Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
It’s clearly been a while since anything was played on cassettes. Perhaps, most of us might think cassettes are soon to be gone for good. However, Moscow-based producer Zurkas Tepla proves us wrong with the release of his musical-storytelling-cassette entitled Bank Robber/In The Same Car; one side telling a story through the subconscious of a robber and the other featuring a meditative counterpart. Tepla certainly aims to reintroduce his audience with the familiarity of developing imaginations from listening to sounds, inviting us to dive into a world constructed within our own minds with the help of his murky soundscapes, disquieting beats, and also ambient sounds with distant melodies. Perhaps Tepla is trying to ignite the power of imagination within his audience, the kind you get from reading books, listening to audio ones, which during this age where a huge percentage of entertainment becomes visually presented may become more of a challenge to some. A journey of the mind may be a way to describe the experience brought by Tepla’s storytelling cassettes. Through each side’s tracks and chapters, who knows? Maybe listeners will be transported to the sceneries in the stories and live through the moments. Perhaps Tepla’s method may also provide audiences with the chance of taking their minds on a creative challenge to simply imagine. Bank Robber by Zurkas Tepla
There’s no doubt that nowadays, it’s becoming a more and more common to see young CEOs starting up their own businesses. This urban phenomenon is what eventually drove Fendi to create a business-executive-themed collection for their SS18 runway debut. The office-themed runway, which ironically took place in Fendi’s HQ office, featured rather casual office wear pieces. Fendi also took everyday items such as telephones, sink taps, martini glasses, and so on to create patterns that further portray the everyday essentials of a corporate life. It’s clearly an unusual sight for the eyes to find everyday items that can be considered rather dull or ordinary to be the essence of a high-fashion brand’s collection. Fendi’s take on the young start-up CEO phenomenon may actually be Fendi’s way of catching up with the future, as they stated that “you have young kids who are the head of start-ups and then become multi-billion companies in a few years, and so the attitude is changing and I think our life is changing.” In that case, Fendi has certainly succeeded in incorporating society’s dynamics into high fashion; which adds a whole new level into the understanding of what ‘contemporary’ fashion is. Fashion that, while defying the common conception that runway collections are usually far from being wearable, relatable, and are for aesthetic purposes only, also makes it its point to illustrate urban society. Fendi finding inspiration within youth in society may also be proof that not only does fashion take actual part in society, but also that fashion can be made of almost anything, even society’s seemingly mundane and dull everyday activities known as the ‘corporate life’.
Naela Ali adalah seorang ilustrator yang cukup mencuri perhatian melalui dirilisnya Stories for Rainy Days, sebuah artbook yang berisi curahan hatinya. Karya Naela Ali dapat dikenal melalui gaya ilustrasinya yang naif namun terasa sangat personal. Dalam episode Gimme 5 kali ini, kami mengundang Naela untuk menuliskan 5 sumber inspirasi bagi dirinya. Buku apa saja, baik fiksi maupun nonfiksi. Mulai dari novel, komik hingga artbook. Dengan banyak membaca jadi menambah pengetahuan saya dan membuat saya lebih peka terhadap hal-hal di sekitar saya. Dari film, saya mengambil cerita atau kutipan quote yang menurut saya menarik untuk dijadikan ke dalam sebuah ilustrasi. Selain itu, pakaian, gaya dan warna dari film itu pun bisa saya tuangkan ke dalam ilustrasi. Setiap film memiliki karakter tersendiri. Ketika mendengarkan lagu, saya mencoba menghayati dan terbawa suasana. Dari situ, apa yang saya tangkap dari lagu itu kemudian bisa memberikan saya inspirasi dalam berkarya. Seperti jika lagunya happy, saya akan menggambar sesuatu yang menyenangkan dan sebaliknya. Lirik lagu yang menarik perhatian saya pun bisa menjadi sumber inspirasi. Dia adalah film director asal Jepang. Film-filmnya mostly tentang kehidupan sehari-hari keluarga di Jepang, yang lembut dan tidak banyak intrik. Menggambarkan situasi apa adanya, warna filmnya pun lembut dan hangat dan menggambarkan kejujuran. Film-film Hirokazu Koreeda memberi saya inspirasi untuk membuat ilustrasi yang hangat dan lembut, dan yang terpenting, apa adanya. Cheesy as it may sounds. Tetapi saat berkarya, feeling mengambil peranan penting. Apa yang saya rasakan momen itu, kemudian menjadi inspirasi saya. Saat saya lagi sedih, atau pun senang (yang paling penting perasaan itu harus kuat), kemudian saya akan berkarya mengikuti saya feeling. Entah kenapa akan menjadi sangat mengalir.”
