Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Tahun 2015 ditutup dengan perasaan lega bagi penggemar grup musik Efek Rumah Kaca, setelah penantian selama 7 tahun, akhirnya album ketiga rilis juga. Berjudul “Sinestesia”, di album ini Efek Rumah Kaca menjelajahi sekaligus mengajak pendengarnya untuk masuk di area baru, musik yang lebih kompleks secara dinamika dan instrumentasi, serta durasi yang dua sampai tiga kali lebih panjang daripada durasi lagu Efek Rumah Kaca yang lalu-lalu. Dan meski dirilis di minggu terakhir bulan Desember, album ini langsung menjadi bagian dari list album terbaik pilihan banyak kalangan, terakhir, Majalah Tempo memilih album ini sebagai album lokal terbaik 2015. Untuk merayakan sekaligus menandai rilis album ketiga ini, Efek Rumah Kaca menggelar Konser Sinestesia di Teater Besar Taman Ismail Marzuki. Menariknya, untuk menyambut gelaran besar ini, Efek Rumah Kaca merilis pula unduh gratis album yang baru berusia mingguan di pasaran ini melalui website efekrumahkaca.net. Sebuah tradisi yang mereka terus lakukan dari album pertama, kedua, pula di album Pandai Besi. Simak rilis pers lengkapnya berikut, dan dengar/unduh album Sinestesia mereka melalui tautan di bawah. -- Hola teman teman semua, Akhirnya, setelah 7 tahun tanpa album baru, kami berhasil menyelesaikan album ketiga kami yang berjudul Sinestesia. Album yang proses pembuatannya sangat melelahkan. Semoga kalian tidak lelah ketika mendengarkannya. Beban berat yang menggantung, yang terbawa ke mana-mana, tiba-tiba hilang. Lega. Pada tanggal 18 Desember 2015 versi digitalnya sudah mulai bisa diunduh, sedangkan rilisan fisiknya pertama kali dijual pada tanggal 21 Desember 2015. Paling tidak janji kami merilis album di tahun 2015 terpenuhi, setelah bertahun-tahun ingkar janji. Dua album Efek Rumah Kaca terdahulu, selalu kami rancang terlebih dahulu di studio latihan, kemudian dimasak dan diberi bumbu penyedap di studio rekaman. Album Sinestesia berbeda. Ia langsung masuk studio rekaman tanpa melalui pematangan konsep di studio latihan. Penyebabnya mungkin karena kami sudah mulai jarang berkumpul untuk sekedar ngobrol tak ada juntrungan (namun biasanya dari sini timbul ide-ide nakal) karena sudah berkeluarga, Adrian menurun kesehatannya dan jadwal panggung yang lumayan merayap. Akhirnya, pada awal pengerjaan album Sinestesia, sering kali kami masuk studio rekaman hanya berbekal sketsa musik, biasanya gitar dan nada humming, dan biasanya berakhir tanpa arah yang jelas hendak dibawa ke mana musik yang sedang direkam. Seingat kami, hanya lagu putih yang sempat kami latih di studio, di medio 2009, karena kesehatan Adrian yang masih memungkinkan untuk melakukannya. Itupun hanya bagian musiknya saja, tanpa nada vokal. Selebihnya, pola kerja kami sepertinya mirip dengan seniman kolase, bongkar pasang nada dan instrumen dilakukan langsung di studio rekaman. Karena itulah, menampilkan lagu-lagu dalam Album Sinestesia ini, yang belum pernah sekalipun secara lengkap kami mainkan, merupakan tantangan bagi kami. Dan momen ini kami tindak lanjuti dengan mengadakan konser yang bertajuk Konser Sinestesia, dengan harapan, paling tidak sebelum kami kembali vakum untuk urusan keluarga, kami pernah berusaha untuk membawakan lagu-lagu tersebut mendekati aslinya. Konser ini sendiri akan dibagi menjadi dua segmen. Di segmen pertama, kami akan membawakan lagu-lagu kami dari album terdahulu dalam format orkestra, dengan bantuan Alvin Witarsa dkk, seperti yang sudah kami lakukan pada konser kami di Bandung. Kami menambahkan beberapa lagu, sehingga sesi orkestra ini tetap layak untuk dinikmati. Selanjutnya pada segmen