Blog

Latest stories

06.12.15

Kolibri Kembali Memukau Lewat Videoklip Gizpel

Kolibri Records kembali menunjukkan kualitas sebagai label muda yang tak hanya produktif, tetapi juga mampu menunjukkan kualitas melalui video klip dari salah satu roster mereka Gizpel. "Zittau" menjadi kandidat salah satu video klip lokal terbaik di tahun 2015 dengan pengambilan gambar yang cermat, arahan artistik yang mengingatkan pada kualitas video musik Jepang, serta pewarnaan yang akurat untuk memvisualisasikan musik Gizpel yang dingin, namun juga hangat yang sama. -- Zittau adalah sebuah kota di Jerman. Namun bagi Gizpel, trio dreampop muda asal Jakarta yang beranggotakan Fadilah Ananto (vokal, bass), Dika Raka Prayuga (synth, beats), dan Dimas A. Wibisono (gitar), Zittau adalah simbol dari kekakuan karena jarak yang terbentang dan agak sulit dilisankan. Bagi mereka Zittau adalah negeri jauh antah berantah yang dingin, kaku, pucat dan bukan tempat untuk memori terbaik. Memang ada beberapa hal yang sifatnya personal dan sentimentil di balik pemaknaan-pemaknaan tersebut. Sampai ketika mereka harus menterjemahkannya ke dalam visual dalam rupa video musik, Gizpel mencoba menarik diri untuk melihat lagu ini dari jauh hingga mereka menyimpulkan bahwa lagu ini sebenarnya adalah tentang menghargai kebersamaan. Dalam debut mini album mereka, Short Distance EP yang dirilis pada Agustus lalu, Gizpel memang banyak berbicara tentang dinamika-dinamika yang terjadi ketika jarak terlanjur hadir. Dan sebagai nomor pembuka, "Zittau" cukup banyak menyimpan analogi-analogi yang mewakili keseluruhan tema tersebut. Diarahkan oleh Vinny Asrita Rahma yang juga merupakan pengisi vokal pada lagu ini, video musik "Zittau" menampilkan penubuhan dari kata kunci-kata kunci seperti ruang, waktu, gerak, keberadaan, kebersamaan, kecanggungan, kegamangan, keintiman, keterhubungan, dan keterasingan. "Kata kunci-kata kunci tersebut jika dianalogikan ke dalam visual, bagi kami adalah seperti dua orang yang terlihat identik melakukan hal-hal yang mereka lakukan dalam video ini," terang Raka. Dimas melajutkan, "Kita mencoba untuk menunjukkan bahwa sedekat apapun keberadaan kita dengan sesuatu atau seseorang yang terasa penting, bahkan saat melakukan hal yang sama pun, kecanggungan dan kegamangan itu pasti tetap akan selalu ada. Jarak sesungguhnya itu ada dalam diri dan tidak dapat diukur. Sehingga jauh atau dekat seharusnya kita rayakan dan syukuri sama baiknya." Video musik ini juga sekaligus menjadi persembahan dari Gizpel untuk memulai turnya di lima kota memperkenalkan Short Distance EP dalam rangkaian Kolibri Rekords Tour 2015. Dalam pembuatannya, video musik Zittau juga dibantu oleh Dito Mohamad yang sebelumnya juga pernah mengerjakan video musik Gizpel untuk "Loner Train". Sementara gambar diambil oleh Daffa Andika, Ghina Nurvita, dan Vinny sendiri. Dua gadis kembar diperankan oleh Amelia Vindy dan Nitya Putrini. Directed by Vinny Asrita Camera by Daffa Andika, Ghina Nurvita, Vinny Asrita Edited by Vinny Asrita & Adyhtia Utama Twins are Amelia Vindy & Nitya Putrini

03.12.15

Sigmun Merayakan Crimson Eyes

Berselang beberapa pekan dari rilis album pertama yang ditunggu-tunggu sejak CD-R demo mereka bagikan di salah satu edisi SUPERBAD! pada tahun 2011, Sigmun menggelar pesta rilis dari "Crimson Eyes" yang telah menerima ulasan positif dari berbagai media. Diadakan di Auditorium IFI Bandung, pada tanggal 12 Desember 2015, Sigmun, untuk pertama kalinya, akan membawakan rangkaian materi-materi baru dari album debut mereka secara live dan terkurasikan secara visual berdasarkan apa yang terpaparkan di dalam Crimson Eyes. Sigmun akan bermain selama kurang lebih dua jam, dimana selain membawakan materi-materi baru dalam gelaran ini, merekapun akan membawa pendengar-pendengar lama mereka untuk bernostalgia dengan materi-materi mereka yang terdahulu. Bertepatan dengan showcase ini pun, disamping beberapa merchandise t-shirt dan lainnya yang terbatas, Sigmun dengan Orange Cliff Records akan merilis ulang Crimson Eyes dalam format double cassette tape yang hanya akan tersedia di venue. Tiket yang dibanderol dengan harga 75 ribu rupiah ini sudah termasuk poster yang akan dibagikan saat registrasi di venue. Informasi mengenai prosedur pembelian tiket bisa diperoleh melalui akun-akun jejaring sosial Sigmun. Untuk informasi lebih lanjut: Twitter : @sigmuns Instagram : @sigmun_

