05.09.17

Sab Se Paruni Bab

Kuartet musik eksperimental asal Jepang, Saicobab, akan segera merilis album debut mereka yang sudah lama dinanti-nantikan pada tanggal 20 Oktober. Saicobab membawa musik yang terinspirasi dari musik tradisional Jepang, tradisional India, kerohanian, dan numerologi kuno. Ditemukan pada tahun 2001 oleh pemain Sitar Yoshita Daikiti dan vokalis serta multi-instrumentalis asal Boredom dan OOIOO, Yoshimi Yokota, grup ini sekarang digabungi oleh Akita Goldman dan Motoyuki Hamamoto Album debut mereka akan diberi nama Sab Se Paruni Bab, yang berarti “bayi perempuan yang paling kuno” dalam Bahasa Hindi. Saicobab sendiri terdiri dari dua kata dari bahasa Jepang, Saico yang artinya “paling kuno” dan Bab yang artinya “bayi.” Menurut unit ini, koneksi antara kedua nama itu adalah refleksi dari hubungan antara musik tradisional India dan Jepang. Hal ini yang membuat Saicobab terinspirasi dengan musik tradisional Jepang dan India, di mana mereka berencana membuat sebuah karya dengan kedua unsur tradisional itu di dalam ranah modern yang kreatif. Album ini direncanakan akan dirilis dalam bentuk CD dan vinyl format 2 x LP dengan tambahan gratis serta eksklusif lagu “AWAWAW” oleh Cevdet Erek. Untuk beberapa pertama bisa juga mendapatkan vinyl berwarna yang terbatas. Sab Se Paruni Bab akan dirilis secara lewat Thrill Jockey, dan sudah bisa di di sini.

Selected
05.09.17

Swara Gembira

Identitas serta ragam warna musik tradisional nusantara terus tergerus seiring dengan derasnya industri musik dunia. Kekhawatiran ini melahirkan keinginan Swara Gembira untuk mencoba menghadirkan lantunan-lantunan kidung dari Sabang hingga Merauke yang terkurasi dan terkemas relevan bagi muda-mudi Indonesia. 1. Ro Arwo Ibrin - Female Group (Musik dari Biak, Irian Jaya) 2. We Oe - Sesi String (Musik dari Tenggara Sumbawa, Sumba, Timor) 3. Hitam Manis - Musik Ronggeng (Musik Melayu dari Sumatra dan Kepulauan Riau) 4. Mangani-Woper Rum Sireb-Swan Womi-Mansren-Imnis Kaku (Yospan) - Group Wambarèk (Musik dari Biak, Irian Jaya) 5. Stambul Bila - Mama Ong ( Musik dari pinggir kota Jakarta) 6. Opak Apem - Banyuwangi (Lagu sebelum petang) 7. Peranta - Musik Mendu (Musik Melayu dari Sumatra dan Kepulauan Riau) 8. Gondang Parsahadatan Tu Saluhut Sahula Habonara (Music dari Toba) - Indonesia- (Music dari Nias & Sumatra Utara- Ho Ho, Gendang Karo, Gondang Toba) 9. Rangsang - Sekaha Sekar Karya (Lombok, Kalimantan, Banyumas: Dikenal sebagai Gamelan & Wayang) 10. Ahmadi - Zapin Music (Musik Melayu dari Sumatra dan Kepulauan Riau) 11. Tetalu Tiga: Daun Iris/Panca Marga - Grup Topeng Betawi Panca Mekar (Musik Betawi dan Sunda dari Pantai Utara Jakarta) 12. Djanger Bali - Tony Scott And The Indonesian Allstars (Djanger Bali)

