W_LIST: Best Local Music of 2025 So Far
Sederet pilihan lagu-lagu lokal terbaik sejauh ini di 2025, langsung dari ruang editorial kami.
Words by Whiteboard Journal
Regenerasi indie-rock, ingat kembali indah bahasa kita, dan soundtrack marah-marah yang lebih nendang dari sebelum-sebelumnya.
Bulan ini, sudah 80 tahun Indonesia Raya dinyanyikan sebagai lagu bangsa. Tapi semakin ke sini, kita semakin ragu, apakah kita masih bisa bangga. Apalagi jika kita melihat ke atas sana yang isinya cuma hal-hal yang memicu amarah baru setiap harinya.
Jika ada, harapan itu akan lebih terasa jika kita melihat ke sekitar kita. Kita yang entah bagaimana dipaksa untuk survive, dan thank god, so far kok ya masih bisa. Dan, untuk ini, kami mengajak kita semua untuk merayakan our truest quality: mereka yang berkarya sebaik yang mereka bisa, uncorrupted, dan menyajikan tempat berteduh saat bisingnya dunia semakin riuh: hak dasar yang negara tidak bisa.
Di daftar ini, kami senang sekali bisa menemukan bahwa paska-Barefood tutup toko, masih banyak (cek Rrag, hingga Parasupra) yang bisa melanjutkan bara indie-rock, dan bahkan mungkin membuka tepian langit baru yang belum terjelajahi sebelumnya. Di daftar ini, kami senang sekali bisa melihat bagaimana Bahasa Indonesia digunakan untuk membantu kita melihat ke diri kita dengan cara yang lebih mengena (cek Gascoigne, hingga Bin Idris). Di daftar ini, kami senang sekali bisa mendengar musik hardcore punk yang lebih tajam dari sebelum-sebelumnya lahir (cek Dogbus, hingga Negatifa).
Selamat mendengarkan dengan saksama, dan dalam tempo yang senyaman-nyamannya.
Pelteras – “Lintasan”
Bisa saja sebenarnya Pelteras, paska-Peranjakan, menasbihkan tahta mereka di ceruk post-punk lokal dengan membuat materi yang, yaaa, post-punk. Bisa, sah-sah saja, dan mungkin lebih strategis ke depannya. Tapi, untungnya jalan pikiran mereka tidak ke sana. Instead, mereka justru meluaskan cakrawala melalui “Lintasan”. Dan, ini adalah keputusan yang tepat, karena di lagu ini, potensi-potensi mereka yang sebelumnya malu-malu muncul, justru gilang-gemilang pancarnya. Isian drum Beje yang kayak Dolby (all around you) menyediakan ruang untuk isian gitar (yang sekarang jadi berdua) dan bass untuk lebih main. Ruang ini penting, karena rasanya vokal Techa belum pernah terasa se-klop ini dengan musik Pelteras sebelumnya. [MH]
Rrag – “Kristal”
Di antara rilisan Rrag tahun ini, “Kristal” terasa paling jujur dan telanjang. Lagu ini membungkus kebisingan dan gesekan dalam kabut elektrik yang tersusun sedemikian rupa sehingga setiap detailnya tetap jelas terdengar dan justru menghadirkan rasa tenang yang tak terduga. Semua itu menguatkan pesan: “Hidup cuma air hujan,” sebuah hal yang rasanya patut kita renungi bersama, karena ini datang dari band asal Bogor. [RN]
grass park – “Memoirs”
Terasa seperti berada dalam motion yang natural, terlebih berkat progresi yang tidak pernah terlalu jauh dari ‘pulang,’ lead guitar yang terasa lebih seperti menemani ketimbang ‘berada di depan,’ dan all-around atmosfer yang intendedly wistful.
