Blog

Latest stories

05.09.16

Tiba-Tiba Suddenly Konser: ERK

Tidak perlu berpikir panjang untuk mengingat kapan terakhir kali menonton Efek Rumah Kaca (ERK) dengan formasi lengkap. Sekitar bulan Februari atau Maret 2016, malam itu Jaya Pub penuh sesak dengan lautan manusia yang datang dari beragam kelas untuk menyaksikan ERK dengan materi dari album baru dan nomor-nomor lawas mereka. Sejak sang vokalis, Cholil Mahmud, memutuskan untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi di negeri seberang, sosoknya yang selalu bergairah untuk menyampaikan pesan lewat lirik kuat, semakin dirindukan oleh penggemar setianya. Setelah menunggu tanpa tanggal pasti kapan Cholil akan berpulang ke Jakarta, kabar baik yang mendebarkan datang ketika mendengar berita bahwa ia pulang untuk tampil bersama ERK di festival musik Indonesia terbesar di Pulau Dewata beberapa hari lalu. Melihat momen langka ini, RURUradio berinisiatif untuk mengelar sebuah konser mendadak yang dibuat khusus untuk menyambut kedatangan Cholil kepada para penggemar yang tidak sempat menyaksikan mereka di Bali. Memang sesuatu yang patut dirayakan mengingat vokal dan presensi Cholil bersama ERK yang selalu membius semua orang. Mengingat ini merupakan penampilan terakhirnya sebelum berangkat kembali ke Amerika Serikat esok hari, nampaknya jika melewatkan konser ini, kita harus kembali menjalani hubungan platonis dengan unit ini dan hanya bisa menunggu dalam ketidak pastian akan kepulangan Cholil, selama entah berapa lama. Senin, 5 September 20:00 Gudang Sarinah Pancoran, Jakarta Tiket masuk RP 50.000 mulai dapat dibeli dari pukul 19.00.

02.09.16

Utopia di Partisipasi Indonesia pada London Design Biennale 2016

Dalam press conference yang diadakan di Dia.Lo.Gue Artspace, pada Kamis, 1 September 2016, Hafiz Rancajale, salah satu kurator di project ini berkata, “Banyak hal bagus berawal dari utopia, termasuk juga berbagai aspek pada kemajuan zaman. Termasuk satunya adalah perdamaian. Jadi harusnya kita percaya dengan utopia kita.” Pemikiran inilah yang kemudian mendasari konsep karya Indonesia di London Design Biennale yang akan berlangsung di ibukota Inggris pada tanggal 7-27 September 2016. Merespon tema “Utopia by Design” yang diangkat oleh tim London Design Biennale, kurator Danny Wicaksono, Diana Nazir, Hafiz Rancajale, dan Hermawan Tanzil mengangkat peristiwa Konferensi Asia Afrika yang terjadi pada 1955 di Kota Bandung sebagai titik mula pendedahan framework karya. Konferensi ini dianggap sebuah pencapaian tersendiri, dimana Indonesia, sepuluh tahun sejak kemerdekaannya, mampu menjadi inisiator sebuah konferensi internasional yang mengemukakan konsep perdamaian ketika dua kubu besar dunia sedang bergerak menuju perang dunia. Konsep ini lantas di terjemahkan melalui tangan dan pikiran Adi Purnomo, Bagus Pandega dan Irwan Ahmett yang berperan sebagai seniman untuk mewujudkan karya di paviliun yang lahir dari inisiatif Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) ini. Dilibatkan pula seniman serta desainer, Agra Satria, Fandy Susanto, Max Suriaganda, Savina Lavinia, Suyenni dan Yola Yulifianti untuk mewujudkan kerja kolektif. Dimana sosok-sosok terpilih ini bekerja dalam sistem yang terintegrasi untuk menghasilkan output yang optimal. Lantas, lahirlah “Freedome”, sebuah utopia yang berdasar pada poin-poin dasasila Bandung mengenai perdamaian yang lahir setelah Konferensi Asia Afrika. Dimana, salah satu poinnya adalah diluncurkannya satelit informasi bernama “Berdikari” yang memiliki hanya satu misi mulia yang hadir tanpa pretensi: perdamaian dan kesejahteraan bagi semua. “Konferensi Asia-Afrika adalah sebuah kejadian besar. Dasasila Bandung yang lahir di konferensi tersebut bahkan menjadi pemicu kemerdekaan beberapa negara, jadi cukup jelas seberapa besar kapasitas dari konferensi tersebut. Freedome adalah utopia yang kami ciptakan untuk mengkhayalkan bagaimana jadinya kalau konsep tersebut terus hidup dan ada.” jelas Irwan Ahmett. Wujudnya adalah instalasi satelit yang terlevitasi dengan susunan sabut kelapa dan kuningan di bawahnya, didatangkan juga penari yang mensimulasikan kemeriahan Konferensi Asia Afrika. Ditampilkan pula berbagai informasi fiktif yang menguatkan kesan utopia di karya ini. Mengambil sebuah ruang di Sommerset House yang bernuansa kolonial, nuansa era 50an di Paviliun Indonesia akan semakin hidup. Ikuti jalannya London Design Biennale di situs http://www.londondesignbiennale.com/ dan buka http://freedome.id/ untuk tahu bagaimana utopia Indonesia dinikmati oleh dunia.