04.09.17

Quick Review: Neighbours

Bermakna bukan berarti harus berlama-lama. Mungkin itu satu cara untuk merangkum kesan pertama setelah menyaksikan film singkat karya Norman McLaren ini. Sebuah pengisahan nan kreatif akan bahaya dari ‘perang saudara’, McLaren memang berhasil untuk memotret horror dan kengerian dari ego manusia yang berapi-api, yang selalu haus akan kemenangan dengan cara yang komedik dan ringan. Semula mungkin tidak terduga, namun penampakan pertama yang menggambarkan dua pemuda bertampang lugu menikmati bacaan di depan rumah masing-masing tidak memberikan pertanda akan kekerasan yang mewarnai adegan-adegan akhir film hingga berakibat fatal. Tanpa kata, namun kaya akan ekspresi dan gerak yang sesuai. Tidak butuh kontemplasi terlalu lama untuk bisa menemukan intisari dari semuanya. Bahwasanya ego dan keserakahan yang tidak bisa dikendalikan memang bisa menyulut api bunuh diri. Dan permusuhan yang paling fatal adalah permusuhan dengan yang terdekat. Siapa sangka dua pemuda lugu yang sedang secara innocent menikmati momen bersama kawannya di pekarangan ternyata bisa memberikan pelajaran singkat namun tuntas akan ‘kanibalisasi’ akibat hati yang terlalu tinggi. Sutradara: Norman McLaren Sinopsis: Dua orang tetangga mulai berebut tanaman yang tumbuh di antara kedua rumah mereka, yang berakibat fatal.

04.09.17

Retrospeksi Festival Musik Perth

Sebagai salah satu kota besar di Australia, Perth adalah destinasi wisata yang tidak hanya menawarkan alam hijau, melainkan skena musik menarik dan progresif lewat perkembangan festival musik dari waktu ke waktu. Artikel ini disponsori oleh Wego, situs travel yang menawarkan harga terbaik untuk hotel dan tiket pesawat yang akan melengkapi rencana perjalanan Anda.

03.09.17

Good Fences Make Good Neighbours

Seniman Ai Weiwei sudah tidak asing dengan masalah-masalah perbatasan dan imigran. Dari projek-projek aktivismenya saat ia membela para imigran Suriah dengan membuat hiasan Lotus dari pelampung di Vienna, hingga pengalaman pribadi dia sendiri saat ditahan dan diawasi oleh pemerintah Cina. Sekarang, Weiwei berencana untuk mengangkat masalah imigrasi Amerika Serikat-Meksiko dan tembok yang sedang di bangun Donald Trump. Sang seniman merencanakan sebuah proyek yang megah, dan kali ini lokasinya adalah satu kota New York. Dalam proyek yang bernama “Good Fences Make Good Neighbours”, Ai Weiwei berencana akan membuat karya seni yang terinspirasi dari pagar perbatasan, kandang, serta jeruji penjara. Karya seni tersebut direncanakan dibangun di daerah-daerah pusat seperti Central Park, Washington Square Park dan monumen Unisphere dengan ukuran yang menarik perhatian. Selain itu, di sepanjang jalan akan dipasang juga karya seni 2D dan 3D yang ikut serta menyebar kesadaran masyarakat tentang masalah perbatasan tersebut. Salah satu karya seni yang ia rencanakan adalah sebuah seni ukir raksasa dengan inspirasi pagar perbatasan yang akan diletakkan di tengah-tengah monumen di Washington Square Park. Pameran seni dengan skala sebesar ini sayangnya membutuhkan pendanaan yang banyak dan juga stabil. Maka dari itu Ai Weiwei bekerja sama dengan Public Art Fund dalam membuat sebuah akun penggalangan dana di Kickstarter.com. Dengan target 80.000 USD, kedua pihak berharap target ini sudah dicapai sebelum tanggal 21 September ini. Jika tidak, Weiwei dan Public Art Fund tidak akan melanjutkan proyek ini.

02.09.17

Stance

Ambush seperti tidak ada hentinya dalam berkreasi, selalu menciptakan hal-hal baru dengan gaya khas. Koleksi terbarunya adalah sebuah kalung rantai dengan tutup botol perak yang dengan logo Ambush tercetak di bagian bawah permukaan tutup botol. Perhiasaan dengan gaya ini tetap terlihat mewah dan sepadan dengan harga yang ditanggungkan. Berawal dengan hanya fokus pada perhiasaan, Ambush mulai merambah ke dunia fashion secara keseluruhan pada tahun 2017 ini. Desainnya yang atraktif dan menjadi kelebihan utama dari yang didirikan oleh pasangan desainer Yoon Ahn dan Verbal. Menurut Yoon Ahn, desainnya yang dan juga unik bukanlah karena sebuah strategi terselubung sang desainer, namun karena Yoon Ahn mendesain sesuatu selayaknya dengan filosofi dan pendapat yang ia percayai, dan hal itu terjadi tanpa ia sadari. Kalung dengan desain tutup botol ini merupakan bagian dari serangkaian perhiasan bertema bernama “Stance” yang sudah bisa dibeli di sini.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.