan Senen jadi saksi bisunya. Perlu waktu 5 tahun sampai akhirnya band ini merilis album pertamanya, selain EP dan Single kecil dengan kuantiti sangat sedikit dan dijual hand-to-hand. The Sastro akhirnya merilis album Vol. 1 setelah kerja keras 3 tahun di studio kamarnya Angga (Frontman Ramayana Soul, Gitaris Pestol Aer, Additional Player The Sastro) dan album ini adalah rilisan pertama dari Kenanga Records, sebuah label indie yang berhasil mengarsipkan scene musik Jakarta era Parc melalui album kompilasi “Thusrday Riot”. Album Vol. 1 ini dirilis dibulan April 2005 dengan menggelar konser di Parc. Desember 2014, Agus dari Majemuk Records mengontak kami karena ingin merilis ulang album ini dalam format piringan hitam, tujuannya adalah untuk merayakan 10 tahun album vol. 1 tepat di bulan April berbarengan dengan acara Record Store Day. Dilihat dari timeline sangat memungkinkan sekali, tetapi takdir berkata lain, paket yang dikirimkan bersama piringan hitam The Milo dari Perancis tempat kami mereplikasi piringan hitam ini nyasar ke India, entah kenapa hanya paket piringan hitam kami yang hinggap ke India, perlu waktu 1 bulanan untuk jasa logistik kami bisa menemukan keberadaan paket kami tersebut, lalu paket piringan hitam tersebut sampai di Jakarta 2 bulan setelah acara Record Store Day, dan acara konser ini pun kami buat. Piringan Hitam The Sastro album Vol. 1 rencananya akan dijual terbatas sebanyak 200pcs dengan harga Rp. 350.000,-. Jumlah piringan hitam ini direncanakan dirilis sebanyak 300pcs, kami mendapatkan sekitar 100-an pcs melengkung/rusak karena menurut laporan logistik paket ini tidak mendapatkan perawatan yang layak selama terdampar di India. Acara ini akan diramaikan oleh teman-teman dekat kami seperti, Ramayana Soul, Band ini adalah bandnya Angga, dia adalah salah satu orang yang berjasa The Sastro bisa merampungkan album Vol. 1. Seaside, Andi Hans membuat band ini dan merilis albumnya bersama Anoa Records label yang di co-founding oleh Ritchie salah satu personil The Sastro. Davkillz a.k.a David Tarigan, dia adalah founder dari Iramanusantara.org, penggerak scene musik Jakarta dan David yang mengajak kami bisa ikutan di album kompilasi bersejarah dari Aksara Records, JKT:SKRG. BolsQ, Skater pro lokal teman nongkrong di IKJ, selalu jadi MC untuk meramaikan suasana dipercaya number one fans The Sastro se-Jakarta, Peterlovefuzz a.k.a Peter Walandouw dan Aruca a.k.a Andri K Rahadi, duo co-founder Anoa Records yang membuat rilisan digital The Sastro Vol. 1 dalam format Kartu Download Digital (akan dijual saat acara juga). Berlokasi di Yesterday Lounge, sebuah tempat menyenangkan di Antasari, Jakarta Selatan, Acara ini diadakan pada tanggal 11 Oktober 2015, dan direncanakan tiket box dibuka pukul 6 sore berbarengan dengan dibukanya booth penjualan piringan hitam Vol. 1 dan Merchandise, signing session akan dilakukan sebelum konser dimulai. Untuk mensupport acara ini diharapkan teman-teman bisa membeli tiket FDC seharga Rp. 50.000,- atau cukup membeli salah satu produk dari The Sastro yang akan dijual seperti; piringan hitam, t-shirt dan DDV (kartu download digital). See you soon! Cheers, Ritchie Ned Hansel On behalf of The Sastro

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.