
W_LIST: Best Music Releases of 2025
Sepilihan lagu-lagu dari rilisan terbaik 2025 pilihan redaksi Whiteboard Journal.
Words by Whiteboard Journal
Tahun 2025 terasa seperti rintih yang panjang: di antara pelik negara yang tak kunjung reda, kelelahan kolektif, dan upaya-upaya kecil untuk tetap waras di tengah kehidupan yang makin sempit ruang bernapasnya.
Rilisan album dan EP terbaik dari tahun 2025 di sini lahir dari konteks itu. Ada yang memilih berteriak dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, ada yang berdoa dengan suara gemetar, ada pula yang menertawakan absurditas dengan imajinasi-imajinasi liar.
Mereka membuka kemungkinan: bahwa bertahan bisa berarti marah, bisa berarti menari, bisa berarti diam. Bahwa menjadi “selamat” di 2025 bukanlah keadaan heroik, melainkan proses yang rapuh dan berulang. Dan mungkin, di sanalah kekuatan musik tahun ini: ia tidak menjanjikan keselamatan, tapi setia menemani kita yang sedang berusaha mencapainya.
#10 Galdive – Blue
Tahun 2025 sepertinya menjadi tahun di mana banyak orang akhirnya mengenal Galdive, apalagi November lalu, akhirnya mereka manggung untuk pertama kalinya di Indonesia di Joyland Session 2026 kemarin. Album ini terdengar fresh di telinga. Pure laid-back vocals, mixed with chillwave R&B that’s not flashy or ‘too much.’ There are chord progressions that move me on a visceral level, and Galdive uses them so naturally. Bisa dibilang album Blue berhasil menyerap ke semua lapisan emosi yang in a way… introspective? [JP]
#9 BATDD – Tamasya Dibuka
Nggak kaget kalau mereka bisa dapet perhatian yang cukup besar di tahun ini, soalnya Tamasya Dibuka berhasil narik kita masuk ke dalam lubang dunia magis berisikan kisah-kisah absurd yang dibangun dari segala teatrikalnya, dari diksi yang dipilih dalam lirik (yang juga cukup “ngasal,” tapi itulah charm-nya), aransemen yang multi-layered, vokal (termasuk komat-kamitan) Dea yang enchanting, sampai aksi-aksi panggungnya yang membungkus semuanya dengan gokil, mengingat ini album mini perdana mereka. What a hell of a good trip (and it’s pretty trippy alright), mungkin jadi hal yang tepat dilontarkan abis dengerin lagu-lagu di sini secara berurutan dari intro, sampai lagu terakhir, yang judulnya “Ini Lagu Terakhir.” [RN]
#8 Rimba – Technicolor Meeting
Senang untuk mendengar band yang punya ambisi besar. Rimba adalah contohnya, sebesar apa ambisinya? Menjadi band dengan ambisi bikin album layaknya band funk dan pop kreatif Indo tahun 70an. Tapi apa artinya ambisi kalo nggak nyampe? Untungnya Technicolor Meeting ini nyampenya sampai ke sanubari. Mereka membuat musik seolah dinamika adalah satu-satunya cara dalam songwriting, dan cukup tahu kapan harus berhenti. Hasilnya adalah sebuah album yang akan membuat Candra Darusman dan Guruh Soekarno Putra bangga. Dan, kalau mereka bangga, kita apalagi. [MH]
#7 Jal Brahim – Sharia
Cuma dua lagu, tapi potensinya bisa banget diadu. Konsepnya juga beyond, House Music yang diseduh pekat dengan bebunyi dan lafaz khas Aceh, dan tak berhenti di situ, ditambah pula Mediterania-inspired sounds yang akan mengingatkan pada Habibi Funk. Hasilnya adalah tesis penting yang patut kita cermati bersama: di semesta yang berisi gejolak menjadi citizen of the world, the only way to stand out is to be yourself. Kalau Ali bisa banyak main di luar negeri dan punya banyak pendengar, Jal Ibrahim deserves the same, if not more. [MH]
#6 Rrag – Langit
Setelah beberapa tahun terakhir Bogor kerap muncul sebagai catatan kaki yang konsisten lewat Texpack dan Swellow, Rrag datang di momen yang tepat, membawa album yang terasa seperti rangkuman dari proses panjang itu. Masih berakar pada sensibilitas post-Barefood era, mereka tidak terdengar sibuk membuktikan apa pun. Dua belas lagu mengalir dengan rasa percaya diri yang tenang: mentah, tapi tidak ceroboh. Rapi, tanpa kehilangan kegelisahan yang memang justru jadi motor. Liriknya langsung, nyaris kasual, tapi justru di situlah kekuatannya, mudah dihafal karena terasa dekat, bukan karena dipaksakan jadi slogan. Lagu-lagu ini seperti dirancang untuk hidup di kerumunan: dinyanyikan keras-keras, dilupakan sebentar, lalu muncul lagi sebagai pengingat tentang kenapa kita masih harus bertahan di kolong langit yang belakangan lebih kerap abu-abu. [RN]
