Blog

Latest stories

08.12.16

Berkenalan dengan Fotografi Analog bersama Jellyplayground

Untuk sebagian orang, penting rasanya untuk mengabadikan setiap momen-momen penting di kehidupan sehari-hari, dan karenanya kamera menjadi suatu hal yang tidak bisa dilepaskan dari aktivitas harian. Kini fungsi dari kamera dan foto yang dihasilkan tidak lagi hanya sebatas mengabadikan momen, melainkan hal-hal lain yang lebih luas, seperti untuk menghasilkan karya seni, karena itu berbagai jenis dan fungsi kamera cukup menjadi pertimbangan bagi setiap penggunanya. Uniknya saat ini tidak hanya kamera digital yang diidolakan, tetapi kembali tenarnya kamera analog. Sekarang ini kamera analog tidak lagi sulit ditemukan, begitu pula dengan film beserta lainnya seperti lensa, batu baterai, tempat kamera, hingga komunitasnya, hal ini menunjukkan semakin banyaknya minat dan ketertarikan pencinta fotografi untuk memakai atau mencoba kamera analog dan membuat hal-hal tenggelam ini kembali ke permukaan. Hasil foto menggunakan kamera ini tidak kalah dengan hasil foto digital, melalui proses analog seperti menentukan tingkat kecerahan, tone warna, dan efek-efek seperti pun bisa dilakukan juga pada hasil foto analog, poin-poin inilah yang membuat fotografi analog menjadi lebih humanis karena pengerjaannya yang manual. Jellyplayground merupakan salah satu inisiatif yang bergerak di bidang fotografi analog, berawal dari blog pribadi pada tahun 2009, saat ini Jellyplayground lebih akrab dikenal sebagai salah satu media penghubung para pecinta analog. Dimulai dari menjadi film dan kamera, hingga akhirnya mulai menjual untuk memperluas eksistensinya. Kehadirannya disambut antusias oleh para pengguna kamera jadul ini, karena keaktifannya berbagi informasi-informasi lewat fotografi analog dan membuat orang-orang tertarik untuk mencobanya. Tidak jarang Jellyplayground pun mengadakan jalan-jalan santai sembari foto, tujuannya mengajak para pengguna kamera analog untuk bertemu dan pengalaman satu sama lain. Jellyplayground rutin membuat sebuah bazaar yang menjual berbagai macam kebutuhan dan perlengkapan fotografi analog, alasan dibuatnya acara ini adalah untuk memperkenalkan hobi ini ke khalayak yang lebih luas dan menciptakan interaksi langsung antara para penggunanya dengan hal-hal terkait, bahwa fotografi analog tidak melulu soal kamera dan filmnya saja, namun juga tentang -nya, tekniknya, cara penyimpanan filmnya, dan lain-lain. Di era serba praktis ini tidak ada salahnya untuk mencoba hal atau hobi baru seperti fotografi analog, karena sudah tidak sulit untuk memulainya. Silahkan cek Jellyplayground di blog dan Instagram.

07.12.16

Serba-serbi di Toko Misteri

Setelah melahirkan Phantasma Studio - sebuah fashion dengan konsep kontemporer yang mengeksplorasi di bidang - Eric Lim kembali mewarnai fashion melalui yang menjual barang-barang yang ia namai Toko Misteri. Semua produk yang ditawarkannya di sini menjadi spesial karena tidak hanya yang menjadi jualan utama, melainkan kurasi ajaib oleh Eric Lim membuat Toko Misteri berbeda dengan yang lainnya. Berbagai produk seperti pakaian dan barang-barang antik, piringan hitam, mainan, dan buku-buku unik bisa ditemukan di Toko Misteri. Toko Misteri yang berlokasi di Bara Futsal Jl. Falatehan No.68 ini sudah membuka tokonya sedari pertengahan Agustus lalu. Selain menjual pakaian dan barang-barang antik, dijual juga minuman ala Toko Misteri seperti “Cold Brew Coffee”, “Green Tea with Yakult”, “Es Kopi Bon-Bon”, dan “Es Kopi Tropicale”. Yang menarik adalah, selain memamerkan koleksinya lewat akun Instagram, Toko Misteri mencoba untuk memberikan dan alternatif padu-padan untuk setiap koleksi dengan foto yang Toko Misteri juga sudah menyelenggarakan dua acara kolaborasi yaitu “Pekan Misteri” dengan Manual Jakarta dan “Binatang Press! Pop Up Launch”. Dengan cakupannya yang tak hanya fashion, Toko Misteri disamping menawarkan -nya diharapkan bisa menjadi salah satu wadah yang bisa mendukung lainnya seperti desain, dan juga musik. Silahkan cek Instagram Toko Misteri di sini Toko Misteri Jl. Falatehan No.68, Melawai Jakarta Selatan.

