Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
“I think our music is some kind of sweet rebellion, there is too much negativity in our lives. We live in a super weird time. I don’t know how things work here in Indonesia, but the west is depressed. Everyone feels like shit. With Kero Kero Bonito we would like to remind people about how there’s always hope for people.” Gus Lobban menjelaskan posisi musik Kero Kero Bonito yang sangat positif di era yang kurang menyenangkan ini. Ini bukan omong kosong. Melalui EP “Intro Bonito” yang dirilis pada tahun 2014, dan album penuh, “Bonito Generation” yang dirilis pada tahun 2016, trio pop eletronik ini menjadi warna cerah di tahun yang muram ini. Terbentuk dengan cara yang lumayan ajaib, Gus Lobban dan Jamie Lubbed dua orang produser dari unit ini memasang iklan di internet dan dari situ mereka menemukan Sarah Midori Perry, sang vokalis yang mempertebal warna-warni musik mereka dengan rap bilingual Inggris-Jepang, adalah salah satu bukti bahwa generasi internet memiliki potensi. Yang membuat unit ini spesial, adalah fakta bahwa musik dan lirik mereka tak hanya mengkampanyekan positivisme yang utopis, dibalik lagu-lagunya yang ceria, Sarah sering menyelipkan pesan-pesan menarik mengenai kesetaraan gender. Dimana pada sebuah lagu, Sarah menyanyi, “It's often said, I should get some girly hobbies instead/But that thought fills me with dread/I'm not into sewing, baking, dressmaking, not eating, bitching, submitting.” Diiringi dengan musik yang playful dan ceria, feminisme menjadi sebuah gula-gula pop yang bisa dicerna oleh semua, tanpa harus terdengar menggurui. Sebuah hal yang menurutnya bukan hal istimewa, “To me, my main concern is about how we all treated equally, no matter what our gender is.” Di Rossi Musik Fatmawati, hari Sabtu 19 November 2016, Kero Kero Bonito akan memperkenalkan pesan dan warna-warni mereka pada scene musik Indonesia. Ini sebuah arena yang menarik bagi mereka, dimana pada sebuah wawancara mereka memuji Isyana Saraswati dan The Upstairs sebagai musisi yang sangat menarik. “I see everybody here always have guitar and play their song, it’s a special thing, we don’t see that much of enthusiasm in the west, you shouldn’t take this for granted,” ujar Jamie Bulled.
Yang paling diingat dari panggung bikinan We Hum Collective adalah pilihan bandnya yang selalu segar dan menarik. Radar mereka selalu tajam dalam mencium talenta baru yang sering luput dari pandangan. Di edisi terbarunya, mereka mempersiapkan sebuah konsep yang menarik, mencampurkan berbagai genre dalam satu gelaran. Mulai dari elektronik, hip-hop hingga black metal menjadi satu. Dan, untuk mewujudkan itu mereka mengundang Future Collective, rekah, Orestes, Wils dan Matter (proyek musik rap dari Fadil McGee eks Forever/Always). Dengan line-up yang demikian, malelui La Fête Noire, We Hum Collective sekali lagi membuktikan bahwa mereka memiliki visi yang menarik dalam setiap acaranya. -- Future Collective, Rekah, Orestes, Proceus, Matter, dan Wils Siap Tampil di La Fête Noire La Fête Noiremerupakan suatu perayaan teranyargarapan label rekaman pendatang baru Caged Choir Conjoint yang bekerjasama dengan kelompok penggerak kancah musik arus pinggir we.hum collective. Dalam perhelatan perdana yang bakal diselenggarakan di Xabi Space Studio, Jakarta Selatan pada Sabtu, 19 November2016 mendatang, La Fête Noireakan dimeriahkan oleh beberapa penampil lintas genre, yaitu Future Collective, Rekah, Orestes, Proceus, Matter, serta Wils. Alasan pihak penyelenggara mengurasi para penampil La Fête Noire dari berbagai genre adalah untuk membuat pentas ini bisa memercikkan keberagaman bermusik dalam satu atap sekaligus meminimalisir dikotomi dan homogenitas yang seringkali terjadi di pergelaran-pergelaran musik Tanah Air. Pemilihan nama-nama di atas pun awalnya berangkat dari sebuah pertanyaan, “Bagaimana jika lantunan musik elektronik bisa berserikat harmonis dengan hardikan komposisi-komposisi padat ala death metal, black metal, post-hardcore, indie rock, hingga hip hop?”Untuk menjawab