Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Buku, film dan cinta mungkin jadi tiga hal yang bisa membuat orang bahagia di dunia ini. Kadang hiburan datang dalam bentuk pasif yang membuat siapapun bisa mendapat kepuasan tanpa harus menyesuaikan diri. Melalui hal tersebut, kadang orang bisa menjadi kembali seperti anak kecil yang menemukan sebongkah permainan untuk dinikmati sendiri atau bersama teman. Sayangnnya anak-anak yang memang membutuhkan hiburan sarat makna dan pendidikan layak kini tak selalu bisa mendapatkannya. Beberapa daerah yang kurang terkena paparan informasi atau lokasi yang terisolasi lebih kini berinisiatif membuat sarana pembelajaran untuk anak-anak yang membutuhkan. Salah satunya adalah Sekolah Kita Rumpin, sebuah sekolah alternatif gratis yang berada di Kampung Cibitung, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor ini menanamkan nilai-nilai penting kepada anak-anak, berupa empati, kepercayaan diri, rasa ingin tahu, serta kreativitas yang didukung oleh riset dan pengajar sukarelawan dengan pendekatan profesional. Setelah aktif beroperasi sejak tahun 2012, Sekolah Kita Rumpin bekerja sama dengan Komunitas Salihara dan Buttonijo menyelenggarakan Pekan Gembira Rumpin tahun ini untuk memperingati hari ulang tahun Sekolah Kita Rumpin yang ke-4 sekaligus sebagai acara penggalangan dana bagi sekolah tersebut pada hari Minggu, 24 April di Komunitas Salihara. Menghadirkan beberapa hiburan berdonasi yang bisa menstimulus rasa ingin tahu dan kreativitas anak-anak, acara ini dilengkapi dengan kelas fotografi dan prakarya berupa melukis tote bag yang akan dibimbing oleh Muhammad Fadli dan Kitty Manu. Adapun Buttonijo sebagai partner acara hadir dengan pemutaran fim “Another Trip to The Moon” yang akan dilanjutkan dengan diskusi untuk mengajak anak-anak belajar melihat suatu hal lebih dalam. Stand komunitas Lemari Buku-Buku juga akan tersedia di area sekolah yang tak hanya membawa beberapa buku pilihan, tapi juga menyediakan kotak donasi untuk buku anak-anak. - Isi acara: - Kelas Fotografi dengan Muhammad Fadli (donasi IDR 150,000) - Kelas Prakarya Melukis Tote Bag dengan Kitty Manu (donasi IDR 150,000) - Pemutaran dan Diskusi Film "Another Trip to The Moon" (HTM IDR 50,000, HTM + Kelas IDR 175,000) Pendaftaran bisa langsung menghubungi pekangembirarumpin@gmail.com atau Mutia (0822 8154 2093) - Minggu, 24 April 2016 (13:00-18:00 Komunitas Salihara Jl. Salihara No. 16 Kebagusan, Pasar Minggu Jakarta
Bekerja sama dengan Kedutaan Norwegia dan Swedia, Kinosaurus, mikro sinema, menampilkan jadwal film untuk bulan April yang dibagi jadi beberapa jenis film, mulai dari “Scandinavian Popular Cinema” yang terdiri dari film asal Skandinavia yang mencapai Box Office dengan keuntungan puluhan juta dolar, “First Features” yang menampilkan film pertama dari sutradara pilihan seperti Josh Kim dan Andri Cung. “Young Norway” didaulat untuk memperkenalkan sutradara muda asal Norwegia yang berhasil membawa filmnya ke festival dengan mengangkat cerita dari novel. Sedangkan untuk sinema anak, Kinosaurus hadir dengan “Kinokids with Club Kembang” berisi film-film animasi yang menggambarkan perkembangan film di Norwegia dibalut dengan kultur dan nilai artistik khas Norwegia. Khusus untuk fokus sutradara bulan ini, Kinosaurus membuat “Spotlight on Mira Nair.” Seorang sutradara asal India berbasis di New York yang dikenal dengan isu ekonomi sosial dan budaya India dalam filmnya berjenis documenter hingga fitur, seperti Salaam Bombay! yang pernah dinominasikan sebagai Film Berbahasa Asing Terbaik di Academy Award di tahun 1989. Untuk melengkapi agenda, “Kinodocs” pun kali ini diisi dengan gabungan film dokumenter lokal seperti WSATCC di Cikini dan film Norwegia berdurasi 80 menit, The Snow Cave Man. Kunjungi website Kinosaurus untuk detail jadwalnya. - Kinosaurus Jl. Kemang Raya No.8B Mampang Prapatan Jakarta
