07.10.17

King Krule Bangkit dari Kematian di “Dum Surfer”

Teks: Ibrahim Soetomo Foto: Dazed Digital Setelah mengumumkan judul dan tanggal rilis album keduanya, “The OOZ,” King Krule meluncurkan video baru untuk lagu “Dum Surfer.” Disutradarai oleh Brother Willis, “Dum Surfer” merupakan video kedua dari albumnya (video pertama, “Czech One”, diluncurkan bulan lalu), dan memperlihatkan King Krule bangkit dari kematian dan tampil bersama bandnya di sebuah klub bersama mayat-mayat hidup. Menurut siaran pers, album ini akan lebih fokus pada corak musik dan nuansa yang lebih gelap dari album debutnya pada 2013, “Six Feet Beneath the Moon.” Pada album ini, King Krule mengeksplorasi tema penyiksaan diri dan hubungan cinta yang memilukan.

07.10.17

Rumah Piramid ala Takei Nabeshima Architects

Takei Nabeshima Architects (TNA) mengumumkan desain konsep terbaru dari rumah liburan megah rancangannya sebagai bagian dari proyek The Solo Houses yang diinisiasi oleh pengembang properti Christian Bourdais. Studio arsitek berbasis Tokyo yang dipimpin oleh Makoto Takei dan Chie Nabeshima ini merupakan salah satu dari 15 studio yang ditugaskan oleh Christian Bourdais dalam proyeknya. Setiap arsitek diberi dalam merancang konsep rumah liburannya masing-masing. Uniknya, rumah ini berbentuk piramid terbalik dan memiliki 4 lantai dengan kolam renang di atapnya. Pada desain awal, kolam renangnya memang terpisah dari struktur piramidnya, namun desain terbarunya menggambarkan kolam renang yang dirancang di atap bangunan tersebut. Ruang tamu rumah ini diposisikan di lantai atas, dan di bawahnya terdapat dua loteng yang terpisah. Bagian tengah yang juga merupakan lantai dasar piramid terbalik ini merupakan ruang makan, dengan dapur, pantry, dan ruang mesin yang mengelilinginya. Dilengkapi jendela berbentuk jajar genjang, rumah yang sedang dibangun di daerah pegunungan Matarrana, Spanyol, tentu menawarkan pemandangan menakjubkan dan unik, tidak seperti rumah mewah pada umumnya.

06.10.17

Gimme 5: Oomleo

Selain menekuni seni dan merupakan bagian dari unit elektronik lawas Goodnight Electric, pada waktu senggang Narpati Awangga yang akrab dipanggil Oomleo rupanya sangat gemar bermain PC Untuk itu, pada episode Gimme 5 kali ini kami mendapatkan kesempatan untuk menanyakan 5 PC terbaik versinya. Game ini ada diurutan pertama karena Commandos: Behind Enemy Lines adalah penyebab atau alasan saya pada saat kuliah (tertawa). Saat itu, inilah PC strategi yang paling memukau di segala aspek karena membutuhkan daya berpikir yang tinggi untuk mengatur taktik di setiap levelnya. Intinya harus sangat memutar otak. Saya suka semua Tomb Rider karena semuanya memukau, tapi kalau untuk PC, saya pilih seri ini. Bagi saya Adventures of Lara Croft adalah salah satu seri yang paling membuat saya banyak menghabiskan waktu di depan komputer. ini juga bisa membuat saya betah berjam-jam di depan komputer. Dampak dari terlalu lamanya memanikan game adalah saya berharap semua gerakan di dunia nyata bisa seperti di film Matrix (tertawa). Saya tidak tertarik dengan Counter Strike. Menurut saya pada saat itu, Medal of Honor: Allied Assault jauh lebih seru dan keren. Dalam konteks ini lebih humoris. Hingga hari ini saya masih dan memainkan ini di PC saya. Bagi saya Zuma: Deluxe adalah yang terbaik untuk olahraga otak. Karena setiap kali memainkan ini, saya selalu berusaha untuk mengalahkan sendiri. Bagi saya, ini adalah obat stres yang tidak ada matinya!