Creating his own ‘storylines’ within the Russian music scene is one way of describing Kuznetsov or Antoha MC’s (as he’s better known) unconventional yet offbeat new energy in it. Taking his music into a way of telling the story of everyday experiences, Kuznetsov describes his process as “(getting) rid of all the superfluous stuff and transform the raw material into what’s really necessary.” A combination of dream-like vibrations, combined with a realist composition into the rhythms of his inspirations, Kuznetsov shows the world just how much positive vibrations may be channeled through music that speaks about everyday muses—books, travels, moods created by a balanced lifestyle, and so on. Safe to say that Kuznetsov’s music is a literal ‘soundtrack’ to daily life, as he delivers his sincere and uplifting energy into each note. The fresh, unique, yet enjoyable works of Kuznetsov may be a worthy alternative to the usual cliche rap, as his transcendent twist on rap can take his audience not only on an uplifting trip, but also a journey of nostalgia through the lyrics.
Homoerotic, gay pride, and celebration of sexuality are definitely the highlight of Nicola Formichetti’s Nicopanda with the Tom of Finland Foundation. The collaboration that launched in accordance with the NYC Pride LGBT March, accompanied with a look book that shows just how much the issue can be turned into a creative work of art, not only for gay men but also for anyone. The collaboration may also be a visual realization of how the taboo-ness of something homoerotic that is usually deemed as a controversial subject can actually be poured into a creative framework and turned into an enjoyable piece of art. Perhaps the work may also be seen as a fresh new intake on what would normally be considered ‘graphic’ or ‘sensual’ in terms of fashion illustrations, since the featured patches and tees embracing erect men would definitely be an interesting new sight for the eyes.
Mendengar kata “diva,” ada 2 makna yang langsung terlekat padanya. Pertama adalah kata benda berupa penyanyi perempuan yang glamor, kedua adalah kata sifat yang diambil berdasarkan karakter penyanyi perempuan yang dielu-elukan tersebut. Lantas ketika sebuah bertema marak ditemui di klub-klub, wajar jika lagu yang diputar adalah lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Madonna, Mariah Carey, dan tidak lupa Whitney Houston. Hal tersebut pula yang ingin dicoba oleh Videostarr. Setelah sukses dengan Time After Time After Time, kali ini mereka hadir dengan bernama CherryBomb! Menggunakan tema kali ini 4 orang sekawan di balik inisiator deretan inklusif ingin membuat pada pemahaman publik terhadap kata “diva.” Alih-alih sekadar menghadirkan lagu diva yang kita ketahui, mereka ingin menekankan kata “diva” sebagai kata sifat. Kami berkesempatan untuk menanyakan maksud CherryBomb dan meminta 5 lagu diva versi Videostarr. seperti pada umumnya? Lewat CherryBomb, kami mencoba untuk mengangkat lagu-lagu diva dengan kemasan dan interpretasi ala Videostarr. Kami ingin memberi pada pemahaman bahwa diva itu tidak melulu penyanyi wanita glamor, tapi lebih nunjukin kalau Lagipula, diva bukan penyanyi perempuan saja kok. Lewat CherryBomb, kami mencoba untuk mengangkat lagu-lagu diva dengan kemasan dan interpretasi ala Videostarr. Kita ingin memberi pada pemahaman bahwa diva itu tidak melulu penyanyi wanita glamor, tapi lebih nunjukin kalau diva sendiri itu juga dapat diartikan kedalam beberapa aspek, dari sehingga seseorang yang mengekspresikan dirinya dengan penuh percaya diri tanpa pengaruh dari orang lain. Jadi menurut kami, diva itu tersirat dari persona yg dibawa seseorang, dan di dunia musik, persona tersebut muncul baik di musisi pria maupun wanita, sehingga diva sepatutnya tidak memandang gender. ? Karena tidak harus ada batasannya dan kami ingin me- benang merah dengan lain kita. Layaknya lagu-lagu pada Time After Time After Time, banyak lagu yang dibawakan oleh para diva ini dikesampingkan di acara dansa. Mereka sudah diasingkan ke kategori karaoke padahal kebanyakan lagu mereka sangat bisa dinikmati di acara dansa. Madonna - Holiday Tina Turner - Love Explosion George Michael - Careless Whisper Ariana Grande - Focus Titi DJ - Sang Dewi Karena mereka lintas era, genre, gender dan - Rawdeal Klapr Ankka Kamis, 29 Juni 2017 Lucy in the Sky 21:00
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.