Mostly African and Afro-Colombian goodness
1 Ezuku Buzo by Bola Johnson & His Easy Life Top Beats
2 Yiri Yiri Boum by Gnonnas Pedro
3 Eddie Quansa by Peacocks Guiter Band
4 You Are My Heart by Rex Williams
5 El Manicero Se Va by Afro Festival Led By Fantastic Tchico Tchicaya
6 Unknown
7 Aiye Le by Olufemi Ajasa & His New Nigerian Bros
8 Vibrations Groove by Lord Shorty & Vibrations International
9 Unknown
10 Odoo Be Ba by Pat Thomas, Jwashibu Area Band
11 Tromba by Sabrosa Soul
12 Unknown
13 Igbehin Lalayo Nta by Dynamic Africana
14 Atwer Abroba by Ebo Taylor
15 Unknown
Sebuah usaha untuk menggambarkan kembali suasana dan keglamoran Studio 54 yang legendaris, lengkap dengan sensasi kembali ke era 70-an, Dirty Bones yang kini hadir di Soho, London tidak hanya menjadi sebuah peleburan nostalgia akan sebuah era retro dengan nuansa urban modern. Penggabungan material industri yang mentah dengan unsur mewah, seperti dalam penggunaan kain yang menutupi sebagian permukaan perabotan mampu menunjukkan eksperimentasi elemen dari Dirty Bones, yang justru makin meningkatkan daya tariknya.
Mungkin sensasi berikutnya ialah dapat dirasakannya estetika sebuah apartemen yang penuh gaya dari Brooklyn, New York. Usaha desainer Lotti Lorenzetti ini untuk mereplika kembali atmosfer kultural dan musikal dari era 70-an tersebut dibarengi dengan angannya untuk juga menyuguhkan suasana familiar dan intim dari sebuah ruang publik. Mungkin kenyamanan dan keintiman rasa di antara keasingan dan kebisingan sebuah ruang publik yang mencoba disuguhkan oleh Dirty Bones justru berkontribusi dalam menciptakan atmosfer khasnya sendiri.
Sebuah film animasi pendek Jepang yang mungkin membutuhkan sedikit waktu lebih untuk dipahami. Bercerita tentang petualangan seekor kucing bersama saudaranya menghadapi segala rintangan dalam perjalanannya untuk bisa kembali pulang setelah sebuah bencana melanda tempat tinggalnya. Sejenak mungkin ringkasan kisahnya tidak terlihat luar biasa. Namun percayalah, terlalu banyak surealisme dan analogi sepanjang alurnya untuk bisa ditelan mentah-mentah.
Mungkin cara terbaik untuk bisa mendeskripsikan nuansa yang mewarnai film ini ialah skeptisisme, di samping surealisme dan sedikit bumbu melankolia. Satu cara untuk mempersepsikan pemaknaan dari keseluruhan film mungkin semudah pengisahan dengan analogi Tuhan, dunia, kasih sayang dalam keluarga, hubungan sebab-akibat dalam semesta, hingga keserakahan manusia. Dan tentunya, masih banyak pemaknaan yang bisa lahir untuk memahami animasi ini.
Mengapa skeptis adalah hal pertama yang muncul dalam impresi animasi ini? Karena nuansa yang menghujani film dari awal hingga akhir sangat sulit untuk disebut bahagia. Mungkin satu-satunya yang menjadi penanda adanya harapan dalam film ini ialah di bagian mendekati akhir film yang menggambarkan kekuatak sentuhan kasih sayang yang mampu menghidupkan saudara sang kucing dari keadaan ‘mati.’ Walau durasinya tidak panjang, ada baiknya siapkan mental dan waktu luang untuk menonton film ini.
Sutradara: Tatsuo Sato
Sinopsis: Seekor kucing dan saudaranya mengalami sebuah petualangan surealis demi mengembalikan nyawa saudaranya dari kematian.
Bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk persembahan sentimental bagi bagian selatan dari kota London, dari Tom Misch ini tidak saja menjadi sebuah tribut bagi tempat asalnya tersebut, namun juga sebuah kekayaan instrumental yang bernuansa sedikit disko. Diselingi dengan vokal Misch yang menghiasi tiap sudut dari sirkulasi khas yang mengalir dari awal hingga akhir, ikatan emosionalnya dengan sisi selatan London menjadi secara sembunyi-sembunyi terbingkai oleh liriknya.
Mungkin bisa terlihat kerinduan kental akan London bagian selatan di sana. Instrumentasi yang terdengar begitu natural, dibumbui dengan aksen lokal Inggrisnya yang menjadikan tribut kerinduan akan sebuah kota ini semakin melebur dengan alaminya. Sebuah alunan lincah yang ringan, yang menjadi cukup untuk sensasi ingin berjoget ria tanpa instrumentasi yang terlalu memusingkan, South of the River menjadi sebuah sajian bagi musim liburan yang pas.
Ialah sebuah instalasi di Kassel, Jerman berbentuk bangunan Parthenon yang berasal dari Athena, Yunani yang mengandung banyak ‘cerita’ di dalamnya. Pasalnya, instalasi karya seniman Marta Minujin dari Agrentina ini diselimuti oleh 100,000 buah buku yang pernah atau sedang dilarang di Jerman. Sebanyak lebih dari 170 judul karya yang mewarnai kerangka bangunan ini berasal dari donasi publik.
Barangkali menjadi sebuah tribut terhadap liberasi dari penyensoran, instalasi ini bukan menjadi yang pertama bagi sang seniman, yang sebelumnya telah membuat instalasi serupa di Buenos Aires, Argentina. Lokasinya di Taman Friedrichsplatz yang pada tahun 1933 menjadi lokasi pembakaran buku-buku terlarang oleh simpatisan Nazi juga makin mengobarkan semangat liberasi melalaui instalasinya.
Bahwasanya, kini segelintir karya-karya yang selama ini ditakuti akan menjadi racun pikiran dan bahkan harus dimusnahkan dari muka publik wujudnya, kini dengan bangganya terpampang tinggi pada dinding-dinding instalasi. Mungkin kini buah-buah pikiran terlarang yang dengan bangganya bersinggasana pada instalasi, menjadi sebuah pengingat sekaligus pencemoohan terhadap ketabuan kebebasan berpikir pada masanya.
Instalasi besar setinggi hampir 12 meter karya studio Laisne Roussel ini menjadi pemikat siapapun yang melihatnya di depan La Sucriere, Lyon, Prancis. Sebuah struktur yang mungkin pada kesan pertama nampak seperti sebuah penjara yang cantik dan berfungsi sebagai sebuah ini nyatanya boleh dimasuki oleh pengunjung yang mungkin penasaran akan pemandangan luar dari balik jerujinya.
Mungkin jauh dari konvensionalitas pada umumnya, namun barangkali justru ini yang kian meroketkan daya tariknya. Pasalnya, taman vertikal yang hemat ruang ini tidak hanya memunculkan konsep baru dalam membentuk suatu vegetasi tidak kalah indah dengan keterbatasan ruang, namun juga mengundang keinginan untuk memasukinya dan melihat Lyon dari ketinggian diantara kemagisan dunia kecil yang diciptakan ‘penjara bunga’ ini.