kedua, kami akan membawakan semua lagu dari album terbaru kami. Konser ini akan memakan waktu kurang lebih 2,5 jam. Ketika tulisan ini dibuat, tiket konser yang cukup mahal karena penyelenggaraan konser yang bisa dikatakan tanpa sponsor ini, telah habis terjual. Kekhawatiran tentang bagaimana harus menutup biaya produksi konser paling tidak hampir terpecahkan, walau belum sepenuhnya. Untuk itu, kami ucapkan terima kasih banyak kepada para calon penonton atas antusiasme dan apresiasinya. Kepada teman-teman yang tidak mendapatkan tiket karena kehabisan atau harganya kemahalan, semoga di lain waktu kami bisa mengadakan konser dengan konsep yang lebih bagus, kapasitas gedung yang mampu menampung lebih banyak penonton dan tentunya dengan harga yang lebih terjangkau. Pada konser kali ini, kami bekerja sama dengan Irwan Ahmett atau biasa dipanggil Iwang sebagai Art Director. Iwang merupakan seniman yang karya-karyanya selalu kami kagumi karena selain konseptual, ia juga kerap mengajak publik untuk terlibat dalam proses berkeseniannya. Iwang akan menginterpretasikan Sinestesia menurut caranya sendiri, yang seringkali mengejutkan dan segar. Bagi teman-teman yang belum sempat mendengarkan album Sinestesia, mulai hari ini seluruh lagunya bisa diunduh gratis di website kami www.efekrumahkaca.net. Bagi yang akan menonton konser, semoga dengan mendengarkan materi album ini terlebih dahulu, akan bisa menikmati konser dengan lebih santai, tanpa harus mengerutkan kening untuk mencerna lagu. Dan yang terakhir, semoga konser ini mengena di hati calon penonton. Sampai jumpa di Teater Besar Jakarta. Efek Rumah Kaca
UPDATE: G Productions telah menambah satu konser FRAU - Konser Tentang Rasa di hari yang sama (20 Jan 2016) jam 15:30 untuk peminat yang belum mendapatkan tiket. Frau adalah salah satu musisi favorit di kantor Whiteboard Journal. Kemahiran musisi dari Jogjakarta dalam bermain piano ditambah dengan melodi dan lirik yang pintar menghasilkan komposisi lagu yang kaya dan dewasa. Dan kehebatan Frau cepat dikenal sejak dia merilis album-albumnya, Starlit Carousel dan Happy Coda, melalui netlabel Yesnowave. Di tanggal 20 Januari Jakarta akan menjadi rumah untuk konser Frau berjudul Konser Tentang Rasa. Konser Tentang Rasa adalah acara yang mengajak penonton bukan hanya untuk mendengar musik Frau, tetapi juga menikmati sebuah pengalaman yang menyentuh panca indera yang lain. Menurut press release yang kami dapat dari G Production (penyelenggara konser ini) penonton Konser Tentang Rasa diajak untuk "...berbagi narasi, ilustrasi, ataupun keluh kesah atas rasa yang muncul ketika mendengarkan lagu-lagu..." saat Frau membawa lagu-lagunya. Dari deskripsi ini, konser ini akan berusaha untuk menyentuh penonton secara personal melalui introspeksi sekaligus membuat pengalaman kolektif. Yang pasti, Konser Tentang Rasa adalah acara yang wajib dihadiri. -- FRAU – Konser Tentang Rasa Gedung Kesenian Jakarta Rabu, 20 Januari 2016, 15:30 & 19.30 WIB Penampilan pembuka oleh AriReda www.bit.ly/tiketfraujkt Instagram & twitter: @by_gproduction Tiket bisa didapatkan di Ruru Shop (Jakarta) & Omuniuum (Bandung) mulai Jumat 8 Januari 2016. Kategori I : Rp 175.000 Kategori II : Rp 150.000 Kategori III : Rp 125.000 *harga tiket sudah termasuk pajak & admin fee Penjualan tiket mulai hari Ruru Shop Jl. Tebet Timur Dalam Raya No.6 081290362655 rurushop6@gmail.com Instagram: @rurushop - Tiket Kategori I untuk baris/row B – I bagian kanan - Tiket Kategori II untuk baris/row L – S bagian kanan Omuniuum Jl. Ciumbeleuit 151B, lt 2 022-2038279 / 087821836088 Omuniuum@gmail.com - Tiket Kategori I untuk baris/row B – I bagian kiri - Tiket Kategori II untuk baris/row L – S bagian kiri - Tiket Kategori III untuk baris/row AA & BB 1. Datang langsung ke Ruru Shop atau Omuniuum 2. Pembelian maksimal 4 tiket. 