06.12.16

Debut Album Rusa Militan Coming on Solstice 2016

Setelah lima tahun kemunculannya, band asal Bandung yang memperkenalkan diri sebagai band medieval-folk, Kamis 1 Desember 2016 mengunggah debut album perdana mereka. Berbeda dengan andalannya “Senandung Senja” dan “Black Sun”, melalui video berdurasi kurang dari satu menit yang diunggah pada kanal YouTube mereka, selain memperlihatkan penggarapan album, juga memperdengarkan musik dengan nuansa neo-psikadelia. Hal ini ditunjukkan dengan dominasi permainan synthesizer dan sound yang lebih bulat. Direncanakan Rusa Militan akan merilis 10 lagu pada album ini. Dengarkan single Rusa Militan di sini

05.12.16

Konser Tunggal Perdana Senyawa di Tanah Air

Duo eksperimental asal Yogyakarta; Rully Shabara dan Wukir Suryadi, yang dikenal dengan Senyawa akan menggelar konser tunggal pertamanya di Indonesia. Dikenal berkat format musik yang tiada duanya, mereka berhasil membawa elemen dan semangat musik tradisional dalam kerangka musik modern ke dunia internasional. Berkat instrumen musik yang dibuat sendiri oleh Wukir, bebunyian yang hadir untuk mengiringi ragam frekuensi dari vokal Rully pun memiliki karakter kuat, sehingga mampu membedakan Senyawa dengan musisi lain dari seluruh dunia. Adanya komposisi unik yang mereka hasilkan, membuat unit ini mampu berbagi panggung dan berkolaborasi dengan sejumlah nama penting seperti Damo Suzuki, Keiji Haino, Oren Ambarchi, Sun Ra Arkestra, Melt Banana, Death Grips, Trevor Dunn, Swans, hingga Bon Iver. Kristi Monfries selaku manajer Senyawa mengatakan, “Kini, akhirnya Senyawa akan menggelar konser tunggal untuk pertama kalinya di tanah air, membawakan repertoar penuh yang mencerminkan progresi musik mereka selama ini dengan layak.” Mengambil dua judul lagu Senyawa, “Tanah" dan "Air,” konser yang diadakan oleh G Production ini, akan digelar di Gedung Kesenian Jakarta. Gedung ini dipilih berkat kualitas akustik yang besar sehingga Senyawa dapat mempresentasikan sejarah musik mereka dan mengajak penonton ke dalam perjalanan bunyi melalui perkembangan mereka sebagai unit musik. Dengan tata lampu minimalis serta gagasan menarik untuk menampilkan nomor-nomor dari Senyawa, konser ini akan menjadi penutup tahun yang berbeda. - Kamis, 22 Desember 2016 19:00 Gedung Kesenian Jakarta Tiket: Early bird Rp. 125.000 (berlaku sampai 21 Desember 2016) di Ruru Shop dan Omuniuum On the spot Rp. 175.000 Informasi lengkap, silakan ke www.gproduction.co.id/senyawa

