Setiap hari kita bisa melihat bagaimana pemerintah Indonesia pelan-pelan mulai bisa memahami kebutuhan penyaluran kreativitas masyarakatnya. Dengan semakin banyaknya tokoh Indonesia yang sukses di dunia seni karena produktivitas mereka didukung oleh pemerintah, tentu ini sangat berbanding jauh dengan keadaan dulu di mana negara ini masih terasa kaku. Arah yang sekarang dipilih oleh pemerintah pastinya harus kita acungkan jempol, karena ini bisa membuka lebih banyak kesempatan untuk pemikiran-pemikiran yang lebih luas dan terbuka. Dan pada tanggal 17 Agustus, momen kemerdekaan adalah momen yang tepat untuk merayakan hal ini.
Pada bulan Maret 2017 hingga Mei 2017, pemerintah mengadakan sebuah kompetisi pembuatan logo Peringatan HUT Ke-72 RI. Diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) dan didukung oleh Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI), ajang kompetisi ini mengajak masyarakat untuk membuat logo yang menyimbolisasikan tema HUT Ke-72 Indonesia yaitu Kerja Bersama. Tema Kerja Bersama sendiri mempunyai arti dimana pada umurnya yang ke-72, masyarakat Indonesia di harapkan bisa bergotong-royong membangun Indonesia yang lebih sejahtera dan maju.
Logo yang terpilih adalah hasil ciptaan Agra Satria dari Studio Mata, anggota ADGI Jakarta. Karyanya menunjukan esensi tema Kerja Bersama, dengan desain angka 2 yang merangkul angka 7, logo ini menjadi penggambaran gotong royong dan kerjasama yang harus masyarakat Indonesia terapkan. Selain itu, logo ini disandingkan dengan slogan Kerja Bersama yang dimana kedua hal ini adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
Untuk pengunduhan dan keterangan lebih lanjut tentang logo Peringatan HUT ke-72 RI, masyarakat Indonesia bisa mendatangi situs http://www.setneg.go.id/
Pada column-nya kali ini, Muhammad Hilmi menuliskan mengenai bagaimana pergerakan di Indonesia sekarang bisa menjadi antitesis bagi berita buruk mengenai musik.
Sepuluh tahun terakhir, ada perkembangan menyenangkan di dunia desain lokal. Di kampus-kampus, Desain Komunikasi Visual menjadi jurusan favorit, semakin banyak pula gagasan-gagasan baru dari ranah desain yang membuka pintu baru di industri kreatif Indonesia. Buktinya bisa dilihat pada eksibisi “Seek A Seek” yang memamerkan potensi desain lokal, juga bermunculannya studio desain yang tersebar di penjuru bangsa, masing-masing dengan karakter tersendirinya.
Nusae adalah salah satu bagian dari movement ini. Melalui karyanya, Andi Rahmat dan kawan-kawan telah mewarnai perkembangan praktek desain di Indonesia. “Saturasi” adalah karya terbaru dari Nusae yang bertujuan untuk memicu diskusi sekaligus mengembangkan kajian desain lokal. Datang dalam bentuk publikasi zine yang terbit 4 bulanan, Saturasi berupaya untuk menghadirkan wacana dan gagasan yang memperkaya khasanah visual lokal.
Di edisi pertamanya, Saturasi berbicara tentang “Ruang” dalam bentuk esai pendek tentang fundamental desain dari Josef Muller-Brockmann, ruang alternatif dari Hiroshi Fujiwara hingga interview bersama Aswin Sadha - inisiator Thinking Form. Saturasi edisi pertama dibagikan secara gratis dan bisa didapatkan di beberapa tempat berikut: Dia.Lo.Gue Artspace, Sunset Limited, Footurama, dan Kopi Manyar.
Ikuti Saturasi untuk mendapat info terkini mengenai kajian desain.
Episode Loka Suara kali ini berisikan lagu-lagu black metal, grindcore hingga hardcore untuk semangat tambahan di awal pekan.
01. Avhath - Eulogy
02. Caravan of Anaconda - Threatening Vertigo
03. Dead Vertical - Trapped in The Shadow
04. Deadly Weapon - New Noise (Refused Cover)
05. Disfare - Vein
06. Hellucinate - Savage Fucking Madness
07. Pure Wrath - Clouds Retiring
08. Tersanjung 13 - Jangan Lakukan di Rumah
09. Ancient - The Impaler
10. Terapi Urine - Agar Ku Selalu Tenar
Vague dibilang sebagai salah satu yang mengangkat kembali nuansa Revolution Summer di skena musik lokal. Dan layaknya pendahulunya di Rites of Spring dan Embrace, Yudhistira sang gitaris/vokalis juga menggabungkan hardcore punk dengan college rock, isian gitar tajam, serta yang telah dicetak prototipnya oleh Hüsker Dü di era 80’an dulu. Berikut adalah lima lagu Hüsker Dü terbaik menurut Yudhis.