hal tersebut, Caged Choir Conjoint dan we.hum collective lantas mencoba memadukan penampilan duo elektronik Future Collective dengan ketangkasan rap Fadil McGee alias Matter,keresahan kuintetpost-hardcore/black metal Rekah, kebengsisan band death metal/black metal Orestes, kegeraman unit black metal Proceus, serta intensitas riuh trio indie rock/post-hardcore Wils. Jika berjalan sesuai rencana, Caged Choir Conjoint dan we.hum collective siap menjadikan La Fête Noire sebagai perayaan rutin yang bertujuan untuk memberikan ruang lebih banyak lagi kepada mereka yang memiliki hasrat besar dalam menikmati perayaan musik dengan konsep intim, seru, hangat, serta berkualitas. “La Fête Noire” Xabi Space Jalan Karang Tengah Raya, RT.13/RW.3, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12440 Peta: http://bit.ly/XabiSpace Sabtu, 19 November 2016 19.00 –23.30 WIB HTM: Donasi
Setelah masa rehat yang cukup lama, kolektif Studiorama akhirnya kembali dengan salah satu program utama mereka, Studiorama Live. Menciptakan panggung bagi musisi terbaik dan menyandingkannya dengan videografer handal untuk sajian audio visual yang memukau, Studiorama Live adalah agenda penting yang selalu ditunggu setiap tahunnya. Untuk gelaran keenamnya, Studiorama telah mempersiapkan edisi spesial, dimana mereka akan menampilkan line-up internasional untuk pertama kalinya dalam sejarah acara ini. Dan tamu pilihan mereka pun tak sembarangan, Kero Kero Bonito grup elektro pop dari Inggris didatangkan untuk sebagai awal sejarah baru mereka ini. Dikenal sejak muncul pada tahun 2014 dengan EP Intro Bonito yang menarik melalui campuran Bahasa Inggris dan Jepang dari vokalis Sarah Bonito di atas musik elektronik pop minimalis yang dan kekanakan. Ditambah dengan konsep visual yang warna-warni, Kero Kero Bonito menjadi salah satu penyegaran yang datang dari scene musik Inggris. Bersama Kero Kero Bonito, akan tampil pula Heals unit nu-gaze asal Bandung, Circarama dengan psikedelia ringan khas mereka, juga Ikkubaru yang dikenal sebagai pengusung city pop ala lokal. Musik keempatnya akan direspon oleh empat seniman visual, Anggun Priambodo bekerjasama dengan Ikkubaru, Rimbawan Gerilya dengan Kero Kero Bonito, Ramaputratantra bersama Heals dan Rafaela Lisa untuk bekerja sama dengan Circarama. Sebagai perayaan kerja sama kreatif ini, akan digelar panggung Studiorama Live #6 yang akan berlangsung pada 19 November 2016 di Rossi Musik. Dengan tiket masuk seharga 50 ribu rupiah, pengunjung akan disambut dengan penampilan musisi di atas, ditambah dengan musik dari DJ Django, Gerhan dan W_Music. -- Untuk menghadiri acara ini, tiket presale seharga Rp 50 ribu (FDC) bisa didapatkan secara eksklusif melalui GO-TIX.
Ada tempat spesial bagi SORE di benak penikmat musik lokal. Dikenal dengan aransemen megah yang membuat keseharian terasa lebih indah, SORE baru saja merilis 3 buah video musik lewat “Wonderland Trilogy” yang berisi lagu "Plastik Kita", "I Never Knew You In Wonderland", dan "Tatap Berkalam" dari album penuh ketiga Los Skut Leboys. jadi kata sifat yang bisa meringkas trilogi video ini. Perih menjadi kata kedua yang dapat disandingkan. Bukan karena warna lagu dan lirik yang melankolis, tapi karena ada pesan mendalam tentang kisah hidup tiga manusia yang sama-sama berjuang menjalani nasib, kesendirian, dan harapan. Seakan ada usik dari sesuatu yang indah. Sebuah usikan yang tidak bisa dideskripsikan. Sebuah khas SORE yang juga kerap muncul di musiknya. Tentang kompleksitas hidup yang menjadi buah karya. Walau tidak memiliki korelasi di antara ketiga videonya, etos DIY dibalik pembuatan video ini patut diapresiasi, sebab Ade Paloh yang turut andil berada di kursi sutradara mampu menerjemahkan ide dibalik lirik lagu dengan ‘teks’ visual yang penuh dengan simbol-simbol yang melengkapi rasa lagu. Selain Ade, SORE juga mengajak untuk video ini, antara lain Daffa Andika pada "Plastik Kita", serta Aditya Arnoldi pada "Tatap Berkalam". Sementara untuk "I Never Knew You In Wonderland" Ade mempercayakan sepenuhnya kepada kawan yang berada di Los