Jika kamu berjalan kaki pulang sambil menendang kerikil sebagai satu-satunya teman di momen itu, rasanya lagu dari unit midwest emo dari Medan ini tepat buat nontonin si batu kecil itu bergelinding seraya membiarkan “Memoirs” itu datang dengan sendirinya. [GF]
Adrian Yunan – “Nikmat Sepanjang Umur” (feat. Cholil Mahmud)
Nikmat adalah ketika mendengar mas Adrian Yunan dan mas Cholil kembali bernyanyi dalam satu lagu. Alunan suara yang syahdu, petikan gitar hangat, serta damai. Kita seakan dibawa masuk kedalam lagu, dan diajak beristirahat sebentar dari apapun yang kita kejar dalam hidup. Semoga nikmat yang mereka berikan ini dapat kita rasakan sepanjang umur. [RP]
Bin Idris – “MERAK”
Lantunan hangat khas Bin Idris kembali lagi dalam lagu MERAK—sebuah pengingat yang hangat dan teduh kalau kita masih bisa bersandar dan istirahat ketika terpontang-panting dengan kesibukan dalam hidup. Diciptakan sebagai cerita antara hubungan bapak dan anak, namun tiap kata masih bisa disematkan dalam semua jenis hubungan mau itu platonik atau percintaan. MERAK sendiri adalah salah satu dari 13 lagu dari album III (2025), di mana penyampaian pesan dalam album ini terasa lebih matang dan ‘dewasa’ dibandingkan album lainnya seperti di self-titled album dan album Anjing Tua (2018). [JP]
Coma des citiés – “Redum”
Jika tujuan lagu debut dari band post-hardcore baru asal Bandung ini adalah memberikan kepedihan yang menderu, maka mereka berhasil melakukannya. Kementahan yang dipancarkan melalui lirik, vokal, sampai distorsi gitar yang kuat mendukung pesan utama yang ingin disampaikan mengenai suara-suara yang dikalahkan oleh sejarah. Namun, seperti yang band ini yakini, musik selalu akan menjadi pemantik mujarab untuk melawan luka yang kerap dilupakan. [RN]
Matter Mos – “Sujud” (feat. Teddy Adhitya)
Kalau kamu capek berharap pada manusia, mungkin saatnya kamu berharap pada Tuhan. Dengan lirik dan beat yang puitis, Matter Mos dan Teddy Adhitya seperti mengajak kita untuk berdoa. Semoga yang kamu harap terjadi, kejadian ya. Aamiin. [RP]
Ftlframe – “Confused/I’m Incomplete”
Ketika sedang membahas daftar ini bersama tim, temanku yang berinisial RP sempat bilang, “Tiap tahun ada mulu ini, Ftlframe!” Sayangnya ungkapan beliau benar adanya, dan tak bisa kusangkal karena memang banyak dari rilisannya yang terdengar natural saja bagiku.
It’s one of those songs that you can hear when you’re not wearing any earphones. Even when you’re reaching for your earphones before the noises catch up to you, “Confused/I’m Incomplete” might actually be the one chasing you down! [GF]
Dummel – “Jakarta Beirut”
Kalau nanti di bulan Mei 2026 orang-orang akan bilang kalau emo is not a phase, maka di July 2025 kemarin, Dummel bikin statement bahwa Brexit-core (dan egg-punk?) is not fuckin phase melalui album self titled (yang bisa jadi akan bertahan jadi salah satu rilisan penting tahun ini). Walaupun begitu, jangan bayangkan bahwa musik mereka adalah translasi literal dari genre ini, rather, musik mereka terdengar relatif fresh, ada beberapa part juga yang mengingatkan pada musik bikinan Beck untuk soundtrack Scott Pilgrim. [MH]
Thee Marloes – “I’d Be Lost”
Kalau melihat lagu-lagu dalam album Perak (2024) yang soulful, dengan instrumen yang berlapis dan dramatis, single ini mungkin sedikit berbeda.
Di “I’d Be Lost”, Thee Marloes seperti mencoba hal baru. Lagu ini terasa lebih modern dan simple, Dengan nuansa yang lebih cerah kalau dibandingkan dengan album Perak. Vokal mbak Natassya yang merdu juga terasa lebih clear, semakin menguatkan nuansanya.
Katanya ini lagu pembuka untuk album kedua Thee Marloes ya? Hmm… jadi gak sabar menunggu full albumnya. [RP]
The Cottons – “Lentera”
Lagu yang menjunjung kasih sayang ini rasanya seperti pelukan apalagi dengan synth lembut dan manisnya. This feels like being exposed to sunlight when you open your windows in the morning. Early summer days. [JP]
NEGATIFA – “Kau Tidak Konyol Namun Lebih Ke Kontol”
“Misoginis, juga seksis / Homofobik / Maskulin toksik / Maskulin toksik!”
