Blog

Latest stories

09.08.17

Inisiasi Diskusi dari Saturasi

Sepuluh tahun terakhir, ada perkembangan menyenangkan di dunia desain lokal. Di kampus-kampus, Desain Komunikasi Visual menjadi jurusan favorit, semakin banyak pula gagasan-gagasan baru dari ranah desain yang membuka pintu baru di industri kreatif Indonesia. Buktinya bisa dilihat pada eksibisi “Seek A Seek” yang memamerkan potensi desain lokal, juga bermunculannya studio desain yang tersebar di penjuru bangsa, masing-masing dengan karakter tersendirinya. Nusae adalah salah satu bagian dari movement ini. Melalui karyanya, Andi Rahmat dan kawan-kawan telah mewarnai perkembangan praktek desain di Indonesia. “Saturasi” adalah karya terbaru dari Nusae yang bertujuan untuk memicu diskusi sekaligus mengembangkan kajian desain lokal. Datang dalam bentuk publikasi zine yang terbit 4 bulanan, Saturasi berupaya untuk menghadirkan wacana dan gagasan yang memperkaya khasanah visual lokal. Di edisi pertamanya, Saturasi berbicara tentang “Ruang” dalam bentuk esai pendek tentang fundamental desain dari Josef Muller-Brockmann, ruang alternatif dari Hiroshi Fujiwara hingga interview bersama Aswin Sadha - inisiator Thinking Form. Saturasi edisi pertama dibagikan secara gratis dan bisa didapatkan di beberapa tempat berikut: Dia.Lo.Gue Artspace, Sunset Limited, Footurama, dan Kopi Manyar. Ikuti Saturasi untuk mendapat info terkini mengenai kajian desain.

08.08.17

The Seen and Unseen

Jika sempat menungjungi Art Jog kemarin, ada sebuah karya interaktif yang mengajak pengunjung untuk merangkak ke dalam ruangan dengan instalasi sawah dan bulan berpendar. Itulah karya dari Kamila Andini bersama Ifa Isfansyah yang mengambil salah satu dari film terbarunya, “The Seen and Unseen.” Bukan hanya itu saja kejutan yang datang dari Andini, tapi ia kembali menorehkan cerita baru, dan kali ini tidak hanya pada dunia film lokal, tapi juga internasional - tepatnya Toronto, sebab film tersebut menjadi satu-satunya film dari Asia yang akan tayang perdana dan berkompetisi dengan 11 film lainnya di dalam sesi Platform di Toronto International Film Festival 2017 (TIFF). Adapun yang membuatnya spesial adalah sesi Platform yang merupakan sesi kompetisi paling prestisius di ajang festival tersebut. Pada film panjang keduanya ini, Andini membahas isu perempuan yang dikemas dengan cerita antara Tantri dan Tantra dalam pengalaman spiritual mereka yang sarat dengan kearifan lokal, mitos, cerita rakyat, tradisi, serta budaya Bali. Hadir dengan banyak elemen yang menempel pada isunya serta atmoster lokal, wajar jika Platform meloloskan film ini di antara jaajran film kelas dunia lainnya dari Eropa, Inggris, dan Amerika. Diproduksi oleh Treewater Productions dan Fourcolours Films serta diproduseri oleh Gita Fara dan Ifa Isfansyah, “The Seen and Unseen” menjalani proses produksi selama 5 tahun dan mendapatkan berbagai dukungan, antara lain dari Hubert Bals Fund (Belanda), Asia Pacific Screen Awards Children’s Film Fund (Australia), dan Cinefondation La Residence (Perancis) dalam proses pengembangan. Selain TIFF, film ini juga berkesempatan dipresentasikan dalam Hong Kong Asia Film Financing Forum, Filmex Talents Tokyo dan Venice Production Bridge. Pada pemutarannya di TIFF kali, Andini akan menghadapi juri handal - Chen Kaige, Malgorzata Szumowska, dan Wim Wenders - yang akan mengumumkan pemenang pada seremoni penghargaan tanggal 17 September 2017. Pemain dan Kru Produksi: Pemain: Thaly Titi Kasih, Gus Sena, Ayu Laksmi, I Ketut Rina, Happy Salma Penulis Skenario: Kamila Andini Penata Kamera: Anggi Frisca Penata Artistik: Vida Sylvia Editor: Dinda Amanda, Dwi Agus Sound: Yasuhiro Morinaga, Hadrianus Eko Musik: Yasuhiro Morinaga

08.08.17

Tephlon Funk: Anime ala New York

Semenjak merilis manga “Tephlon Funk” pada tahun 2015, Stephane Metayer, sang pembuat manga, telah berhasil menarik perhatian Willow Smith dan rapper Nas. Komik ini sendiri terinspirasi oleh Nas, di mana latarnya menggunakan kampung halamannya, yaitu Queensbridge. Setelah melihat kesuksesan manganya, Metayer ingin membawa karyanya ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu menjadikannya menjadi sebuah anime. Metayer pun bekerja sama dengan D’Art Shtajio untuk membuat sebuah animasi Animasi 50 detik itu diharapkan akan mendapatkan perhatian studio-studio besar yang mau menjadikannya sebuah anime Jika Metayer berhasil, “Tephlon Funk” akan menjadi anime pertama yang berlatar belakang di kota New York, dan juga yang pertama di mana karakter utamanya adalah orang kulit hitam. ini sendiri kurang lebih hanya mengenalkan empat karakter utamanya, yaitu Gabriel, Cameron, Giselle, dan Inez. Keempat karakter tersebut dipamerkan melewati adegan-adegan aksi seperti membawa pedang, pistol, dan kehebohan lainnya. Karena berlatar belakang di Queensbridge, manga ini menyentuh tema-tema kehidupan urban dan tentunya hip hop, maka tidak heran jika banyak penggemarnya yang membandingkan tersebut kepada “Samurai Champloo”dan “Cowboy Bepop”.