Angeles, Milco Ricardo untuk mengambil suasana kota. Bertolak dari rasa yang seringkali diabaikan atau dihindari oleh tiap manusia, SORE kembali membuktikan diri bahwa mereka mampu membius pendengar setianya dengan kepasrahan dan harapan yang romantis sebagai landasan musik mereka. Walau trilogi ini bisa disebut sebagai akhir atau penutupan dari rangkaian album Los Skut Leboys, SORE tidak menutup kemungkinan dan kesempatan jika ada pihak lain yang ingin melanjutkan usaha interpretasi lagu-lagu dari album ini ke dalam bentuk-bentuk lainnya di masa yang akan datang. Dan, ini bukan satu-satunya berita baik bagi penggemar SORE, karena ada materi baru dari unit ini akan segera hadir dalam bentuk EP yang direncanakan rilis pada awal 2017. https://sorezeband.com/
Entah disengaja atau tidak, gelaran Weekend Exhibition yang digelar di Dia.Lo.Gue. Artspace pada 28 September 2016 hingga 30 September 2016 kemarin terasa seperti tempat dimana publik disuguhi karya seniman muda yang merepresentasikan bentuk seni terkini. Eko Bintang, Kendra Ahimsa, Natasha Gabriella Tontey, Kathrin Honesta, Radhinal Indra, Diela Maharanie, and Ruth Marbun masing-masing menunjukkan kekuatan karakter masing-masing melalui karya yang mereka tampilkan disana. Dari persilangan realita dan fantasi warna-warni khas Tontey, dunia imajiner dari Kendra Ahimsa, hingga tebal-tipis goresan yang membentuk indah lukisan Eko Bintang, Weekend Exhibition menjadi platform bagi emerging artists untuk memperlihatkan concern serta kegelisahan masing-masing terhadap khalayak luas. Dan dengan begitu, sekali lagi Dia.Lo.Gue. membuktikan dedikasi mereka untuk tumbuh kembang dan terus lahirnya karya baru di ranah lokal.
Marvel Studios terus mengembangkan mereka dengan sebuah film yang melayani penggemar seri buku komik dan khalayak luas. Seperti film-film mereka sebelumnya, kombinasi antara karakter serial populer, aktor dan aktris A-List, cerita yang ringan, visual yang memukau dan gaya cerita dengan yang cukup cepat, membuat Doctor Strange menawarkan pengalaman nonton yang sangat seru. Secara keseluruhan, cerita yang disutradarai oleh Scott Derrickson yang berpusat kepada -nya Doctor Strange cukup gampang ditebak. Persis seperti penjelasan Joseph Campbell di "A Hero with A Thousand Faces" (Sebuah buku yang sangat seru untuk dibaca), Doctor Stephen Strange, yang dimainkan oleh Benedict Cumberbatch, mengalami sebuah dimana ia, yang sebelumnya orang biasa, mengalami sebuah peristiwa yang memanggil dirinya untuk menjadi seorang , dan bersama bantuan seorang mentor (The Ancient One yang dimainkan oleh Tilda Swinton) ia mencapai potensinya, yaitu menjadi sebuah superhero yang mengalahkan musuh dengan ilmu sihir. Meskipun kisah seperti ini sudah diceritakan ribuan kali; paling tidak beberapa kali oleh Marvel Studios, Doctor Strange merupakan film yang berhasil membuat pengalaman menontonnya menyenangkan dengan formula ini. Secara visual, Doctor Strange sangat memukau. Karakter-karater di film ini bisa bermain dalam ruang dan waktu, serta permainan ini terepresentasikan dengan visual yang bisa dijelaskan sebagai melipat dunia ala Inception - tapi dengan intensitas yang berkali lipat. medilux.fi — sebuah platform digital dari Finlandia. Seperti Doctor Strange yang membuka pikirannya terhadap dunia dimensi lain, layanan ini mendorong pria untuk lebih terbuka terhadap solusi baru yang terbukti secara klinis, aman, dan tidak menghakimi. lainnya. yang intens dihias dengan momen-momen dramatis yang melanjutkan plotnya sekaligus berusaha menarik simpati dan empati penonton - baik itu melalui adegan komedi, romantis atau tragis. Untungnya, Scott Derrickson lumayan bisa menyeimbangkan porsi dramatis dengan dan menghindari momen yang membuat penonton bergidik (film ini tidak bebas dari adegan-adegan cheesy). Keseimbangan ini yang membuat film Doctor Strange sangat ringan dan menghibur. Kalau Anda mencari film , tonton Doctor Strange. Quick Review Doctor Strange Rating: 3/5 sutradara: Scott Derrickson (Written by Marvel)
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.