Sebuah kolaborasi berisi nada harmonis hasil improvisasi bass dan synth, jelas bisa menyita perhatian penikmat musik. Singkat namun tetap memiliki energi yang cukup untuk menciptakan suasana funk yang halus dan tidak tergesa-gesa, Raw Funk #01 merupakan karya penggabungan instrumen dan groove terbaru dari Fulgeance dan DJ Soulist asal Prancis yang rapi, penuh sensasi, dan jelas hanya bisa dinikmati.
Perbedaan karakter dari kedua kolaborator nyatanya tidak menghambat keselarasan melodi yang menciptakan sebuah dunia yang baru. Warna disko, hip hop, soul, latin, dan funk dari DJ Soulist bertemu dengan nuansa elektronika yang menghipnotis dari Fulgeance dan melahirkan sebuah spektrum baru yang jelas kaya akan nyawa dan energi. Sebuah keselarasan yang memang memaksa pendengar untuk menari-nari dan memang menghipnotis, kreasi Souleance nampaknya hanya mengambil bagian terbaik dari kedua dunia berbeda dari penciptanya.
Raw Funk #01 by Souleance
Tidak hanya hadir dengan konsep dan konten yang unik, tiap museum yang ada di dunia, mampu menawarkan pengalaman alternatif berupa kumpulan sejarah hingga perkembangan subkultur setempat kepada smart traveler. Artikel ini disponsori oleh Cathay Pacific Travel Fair yang menawarkan harga tiket pesawat dan hotel terbaik untuk melengkapi rencana perjalanan Anda.
‘Perjalanan’ akan berbagai nuansa funk ini disuguhkan oleh Will Sessions, sebuah kelompok musik yang kental dengan aliran funk asal Detroit. Deluxe yang disajikan dalam bentuk LP ini membawa pendengar memasuki berbagai dimensi funk yang berbeda, mulai dari dentingan dengan instrumen ramai hingga nuansa funk yang membawa sensasi menyantai. “Jump Back,” “Cherry Juice,” dan
Run, Don’t Walk” juga disumbangi talenta dari Ricky Calloway, Allan Barnes, Coko of Funk Night Records dengan karakter-karakternya masing-masing, seperti “Cherry Juice” yang menawarkan vibe funk yang perlahan namun meroket, yang juga patut untuk disimak.
Sekilas memang pasti terasa usaha keras Will Sessions menyulap Deluxe menjadi sebuah karya dengan berbagai lapisan warna funk yang tidak menjenuhkan. Sebuah kedatangan dalam skena musik funk yang menawarkan tidak hanya satu sisi dari karakter bermusiknya, Will Sessions layak dilihat sebagai pengubah mood dan nuansa menjadi lebih berwarna dan berdimensi lewat Deluxe.
Semangatnya untuk mengkaji media dan konteksnya telah membuat Otty Widasari menjadi salah satu tokoh yang berperan dalam literasi media di antara masyarakat Indonesia. Whiteboard Journal menemuinya untuk menanyakan program yang ia buat bersama Akumassa, peran Forum Lenteng hingga eksperimen dalam karya seni.
Pameran yang menampilkan hasil kurasi Rizky A. Zaelani dan akan menghiasi dinding-dinding Dia.Lo.Gue hingga 14 Agustus mendatang ini mendalami persoalan waktu ‘kini’ dan pengalaman yang menyertainya. Bagaimana seluk beluk dari ‘kini’ bisa menghasilkan interpretasi yang beragam dari segelintir pribadi yang mengalaminya. Dialog yang dihasilkan pun akan berbeda antara penyaji dan penikmat karya, di mana realisasi dari varian sikap dan pengalaman mereka dipertemukan oleh ruang dan waktu di lokasi pameran.
Sederet karya dari 21 nama seperti, Nus Salomo, Budi Kustarto, Ykha Amelz, Erizal As, Putu Sutawijaya, Rebellionik, dan masih banyak lainnya ini seolah merefleksikan perbedaan interpretasi yang diintensikan tersebut melalui macam medium karya yang digunakan. Seperti karya dari Rebellionik bertajuk Connecting Unconnected yang berbasis cermin, di mana kata-kata ‘kecewa, sedih, khawatir’ tertanam di atasnya; karya reflektif tersebut berada di seberang Darth Mader karya Nus Salomo dan Kotot van de Jroth yang menampilkan patung kertas tokoh Darth Vader berbuah dada. Kedua karya ini berada di ruang terpisah dari Mentari Pagi Menembus Benda-Benda dan Sebuah Perspektif karya Budi Kustarto yang menampilkan interpretasinya atas situasi pagi hari di dalam ruangan dalam lukisan cat minyak.
Seluruh rangkaian pameran yang tersebar di sudut-sudut Dia.Lo.Gue ini, seolah mengundang lebih banyak interpretasi lagi dari para penyimaknya di dalam konteks berbeda. Dengan menyimak sederet judul dan rupa dari karya lainnya, mungkin yang dibutuhkan untuk memahami tiap pengalaman di baliknya memang interpretasi pribadi. Berbagai karya yang menjadikan pameran ini, memang melarutkan penyimaknya dalam pemaknaan yang meluas, namun tetap demi tujuan yang sama, yakni pengalaman emosional dalam ragam bentuk dan warna.
25 Juli – 14 Agustus 2017
Senin – Sabtu, 09:30 – 18:00
Dia.Lo.Gue
Jl. Kemang Selatan 99A
Jakarta
Kontes desain tahunan UNIQLO T-Shirt (UT) Grand Prix kembali hadir dan kali ini mengangkat tema “Marvel.” Setelah sukses mendapatkan belasan ribu submisi secara global pada kontes sebelumnya, tahun ini UNIQLO memilih Marvel sebagai tema dikarenakan potret heroisme, karakter ikonik serta penceritaan epik yang diproduksi Marvel Entertainment telah menarik perhatian beragam khalayak di dunia.
Kontes ini mengajak sosok kreatif di dunia untuk berpartisipasi dalam koleksi UTGP yang akan dirilis pada tahun 2018 dan menunjukkan kreativitas lewat ilustrasi maupun fotografi. Para kontestan akan diminta untuk mensubmit karya berdasarkan karakter Marvel yang terdaftar di sini. Selain akan di ke menjadi koleksi UTGP, karya yang terpilih akan mendapat sebesar US$ 10.000.
-
Pendaftaran dibuka mulai 24 Juli - 31 Agustus 2017
Info lebih lanjut, kunjungi laman ini