07.08.17

Kilas Balik Musik Lawas dalam Malam Gembira

Sebuah terhadap kejayaan skena musik Indonesia di era 60-90an ini mungkin bisa menjadi yang ditunggu-tunggu bagi penggemar musik lokal lawas yang sering merasa berada di dekade yang salah. Dengan tema “Merayakan Karya Guruh Sukarno Putra,” Malam Gembira menampilkan segelintir lagu-lagunya yang di antaranya dinyanyikan oleh beberapa musisi muda seperti Glenn Fredly, Kunto Aji, Bonita, Aimee Saras, dan masih banyak lagi, namun tidak lupa dengan turut menampilkan beberapa penyanyi asli dari lagu-lagu legendaris tersebut seperti Vina Panduwinata, Djajusman Djoenoes, Tika Bisono, Bornok Hutauruk, dan Keenan Nasution. Sensasi bernostalgia dengan sederet lagu yang turut meromantisasikan ragam karya Indonesia yang hampir hilang tergerus zaman ini juga diramaikan dengan penampilan dari Swara Maharddhika yang jejaknya sudah melegenda, dan masih ada beberapa nama lainnya seperti Irama Nusantara & Semarak Nada serta Kinarya GSP. Dengan berusaha memadukan audiens mulai dari kaum muda yang memiliki kecintaan pada era lawas musik lokal hingga generasi sebelumnya yang ingin menostalgiakan masa muda yang memang dihiasi judul-judul karya yang ditampilkan, Malam Gembira bisa menjadi bukti bahwa kejayaan musikal lawas yang dirayakan disini menjadi lintas batas waktu. - Jum’at, 18 Agustus 2017 The Pallas, Fairgrounds 18:30

07.08.17

Quick Review: Le Clitoris

Barangkali tanggapan pertama hanya dari membaca judul dokumenter singkat ini berat dengan prejudis ketabuan. Namun kenyataannya animasi singkat karya Lori Malepart-Traversy ini jauh dari penggambaran-penggambaran sensual ataupun frontal secara seksual. Yang akan ditemukan hanyalah animasi lugu bernuansa merah muda yang dengan secara komikalnya menjelaskan sejarah dan kultur yang menyangkut organ seksual perempuan yang menurut Le Clitoris tujuannya hanyalah untuk kenikmatan. Bisa dikatakan dokumenter ini menghantar siapapun yang menontonnya, khususnya perempuan, untuk mendapat informasi unik yang mungkin atau tidak dapat berguna di kemudian hari. Pembahasan bergambar mengenai organ klitoris, yang semula pasti disangka hanya akan berbau sensualitas dan ketidaksenonohan oleh banyak orang, justru secara alami, cukup komedik, dan cantik berhasil dilakukan oleh Lori. Mungkin justru dapat menyulut suatu rasa penasaran akan mengapa sulit sekali sepertinya mengangkat tema yang seharusnya menjadi bagian dari kealamian anatomi manusia kepada publik karena terlalu cepat dinilai sebagai sesuatu yang tabu atau terlarang. Karena justru dengan mengabaikannya, mungkin kita akan melewatkan informasi penting yang dapat menghantarkan kita pada suatu kunci akan sebuah kenikmatan yang siapa tahu bisa menjadi serbaguna tersendiri. Sutradara: Lori Malepart-Traversy Sinopsis: Sebuah dokumenter singkat yang menjelaskan sejarah dan budaya tentang organ klitoris pada perempuan.

06.08.17

Wajah Baru Pennywise

Pada bulan Juli kemarin, para pendatang Comic Con di San Diego ditunjukan trailer terbaru dari reboot film horor “It”. Trailer ini merupakan yang paling detail sejauh ini, menunjukan lebih banyak adegan dan memberikan lebih banyak klip tentang sang antagonis, Pennywise. Seperti yang diperlihatkan di dalam trailer kedua ini fokus kepada sebuah kelompok anak muda yang akan bertemu dengan sosok kejahatan yang besar di dalam kota fiksional Derry, Maine, di mana banyak kasus anak-anak yang menghilang. Ada sedikit kekecewaan terjadi untuk para penggemar Stephen King. Di dalam salah satu adegannya yang ikonik, yaitu saat Georgie bertemu dengan Pennywise di dalam selokan, Pennywise akan mengatakan dialog dengan intonasi yang berhasil menghantui sebuah generasi. Anehnya, di trailer tersebut terlihat Georgie yang mengatakannya, dan hasilnya tidak begitu Walau begitu, banyak yang memprediksi dari trailer tersebut bahwa reboot ini akan menjadi peningkatan dari originalnya pada tahun 1990. Satu hal yang pasti adalah horor yang digunakan akan berbeda dari sebelumnya. Alih-alih hanya menggunakan monster dan hantu, Andres Muschietti, sang sutradara ingin mencari rasa takut yang lebih dalam, seperti trauma masa kecil. Film “It” mulai rilis di Amerika Serikat pada 8 September.

Load More Articles whiteboardjornal, search
whiteboardjournal, play
Video
NOW PLAYING

W_Music Series Vol.05: Indra Lesmana

Invent Your Future

Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.


Tentukan Di Sini whiteboardjournal, search

Follow us on social media

Instagram whiteboardjournal, search Facebook whiteboardjournal, search Twitter whiteboardjournal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.