Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
SONY CSL Research Laboratory telah mengembangkan yang bisa menciptakan komposisi lagu pop, dan ternyata hasilnya sangat menarik. dengan nama Flow Machines mempelajari lagu dan komposer pop, kemudian menganalisa komposisi di dalam lagu-lagu tersebut dan dari situ kemudian dilahirkan sebuah komposisi berdasarkan gabungan unsur umum yang ia temukan. Lagu berjudul "Daddy's Car" adalah komposisi yang dibuat berdasarkan The Beatles. Dan, mampu menghasilkan lagu bernuansa yang terasa seperti buatan The Beatles. Kuat di melodi vokal, memiliki harmoni-harmoni vokal yang sangat mudah diingat, dengan bagian-bagian minor yang menambah elemen drama kepada lagunya. Pada lagu, "Mr. Shadow" Flow Machines mengambil komposer klasik Amerika, termasuk Irving Berlin, Duke Ellington, George Gershwin dan Cole Porter untuk membuat lagu yang beraroma jazz. Meskipun komposisi diatas adalah karangan , masih ada sentuhan manusia dalam rekaman lagu-lagunya. Di "Daddy's Car" dan "Mr. Shadow", Benoit Carre, seorang musisi, menentukan arahan musiknya (ia yang memilih The Beatles dan komposer-komposer Amerika), dan setelah komposisi oleh Flow Machine selesai, sebuah sistem bernama Rechord (dengan partisipasi oleh musisi) dipakai untuk mengisi karangannya dengan instrumentasi, dan seorang untuk melakukan dan lagunya. Mestinya, perkembangan berikutnya untuk adalah untuk mengembangkan instrumentasi dan ke langkah yang selanjutnya, untuk mewujudkan sebuah sistem yang lebih efisien dalam menciptakan lagu.
Berawal dari kecintaan terhadap musik dan keinginan untuk mendokumentasikan skena musik elektronik di Jakarta, Pepaya Records sempat menulis artikel retrospektif musik elektronik di Jakarta pada tahun 2014 lalu. Melihat animo pengunjung yang mulai tertarik dengan musik elektronik, Pepaya Records mencoba untuk menindaklanjuti tulisan tersebut ke dalam format kompilasi. Dengan mengkurasi beberapa unit musik lokal sejak akhir 2015, sebuah album berjudul Dentum Dansa Bawah Tanah siap merangkum seluk beluk musik elektronik dengan beragam warna. Bekerja sama dengan Studiorama, terdapat 14 unit musik yang sebagian besar merupakan DJ/Produser di skena musik elektronik di Jakarta. Unit-unit musik tersebut adalah REI, Basement House, Harvy Abdurachman, Django, whoosah, Android 18, Duck Dive, Swarsaktya, Future Collective, Maverick & Moustapha Spliff, Sattle, Sunmantra, Baldi, dan John van der Mijl. Dalam kurasinya, Pepaya Records memandang bahwa unit-unit tersebut memiliki potensi untuk merepresentasikan era baru musik elektronik yang relevan dengan situasi saat ini. Dalam upaya menyempurnakan proyek ini, beberapa kolektif independen lokal juga ikut membantu, antara lain Bluesville yang dikenal sebagai label fashion pria yang sekaligus terinspirasi oleh kebudayaan tradisional Indonesia. Selain kolektif yang membantu memoles proyek ini, desain album ini juga dikerjakan secara kolaboratif antara Moses Sihombing (fotografer) dan Ratta Bill (desainer grafis). Dentum Dansa Bawah Tanah juga akan menyertakan serta yang ditulis oleh Merdi Simanjuntak (DJ, pengarsip musik, dan ) dan Dipha Barus (DJ, produser, personil Agrikulture). Eksklusivitas yang ditawarkan dapat dilihat dari beberapa nomor yang diproduksi khusus untuk disertakan dalam album ini. Terekam dalam bentuk kaset dengan jumlah terbatas, kompilasi ini akan dirilis bertepatan dengan gelaran Cassette Store Day Indonesia pada tanggal 8 Oktober 2016. Selain kaset, rencananya, proyek Dentum Dansa Bawah Tanah juga akan diselenggarakan dalam bentuk , perilisan produk/ bentuk lain, dan penayangan pada akhir tahun 2016 melalui kerja sama dengan unit independen lainnya, antara lain adalah Anggun Priambodo, Edwin (Babibuta Film), Adythia Utama, dan Dana Putra (Gundala Pictures).
