Dalam submisi Open Column ini, Muhamad Aditya Ibnu Salim dan Diospyros Pieter Raphael Suitela memperlihatkan proses belajar–mengajar di Kampung Pantan Nangka, Aceh Tengah, sekaligus mempertanyakan dengan mendesak: "Sampai kapan terpal plastik dianggap cukup untuk mencerdaskan kehidupan bangsa?"
Dalam submisi Open Column ini, Randy Levin Virgiawan menyingkap bagaimana ‘Jakarta-gaze,’ dalam konteks mengapresiasi musik yang lahirnya dari luar Jakarta, jelas fatal dalam mereduksi talenta “daerah” yang mestinya bisa merekah tanpa merepotkan perhatian sang ibu kota.
Dalam submisi Open Column ini, Aditya Gumay merespons segala memori dan luka yang membekas di sudut-sudut kota, dan bagaimana kota memiliki peran penting dalam merawat ingatan kolektif terhadap siklus kekerasan negara.
In this Open Column submission, Radit Mahindro shines through a variety of lenses - from tourism to the Tower of Babel - to respond to the current heightened tension between Iran and neighbours in the Arab League, Israeli occupation of Palestinian land, and over-tourism while the loss of place takes place, all to explain how geopolitical friction could be rooted in a fundamental refusal to see the “other” clearly.
Dalam submisi Open Column ini, Samantha Dewi Gayatri mengungkap warisan dan logika penindas dan penjajah yang hidup dalam praktik cancelling - dalam konteks diskursus publik yang bersifat ideologis, latar belakang keluarga, atau kekeliruan perilaku personal - yang seperti menutup pintu akan tuntutan kita terhadap pertanggungjawaban orang lain.
In this Open Column submission, Teuku Reza Fadeli writes about witnessing Nusantara Beat, the Amsterdam-based six-piece psychedelic rock and vintage Indo-pop outfit, playing live in Utrecht, which prompted him to write home about the stories and diaspora memories brought to life by the band.