#5 Negatifa – S/T
Yang paling menyenangkan dari Negatifa adalah bagaimana mereka memainkan powerviolence, tapi juga melebarkan spektrum genre ini di saat yang sama. Dengar bagaimana mereka tak hanya berlomba main cepat, tapi juga selalu meletakkan momen-momen yang catchy (boleh kok guys main PV tapi catchy). Menjadikannya landasan pacu yang baik untuk lirik-lirik Arian yang lebih menusuk dari sebelumnya. Momentum-wise, album ini juga tepat waktu, ia hadir saat kita semua butuh teman buat marah-marah, dan apa yang lebih baik dari umpatan yang padat mampat dalam durasi lagu maksimal dua setengah menit? [MH]
#4 Bin Idris – III
Sulit disangka, sebuah album dengan pendekatan minimal justru muncul sebagai salah satu rilisan paling jernih tahun ini. Tanpa gemuruh, Bin Idris membiarkan gitar dan vokalnya berdiri telanjang, memberi ruang bagi kata-kata untuk bekerja. Di “TO ENDURE”, kontemplasi hadir sebagai upaya bertahan yang sunyi; sementara “HEARTACHE (SHALL NOT SURVIVE)” menulis relasi manusia dan Tuhan bukan lewat khotbah, tapi dalam bentuk doa yang ragu namun jujur. Di sini, lirik bukan hiasan, ia adalah pilar penahan album ini agar tetap bernapas lama setelah lagu usai, meski sering pula pilar itu, pula tampak rapuh. Sebuah album yang tidak meminta perhatian, tapi diam-diam menyergap saat kita butuh. [MH]
#3 Milledenials – It’s Terrifying and It’s a Shame
It is amazing how Milledenials keeps their music fresh-sounding one release after another. Ini adalah attempt kesekian mereka dalam meleburkan dua polar yang sampai sekarang terdengar ajaib: pop-punk dengan shoegaze, dan kita masih bisa melihat mereka inventif dalam menciptakan hook yang catchy tanpa harus terjebak di pola-pola yang tertebak. Coba dengarkan lagu “Dumb Ass Pop Song” yang akan membuat Hayley Williams iri, lalu lanjut ke trek berikutnya, “Daisies” yang akan membuat Turnover dengki. Jika ada Vans Warped Tour dengan zeitgeist terkini, Milledenials harus bermain setelah Pool Kids, tepat sebelum Turnstile. [MH]
#2 Rai Anvio – Magic Death Music
Di belantara opium laden hip-hop yang semakin merajai, Rai Anvio memilih untuk mencolok melalui komposisi. Di EP ini, ia menunjukkan kedalaman dan dinamika yang much needed to keep the scene interesting. Gak melulu pamer swag, bisa pecah, bisa juga sendu, dan at times, looking inward (remember Carti’s Whole Lotta Red?). Produksinya cociks. Ada lapisan, ada tekstur, ada keputusan-keputusan kecil yang terasa disengaja, menunjukkan kedalaman yang Rai punya dalam memaknai tren. And what’s more fitting than to release this cerebral album on Bosan Records? [MH]
#1 Senyawa – Membaladakan Keselamatan
Barang bagus akan tetap terasa bagus apapun bungkusnya. Dan album ini adalah buktinya. Pupus sudah statement bahwa, Senyawa adalah band yang berhasil di luar sana karena eksotisme dan eksperimentalisme yang catchy untuk western eye. Yang bilang begitu pasti belum pernah nonton Wukir dan Rully secara live. Lucuti itu semua, buang semua elemen eksperimentasi, baik secara instrumen dan vokal, maka akan tersisa Wukir dengan gitar akustik, dan Rully dengan vokal yang lebih “nyanyi” (?). Dan apakah itu cukup? Lebih. Dengar bagaimana sunyi itu ternyata lebih nyata ngerinya dari petikan gitar dan kerongkongan mereka, apalagi dengan lirik yang kini kita bisa cerna dan membuat kita bergidik. Judul mereka yang jenius “Membaladakan Keselamatan” (versi Bahasa Inggris juga cakep, The Ballads of The Survivors), seolah proyeksi, bahwa hanya ada balada buat kita yang “selamat”, bahwa menjadi selamat berarti kita hanya akan mengalami balada (akurat sekali bukan untuk pengalaman tahun 2025?). Jika di ranah film Turah adalah karya terbaik yang kita punya dalam tempo 10 tahun ke belakang, maka di musik kita punya album ini. [MH]
Dengarkan playlist pilihan rilisan terbaik menurut editorial Whiteboard Journal di profil Apple Music kami. Selamat berkenalan dan mendengarkan!