Merantau tak selalu terjadi atas kemauan sendiri, kadang aksi itu terjadi karena keadaan yang menggiring posisi seseorang untuk berpindah ke tempat yang dipercaya lebih menguntungkan. Berawal dari dorongan untuk berpindah tersebut, tentunya menggasak rasa untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan meninggalkan kampung halaman akan memberikan fase haru biru bahkan krisis. Cerita akan hal seperti itu tidaklah langka jika kita bayangkan keadaan yang dulu terjadi di Indonesia. Sebagai salah satu negara di dunia yang mengalami penjajahan tentu ada represi yang membuat orang-orang di zaman terjadinya okupasi harus mengambil sikap untuk bertahan hidup, tak hanya dari kondisi yang tak menguntungkan, tapi juga untuk mencari kedamaian. Belanda adalah Negara yang menjadi highlight dalam sejarah Indonesia hingga saat ini, bahasa maupun budaya keseharian cenderung terserap begitu dalam sampai batas yang dulu diciptakan sekian keras melebur sudah menjadi sekadar sejarah. Fenomena bisa disematkan dalam hubungan antara Indonesia dan Belanda yang terjalin sekian lama dalam bisnis, budaya dan lain lain. Melihat warga Negara Indonesia yang tak terhitung jumlahnya di Belanda setelah meraih kemerdekaan di tahun 1945 telah menciptakan macam ‘kewarganegaraan’ baru. Hal itu telah didokumentasikan dalam sebuah film pendek berjudul “Untuk Selalu” oleh Andrea van den Bos, Ambar Surastri dan Robbert Maruanaija. Mengangkat memori sebagai dasar cerita, film ini menyentuh kita sebagai warga negara Indonesia yang seringkali menyepelekan budaya nenek moyang dari orang tua. Terkesan klise memang, tapi melalui film ini terdapat empat orang berdarah Indonesia yang tinggal di Belanda merasakan kebanggaan tersendiri ketika memposisikan diri mereka di antara budaya Belanda. Adat, kebiasaan, kuliner, ritual hingga kepercayaan turunan menjadi celah dan warna dalam diri keempat orang yang mewakili para ‘indo’ (orang berdarah campuran – dalam hal ini adalah Belanda) dalam film yang dinominasikan sebagai Dokumenter Terbaik di Shortcutz Amsterdam tahun ini. Negara memang mencatat diri seseorang ke dalam sistem untuk terus bergerak dan berkembang, tapi tradisi keluarga dan kepercayaan nenek moyang lah yang selalu menentukan sikap seseorang dalam mengatasi situasi yang menimpanya. Teks: Febrina Anindita
Eksibisi seni sekaligus pencarian talenta baru dari Dia.Lo.Gue artspace kembali lagi dengan episode kelimanya. EXI(S)T kembali menggali potensi seni anak bangsa pada sebuah program dimana bakat-bakat yang ada akan diajak untuk berpartisipasi dalam project kreatif dan diskusi kritis untuk melahirkan karya dan gagasan baru. Simak detail submisinya berikut: Dia.Lo.Gue Artspace kembali mengajak para perupa muda berbasis Jakarta untuk ikut dalam program tahunan EXI(S)T yang pertama kalinya diadakan di tahun 2012. Disini kami tertarik untuk menjadi semacam inkubator untuk berbagai potensi artistik, dimana dialog kritis antara partisipan dan mentor serta kurator menjadi proses utama. Exi(s)t #5 mendatang akan diselenggarakan di bulan November 2016. Kriteria calon peserta adalah : Bagi yang tertarik, kami mengundang anda untuk mengantar / mengirim portfolio anda ke Dia.lo.gue artspace, Jl. Kemang Selatan 99a, Jakarta 12730 (dengan mencantumkan EXI(S)T #5 atau melalui e-mail ke exist@dialogue-artspace.com Setelah melalui tahap seleksi oleh kurator, Dia.Lo.Gue akan mengundang peserta untuk mengikuti rangkaian program lokakarya yang akan berlangsung selama proses kuratorial.
