24.10.17

Startup Weekend Bali 2017

Sebagai pelopor di Bali, Hubud tidak sekadar menyediakan ruang, tetapi turut memberi kesempatan bagi para sosok-sosok kreatif agar bisa saling bertemu dan bertukar pikiran lewat program yang mereka namai dengan Startup Weekend Bali. Program yang diselenggarakan 2 kali dalam setahun ini berupaya untuk menggali berbagai kesempatan serta kemungkinan baru yang bisa mendukung perkembangan industri kreatif, khususnya di Bali. Setelah 4 tahun diselenggarakan, Startup Weekend Bali telah membuktikan kesuksesannya dengan melahirkan beragam inovasi dan ide-ide baru nan segar yang hingga hari ini terus berkembang, salah satunya seperti CashforTrash. Pada tanggal 17-19 November 2017, Hubud kembali mengajak para penggiat desainer, dan pemasar untuk menghadiri Startup Weekend Bali kedua di tahun ini. Yang menarik, program ini di desain dengan waktu “mendesak” agar menantang para peserta supaya bisa memaksimalkan seluruh kemampuan kreatif yang mereka miliki. Kemudian pada rangkaian acaranya, para peserta akan saling bertemu dan membentuk tim setelah itu barulah mengolah seluruh ide dan gagasan bersama dalam waktu kurang lebih 54 jam. Bagi tim terbaik, akan berkesempatan untuk merealisasikan idenya lengkap dengan mendapatkan secara global, sehingga bisa disimpulkan bahwa Startup Weekend Bali menjadi ajang yang sangat sayang jika dilewatkan. Untuk pendaftaran dan info lebih lanjut silahkan klik tautan ini. - 17-19 November 2017 Hubud Jl. Monkey Forest 88X Ubud, Bali

Selected
24.10.17

Dekadenz

Dekadenz is a party of synthetic rhythm, lunatic beats and primitive electronics runs by 3 DJs : Aditya Permana, Jonathan Kusuma and Ridwan Susanto. This 40-minute mixtape will tell you how it feels like to dance under the dark side of mirror ball. 1. Freudenthal - Rapax Apicem 2. N/A 3. Boot & Tax - Sintessi Bassa 4. Front 242 - Take One 5. K-Effect - Heisenberg (Thomaas Banks Version) 6. Alien Alien - Secret Sabbah 7. Pardon Moi - Touch2Much (Curses rmx) 8. Freudhental - Contrail 9. Otheo - V 10. N/A 11. Cardopusher - Chrystal Nightcap 12. Pletnev - St.Bones

23.10.17

Kolaborasi 2 Negara dalam UK/ID Festival 2017

Enam hari rasanya tidak cukup untuk menampung deretan subkultur dari Inggris dan Indonesia. Namun, UK/ID Festival kali ini mampu dengan apik menatanya dalam 1 saja. Berisi ragam diskusi, karya seni, hingga penampilan musik dari tiap negara, festival ini tidak hanya menggelitik mereka yang menggeluti subkultur dengan syahdu tapi juga mereka yang awam dan mencari hiburan segar lewat tema "Come Together." Festival yang dimulai sejak tanggal 17-22 Oktober lalu ini patut disebut sebagai perkenalan; jika bukan eksplorasi, teknologi dan kesenian kepada generasi terkini. The Establishment sebagai acara diubah menjadi sebuah ruang serbaguna untuk kolaborasi antarnegara yang mampu menstimulus persepsi baru dalam melihat suatu hal, antara lain musik dan seni rupa. Namun, di antara banyak acara yang digelar dalam UK/ID Festival ini, dengan adalah salah satu yang menarik - selain musik di penghujung festival tentunya. Bekerja sama dengan Sjuman School of Music dan Hanyaterra, 2 film berbeda; yakni karya Hitchcock dan George Clark, tampil dengan wajah spesial lewat komposisi dan bebunyian unik. Di ranah pun terdapat kolektif seni asal Inggris dan Indonesia yang menciptakan karya kolaboratif. Walau beberapa tahun ini konsep kolaborasi di Indonesia terasa mereka hadir dengan angin segar dan sisi kontemporer yang tidak biasa. Selain melihat ke masa depan lewat optimalisasi teknologi dan topik yang diangkat, festival ini juga mengajak pengunjung untuk melihat ke masa lalu lewat warisan kuliner dari Dayak Iban bersama Rahung Nasution yang mengimplementasikan hal tersebut menjadi sebuah di Jakarta. Tak hanya itu, sebuah dibuat khusus, berisi diskusi dari Visionare, desainer Derek Lawlor hingga Yoris Sebastian dan bahkan sebuah wadah peluang bagi para seniman dengan disabilitas untuk berbagi cara untuk mengekspresikan diri. Festival ditutup dengan meriah lewat penampilan DJ dari perwakilan masing-masing negara yang namannya telah mendunia, antara lain Paranoid London dan Thomas Bullock. Afrikan Boy pun yang minggu sebelumnya sempat tampil, turut hadir dan menghadirkan kolaborasi meriah bersama Onar serta UBC. Jonathan Kusuma, Direct Action dan Bergas selaku musisi dari Indonesia ikut mengubah The Establishment menjadi di tengah kota. Tanpa menjadi ambisius, UK/ID Festival kali ini mengerahkan usaha terbaiknya untuk menghibur sosok kreatif dari Indonesia maupun Inggris dengan padat acara inspiratif.

