16.04.17

Kejujuran Mac DeMarco lewat “On the Level”

Mac DeMarco mengajak pendengarnya berkontemplasi melalui single ketiganya tahun ini, “On the Level”. Bersamaan dengan lagu ini, terdapat dua lagu yang ia rilis sebelumnya, yakni “This Old Dog” dan “My Old Man” sebagai bentuk refleksi atas hubungannya dengan keluarga, terutama sang Ayah. Namun, jika dalam kedua lagu tersebut DeMarco lebih banyak menyuarakan kemarahannya, “On the Level” bicara mengenai penerimaan diri. Kombinasi pengulangan chorus bagai mantra dan buaian melodi synth yang kental kemudian menghipnotis pendengar untuk masuk lebih dalam merenungi dirinya sendiri. Ia berbicara mengenai melalui untaian kalimat Hadir dengan lirik dan melodi serupa dengan “Chamber of Reflection” dari album Salad Days, adalah lumrah jika kita menganggapnya sebagai kelanjutan cerita personal dari DeMarco akan kesendiriannya. Hal tersebut membuat This Old Dog menjadi sebuah album baru darinya yang patut ditunggu untuk didengar kala dalam perjalanan panjang.

14.04.17

Intimasi Album Telefone dari Noname

Album Telefone yang dirilis pertengahan tahun lalu oleh Noname memiliki residu gaung yang kuat dan membuat Fatimah Warner dianggap sebagai yang perlu diperhitungkan. Dalam pertamanya itu ia menggaet nama penting seperti Saba, Mick Jenkins, dan rapper muda lain yang dikenal dengan nama Chance. Lirik yang intim, bangunan musik sederhana dan kapasitas pendukung dalam Telefone jadi kesatuan yang harmonis dan menarik. Berangkat dari latar belakang tumbuh di lingkungan African-American di Chicago, lirik dalam Telefone menceritakan narasi yang sama dari sisi yang berbeda. Fatimah mengambil hubungannya dengan sang nenek dalam lagu ‘Reality Check’ dan dalam lagu ‘Bye Bye Baby’ ia mengangkat isu aborsi yang amat sensitif. Kurang lebih, Telefone menarasikan cerita suram perempuan lewat sudut pandang ibu dan nenek yang reflektif. Dalam berlagu, Fatimah terkesan berdansa dengan kata-kata yang ia ucapkan. Ia fasih menarasikan lirik reflektif lewat lantunan rap yang tidak terlalu cepat namun dengan tekanan kata yang jelas. Berangkat lewat ketidakpercayadirian yang mungkin dialami oleh banyak perempuan kulit hitam di Amerika. Yang utama lewat liriknya, ia tidak menebar kebencian namun melagukan optimisme dan keindahan pada nostalgia yang liris.

13.04.17

Quick Review: Get Out

Get Out menjadi salah satu film yang paling diantisipasi tahun ini. Terutama pasca trailer super intens yang memberikan gambaran sehoror apa film ini jika disaksikan secara utuh. Melalui debut kesutradaraannya ini Jordan Peele menunjukkan kekayaan referensinya, mulai dari It Follows sampai Manderlay. Namun, hal paling menarik dari film ini adalah isu rasisme yang dibawanya, mengingat film-film dengan isu rasisme biasanya berkutat pada kisah-kisah otobiografi atau menjadikan sejarah perbudakan orang kulit hitam sebagai pusat cerita. Pendekatan horor dari Peele mampu memberikan premis baru dan menjadikan Get Out film horor sosial dengan banyak lapisan. Film ini bercerita mengenai sepasang kekasih, Rose (perempuan kulit putih) dan Chris (laki-laki kulit hitam), yang berencana berakhir pekan di rumah orang tua Rose, Skeptisme Chris mengenai penerimaan keluarga Rose terhadap dirinya kemudian terjawab dengan cara yang paling horor. Peele berhasil mempertahankan ketegangan film ini sampai bagian paling akhir. Meski tak bisa dipungkiri ada pula logika-logika tak masuk akal khas film horor dalam film ini. Namun pada akhirnya penonton akan terlalu ketakutan untuk terdistraksi hal-hal tersebut. Hal lainnya yang juga esensial dari film ini adalah pemilihan pemain yang berhasil menjaga intensitas film dari awal hingga akhir. Terbukti bahwa sebagai film horror, Get Out tidak hanya memompa adrenalin, tetapi juga memberikan pendekatan baru terhadap diskursus rasisme. Quick Review Get Out: 4/5 Sutradara: Jordan Peele Sinopsis: Film horor berjudul “Get Out” ini merupakan film yang bercerita tentang perjalanan kekasih berbeda ras, Rose yang berkulit putih dan Chris yang berkulit hitam, ke rumah keluarga Rose. Sesampainya di Armitage House, rumah keluarga Rose, Chris mulai mengalami berbagai kejadian aneh nan menyeramkan maka tak ada jalan lain bagi Chris selain untuk menyelamatkan diri.