Seringkali luput dari kesadaran kita, otoritas telah menjadi bagian dari tiap manusia, baik sebagai sang subjek bahkan kadang sebagai sang objek. Otoritas pun dapat hadir dengan kekuatan yang menyalahi tataran kemanusiaan layaknnya sebuah interupsi. Hal ini yang disampaikan oleh Kartika Jahja dengan bandnya Tika & The Dissidents dalam menggubah lagu di album terbarunya “Merah.” Tika yang giat menyuarakan hak perempuan, menulis lagu berjudul “Tubuhku Otoritasku” beberapa tahun lalu yang mengangkat cerita di balik tubuh perempuan dan pengalaman kekerasan yang ia alami. Inspirasi dibalik lagu ini didapat dari tubuh yang lambat laun berubah secara alami atau modifikasi dengan atribut dan dipandang berdasarkan tata karma yang seringkali mengikat layaknya, otoritas tak kasat mata. Bersama kawan-kawannya, Tika membuat sebuah kolektif, Mari Jeung Rebut Kembali (Ika Vantiani, Teraya Paramehta, Savina Hutadjulu dan Shera Rindra) yang menggalakkan hak perempuan melalui medium persuasif, seperti musik. Beragam latar belakang, mulai dari musisi, dosen, anggota NGO hingga seniman yang tergabung dalam kolektif ini memberikan warna dan sudut pandang dalam mengatasi isu yang diangkat Tika. Melalui lagu “Tubuhku Otoritasku” kolektif ini menyerukan ajakan kepada semua orang, tak hanya perempuan, untuk menghargai tubuh tiap perempuan yang memilih untuk terlihat atau terlahir berbeda. Lirik tajam dan penuh emosi terjalin dengan aransemen yang menggambarkan semangat para perempuan yang pernah dipandang sebelah mata karena cara berpakaian, keriput yang menumpuk dimakan zaman, lemak berlebih serta profesi eksentrik. Dalam selebrasi ini, sebuah video musik dibuat berisi cerita dari 30 perempuan berpenampilan beragam. Tiap orang hadir dengan cerita menyentuh melalui ekspresi wajah, gestur dan tulisan seruan akan hak mereka yang telah direbut di anggota tubuhnya. Video sederhana ini tampil dengan keluwesan para dalam merayakan tubuh mereka. Tika menyampaikan isu ini tanpa basa basi atau metafora berbelit dalam lirik dan video untuk menonjolkan bahwa otoritas kini telah menjamah bagian paling personal dalam diri perempuan, dengan harapan orang mulai mengetahui makna dan batasan otoritas. Dengan pemahaman cukup, sekat akan tercipta untuk membela diri dari celaan berasaskan penilaian masyarakat. Tika mengajak semua orang untuk mengenal wilayah antara subjek dan objek untuk menemukan kesetaraan yang ada di masyarakat, karena tubuhku adalah otoritasku. Sekali lagi, musik berperan penting dalam menginjeksikan sebuah spirit dan Tika & The Dissidents hadir sebagai perantaranya.
Komunitas Salihara sebagai salah satu di Jakarta yang menghadirkan elemen penting di dunia seni kini kembali mengadakan Kompetisi Karya Trimatra yang mengajak para seniman muda untuk berpartisipasi. Mengikuti kesuksesan kompetisi sebelumnya pada tahun 2013 yang membebaskan semua submisi dengan tema personal, Salihara kini menyematkan tema yang terkait dengan perubahan lingkungan yang kian kompleks namun luput dari perhatian masyarakat. Dengan menyediakan dewan juri yang terdiri dari beberpa pihak yang memiliki andil dalam dunia seni Indonesia, mulai dari pematung Anusapati, kurator Asikin Hasan, arsitek Eko Prawoto, pemerhati seni rupa Natasha Sidharta serta penata panggung Jay Subyakto, Salihara berniat untuk menyeleksi pemenang berdasarkan tingkat fleksibilitas tiap karya. Peserta diharapkan berhasil mengimplementasikan kriteria dari dewan juri yang merepresentasikan nilai estetika, gagasan cerita yang jernih, teknik pembuatan serta presentasi final yang melampaui kaidah umum, namun padu dengan nilai ekologi dan kebudayaan dalam masyarakat. Kalian bisa mengajukan rancangan karya beserta ide atau penjelasan gagasan karya sesuai persyaratan Komunitas Salihara sebelum tenggat waktu pada 31 Mei 2016. Proses penjurian akan terjadi dalam dua gelombang, pertama pada bulan Juni yang akan menyeleksi 50 rancangan. Lalu, mereka yang terpilih akan diminta mengirim karya final sebelum 30 September 2016 untuk kembali melewati tahap seleksi top 25 finalis di bulan Oktober untuk kemudian dipilih menjadi pemenang I, II dan III. Kompetisi berjangka panjang ini nantinya akan memamerkan 25 karya finalis—termasuk pemenang I, II dan III—akan dipamerkan di Galeri Salihara pada akhir November 2016. Kunjungi http://www.salihara.org/programs/visual-arts/exhibition/detail/kompetisi-karya-trimatra-salihara-2016 untuk informasi selengkapnya dan selamat berkompetisi! Teks: Febrina Anindita Foto doc. Komunitas Salihara
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.