05.10.17

Jakarta dari Perspektif Rain Chudori

Setelah sukses dengan buku perdananya, "Monsoon Tiger" di tahun 2015, Rain Chudori akan menerbitkan karya keduanya pada pertengahan Oktober 2017, yang diberi judul “Imaginary City.” Penulis muda asal Jakarta ini cukup mahir mengolah pengalaman personal untuk diabadikan melalui narasi-narasi indah yang mengajak para pembaca untuk terlibat dalam emosi yang ditumpahkan di setiap ceritanya. Kali ini dengan mengangkat tema kota, Rain ingin menceritakan seperti apa peran sebuah kota - yang pada buku ini digambarkan oleh Jakarta - untuk dirinya, dan bagaimana kota menjadi saksi bisu atas seluruh kejadian yang terjadi dan dialami oleh orang-orang di dalamnya. Kami berkesempatan untuk menanyakan cerita dan proses kreatif di balik pembuatan buku ini hingga harapan Rain untuk para pembaca melalui buku terbarunya. Monsoon Tiger diterbitkan Desember 2015, jadi kira-kira sudah 2 tahun yang lalu. Proses penulisan Imaginary City hanya 3 bulan, dan proses produksi 2 bulan. Cukup singkat memang, ya mungkin karena ada banyak hal yang mau saya sampaikan di karya ini. Dari mana latar belakang cerita untuk novel terbaru ini? Menurut saya cinta itu pondasi dari tiap bagian dalam hidup – entah dalam bentuk apapun. Cinta terhadap keluarga, cinta ke teman, cinta dengan definisi romantis untuk pasangan, cinta ke karir, bahkan cinta akan hal-hal kecil dan indah dalam hidup. Nah, “Imaginary City” ini lahir dari kecintaan saya terhadap Jakarta. Saya percaya bahwa tiap wanita di dunia ini adalah pejuang. Ada begitu banyak bentuk perjuangan, bahkan hanya untuk sekadar hidup, dan begitulah kita akan bertahan, lalu berkembang, dan saling bertemu satu sama lain hari demi hari. “The Young Woman” di “Imaginary City” adalah sosok penyendiri, ia memiliki banyak teman di hidupnya, pekerjaan, juga berbagai hal yang membuatnya bahagia. Yang kemudian dia jatuh cinta pada seseorang yang tidak mungkin ia dapatkan, dan tiba-tiba semua yang telah ia kerjakan selama ini, lenyap seketika. Buku ini berbicara tentang momen-momen, keindahan dan kebrutalan, dan ruang di mana dua hal tersebut terjadi. Kota di karya ini menyimpan begitu banyak momen, yang amatlah penting, baik masing-masing maupun secara keseluruhan. Saya berharap pembaca bisa membuka buku ini dan menemukan kedamaiannya sendiri. Bagi saya, bagian terpenting dari menulis adalah jujur pada diri sendiri. Dengan begitu, barulah saya bisa jujur pada orang lain. Semoga niatan tadi dapat tersampaikan pada pembaca melalui karya ini. Saya ingin mereka semakin jatuh cinta dengan kota mereka (di manapun mereka berada). - Sabtu, 14 Oktober 17:00 Dialogue Artspace Jl. Kemang Selatan No. 99A Jakarta

05.10.17

UK/ID Festival 2017

Tahun ini adalah kali kedua upaya sebuah organisasi internasional asal Inggris, British Council dan Indonesia dalam mengadakan sebuah kegiatan berisikan kolaborasi antarbudaya dan beragam peluang pendidikan lewat acara yang diberi nama UK/ID Festival 2017. Festival ini merupakan bagian dari program tiga tahun “U.K/Indonesia 2016-2018” yang dikeluarkan pada kunjungan Presiden Jokowi ke Inggris pada April 2016. Kali ini dengan mengusung tema “Come Together,” UK/ID Festival 2017 akan melibatkan 32 seniman dan organisasi seni asal Indonesia serta 22 seniman asal Inggris. Latar belakang tema acara tahun ini adalah untuk merayakan keberagaman manusia yang bisa ditandai dengan adanya aneka ragam kebudayaan. Selain itu, “Come Together” dimaksudkan untuk memperlihatkan seperti apa esensi dari berbicara dan mendengarkan seseorang yang berasal dari berbagai dan nantinya juga akan turut melibatkan potensi-potensi kreatif dari teman-teman disabilitas. Pada festival sebelumnya, terdapat lebih dari 20 seniman asal Inggris dan Indonesia yang telah menghabiskan waktu selama kurang lebih satu bulan di negara masing-masing untuk saling bertukar ide, mempelajari satu sama lain dan berkolaborasi. Nantinya, hasil dari proyek ini pun akan ditampilkan pada UK/ID Festival 2017 untuk menunjukkan seberapa luas dan banyaknya cara dan peluang bagi Inggris dan Indonesia untuk bekerja sama. Tidak hanya itu, acara ini juga diisi dengan berbagai macam program yang merupakan hasil peleburan antara kebudayaan Indonesia dan Inggris, lewat rangkaian acara seperti pertunjukan musik, pemutaran film, seni pertunjukan, pameran visual dan instalasi, lokakarya hingga diskusi panel. Festival ini diharapkan agar bisa menjadi tempat berkumpul untuk para sosok kreatif untuk bisa bertukar gagasan mau pun ide kreatif dan menciptakan berbagai peluang dan kemungkinan baru yang dapat mendukung hubungan antarbudaya. - 17 - 22 Oktober 2017 The Establishment SCBD Jakarta bit.ly/UKID2017

04.10.17

25 Tahun Whiteread

Rachel Whiteread dan pahatan-pahatannya mempunyai pengaruh yang besar dalam budaya Inggris. Whiteread awalnya hanya seorang seniman yang terganggu saat sedang melakukan rutinitas pagi biasa, berubah total saat ia memutuskan untuk membuat pahatan mahakarya “House,” sebuah cor beton dalam rumah asli dengan tiga lantai. Karya tersebut menghebohkan seluruh Inggris pada tahun 1993 dan menyulut kontroversi. Selama 11 minggu “House” berdiri hingga akhirnya disetujui oleh dewan setempan bahwa karya ini harus dirobohkan, di mana di hari yang mengerikan itu Whitread sedang menerima Turner Prize. Cerita pendek itu adalah alasan kenapa Whiteread sangat dijunjung tinggi di skena seni kontemporer Inggris. Merayakan 25 tahun karya sang seniman, sebuah pameran akan diadakan di galeri Tate Britain yang menampilkan karya-karya legendarisnya serta yang belum pernah ditunjukkan. Beberapa dari kreasinya yang langsung menarik perhatian adalah sebuah cor beton berbentuk kandang ayam dan tangga. dalam pameran ini, Whiteread's Untitled (One Hundred Spaces), adalah sebuah instalasi yang sebenarnya sudah dibuat oleh sang seniman dari tahun 1995. Karya ini terdiri dari 100 cor resin berwarna bagian bawah sebuah kursi yang di bariskan dengan rapih di bagian selatan galeri.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.