Archipelago Festival
Archipelago Festival memupuk sebuah harapan dan semangat baru bagi para penggiat musik hari ini agar bisa saling mendukung dan melahirkan buah-buah ide segar.
Archipelago Festival memupuk sebuah harapan dan semangat baru bagi para penggiat musik hari ini agar bisa saling mendukung dan melahirkan buah-buah ide segar.
Selain aktif dan tergabung di sebuah kolektif muda yang banyak menginisiasi acara-acara kreatif khususnya di bidang musik, yakni Studiorama, Madrim juga aktif menghadiri berbagai macam festival dan acara musik internasional untuk memperkaya wawasannya. Untuk itu, pada episode Gimme 5 kali ini, kami menanyakan 5 acara musik terbaik yang pernah ia hadiri. Saya ingat sekali momen ketika Damon Albarn meneriakkan “We love London!” saat konser reuni Blur di Hyde Park, 8 tahun lalu. Konser ini diramaikan 60.000 orang yang bernyanyi bersama pada tiap lagu sembari menari dan berteriak antusias. Tentu sangat bagi saya. Tapi ada 1 lagu, yaitu “Park Life” yang membuat mata beberapa orang sembab (mungkin karena lokasinya di Hyde Park?) dan bagi saya lagu tersebut memiliki kesan berarti karena saya ingat ada seorang laki-laki melempar botol plastik bau pesing ke kepala saya (tertawa). Trish Keenan adalah idola saya sejak masa kuliah hingga hari ini. Saya menyukainya karena karyanya menemani saya saat mengalami depresi. Saya bersyukur bisa melihat penampilannya langsung sebelum ia meninggal. Broadcast akan selalu memiliki tempat spesial di memori saya, RIP Trish. Ini merupakan berdurasi 3 hari terbaik yang pernah saya datangi. Belle & Sebastian, Joanna Newsom, Hawkwind, Os Mutantes dan The Besnard Lakes adalah penampil terbaik menurut saya kala itu. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana indahnya pemandangan di dekat Meredith Amphitheatre, sebuah bukit terpencil yang terlihat seperti sebuah taman batu romantis. Benar apa yang dibilang oleh para warga lokal di sana, (tertawa). Tempat festival ini cukup karena mereka menggunakan besar yang dimodifikasi menjadi sebuah area bermain khusus untuk orang dewasa. Saya ingat saat itu suasananya berantakan, panas, dan pengap seperti yang saya perkirakan karena, ya, ini adalah acara All Tomorrow's Parties (tertawa). Untuk mengerti maksud saya, mungkin bisa cek dokumenternya. Saya merasa waktu melambat ketika menonton SWANS, My Bloody Valentine, Einsturzende Neubauten, Sleepy Sun, Pere Ubu, GodSpeed You! Black Emperor dan setelah saya menangis bahagia. Sebenarnya ada beberapa momen seru di periode 2014 sampai 2016, tapi karena saya hanya bisa menulis 5 penampilan musik terbaik, saya memilih festival terakhir yang saya hadiri tahun ini, yaitu Field Day Festival di London Timur. Festival ini layaknya representasi masa kini dengan nuansa 90-an yang kental. Beberapa penampilan musik di festival ini yang akan selalu saya ingat adalah Aphex Twin, Slowdive, Flying Lotus, Death Grips, Jon Hopkins, Nicolas Jaar, Ikonika, Moderat dan Silver Apples. Selain itu, festival ini menjadi semacan nostalgia saya akan masa-masa di London saat saya kuliah di sana. Rasanya seperti pulang kembali ke rumah.
Dilihat sebagai salah satu pusat pertumbuhan musik dunia, Amerika Serikat menawarkan subkultur menarik, salah satunya musik underground. Memiliki klub ikonik yang menjadi rumah dari para band indie maupun hip hop artist serta toko musik yang mewadahi bermacam-macam genre musik, adalah hal lumrah jika Amerika Serikat masuk dalam destinasi wajib bagi penikmat maupun praktisi musik.
Mengenal unit seni baru - DIVISI62.
To enrich our readers’ music reference (laugh), we asked Dreems - the eccentric DJ with mind-bending music - about his top 5 most-listened songs. This man is on a mission to free everyone from the divisive shackles of flags and tongues. We added “why” into the question, but apparently he got to run to somewhere else. So here you go, 5 current favs on his rotation outside of the disco. But before that, keep what he said in mind, "Whatever your culture, sex, or species, there is a place in your heart for light, sound, and dance, and that is where I will make my home.” Find out how those 5 songs influence or inspire his mix and see him live at Dekadenz this Saturday at FJ on 7!
Indie asal Auckland, Selandia Baru yang memperkenalkan diri sebagai Fazerdaze akan menggelar pertunjukan perdananya di Indonesia pada tanggal 21 Oktober 2017. Bertempat di Rossi Fatmawati, Jakarta, Amelia Murray akan di bantu oleh Gareth Thomas dan Andrea Holmes yang mengisi bagian bass dan drum. Penampilannya di Jakarta menyusupkan nilai sentimentil, karena kedatangannya ini dapat dijadikan sebagai momen pulang kampung untuk Murray selaku pemilik proyek musik Fazerdaze. Meski lahir dan dibesarkan di Selandia Baru, ia memiliki sebagian darah Indonesia yang berasal dari ibunya. Kali ini dengan berkolaborasi bersama Six Thirty Recordings dan salah satu asal Jakarta, noisewhore, sekali lagi Studiorama memperlihatkan usaha dan keseriusan mereka dalam memberikan opsi alternatif untuk para pencinta musik lokal lewat penampilan-penampilan menarik hasil kurasi mereka. Bagi Six Thirty kolaborasinya kali ini cukup berbeda, kalau biasanya mereka terlihat hanya mengundang band-band yang cenderung keras tapi tidak untuk kali ini “Kami suka Fazerdaze dari segi musik dan paras (tertawa). Ditambah kami mau bikin orang tidak berpikiran kalau Six Thirty cuma mau mendatangkan band-band keras," jelas mereka. Unit dream pop ini telah mengeluarkan satu album pendek di tahun 2014 dan satu album penuh yang keluar di awal tahun ini dengan judul “Morningside” lewat label rekaman independen Flying Nun Records. Album ini mengusung tema yang cukup personal untuk Murray, karena penggarapannya adalah sebuah upaya untuk menciptakan ruang yang aman di saat dirinya menghadapi keadaan yang tidak stabil saat itu. Keahliannya Murray yang dibalut suara mengawang khas dan riff gitar pada album tersebut juga mendapat pujian dari Pitchfork sebagai, Sebelumnya, Fazerdaze juga sempat menjadi untuk beberapa band seperti Unknown Mortal Orchestra, Explosions in the Sky dan Frankie Cosmos, oleh sebab itu dapat dipastikan bahwa penampilannya di atas panggung patut diperhitungkan. Tidak hanya itu, pada kesempatan kali ini turut mengundang unit indie pop asal Jakarta dan Yogyakarta yakni Sharesprings dan Grrrl Gang untuk membuka penampilan Fazerdaze di Jakarta. Tidak disangka animo penikmat musik sangat tinggi, sehingga tiket untuk konser ini telah terjual habis dalam waktu 2 hari saja. Jadi, bagi mereka yang beruntung mendapat tiket, sampai jumpa di Rossi! - Sharesprings (JKT) Grrrl Gang (YK) 21 Oktober 2017 Rossi Musik HTM Rp. 250.000 (SOLD OUT)