3. Pesan online melalui email: a. Subject email: “Konser Tentang Rasa – GKJ” dan sertakan informasi di badan email dengan keterangan sbb: Nama, No telp, No KTP / tanda pengenal, Alamat Lengkap, Kategori tiket, dan Jumlah tiket. b. Tunggu balasan konfirmasi pesanan, Admin akan menjelaskan instruksi pembayaran dan wajib melakukan pembayaran maksimal 1x24 jam dengan menyertakan bukti pembayaran. Apabila dalam kurun waktu tersebut tidak melakukan pembayaran, pemesanan dianggap batal. c. Setelah pembayaran dikonfirmasi, Admin akan mengirimkan tanda terima dan kode reservasi yang berlaku sebagai kuitansi pembayaran. Biaya pengiriman kuitansi ditanggung pembeli. d. Simpan kuitansi pembayaran untuk ditukarkan dengan tiket asli pada hari konser dengan menunjukan KTP / tanda pengenal. e. Penukaran tiket bisa dilakukan mulai pukul 18.00 di lobby Gedung Kesenian Jakarta. f. Nomor kursi dapat dipilih saat menukarkan tiket. Musik memiliki beragam dimensi yang dapat dicecap oleh berbagai indera, tidak hanya dimonopoli oleh telinga dan mata. Eksplorasi dalam menikmati musik inilah yang ditawarkan oleh Frau dalam konser terbarunya di Gedung Kesenian Jakarta pada 20 Januari 2016 mendatang. Bertajuk “Konser Tentang Rasa”, sajian musik dari Frau ini mencoba menghadirkan pengalaman baru yang lebih menyeluruh dalam menikmati musik. Kesan lintas indera itu membuat penonton dapat terlibat secara aktif untuk merangkai impresi rasanya sendiri, bisa berupa senang, sedih, bosan, hingga kantuk. Dalam konser ini penonton juga diajak untuk berbagi narasi, ilustrasi, ataupun keluh kesah atas rasa yang muncul ketika mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Leilani Hermiasih (Lani) dan pianonya, Oskar. Soal pengalaman “mengalami musik”, Lani mempunyai cerita sendiri. Pada suatu kesempatan, Ia menceritakan bagaimana dirinya bisa menangis tersedu-sedu tanpa alasan ketika mendengarkan lagu “La Même Histoire” dari singer-songwriter Kanada, Feist, berulang-ulang kali. Meski sama sekali tidak mengerti apa dinyanyikan, tapi air matanya tetap mengalir deras. Tubuh yang berbaring pada pegas-pegas springbed lawas di kamarnya itu pun sesenggukan. Pasrah begitu saja ketika satu dua tetes air mata asin mengalir ke mulutnya. “Saya tidak sedih, tapi mungkin terharu karena bisa menikmati mewahnya pengalaman musikal seperti itu,” Ucap Lani mengenang. Dalam konser ini, Frau akan membawakan 16 lagu dari album Starlit Carousel dan Happy Coda serta beberapa materi lagu baru. Materi baru tersebut akan menjadi rujukan untuk album berikutnya. Sebelum di Jakarta, konser dengan tema yang sama telah berlangsung di Bandung 22 Mei dan Yogyakarta 29 & 30 Oktober 2015 silam. Untuk di Jakarta, FRAU bekerja sama dengan G Production dalam mewujudkan Konser Tentang Rasa ini. G Production memilih Gedung Kesenian Jakarta untuk menyelenggarakan Konser Tentang Rasa ini. “Scene Yogya selalu punya tempat istimewa dalam peta musik Nasional, gagasan Lani di Frau sangat menarik sejak kemunculannya, karakter yang kuat, dan konsep bermusik yang hebat merupakan daya pikat terbesar dari Frau. Di Konser Tentang Rasa di Jakarta, Lani akan merespon Gedung Kesenian Jakarta, tempat yang sangat istimewa bagi sebagian warga Jakarta.” ujar Ferry Dermawan, Program Director G Production. Mengenai gagasan pertunjukan, Lani menjelaskan Konser Tentang Rasa disajikan bukan sebagai sebuah pernyataan, melainkan pertanyaan yang akan dijawab bersama di akhir pertunjukan nanti.