26.11.15

Dancey Neon

Pilihan Prasvana untuk mengundang Neon Indian bermain di Jakarta adalah sebuah keputusan yang cukup menarik. Nama Neon Indian sebenarnya tak lagi terlalu didengar pasca album Era Extraña yang dirilis pada 2011. Baru pada separuh terakhir 2015, Neon Indian kembali menjadi topik perbincangan melalui album barunya yang dirilis pada bulan Oktober. Dimana tak lama setelah itu, Alan Palomo kembali dilihat lagi berkat VEGA INTL. Night School yang mendapat review positif pada berbagai situs musik. Kredit lebih patut disematkan pada tim Prasvana yang mampu membaca perkembangan dan lantas membawa Neon Indian untuk tampil di Jakarta ketika tren mengenainya masih hangat di kepala. Bertempat di Rolling Stone Cafe hari Selasa, 24 November 2015, acara dibuka oleh Future Collective yang hari itu dibantu oleh Wing Narada dari Maverick/Glovves pada keys dan Binsar dari Marsh Kids pada bass. Tak terlalu banyak bicara, Future Collective tampil sedikit kurang maksimal, dengan keluaran suara yang tak terlalu optimal. Mungkin, baru pada lagu terakhir sound terasa sedikit lebih nyaman. Menariknya di antara set, sempat diumumkan bahwa Future Collective sedang mempersiapkan materi baru untuk rilisan yang akan datang. Sebuah lagu dengan vokal yang dimainkan malam itu cukup membuat penasaran mengenai separti apa bentuk album mereka ke depan. Alan Palomo dan band pengiring menyusul tampil beberapa saat kemudian. Karisma flamboyan terasa cukup kuat dan dominan dari Alan cukup terasa pada set Neon Indian malam itu. Dengan tarikan vokalnya yang cukup terjaga diantara gerakan dansanya yang cukup provokatif dan sesekali isian synthesizer, menunjukkan bagaimana dia mampu membawa proyek solo ini menjadi salah satu nama penting dari scene chillwave/dance kekinian. Setlist malam itu didominasi oleh lagu dari album terbaru VEGA INTL. Night School yang merangkum arahan baru dalam musik Neon Indian. Aspek dance semakin kuat dalam musik yang lebih menonjolkan aroma funk dan disco 80’an. Ada pula secuil aroma reggae pada isian gitar dan R&B yang muncul tipis melalui falsetto pada vokal Alan Palomo. Sedikit mengingatkan kembali pada EP Well Known Pleasures dari VEGA side project Alan sekaligus cikal bakal Neon Indian yang dirilis pada 2009. Ramuan ini mampu membawa kembali aroma tropikal pada venue yang sempat basah oleh air hujan. Sebuah penampilan yang mengundang dansa pada barisan penonton, dari awal hingga akhir pentas Neon Indian. Meski durasi tak terlalu lama, band pengiring (termasuk Jorge Palomo adik alan yang bermain bass) yang tampil nyaris tanpa cela membuat senyum tak hanya terkembang pada muka Alan, tetapi juga pada muka para penonton.

20.11.15

Silverglaze, Band Penting di Scene Shoegaze Bandung Rilis Single

Menjelang akhir tahun 2015, Anoa Records bersiap merilis album mini dari sebuah band Bandung yang ajaib. Begitu ajaibnya karena band ini dihuni oleh orang-orang yang bisa dibilang pernah tampil di beberapa band penting di Bandung seperti Cherry Bombshell, Themilo, Lass, hingga Puppen. Dan band bernama Silverglaze ini tak pernah sekalipun manggung meski sempat memamerkan dua lagu di laman Myspace. Itu pun tanpa woro-woro tentang siapa sebenarnya penghuni Silverglaze. Silverglaze terdiri dari Ajie Gergaji (Cherry Bombshell, Themilo), Widi (Cherry Bombshell, Lass) dan Ajo (Cherry Bombshell, Puppen). Masa lalu mereka memang saling terkait dengan Cherry Bombshell dimana ketiganya hadir di dua album penuh Waktu Hijau Dulu & Luka Yang Dalam. Kini mereka telah ‘reuni’ dalam wajah yang berbeda dan lebih segar. Bersama Anoa Records, Silverglaze akan meluncurkan EP bertitel Essay di awal Desember 2015, dengan single utama berjudul ‘We Can Do It Now Together’. Bersama Rollingstones.co.id, Silverglaze akan melepaskan single tersebut dalam format bebas unduh. Single utama ini mewakili corak musik Silverglaze yang indie pop/rock. Sebagai jebolan penikmat band-band alternatif 90an, tak akan susah mengendus karakter musik mereka, yang telah dirintis oleh band-band seperti Belly, Lush, Madder Rose, Velocity Girl, dan Juliana Hatfield. Dan sebenarnya, tak akan ada Cherry Bombshell tanpa kehadiran beberapa band-band diatas. We Can Do It Now Together adalah awal mula yang sempat tertunda di masa lalu. Kembalinya Widi & Ajo ke dunia yang sempat mereka tinggalkan setelah memutuskan untuk berkeluarga. Dan Aji melengkapi Silverglaze, bersama-sama, sebagai sahabat lama yang tak melupakan passion mereka dalam sebuah band. They can do it now together.