01.12.16

Mencari Anomali dari Musik Populer Bersama Dekadenz

Seolah tak pernah puas, muda-mudi yang bergelut di Indonesia terus mencari warna baru di lantai dansa. Setelah sekian banyak kolektif yang bermunculan dengan karakter masing-masing, sebuah inisiatif muncul dari 3 orang musisi dan asal Jakarta, untuk membuat Dekadenz - wadah bagi band dan DJ untuk berkesperimen dalam mengolah musik dengan Adalah Jonathan “Ojon” Kusuma, Aditya Permana dan Ridwan Susanto yang bergerak bersama atas nama kolektif Dekadenz ini. Dalam eksekusinya, acara yang mereka gelar selalu hadir dengan nuansa ala yang disinari cahaya merah. Walau berlandaskan Electronic Body Music (EBM), nomor-nomor industrial, DIY dan turut mewarnai episode Dekadenz. Kami berkesempatan untuk mengobrol dan menanyakan dekadensi yang mereka tawarkan untuk dance di Indonesia. Kesamaan visi dalam musik. -nya musik. Genre musik yang disukai kami banyak yang sama dan bisa dieksplorasi untuk dijadikan kolektif di Jakarta. Musik-musik dansa selama 30 tahun terakhir yang tidak populer, terasa absurd karena ritma etniknya yang terus berganti dan akhirnya bisa dimainkan oleh kita, orang Indonesia. Dan cara kami menyuarakan musik yang mencerminkan hidup sehari-hari di Jakarta. dan warna sendiri. Apa yang membedakan Dekadenz dengan kolektif yang lain? Tiap kolektif punya warna musik yang berbeda-beda dan semua punya prinsip musik masing-masing. Dekadenz menyukai unsur musik gelap dan suara kasar dari analog atau synth dengan paduan unsur perkusi tropikal. Yang membedakan kami dengan yang lainnya mungkin adalah kombinasi dari latar belakang kita masing-masing. Tapi secara lagu-lagu yang kami mainkan cenderung lebih bernuansa setidaknya menurut saya. Selain dari musik, kami juga berusaha kolaborasi dengan musisi dan yang sejalan dengan konsep kami. dalam musik dan acara yang kalian buat. Konsep apa yang kalian ingin berikan dalam tiap Dekadenz? kalau kata Ridwan (tertawa). Dan suasana di ruangan gelap bercahaya merah yang seru! Konsep kolaborasi setiap Dekadenz lebih enak kalau ada hal-hal tersebut. Adit paling bisa jelasin nih (tertawa). Semangat untuk memainkan musik yang lebih baru dan aneh (tertawa). Musik-musik yang lebih susah diterima oleh anak muda mungkin? Kiri yang dimaksud adalah genre generalisasi di musik yang lebih komposisinya lebih eksperimental. atau dari talenta lokal. Apakah dengan banyaknya variasi dalam kalian kesulitan dalam mengkurasi bakat-bakat yang sejalan dengan Dekadenz? tapi sebisa mungkin kami kurasi dengan baik, dengan harapan, adanya Dekadenz bisa menjadi medium atau inspirasi ke yang lain. Kami berharap akan lebih banyak lagi menemukan talenta-talenta muda lokal yang bisa kami ajak kerja sama. Bertukar pikiran dalam membuat suatu karya adalah hal yang seru. Podcast yang mengundang band atau produser lokal untuk memainkan lagu yang ‘Dekadenz’ menurut versi mereka. Juga mengeluarkan banyak Dekadenz edit. https://www.mixcloud.com/dekadenz/

25.11.16

Mutiara Indonesia di Album Mondo Gascaro – Raja Kelana

Indonesia beruntung memiliki sosok seperti Ramondo Gascaro. Telah lahir karya-karya indah dari tangannya, sejak berkarya bersama Sore, ada "Centralismo" hingga "Ports of Lima" yang paripurna kualitasnya dan telah menjadi bagian dari daftar album terbaik lokal di berbagai media. Kualitas kembali datang di album pertama yang dikeluarkan dengan nama pribadinya. Kali ini kualitas itu datang pada sepuluh lagu yang dirangkum dalam judul "Raja Kelana". Pada setiap lagunya, dikandung desir indah instrumentasi yang kaya, namun jauh dari berlebihan karena saling mengisi dan penting - sebuah keahlian dan kemahiran yang mungkin hanya dimiliki oleh Ramondo Gascaro semata. Album elok ini akan dengan mudah menjadi album klasik dalam sejarah musik lokal. Jika ada yang bilang kalau musik era modern tak seindah album era lama, Ramondo Gascaro sang Raja Kelana adalah antitesisnya. Kalau butuh pengingat tentang moleknya Indonesia, album ini, sejak lagu pertamanya akan membawa kita kesana. Album ini bisa dinikmati di portal layanan musik digital mulai hari ini dan akan segera dirilis bentuk fisiknya dalam waktu dekat. Spotify: https://open.spotify.com/album/4jfh6jK2wtxj2oOLC9u1uo iTunes: https://itunes.apple.com/id/album/rajakelana/id1177402373

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.