Ever wondered about the origins of Deadpool or Polaris? Perhaps curious about Star Wars' "Shattered Empire" or X-Men's "Days of Future Past" story arcs? To be frank, though I have always wanted to read all of my favorite comic book characters' stories, I cannot be bothered to collect the huge amount of comic books that are out there (my personal lame excuse is adulthood). Thankfully, the Eligible Monster Team have been diligent in their comic book reading and are creating series of videos on a Youtube channel called Comicstorian where they explain what is going on for comic-ignoramuses such as myself. Comicstorian contains videos that explain character origins, story and film reviews, and a personal favorite: complete stories. In complete stories the Eligible Monster Team narrate summarised story arcs. The summaries are read with a dramatic flair that recalls children book readings - couple that with assorted comic book panels for visual accompaniment and you have thoroughly entertaining and engaging videos. Some of the videos has made me want to collect some of the stories. For example, Comicstorian has a series of videos revolving around a Trilogy of Deadpool killing the Marvel Universe, literature, and then himself. As you may have known already, Deadpool is a Marvel character who breaks the fourth wall and talks to the readers directly. In this arc, Deadpool is lead to madness, making him kill the Marvel universe one character at a time, which leads him to kill a bunch of characters of literature such as Don Quixote, and the many versions of himself in a multi-verse. It is a thoroughly gripping story that made me want to buy the comic books (will visit favorite bookstores this weekend). This story arc and more can be found in Comicstorian, so for those non-comic book collectors who have always wanted to know about things such as the battle between the X-Men and The Avengers, this is the channel you should visit. Visit Comicstorian's Youtube Channel by clicking this sentence.
Ada yang berbeda dari apa saja yang mencuat dari Jogja, selalu ada kejutan yang muncul dari buah karya warganya. Dan kejutan itu bisa muncul dalam berbagai macam bentuk, terutamanya dalam karya seni, bisa jadi visual, bisa jadi bunyi. Leftyfish menjadi salah satu kejutan baru yang timbul di akhir tahun 2015. Lahir dari nama-nama yang sebenarnya tak terlalu baru, ada Halim (Cranial Incisored, Udanwatu, Haphaetus) di gitar, Bono (Excausated) di drum, Andy (Soulsick) di keyboard, Bergas (Recycle Bicycle) di terumpet dan Ayu (Killed on Juarez) di vokal bisa dibilang merupakan line up dengan kualitas pada bidangnya. Membawakan lagu-lagu yang seperti meneruskan semangat Melt Banana dan John Zorn tapi dengat durasi yang lebih singkat dan lebih padat, Leftyfish dengan mudah menyeruak dan menarik perhatian. Karakter terkuat mereka muncul dari bagaimana Leftyfish menarik dan mengobrak-abrik komposisi melalui gitar yang menggerinda dan ketukan drum yang menderu sebelum kemudian mengulur dan menata kembali telinga dengan tiupan terumpet, dan tak lama kemudian, mereka menghancurkannya kembali. Dirilis oleh Hitam Kelam Records, album ini sangat layak untuk didengarkan bagi penggemar musik avant garde yang eksentrik.