Sebelumnya dikenal dengan Festival Salihara yang telah berlangsung 5 kali sejak pertama diperkenalkan pada tahun 2008, kini berganti nama menjadi Salihara International Performing-arts Festival (SIPFest), festival seni yang layak ditunggu. Dengan mengganti nama menjadi SIPFest, gelaran ini diharapkan dapat mendulang sukses lebih besar dalam segi penonton serta variasi yang ditawarkan. Bekerja sama dengan Goethe-Institut, Japan Foundation-Asia Center, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Kedutaan Besar Austria dan Kedutaan Besar Denmark serta didukung oleh Bekraf, festival ini akan hadir selama sebulan, tepatnya mulai tanggal 1 Oktober-6 November 2016. Guna memperkenalkan nama barunya, SIPFest telah mengkurasi sajian seni berkualitas, yakni 14 penampil yang terdiri dari pentas tari, musik dan teater, antara lain She She Pop (Jerman), Eko Supriyanto (Indonesia), The Human Zoo Theatre Company (Inggris), Arica Theatre Company (Jepang). Sebagian besar karya yang akan ditampilkan pun didapuk sebagai dan Tidak hanya pertunjukan, pecinta seni juga bisa mengikuti sebagai bentuk interaksi dengan penampil atau seniman. Selain menikmati aneka seni pertunjukan selama sebulan penuh, di area terbuka juga terdapat karya-karya seni rupa oleh empat perupa, yaitu Nus Salomo di Anjung Salihara. Terdapat pula instalasi karya Made Gede Wiguna Valasara di dekat Teater. Sementara itu Purjito menampilkan patung Abdurrahman Wahid berukuran 1:1 di depan Galeri. Indyra menampilkan gambar mural trimatra yang menyiratkan posisi Komunitas Salihara sebagai tempat merawat gagasan dan pemikiran di samping Serambi. Keterangan lebih lanjut dan pembelian tiket: http://bitly.com/sipfest
Setelah sebelumnya tertunda oleh cuaca, DEKADENZ dipastikan kembali hadir akhir bulan September ini. Dalam waktu singkat, kolektif yang terbentuk atas inisiatif beberapa musisi dan ini telah berkembang dan terkenal sebagai sebuah acara musik yang mewadahi band dan DJ untuk berkesperimen dalam mengolah musik dengan . Bulan ini, DEKADENZ kembali membawa mix EBM padat dari Jonathan “Ojon” Kusuma yang dikenal sebagai DJ, musisi hingga produser yang telah masuk dalam beberapa dunia, seperti I'm a Cliche (Paris), Cocktail D’Amore (Berlin), Ene (Japan), Correspondant (Paris) dan Neine Records (UK). Lalu ada Aditya Permana produser unit Agrikulture yang kini dikenal sebagai Music Director dan resident DJ di Lucy In The Sky dan Bauhaus 1933. Menemani kedua orang tersebut, ada Ridwan Susanto, salah satu penemu kolektif musik Quirk it! yang tergabung dalam label Electrogusto Music di California. Selain mereka bertiga yang merupakan garda utama dalam skena musik house dan elektronik di Jakarta, Sunmantra didaulat menjadi tamu istimewa. Unit berisi dua orang ini berani merepresentasikan musik techno dengan bebunyian sehingga membuat single pertamanya, “Silver Ray” diyakini akan membuat orang-orang bergoyang di DEKADENZ. - Sabtu, 24 September 2016 21:00 - 04:00 FJ on 7 / Gedung The Colony Kemang Detail: dekadenznow@gmail.com
Fadhila Jayamahendra alias Aca, vokalis dari band hardcore veteran Jakarta, Straight Answer mendapat musibah pecah pembuluh darah di kepala dan harus menjalani serangkaian operasi di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan. Diberitakan bahwa operasi pertama telah dijalani dengan lancar, namun Aca masih harus menjalani operasi lanjutan untuk membantunya menjalani recovery, dan untuk itu Aca bersama keluarga membutuhkan dana yang cukup besar. Inisiatif penggalangan danna kemudian bermunculan, mulai dari Jakarta, Malaysia, Thailand hingga Jepang. Untuk Indonesia sendiri, sumbangan bisa dikirimkan melalui nomor rekening BCA 0060451010 atas nama Tino Hunaedi. Donasi juga bisa dikirimkan melalui Paypal (gagapundik@gmail.com) dengan mengonfirmasi kepada Widi dengan nomor +62 896 522 770 52 atau ke alamat surat elektronik setthefirerec@yahoo.com. Untuk menggalang dana tambahan, teman dan sahabat Aca menggelar acara donasi yang bertajuk 'Charity Sale - Donasi Untuk Aca' yang akan dilakukan pada Sabtu (17/9) di Rossi Fatmawati, Jakarta Selatan. Acara yang dikemas dalam bentuk garage sale ini diselenggarakan atas inisiatif teman, sahabat dan kerabat Aca. Nantinya akan ada sekitar 50 lapak yang akan menjual CD, vinyl, merchandise musik dan berbagai barang lainnya. Selain itu akan ada acara pelelangan. Semua keuntungan dalam acara ini akan didonasikan untuk dana penyembuhan Aca. Untuk info yang berkaitan dengan acara donasi ini, dapat menghubungi Bgenk - +6281286760453. Teriring doa kesembuhan untuk Aca, dan kesabaran serta kekuatan untuk keluarga.
Sejak awal muncul di sekitaran akhir tahun 2015, Collapse langsung mencuri perhatian kami. Digawangi oleh Andika yang dikenal melalui permainan gitarnya di unit chaotic hardcore, ALICE, Collapse mengingatkan kami pada fenomena metalheads-turns-indie yang juga sedang populer di luar sana. Inilah salah satu alasan Collapse menjadi salah satu nama yang terselip di artikel 6 Musisi yang Layak Tunggu di 2016 yang kami tulis pada awal tahun ini. Akhirnya, di bulan September ini, Collapse dijadwalkan akan merilis 5 lagu dengan nuansa indie-rock/alternative yang akan dikumpulkan dalam EP yang berjudul “Grief”. Di salah satu lagunya, diundang Alyuadi dari Heals untuk mengisi gitar. Dari preview videonya, terasa bahwa Collapse mengambil referensi dari rilisan Run for Cover Records. Jumat, 9 September 2016, akan dirilis single melalui youtube, dan pada 8 Oktober 2016, EP ini akan dirilis oleh Royal Yawns Records.
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.