26.08.16

Mengenal Sunmantra

Sebuah band berisi dua orang; Bernardus Fritz Adinugroho dan Jonathan Pardede, yang memiliki ketertarikan dalam musik elektronik ini sudah menjajal beberapa panggung di ibu kota. Melihat gerak geriknya yang , bukan berarti performa Sunmantra patut dipertanyakan. Melayangkan kekaguman atas aransemen yang mereka buat, bisa jadi salah satu bentuk apresiasi musik, namun rasanya menggerakkan tubuh sembari menikmati alunan dentum dansa menjadi pilihan terbaik. Kami mendapat kesempatan untuk mengetahui latar belakang atas berdirinya Sunmantra dengan berbincang bersama Bernardus Fritz Adinugroho. Intinya karena kami mau buat sesuatu yang belum pernah dilakukan. Dulu, kami tergabung dalam Black Mustangs yang notabene band. Setelah vakum, akhirnya saya dan Jojo memutuskan untuk buat sesuatu yang , itulah yang membuat kami memilih jenis musik ini, selain memang kami berdua lagi mengulik musik elektronik. Sebenarnya Sunmantra itu sampai sekarang adalah duo, cuma lebih . Ke depannya, kami tidak menutup kemungkinan juga untuk berkembang ke area yang lebih kolektif, karena kami selalu ingin buat sesuatu yang untuk membantu proses kreatif kami. dalam musik kalian, dari mana pengaruh musik yang didapat ketika meracik karakter Sunmantra? Banyak hal yang mempengaruhi kami, karena kami banyak medengarkan musik techno, acid house dan deep house. Nah, dari ketiga genre itu, kami campur terus dan jadilah musik Sunmantra, dan juga belakangan ini kami lagi banyak menonton film sci-fi dan giallo, lagunya kami ambil dari genre tersebut. EP selanjutnya, kami akan lebih instrumental. Karena tanpa vokal, yang kami mau adalah atau dari karakter instrumen yang kami pakai. Sebenarnya kami lebih eksperimen ke arah . Kami lagi banyak merekam ulang aransemen yang sudah jadi, agar karakter suaranya sesuai dengan apa yang kami inginkan.

26.08.16

The Jadugar Kembali Untuk Memutarbalikkan Persepsi

Terakhir, videoklip karya The Jadugar muncul adalah pada akhir dekade pertama 2000’an. Sejak itu, Anggun Priambodo dan Henry “Betmen” Foundation masih terus berkarya, dan kreasi mereka masih selalu menyenangkan untuk dinikmati. Tapi ada sensasi tersendiri ketika dua nama tersebut melebur menjadi satu di The Jadugar. Perasaan yang muncul ketika menonton kereta mainan menelusuri jalanan di video Lain - Train Song itu belum bisa tergantikan. Di paruh akhir 2016, sensasi tersebut menyeruak kembali melalui videoklip Frigi Frigi yang berjudul “Kesalahan Persepsi di Era Megalithikum”. Dibuka dengan logo The Jadugar yang mengisi opening title, video lantas menampilkan personel Frigi Frigi menjelajahi halaman-halaman buku, sebuah kenakalan khas Anggun dan Betmen yang selalu mampu mempermainkan simbol keseharian menjadi hal baru yang kadang mengganggu, namun tak jarang lucu di saat yang sama. Sebuah visualisasi yang akurat untuk lagu yang mempernyatakan betapa kehidupan ini dapat diputar balikan hanya dengan persepsi-persepsi.