13.04.17

Usaha Supreme Membumikan Comme des Garcons

Bisnis di industri fashion semakin menantang. Para desainer dan rumah mode besar dunia pun kini mesti bersaing ketat dengan toko-toko ritel penjaja pakaian dengan tren yang bergulir sangat cepat dan murah. Belum lagi di sisi lain mereka juga harus bersaing dengan baru yang menggabungkan citra dengan harga yang lebih terjangkau. Alhasil berbagai strategi bisnis pun digencarkan. Terakhir, rumah-rumah mode kenamaan dunia berlomba-lomba menerapkan model bisnis yang memungkinkan pengunjung dapat langsung membeli koleksi tersebut di tempat. Namun, metode untuk ternyata membutuhkan investasi yang terlalu besar. Jalan lainnya adalah melalui kolaborasi dengan , meski tidak signifikan. Selain menguntungkan karena biaya produksi yang tak setinggi produksi koleksi mereka sendiri, kolaborasi juga tentu akan membuat desainer dan rumah mode besar dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Salah satunya Comme des Garcons yang akan mengeluarkan kolaborasi terbarunya bersama Supreme pada Mei mendatang. Ini bukan yang pertama bagi Supreme untuk berkolaborasi dengan mewah. Sebelumnya Supreme juga sempat menjajal Paris Menswear Fall 2017 Fashion Week bersama dengan Louis Vuitton. Namun kolaborasinya dengan Comme des Garcons ini berbeda. Jika dulu Louis Vuitton membawa Supreme ke level melalui koleksi kolaborasi mereka, dalam kolaborasinya kini Supreme membumikan Comme des Garcons ke jalanan. Tentu saja, bukan suatu hal yang buruk.

12.04.17

Opini Segar dari Maverick

Eklektik jadi 1 kata yang bisa menggambarkan EP Maverick terbaru yang bertajuk "Unpopular Opinion." Terdiri dari 6 dengan warna beragam, Wing Narada selaku sosok di balik ini menunjukkan bahwa dirinya berani mengemukakan opininya akan musik yang berputar di sekitarnya menggunakan segala - tak terkecuali meme yang sempat terkenal pada kurun waktu tertentu. Dibuka dengan "Opinion #1" yang diwarnai suara kendang dan terompet khas lagu India, Maverick membawa pendengar ke tengah perayaan holi penuh dengan warna psychedelic. Adapun selanjutnya benar-benar berbeda dengan sebelumnya, namun berkat kepiawaian Wing yang juga dikenal sebagai , transisi antara terasa sangat halus. Terlihat jelas bahwa Wing memiliki referensi musik yang kaya dan mampu memilah suara untuk membuat sebuah komposisi yang jahat, sehingga membuat EP ini terasa segar namun memiliki kompleksitas tertentu. Sisipan bebunyian kendang dan dawai di antara terompet menjadi bukti jelas yang membuat "Unpopular Opinion" menawarkan keriuhan berbeda dari yang ada di muka umum. Secara keseluruhan "Unpopular Opinion" memiliki dualitas kental. Tentu untuk mereka yang menyukai alternatif, ini merupakan suatu harta karun. Dengar atau download EP-nya secara gratis di Bandcamp Maverick. Unpopular Opinions by Maverick

12.04.17

Memanusiakan Perempuan bersama Ika Vantiani

Whiteboard Journal menemui Ika Vantiani di rumahnya dan berbincang tentang banyak hal. Mulai dari proses kreatifnya, relasi antara dirinya dengan periklanan hingga bagaimana ia merespon lingkungan sosial ketika ditempatkan ke dalam sebuah kategori tertentu.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.