Blog

Latest stories

29.05.17

Quick Review: Paterson

Jim Jarmusch, lewat karya terbarunya bertajuk Paterson, sengaja memberikan keleluasaan tafsir mengenai kisah pasangan di sebuah kota kecil. Tidak berbeda secara esensi dibanding film-film terdahulunya, Paterson menawarkan eskapisme, namun kali ini lebih berkat cerita. Seiring bergulirnya waktu, kedua tokoh utama dihadapkan pada kondisi di mana kenyamanan yang selama ini dirasakan dihadapi dengan fase kemustahilan. Film ini menangkap relasi intim antara keheningan-keheningan yang biasa dialami oleh manusia dalam keseharian, tanpa harus menambahkan tendensi sebagai bentuk artistik. Lewat film ini, Jim Jarmusch membuktikan kepiawaiannya dalam mentranslasi skenario menjadi mudah dinikmati penonton dari segala kelas. Didukung dengan dan alur yang tepat, Paterson menjadi film yang dapat ditonton berulang kali dengan sudut pandang berbeda. Paterson (2016) Sutradara: Jim Jarmusch Sinopsis: Berfokus pada Paterson, seorang pengemudi bus di kota Paterson, New Jersey. Setiap hari, Paterson selalu melakukan aktivitas yang sama dalam rutinitasnya yang sederhana, dia mengendarai busnya di rute yang sama, melihat kiri kanan kota itu melalui spion busnya sambil mendengar orang-orang berbicara di sekitarnya. Dia menulis syair di dalam laptopnya, berjalan bersama anjingnya, lalu berhenti di sebuah bar dan minum bir dan tepat hanya satu gelas saja, kemudian dia pulang ke istrinya Laura. Namun berbeda halnya dengan hati Laura; baginya dunia terasa terus berubah. Sebuah mimpi baru selalu hadir dipikirannya setiap hari. (Film Bioskop)

26.05.17

Senandung Trauma dalam “Menara Ingatan” oleh Teater Garasi

Sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan oleh pergerakan atas dasar konflik. Transisi kekuasaan dari era kolonial dan kemerdekaan menyisakan daftar sejarah yang memuat riwayat perang. Lewat sebuah pementasan bertajuk Menara Ingatan, Teater Garasi membawakan suguhan teater-musik yang mengangkat kembali riwayat-riwayat konflik di tanah air. Adalah Yennu Ariendra yang menginisiasikan pementasan tersebut. Yennu yang dikenal juga sebagai gitaris dari grup musik Melancholic Bitch ataupun Belkastrelka berusaha mengangkat lagi riwayat konflik tanah air. Ia menceritakan sebuah memoar akan kakeknya yang menjadi korban tragedi 65 pada pengantar pertunjukan. Penampilan “Menara Ingatan” ini didasarkan juga pada riwayat konflik yang signifikan seperti cerita Minak Jinga dan Suku Osing yang dalam sejarahnya selalu menolak dan berkata “tidak” pada kekuasaan yang represif. Teater Garasi dan Menara Ingatan, melakukan manajemen ruang yang baik untuk menampilkan musik dan teater yang proporsional. Pemain musik, penyanyi, dan para pemain teater berbagi panggung dan memainkan repertoire musik berbarengan dengan gerak dan olah tubuh dan eksplorasi properti. Kecermatan komposisi musik yang dibangun oleh Yennu dan kawan-kawan berangkat dari bangunan musik kontemporer yang beragam lewat perpaduan berbagai alat musik tradisional dan efek suara. Menarik bisa mencermati bentuk dramaturgi yang fleksibel dengan menggunakan bantuan medium musik. Saat gerak pemain dan repertoire lagu makin liris, selanjutnya tiba-tiba musik dangdut koplo dimainkan dan lampu warna-warni ikut menyoroti menonton. Ada unsur partisipatoris juga di sana, penonton diminta memakai properti topeng hewan berkulit merah dan diminta ikut berjoget. Saat penggambaran konflik mulai kuat dan berangsur liris, nyatanya semua dibuat lupa oleh sorotan kegembiraan dan perayaan. Jika isu konflik biasanya dibawakan pada karya yang eksplisit mengambil contoh, pelaku dan korban menjadi sorotan yang sensitif. Dengan membawa nuansa dan muatan yang disembunyikan, isu konflik menjadi sesuatu yang bisa direnungkan. Begitulah “Menara Ingatan” ditampilkan, memberi ruang refleksi atas konflik tanpa membebani pandangan tertentu.