Singkat dan menggigit. Proyek powerviolence Arian13, NEGATIFA, akhirnya hadir dengan gebrakan panas yang mengguncang. Kehadiran Anida Bajumi (Amerta) di track ini pun semakin menambah amarah yang sudah meletup-letup. Meski berdurasi singkat, lagu dan album ini berhasil menjadi tamparan keras yang membangunkan kesadaran, membuat kita ingin terus ‘ditampar’ agar tetap waspada. [RN]
Cloudburst – “Worst Weather on Earth”
IF THIS IS TOO LOUD, YOU’RE NOT BUILT FOR THE END OF THE WORLD. I REPEAT: IF THIS IS TOO LOUD, YOU’RE NOT BUILT FOR THE END OF THE WORLD. [MH]
Sicg – “Bodies From The Crypt”
Rupanya merupakan semacam ‘superband’ Yogyakarta yang memuat personil The Kick, Haszh, noire, dan lainnya, Sicg memperlihatkan bagaimana masing-masing personil ini menumpahkan diri ke dalam kolam garage-punk dengan menjanjikan. Menonton via rekaman warganet di Twitter pun masih bisa terasa sangat tight dan tajam. Terlebih lagi, secara produksi pun sangat beres dan jelas, selayaknya organized chaos. [GF]
Dogbus – “No Rules in The Flawed World”
No bullshit hardcore punk, just straight-up angst and ache in a world gone numb. [MH]
Galdive – “Teach Me How to Love”
“Teach Me How to Love” terdengar seperti bisikan antara dua jiwa yang terdengar vulnerable. Introspektif namun masih terdengar lirih kerinduan. Lagu ini mengingatkan saya pada lagu “Dream” oleh The Pied Pipers namun dijahit dengan “Lenna’s Theme” dari Final Fantasy V (1992) oleh John Oeth. Rasanya sangat mudah untuk lagu ini bisa ada di chart on repeat pengagum R&B. [JP]
The Panturas – “Knights of Jahannam”
Ceramah akhir zaman, motif pentatonik Sunda, dan groove reggae 70-an? This song has it all. “Knights of Jahannam” terasa seperti kelanjutan spiritual dari “Galura Tropikalia”, namun lebih fokus dan berani. Menariknya, lagu ini tidak terjebak menjadi fusion yang gimmicky. Setiap elemen menyatu secara natural dalam satu narasi sonik yang solid, termasuk lirik berbahasa Inggris dengan aksen Sundanya. [RN]
Ali – “Orient”
Kira-kira, ada gak ya yang pernah bertanya ke mereka “Kok kalian bisa keren terus sih? gak capek apa?” Kalau belum, sepertinya saya akan bertanya seperti itu.
Bagaimana tidak, untuk band yang belum genap 5 tahun, Ali sudah “ke mana-mana”. Mungkin juga, Ali adalah alasan kenapa frasa “Ada Indonesia coy!” menjadi begitu populer.
Dan seperti karya-karya Ali sebelumnya, lagu ini diisi bass yang groovy, beat drum yang effortless, melody yang eksotis, dan tidak kalah penting ketukan perkusi yang jadi cherry on top-nya. Minimal, kalo dengerin lagu ini, kalau kepala tidak mengangguk, kaki goyang-goyang lah… [RP]
Bleeedrz – “Sayangnya”
Mungkin nggak terlalu banyak di antara kita yang ingat dengan The Raveonettes, band indie-rock/shoegaze asal Denmark. Tapi kalau sampai Omrobo—midas-level guitarist yang bisa membuat apapun jadi penting (mungkin ini tandanya dengarkan lagi Southern Beach Terror dan Sundancer lagi), dan ia membuat band baru yang terinspirasi dari The Raveonettes, ini saatnya mendengarkan kembali. Atau justru nggak perlu? Karena Bleeedrz, melalui lagu ini, menunjukkan bahwa mereka bisa lebih besar dari Raveonettes. [MH]
BATDD – “Tamasya Dibuka”
“Tamasya Dibuka” adalah jamuan selamat datang yang tepat sebelum kita melangkah ke gerbang unit baroque pop eksentrik asal Tangerang ini. Lagu ini mengajak kita bermain kembali dengan pola pikir yang imajinatif dan naif, lewat lirik serta progresi musik yang magis. Definitely one to keep an eye on.