25.08.16

Teater Satu untuk SCOT Asia Directors’ Festival 2016

Bisa membawakan sebuah cerita secara langsung lengkap dengan setting tempat dan waktu yang deskriptif di atas panggung menjadi tantangan grup teater. Kejelian dan kegigihan mereka dalam mengolah produksi dan mengkomunikasikan bahasa tertulis agar dapat menggerakkan emosi penonton adalah misi utama penuh tuntutan. Teater Satu asal Lampung besutan sutradara, seniman dan penulis Iswadi Pratama ini menjadi salah satu grup teater yang mampu menyampaikan elemen tersebut dengan baik. Perjalanan mereka di skena kesenian inipun sudah tak perlu diperkenalkan secara panjang lebar. Iswadi yang juga menjadi pengajar kelas akting di salah satu komunitas seni di Jakarta pun sudah tidak diragukan lagi kompetensinya dalam mengarahkan pemain teater untuk mendalami peran sebuah cerita. Atas kepiawaian Iswadi, Teater Satu yang dikenal mampu menunjukkan kedalaman emosi di tiap performanya pun, mendapat kesempatan untuk terbang ke Jepang pada tanggal 27 Agustus – 5 September 2016, tepatnya guna berpartisipasi dalam SCOT Asia Directors’ Festival 2016. Festival yang akan digelar di desa Toga, Toyama ini akan dimeriahkan oleh ragam grup teater dari Indonesia, Korea, China, Taiwan, Rusia dan tuan rumah Jepang. untuk menampilkan lakon The Chairs (Kursi-Kursi) karya Eugene Ionesco. Berdasarkan pilihan Japan Foundation, Teater Satu menjadi lembar pertama bagi Indonesia untuk menorehkan cerita dalam festival tersebut. Lakon The Chairs yang bercerita tentang pencarian identitas sebuah masyarakat urban ini akan dikemas dalam bentuk kontemporer; lebih banyak menggunakan bentuk gerak tari, bela-diri, nyanyian, musik, dan imej-imej visual. Yang menarik pula, adalah adanya paduan unsur budaya Indonesia dan negara-negara Asia, mulai dari tradisional hingga urban untuk membentuk relasi terhadap penonton festival dari bangsa manapun. Teater Satu menjadi bukti bahwa kesenian masih menjadi motor terbaik untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia serta memperkuat karakter Indonesia sebagai bangsa multikultural.

12.08.16

Efek Rumah Kaca Mempertanyakan Merdeka

Minggu depan, Rabu, 17 Agustus 2016, Indonesia akan merayakan 71 tahun kemerdekaan bangsanya. Telah banyak sejarah tercipta dalam 7 dekade yang telah dijalani. Mulai dari kegagahan era Soekarno, "pembangunan" di era Soeharto hingga people power di era sekarang. Meski sebenarnya, jika berbicara mengenai konteks kemerdekaan, masih banyak yang bisa dipertanyakan mengenai status ini hidup di antara masyarakat kita. Bekerja sama dengan Anton Ismael, fotografer ternama yang juga aktif berbagi ilmu melalui platform ciptaannya, kelas pagi, Efek Rumah Kaca menyentil isu ini dalam video klip "Merdeka". Entah disengaja atau tidak, video klip yang menampilkan gambar-gambar yang diambil di Papua ini beririsan dengan isu rasialisme yang belakangan menghantui. Tapi, alih-alih membuatnya menjadi video klip politikal yang menggurui, Anton Ismael justru mengajak kita untuk sejenak "hidup" di ujung paling timur Indonesia dan merasakan sendiri, bahwa mereka, kita, sama adanya. Sebuah pesan yang juga disampaikan Efek Rumah Kaca melalui lagu ini. Lagu Merdeka sendiri sebenarnya merupakan materi lama dari tahun 2006 yang akhirnya diselesaikan pada awal 2016. Pertama dirilis dalam kolaborasi Efek Rumah Kaca dengan Inibudi, "Merdeka" menampilkan kombinasi format lama dengan pendekatan baru. Format lama dalam artian lagu ini dibuat dalam komposisi gaya lama Efek Rumah kaca, namun dengan pendekatan baru dimana Adrian menyanyikan seluruh bagian lagu diiringi instrumen tiup yang ditata lebih ke depan. Lagu "Merdeka" kini dapat diunduh di iTunes dan dapat didengar di Apple Music. Simak video Efek Rumah Kaca - Merdeka disini.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.