24.05.17

Quick Review: American Gods

Belakangan, serial televisi Amerika dan Inggris banyak mengadaptasi buku yang telah lebih dulu terbit. Kesuksesan Game of Thrones yang dianggap sebagai serial terbaik sepanjang masa, menjadikan alih wahana buku ke dalam layar seperti hiburan yang baik untuk mengisi kesenjangan hiburan lokal. Nama Neil Gaiman sebagai penulis kontemporer yang penting memiliki tempat tersendiri bagi beberapa penggemarnya. Banyak rencana untuk mentransformasi beberapa tulisan Gaiman sebelumnya seperti novel grafis Sandman yang belum terealisasi sampai sekarang, namun mungkin tahun ini bisa jadi tahun yang baik karena American Gods mulai disiarkan. Dengan visual dan yang mendukung cerita, American Gods berkomitmen untuk menjalankan keseluruhan buku. Neil Gaiman dibawa sebagai produser eksekutif yang mengawal berbagai proses dari mulai hingga penyutradaraan. Bisa jadi, Gaiman ingin para pembaca dan penggemarnya yang lebih dulu membaca American Gods tidak kecewa dengan jalan cerita dalam serial yang bisa jadi cacat jika diterjemahkan oleh sembarang orang untuk kemudian diangkat ke dalam layar. American Gods kaya akan referensi mitologi. Tak hanya mitologi Nordic dan Slavic namun juga mengangkat tokoh-tokoh dari mitologi Mesir dan Hindu. Sederhananya, cerita dalam American Gods mengisahkan para dewa lama (Old Gods) yang akan berkonfrontasi dengan dewa baru (New Gods). Jika ditafsirkan secara kasar, Gaiman menghadirkan sajian konflik antara keyakinan lama yang digerus oleh modernitas. Peradaban dibangun oleh perang dan keyakinan yang berdasar pada suatu aspek dan simbol tertentu yang seiring waktu mengalami perubahan. American Gods adalah cerita yang menyediakan ruang yang baik untuk kembali mempertanyakan keyakinan dan membuka pandangan atas kekuasaan-kekuasaan yang kita kehendaki.

22.05.17

Menggiring Zaman ala Teater Payung Hitam

Teater Payung Hitam bukanlah nama baru, malah namanya seperti hantu yang ingin hidup kembali. Tahun lalu mereka melakukan pentas di rumahnya, Bandung untuk memperingati usia 34 tahun sejak Rachman Sabur mendirikannya. Rabu dan Kamis (17-18/5) lalu mereka tampil di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki setelah mungkin hampir 10 tahun tidak menggelar pertunjukan di sana. Membawa pementasan yang sama dengan pementasan akhir tahun lalu yang diberi judul “Post-Haste”, Payung Hitam dengan cermat membaca kritik yang kontekstual. Manajemen ruang dan para pemain yang bergerak di atas panggung memberi gambaran yang gelap. Properti yang rusak dan arus gerak pemain adalah jalan Rachman Sabur memberi tekanan akan modernisme yang kita jalani. Sesuatu terjadi dan dengan tanpa ancang-ancang yang pasti sesuatu lain terjadi seperti kejadian dan berita yang kita lihat mewarnai media. Kehidupan kini tak seperti kisah yang sederhana. Segalanya berjalan begitu cepat dan dengan tanpa gambaran yang jelas mengantar kita pada tujuan. Dengan membawa tubuh, gerak, dan gaya teater yang tak biasa, pesan satir justru bisa diterima oleh siapapun yang ingin sejenak berhenti dan menyadari bahwa kita telah diseret oleh kekuatan yang amat cepat.