Biarpun album kedua Husker Du, Everything Falls Apart kebanyakan masih berisi tembang hardcore/punk singkat yang menandakan era awal band asal Minnesota ini, rilisan ini melahirkan satu lagu berbeda: "Everything Falls Apart," semacam Husker Du yang nantinya mereka sempurnakan di album-album berikutnya. Tapi resep formula mereka mulai terlihat di sini: lagu bertempo sedang, energi punk, gitar berisik renyah, dan tentunya petikan gitar melodik berbalut efek chorus yang menawan. Jauh sebelum Kurt Cobain melakukan hal yang serupa dengan Nirvana.
Sulit mencomot lagu dari album magnus opus Zen Arcade; album dobel ambisius berdurasi 70 menit. Mengingat ini album berkonsep di mana setiap lagu merupakan bagian dari sebuah narasi yang lebih besar. Namun lagu pembuka, "Something I Learned Today" merupakan contoh sempurna bagaimana Husker Du bisa menyajikan energi punk lengkap dengan yang sibuk tanpa mengorbankan penulisan lagu atau melodi.
New Day Rising, album follow-up Zen Arcade adalah rilisan terbaik Husker Du dan favorit saya. Ada banyak sekali lagu dari album ini yang layak masuk dalam daftar ini. Namun pilihan saya jelas jatuh ke "Celebrated Summer," lagu definitif band ini. gitar berisik yang khas, riff melodik yang kebangetan nya, dan chorus yang mengundang Sulit buat saya mendengarkan lagu ini tanpa sok-sokan Kalau Vague mengkover lagu Husker Du, sudah pasti lagi ini pilihan pertama. buat "The Girl Who Lives on Heaven Hill" dan "Books About UFOs."
Setelah New Day Rising, Husker Du merilis Flip Your Wig, album pertama di mana mereka mulai mengurangi takaran gitar, memberikan porsi lebih ke vokal dan menampilkan penulisan lagu yang semakin ngepop. Hasilnya adalah "Makes No Sense At All," tembang terbaik yang pernah mereka tulis. Penuh dengan dan diwarnai duel vokal Bob Mould dan Grant Hart, lagu ini membuka jalan bagi band-band pop alternatif di era 90an.
Biasanya saat membicarakan album debut major label Husker, Candy Apple Grey, perhatian orang tertuju ke "I Don't Wanna Know If You're Lonely", lagu rock alternatif yang juga pernah dikover oleh Green Day. Tapi di album inilah Husker Du menunjukkan kemampuan mereka meramu lagu ballad yang efektif dan emosional. "Hardly Getting Over It" merupakan luapan keresahan Bob Mould mengenai pendeknya umur manusia di bumi setelah seorang temannya meninggal dunia tiba-tiba. Hanya bermodalkan drum, gitar akustik, dentingan piano, dan vokal rapuh Mould, Husker Du membuktikan bahwa mereka bukan sekadar musisi
-
Dengarkan Vague di tautan ini.
Saat tak tampil dengan monikernya, Individual Distortion, Adythia Utama juga dikenal sebagai videografer handal yang telah menghasilkan beberapa video musik dan satu film dokumenter berjudul "Bising" yang merekam pergerakan noise lokal. Pada episode Gimme 5 kali ini, kami mengundang Adythia Utama untuk memilih lima film dokumenter terbaik versinya.
Dokumenter yang menggabungkan 2 hal yang saya suka, experimental music scene di Jepang dan gaya cinema verite Perancis.
Enak ditonton dan tidak membosankan. Meskipun, setelah nonton dokumenter ini saya justru ingin segera makan fastfood.
Bukti yang sangat jelas kenapa GG Allin patut mendapatkan predikat legend.
Semua shotnya enak dilihat. Sangat direkomendasikan untuk ditonton di layar besar.
Pendekatan direct cinema yang dilakukan D.A. Pennebaker membuat saya jadi (sepertinya) mengenal Bob Dylan ketika dia tur waktu masih muda.
Lihat juga karya Adythia Utama di sini.