19.11.15

Jakarta Biennale 2015: Maju Kena, Mundur Kena. Bertindak Sekarang

Meskipun tema yang diangkat oleh Jakarta Biennale tahun 2015 ini mengingatkan pada salah satu judul film Warkop yang dirilis tahun 1983, ternyata komedi sedikit berjarak dengan misi yang ingin dicapai pada gelaran ini. Konsepsi yang skala dan dampaknya cukup besar menjadi dorongan utama eksibisi dua tahunan ini. Dengan perhatian pada lingkungan, terutamanya terhadap area kota yang ditempatkan pada sorotan utama, sejatinya Biennale ini adalah rupa rekaan seniman mengenai apa yang terjadi di sekitar mereka. Ini juga sekaligus merupakan sebuah seruan untuk mengambil langkah untuk maju sekarang, supaya tak terjebak di masa lalu, juga tak tersesat pada utopia masa depan. Besarnya konsepsi juga bisa dirasakan pada bagaimana Jakarta Biennale 2015 memetakan rangkaian acara. Secara kuratorial, Yayasan Jakarta Biennale sebagai pelaksana pameran mengembangkan Curators Lab, sebuah program pembelajaran dan kolaborasi antara kurator muda dengan kurator profesional untuk mengembangkan konsep yang lebih relevan kepada permasalahan yang ada di sekitar. Tim kurator yang besar, berisi kombinasi 7 kurator muda dan senior, termasuk di dalamnya pegiat seni yang didatangkan dari penjuru negeri, dari Aceh, Surabaya, hingga Makassar, menunjukkan lebarnya skala yang dijangkau oleh pameran ini. Selain juga keterlibatan seniman dari berbagai suku bangsa yang diajak untuk menterjemahkan pemahaman mereka masing-masing terhadap tema utama. Kunjungi Gudang Sarinah untuk melihat dan merasakan bagaimana para seniman memaknai isu-isu perkotaan, sekaligus untuk memahami tindakan apa yang bisa diambil untuk bisa melangkah maju ke depan. Jakarta Biennale Website Jakarta Biennale Facebook Jakarta Biennale Twitter Jakarta Biennale Twitter

18.11.15

bedchamber dan Cotswolds Lepas Single “Frowning” dan “Marra”

(pesan split tape bedchamber dan Cotswolds) Sejak merilis debut EP masing-masing pada 2014 dan 2013 lalu, baik bedchamber dan Cotswolds belum pernah merilis apapun setelahnya. Namun lewat kedua debut EP mereka tersebut, keduanya berhasil menawarkan warna musik berbeda yang dengan sangat kuat menandai mereka sebagai dua unit muda dengan karakter yang khas pada musiknya masing-masing: bedchamber yang indiepop dengan segala keriangannya serta Cotswolds yang kental akan gelap post-punk dengan segala kemuramannya. Pun ternyata, keduanya kemudian juga berhasil diterima dengan sangat baik atas apa yang mereka mainkan tersebut Namun dalam PORTSIDE: a split tape by bedchamber & Cotwolds, kali ini mereka menampilkan sisi-sisi lain dari mereka yang mungkin akan terdengar bertolak belakang dari bagaimana musik mereka dikenal. bedchamber bermain dengan pola drum post-punk dalam nuansa yang lebih gelap? Atau entah apa yang membuat Cotswolds menjadi terdengar lebih riang lewat permainan gitar yang kental akan pop? PORTSIDE mempertemukan dan mengabadikan transisi-transisi itu dengan baik. Sebagai single pertama bedchamber memilih "Frowning" sementara Cotswolds menawarkan "Marra". bedchamber menuturkan tentang "Frowning" yang menurut mereka adalah sebuah teka-teki akan sifat dan keadaan psikologis seseorang yang tidak bisa memberikan kepercayaan kepada orang lain dan memilih untuk melalukan segala hal seorang diri sehingga apakah ia merasa kesepian atau tidak menjadi hal yang sulit diketahui. Sedangkan "Marra" menurut Cotswolds adalah momen terungkapnya kepribadian gelap dan tersembunyi dari seorang wanita periang pengidap bipolar yang tidak pernah diketahui sebelumnya. PORTSIDE akan dirilis dalam format kaset oleh Nanaba Records serta digital stream lewat Kolibri Rekords pada 5 Desember 2015. Rilisan ini merupakan kolaborasi pertama di antara kedua label tersebut, juga sekaligus menjadi penghubung menuju album perdana dari masing-masing band. Showcase istimewa untuk rilisan ini juga akan dilaksanakan di Surabaya, Malang, Bandung, dan Jakarta dalam waktu dekat. -- ​ bedchamber - Frowing | Cotswolds - Marra from split album 'Portside' Out 5 Des 2015 on cassette via Nanaba Records & digital stream via Kolibri Rekords

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.