21.05.17

Permainan Rima ala Alfabeta

Hip hop barangkali adalah subkultur yang dalam kurun waktu dekat bisa menelurkan banyak nilai dan simbol baru. Aplikasi musik, fashion, dan gaya hidup masyarakatnya yang terbuka menjadikan ruang ini seakan menerima apapun dan siapapun menjadi bagiannya. Dulu punk digadang-gadang sebagai budaya tandingan dari hip hop tapi nyatanya banyak juga yang mampu mengawinsilangkan mereka seperti apa yang dilakukan oleh Homicide. Tak jarang juga, beberapa yang tidak menawarkan gaya baru dalam hip hop hari ini justru menjadi penawar akan kerinduan pada bangunan beat yang sederhana namun menjelajah alam tekstual yang dulu menjadi kekuatan rap sebagai bagiannya. Tak banyak yang mengenal Alfabeta, satuan hip hop dari Ternate yang keriuhannya sudah ada sejak 2012. Sempat menelurkan album penuh berjudul Dream Rhyme Amazing atau yang biasa disingkat D.R.A., pada bulan April kemarin mereka meluncurkan EP berjudul Pancarima. Mengambil judul yang tegas dan menyindir, Alfabeta menekankan ‘rima’ sebagai kekuatan tekstual dari produk hip hop pada rilisan terbarunya. Rasanya sudah banyak wajah baru yang tampil hip hop namun terbata-bata saat menyusun rima, butuh waktu untuk wajah-wajah baru itu punya kualitas seperti Alfabeta. Mengambil bangunan dan beat beragam untuk setiap lagunya, 5 lagu mereka memberi variasi yang membuatnya mudah dinikmati. Yang menarik dari proyek baru mereka ini adalah hadirnya nama Senartogok, seorang vokalis folk yang juga banyak meremix beberapa lagu lintas-genre pada kanal YouTubenya. Senartogok campur tangan pada dua lagu dan salah satunya adalah pada lagu ‘Budi’ yang jika didengarkan dengan seksama terdapat sample lagu Tigapagi “Tangan Hampa Kaki Telanjang” yang petikan gitarnya diulang dan memberi nuansa nada pentatonik untuk mengiringi beat pada lagu. Jika produksi musik hip hop East Coast banyak mengemban sample tiupan terompet jazz, Alfabeta dengan cermat menggunakan elemen yang terasa lebih tradisional untuk mewarnainya. Ditambah muatan lirik yang penuh perhatian, bisa jadi Pancarima adalah rilisan hip hop dalam negeri terbaik menuju pertengahan tahun ini.

20.05.17

Seni dan Harta Karun dalam Showcase Terbaru Damien Hirst

Dalam ajang Venice Biennale 2017 bulan lalu, perupa asal Inggris, Damien Hirst menampilkan pameran karyanya yang diberi judul “Treasure from The Wreck of The Unbelievable’s”. Ia menampilkan karya-karya barunya dalam sebuah balutan pameran temuan ekspedisi, lengkap dengan sebuah video dokumenter seolah-olah Hirst mengangkat artefak-artefak tersebut dari dalam lautan. Dalam pameran yang dilangsungkan di Punta Della Dogana itu karya Hirst seperti mengubah pameran karya seni rupa menjadi eksibisi artefak kuno. Beberapa patung ditampilkan lengkap dengan “sisa” koral yang masih menempel seperti salah satu patung yang ia beri judul “Cronos Devouring his Children” Sempat tak melakukan pameran selama hampir 10 tahun, Hirst membuka ruang diskursus yang baik untuk merespon kesenian kontemporer dengan proses arkeologis yang dilakukan untuk menerjemahkan peninggalan peradaban. Hirst mengeksplorasi berbagai teknik dan material seperti logam dari berbagai unsur yang ia tampilkan seperti seolah-olah perhiasan yang sudah tenggelam dan menjadi semacam harta karun. Usahanya ini membuka ruang wacana tentang apa yang disebut sebagai karya seni kontemporer dengan sesuatu seperti “harta karun”. Keduanya memiliki nilai dan tentunya “harga” yang juga hampir sama. Menuju akhir penutupan pameran, ada satu isu kalau Hirst melakukan cultural appropriation atau mengambil dan mengakui sautu bentuk kesenian dengan menampilkan sebuah karya yang Hirst beri judul “Golden Heads (Female)” yang mengimitasi bentuk patung yang berasal dari Nigeria. Victor Ehikhamenor, seorang seniman dari Nigeria yang datang melihat karya tersebut langsung mengunggah foto karya dan memberi tambahan “the British are back for more!”. Menurutnya Hirst tak memberi pengetahuan yang layak mengenai Ife, bentuk kesenian patung kepala manusia dari Nigeria yang dengan khas memberi tekanan garis pada kontur wajah patung. Patung Ife adalah produk kebudayaan orang Yoruba dari Nigeria dan saat kolonialisasi Inggris di Nigeria berlangsung, beberapa patung tersebut ada yang dibawa dan disimpan di The British Museum. Apa yang Hirst tampilkan pada showcase ini adalah koleksi karya yang dipengaruhi oleh berbagai kebudayaan di banyak penjuru dunia dan pada kurun kesejarahan yang panjang. Koleksi karya Hirst ini merespon peninggalan peradaban dan pada patung “Golden Heads (female)” Hirst mengambil material emas untuk membalut patung yang sebelumnya dalam produk Ife menggunakan perunggu. Lewat sentimen seorang seniman asal Nigeria yang merasa kebudayaannya diambil oleh Hirst itu timbul satu pertanyaan: “Sejauh apa seni kontemporer bisa merespon bentuk dan nilai kebudayaan tertentu?”

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.