23.10.17

Quick Review: The Keeping Room

“The Keeping Room” membawa kisah yang gelap dan suram. Tetapi jika ada satu kata yang bisa menjelaskan film ini, mungkin kata itu adalah ‘cantik.’ Setiap bagian dari produksinya tidak ada yang tak enak dilihat, dari pilihan pemeran, latar, sinematografi, audio, bahkan adegan horor yang terjadi di awal film tetap dilakukan dengan indah. Mungkin Daniel Berber sengaja melakukan ini untuk membuat kontras yang baik antara keindahan dan kejelekan. Bahkan kecantikan adalah faktor konflik utama dalam film ini, dikarenakan paras cantik karakter utamanya, Augusta, mempesona dua tentara yang kejam. Akibatnya adalah Augusta, bersama adiknya dan pembantunya, harus bertahan hidup dalam rumah peninggalan orang tua mereka dari teror kedua tentara yang desersi tersebut. Walaupun nilai produksi yang terjadi di balik pembuatan film ini sangat memikat, cerita yang sederhana justru membuat film ini lebih menarik. Ini bukan sebuah cerita bertahan hidup karena perang ataupun psikopat. Augusta bertahan hidup dari dua orang lelaki yang tertarik kepadanya dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan dirinya. Moses dan Henry bukanlah penjahat yang mengincar kekayaan, bukan juga pembunuh yang mempunyai penyakit jiwa, tetapi mereka adalah dua orang lelaki biasa yang kebetulan menemukan kesempatan. Ini adalah sebuah kondisi yang hingga sekarang pun masih terjadi, di mana lelaki akan melakukan apa saja untuk menenangkan nafsu birahinya jika disediakan kesempatan. Jika kita kesampingkan latar perang bersaudaranya, film ini sebenarnya adalah sebuah cerita nyata tentang ketidaksetaraan perempuan. Sutradara: Daniel Barber Sinopsis: Dengan setting perang saudara Amerika Serikat, seorang gadis harus bertahan hidup bersama adiknya dan pembantunya saat mereka diteror oleh dua tentara minggat.

22.10.17

The Algae Dome

Space10 IKEA berkolaborasi dengan 3 arsitek muda untuk menciptakan bioreaktor berbentuk kubah yang dapat meningkatkan pertumbuhan mikroalga. Kubah ini ditempatkan di CHART Art Fair Copenhagen untuk menunjukkan potensi alga, atau ganggang, sebagai tumbuhan berpotensi di masa depan. Memperbaiki sistem pangan di masa depan merupakan salah satu fokus Space10. Mereka percaya bahwa alga dapat memberi jawaban atas isu-isu dunia seperti malnutrisi dan perubahan iklim. Mikroalga hijau sendiri mengandung vitamin, mineral, asam amino, zat besi 50 kali lebih tinggi dari kentang, serta protein 2 kali lebih tinggi dari daging. Konstruksi yang disebut “Algae Dome” ini dipamerkan setelah memenangkan kompetisi arsitektur yang diadakan oleh Chart Art Fair tahun 2017. Tiga arsitek muda Aleksander Wadas, Rafal Wroblewski dan Anna Stempniewicz bekerja sama dengan Keenan Pinto, insinyur biologi yang sedang menjalankan residensi di Space10 IKEA. Pada instalasi ini, “Algae Dome” terdiri dari pipa sepanjang 320 meter dengan mikroalga mengalir di dalamnya. Kubah ini mampu memproduksi 450 liter mikroalga dalam 3 hari selama CHART Art Fair diadakan. Menariknya, pengunjung dapat menikmati waktu di eksposisi sembari duduk di dalam “Algae Dome”, mereka juga dapat menyicipi keripik spirulina -bahan makanan dari alga hijau - buah tangan Simon Perez, seorang chef yang juga sedang menjalankan residensinya di Space10.

21.10.17

Menghargai Nenek Moyang dengan Amerta

Modernisasi dalam semua hal yang manusia lakukan menjadi visi bagi banyak pihak. Teknologi baru setiap harinya muncul, membuat manusia lebih malas dan ketergantungan. Ini adalah alasan mengapa terkadang masyarakat dunia perlu berhenti sejenak dan kontemplasi kepada masa lalu, mengingat apa yang nenek moyang kita dulu perbuat untuk menjalani dan menikmati hidup. Itulah apa yang pabrik penyamakan kulit Amerta tawarkan, yakni menghasilkan kulit-kulit premium dengan cara yang tradisional. Pabrik penyamakan kulit ini mengaku spesialis dalam menyamak kulit dengan cara para nenek moyang. Dengan teknik vegetable tanning, Amerta memiliki visi untuk menghasilkan produk yang tahan seumur hidup. Teknik ini dilakukan dengan memanfaatkan unsur nabati yang alami serta lokal, yaitu dari kulit kayu pohon Akasia yang ada di Indonesia. Hasilnya adalah bahan yang lebih kuat, tahan lama, serta semakin cantik dengan bertambahnya umur. Memang cara yang dilakukan oleh perusahaan asal Yogyakarta ini patut diacungkan jempol. Membuat sesuatu dengan meninggalkan cara-cara modern dan melakukannya secara tradisional bukanlah hal yang mudah, membutuhkan proses yang lama dan waspada. Namun itu semua terbayar dengan hasil yang lebih berkualitas dan mempunyai nilai tersendiri.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.