column

Column
22.03.18

Kepada Puisi

Dalam submisinya di open column, Aditya Septian Pamungkas menuliskan budaya dalam sebuah budaya. Tentang bagaimana sebuah skena berjalan hidup di antara kehidupan di sekitarnya. Adit dalam hal ini mengajak kita untuk melihat apa yang terjadi dalam skena puisi.

Column
15.03.18

Tentang Pasar

Dikirim melalui submisi open column, esai dari Fathurrozak mendiskusikan tentang pasar sebagai salah satu tempat dimana tak hanya terjadi pertukaran uang, tetapi juga dibangunnnya hubungan antar manusia.

Column
08.03.18

Menghidupkan Kembali “Chungking Express”

Kecintaan Anindita Salsabila terhadap salah satu film Wong Kar-wai membuat dirinya menapaki Hong Kong dan merenungi kehidupan sembari menikmati gedung-gedung monumental yang dijadikan setting dalam film "Chungking Express".

Column
01.03.18

Friend or Foe?

In her entry for open column, Amaryllis shares her view regarding the rising trend of art in public. She writes about how art became a closer subject for the masses, and how it generates new topic for discussions: about how the art scene should educate the new public about how they should appreciate art objects, rather than just making it an object for selfie purpose only.

Column
15.02.18

The Paths for Wheelchairs

Ranti Ekaputri's thoughts on Jakarta's infrastructure which not pays attention to the accessibility for the disabled.

Column
18.01.18

Seni Itu Fana, yang Abadi Tulisannya

Dalam tulisannya, Ibrahim Soetomo menceritakan tentang peralihannya menjadi penulis seni dan mengangkat tentang pentingnya menciptakan sebuah infrastruktur seni yang utuh dan tidak hanya diisi oleh seniman, tapi juga pelaku seni lain.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.