Dengan karakter yang kuat pada karyanya yang selalu bermain di antara suasana kekanakan dan kengerian, Natasha Gabriella Tontey menjadi salah satu seniman muda yang telah menunjukkan potensinya. Di antara pameran Little Shop of Horrors yang ia buat di Footurama, Whiteboard Journal berbincang dengannya mengenai bagaimana latar belakangnya membentuk karakter, tantangan dalam karyanya serta ketakutan personal yang ia berusaha taklukkan.
Review sekaligus analisa mengenai pameran "Design Anatomy: A method for seeing the world through familiar objects" yang berlangsung di 21_21 DESIGN SIGHT. Tentang mengunjungi sebuah pameran desain dan menemukan arahan baru dalam posisi brand di era terkini.
Walau genre satir dalam literatur sudah berkembang sejak zaman dulu, namun beberapa tahun belakangan publik mulai “terhibur” dengan format satir dalam bentuk komik ala Matt Groening dan Jean Jullien. Salah satu seniman yang menghadirkan satir tersebut adalah Reza Mustar aka Azer. Selain sibuk sebagai penyiar di RURU Radio, Azer juga dikenal dengan moniker Komikazer. Kami menemuinya di rumah untuk membahas sindiran halus yang ia coba sampaikan lewat komik.
Berkat karakternya yang kuat dan ketertarikannya pada tema horor dan fantasi, Natasha Gabriella Tontey (NGT) melahirkan sebuah toko fiksi sebagai karya residensi di Koganecho Bazaar Yokohama, Japan pada tahun 2015. Menggunakan gedung yang dulunya berupa ia menawarkan dunia alternatif sembari mengkurasi berbagai hal terkait ketakukan dan cerita-cerita horor warga setempat untuk dijual pada sebuah toko fiksi yang dinamai “Little Shop of Horrors”
Masih dengan palet warna khas neon dan pink yang menjadi identitas karyanya, kali ini NGT kembali menghadirkan “Little Shop of Horrors” untuk diperkenalkan di Jakarta. Konsep yang diangkat sama yaitu toko fiksi, namun pada kesempatan ini barang-barang yang akan dijual berupa bentuk kolaborasi bersama Footurama Freeform Fabrication, yakni koleksi spesial yang mengeksplorasi
Jika sebelumnya Sonotanotanpenz diajak oleh NGT untuk merespon ide dan tulisan NGT, kali ini Ken Jenie dan Dipha Barus diajak untuk meresponnya dalam format kaset berisi lagu-lagu yang menghadirkan nuansa horror. Pada malam pembukaan akan dimeriahkan pula dengan penampilan spesial dari Ken Jenie & Krazy Kosmic Kid, serta musik dari Baldi, Bergas, Mar, dan Moustapha Spliff -
Tidak hanya itu, “Little Shop of Horrors” juga akan disertai dengan bertajuk ‘‘FRESH FLESH FEAST’ atau ‘Makan Mayit’. Lewat proyek ini, NGT bersama Chandra Drews dan Elia Nurvista mencoba untuk memberikan pengalaman kepada orang-orang untuk menjadi kanibal, dengan mencicipi hidangan-hidangan pilihan, yang mana menurut NGT, hasrat kanibalisme sebetulnya memang sudah dimiliki oleh setiap makhluk hidup.
Gala ini hanya terbatas untuk 13 partisipan, dengan membeli tiket seharga Rp. 295.000,- sebelum acara, dan Rp. 350.000,- saat acara, yakni pada hari Sabtu, 28 Januari 2017, jam 19:00.
-
21 Januari 2017
17:00
Footurama
COMO Park
Jl. Kemang Timur Raya no. 998
Jakarta
Andina Dwifatma adalah seorang penulis dan pengajar di salah satu universitas swasta di Indonesia. Whiteboard Journal menemuinya di sela kesibukannya sebagai pengajar untuk membahas guna fiksi sebagai alat penyampaian premis yang mampu menawarkan dunia alternatif bagi manusia.
Sebuah foto bisa saja memiliki sebuah pesan, namun respons dan interpretasi yang muncul tidak mengenal batas. Menggunakan teknologi dalam proses kreatif, Agan Harahap menjadi salah satu seniman monumental di Indonesia. Melihat kuatnya ekspresi dan pesan yang hadir di dalam karyanya, menjadikan ekspresi sebagai landasan penting dalam menciptakan regenerasi dalam subkultur di Tanah Air.