A.P.A – Alternative Public Artspace – adalah sebuah proyek berupa pop-up space yang menjadi wadah kreatif bagi seniman muda yang didirikan oleh ArtDept_ID dan Future10 bertempat di The Good Space, Plaza Indonesia, Lantai 5 selama 6 bulan ke depan. Bersamaan dengan hadirnya Prost Beer sebagai sponsor utama dari proyek ini, A.P.A – Alternative Public Artspace – hadir untuk mengajak seniman muda nan aktif dan visioner untuk bergabung serta menunjukkan bakat mereka melalui program yang berisi karya seni, musik hingga film indie. Bekerja sama dengan Kolektif, sebuah inisiatif pendistribusian film yang berfokus pada kultur film yang lebih beragam yang telah menggelar beberapa workshop entrepreneurship (salah satunya acara Film, Musik, Makan), A.P.A akan mengadakan "DASDASDASDASJADUDAS" sebuah screening video klip dan artist talk bersama The Jadugar, duo music video maker yang beranggotakan Anggun Priambodo dan Henry Foundation. Pada acara yang akan dimulai pada pukul 19:00 di Plaza Indonesia ini, akan diputar beberapa video terbaik karya The Jadugar. Juga akan diadakan artist talk yang akan membahas mengenai sejarah duo ini, cerita dibalik proses pengerjaan video klip mereka, serta tentang perkembangan musik video di era sekarang. Artist talk sekaligus diskusi ini akan dimoderatori oleh M. Hilmi dari Whiteboardjournal.com. Di akhir acara, akan dimainkan musik dari Henry Foundation.
Griffin’s Holy Grove, grup musik bernuansa progressive rock asal bandung akan merilis debut album penuh mereka berjudul ‘Mala’ pada sebuah acara pesta rilis yang bertajuk ‘Mala Release Showcase’ di IFI Bandung, hari Jumat (11/12) pukul 18.30 WIB. Album ini sendiri dirilis melalui label rekaman asal bandung, Sorge Records. Dalam showcase ini, Griffin’s Holy Grove akan berkolaborasi dengan beberapa musisi lokal, seperti Aulia Fadil (eks personil Belakangka), dan juga Sarita Lahmi (Teman Sebangku). Selain penampilan dari Griffin’s Holy Grove, akan ada juga penampilan dari Avhath (kwartet blackened crust/black metal asal Jakarta) dan Lizzie (unit heavy-rock asal Bandung). Acara ini dibanderol dengan harga 20 ribu rupiah, sudah termasuk poster yang akan dibagikan di venue. Grup musik beranggotakan Mas Joko Jodi Satriya (Gitar, Vocal), Ferdi Adriansyah (Bass) dan Yusuf Zulkibri (Drum) memasukkan 8 lagu ke dalam album ‘Mala’, dengan total durasi 61 menit. Dua diantaranya adalah lagu ‘Hollow’ dan ‘Hitam Terang’ yang telah dirilis sebelumnya melalui kanal Soundcloud mereka. Menurut penuturan para personil, kata ‘Mala’ merujuk kepada Malapetaka. Lagu-lagu yang terdapat dalam album tersebut bercerita tentang problematika dalam masyarakat di segala bidang. Seperti kekeringan lahan, konflik tanah, masalah yang timbul karena cinta, dan sebagainya. Semuanya diambil dari perspektif para personil, dirangkum dan diberi garis merah yaitu beberapa hal yang menjadi malapetaka bagi manusia. Proses perilisan album ‘Mala’ ini terbagi ke dalam dua tahap. Yang pertama adalah perilisan format CD (Compact Disc), pada acara ‘Mala Release Showcase’, Jumat (11/12). Yang kedua adalah distribusi format digital melalui iTunes dan beberapa kanal distribusi digital lainnya pada tanggal 21 Desember nanti. Dari awal kemunculannya tahun 2008 dan setiap keterlibatan selanjutnya, mereka selalu memukau dengan musik cadas yang intens dan teknikal. Dalam lima tahun terakhir, Griffin’s Holy Grove secara perlahan mengubah arah musik mereka dan mulai bereksplorasi dengan pengaruh musik progressive rock yang lebih kental. Durasi lagu mulai memanjang. ‘Winter’s Calling’, single yang mereka rilis di tahun 2012, menandakan perubahan tersebut. Waktu itu, mereka masih mempertahankan sound metal yang kental. Simak lagu Griffin’s Holy Grove yang telah dirilis sebelumnya melalui kanal soundcloud mereka: https://soundcloud.com/griffinsholygrove Information: records@sorgemagz.com @sorgerecords @griffin’sholygrove
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.