Pada submisi open column-nya, Iqbal Dwiharianto melihat kembali pada isu kepung Candi Borobudur yang sempat marak beberapa waktu lalu, sebelum kemudian menganalisa bagaimana keputusan tersebut salah arah, sembari mengemukakan salah satu fakta penting yang sering terlupakan, bahwa konflik di Rohingya sebenarnya sama sekali tak berakar pada masalah agama.
Melalui esainya kali ini, Iman Fattah menuliskan mengenai pengalamannya mengunjungi museum pembantaian massal di Kamboja sembari melihat kembali pada bagaimana kita masih gagal dalam menemukan titik temu dengan kasus di masa lalu. Tentang bagaimana hantu di masa lalu sering membuat kita terjebak pada ketakutan tanpa alasan yang sering menjadi muara masalah seperti yang terjadi di LBH Jakarta kemarin.
Melalui submisi open column, Bagas Aryandaru menuliskan perspektifnya mengenai bagaimana aparat dan media memiliki peran penting dalam membentuk persepsi masyarakat tentang kejadian terror.
Melalui submisi open column, Dimas Adiprasetyo mempertanyakan mengenai posisi film dalam kemampuannya untuk menciptakan realita baru melalui ulasan mengenai salah satu film terbaik tahun 2015, The Lobster.
Pada tulisan pertamanya di column, Galih - biasa dikenal sebagai Deu' Galih - menuliskan mengenai kisah hidup singer/songwriter legendaris asal Inggris, Nick Drake. Dimana Galih menelusuri masa lalu Nick Drake melalui buku karya Patrick Humphries yang diterjemahkan oleh Al Mukhlisiddin, dan menemukan jawaban serta pertanyaan baru mengenai jalan hidup seorang seniman.
Pada esai open columnya, Putri Wulandari bercerita mengenai kunjungannya ke Pulau Harapan yang terletak di Kepulauan Seribu, di mana ia melihat sejarah dari waktu ke waktu mengenai apa yang terjadi, sembari menebak ke mana masa depan pulau itu akan dituju.