parasupra – “Rambo”
Senang melihat (atau mendengar?) salah satu dari daftar The Ones to Look Out For tahun lalu, Parasupra, bisa membuktikan tajinya secara kontan di tahun ini. “Rambo” rasanya harus masuk daftar lagu indie rock lokal terbaik paska pandemi. Secara chord progression, pula di liriknya, terasa urgent dalam menceritakan resah dan kebingungan anak muda. Kita selalu butuh lagu yang akurat dalam menangkap existential dread, apalagi dengan masa depan yang semakin tak bersahabat. Dan harusnya mereka bisa jadi besar, karena rasanya banyak yang juga akan suka anime yang tokoh utamanya kuliah Graphic Design di Kampus Swasta Jakarta. Kok bisa? Karena Parasupra cocok banget ngisi soundtrack-nya. [MH]
Seaside – “Cul-de-sac (Alternate Version) (feat. Henry Foundation)”
To be fair, “Cul-de-sac” sudah cukup memikat dari versi single-nya yang rilis tahun lalu. Namun, versi ini membuat jelas beberapa hal, terlebih mengenai band Seaside yang sendirinya telah melewati banyak semasa hidupnya. Dengan jujur dan tanpa agenda apa-apa, lagu singkat ini memperlihatkan kepercayaan dan bakti Hans dalam dinamikanya bermusik—dari kekhasan songwriting Seaside yang elaboratif selagi menyembunyikan unsur ngitung menjadi simpel, sampai faith yang terus ia nyatakan dalam guitar music.
Dalam peta Seaside, “Cul-de-sac” sejatinya selayaknya ujung jalan tata perumahan—seperti setting GTA: San Andreas (2004) atau Ed, Edd, n Eddy (1999)—yang riuh dengan kehidupan dan permainan teman-temannya yang menemukan rumah di sana. [GF]
Mad Madmen – “Saran & Keluhan”
Mengambil arah yang lebih pop tanpa meninggalkan formula khas mereka, “Saran & Keluhan” terasa seperti kejutan kecil dari Mad Madmen. Trio asal Jakarta ini berhasil menyulap lagu berdurasi lebih dari enam menit menjadi pengalaman yang sulit untuk dikeluhkan dengan dinamika yang lincah dan tempo yang terus bergeser. [RN]
Showbiz – “Could This Be The End?”
Lush guitars, dreamy vocals, layered synths, Iyub dan Merdi menunjukkan bahwa meski kini shoegaze ramai di generasi TikTok, the seniors also have their say. Tapi harusnya mereka juga tak lantas punya mental abang-abangan, karena di liriknya, mereka menyanyikan “Is this the end of our time?” Atau… jangan-jangan ini tentang kiamat? If that’s really the case, semoga sangkakala malaikat itu bunyinya se-blissful ini. [MH]
Rai Anvio – “Sunny Hahaha…”
“Sunny Hahaha…” memulai EP pertama Rai Anvio yang bertajuk MAGIC DEATH MUSIC (2025) dengan beat yang meyakinkan. Membahas bagaimana ia memberontak dari segala bentuk kesedihan lewat syllables yang patah-patah, Rai Anvio membuka celah ke gelombang post-hiphop yang futuristik dan peculiar, di mana rap nggak harus selalu bersinggungan dengan 808 beat dan boom-bap. [JP]
Apricot – “Filming”
Kerap kita mengasosiasikan lagu dengan memori tertentu. Meski impresi awal mendengarkan single dari band Medan ini bisa menggerakkanmu untuk teringat kembali akan band-band anak kuliahan semester akhir—justru di situ letak daya pikatnya.
Dari akrobat-akrobatnya di tengah lagu yang dilaksanakan dengan kompak, pauses dan naik–turun dinamika lagu, sampai kerja sama yang solid dari bassist dan drummer, memori yang muncul di kepalaku adalah ketika—secara tidak sengaja—menonton ROBBRS di Yogyakarta. Senang rasanya melihat suatu band yang berenergi tinggi dan memainkan lagu yang terasa seperti ditulis dengan segala yang telah dihimpun di momen itu juga. “Filming” oleh Apricot terasa se-youthful itu, dan semoga mereka terus meniupkan gairah hidup kepada pendengarnya yang mungkin membutuhkan itu. [GF]
Alahad – “As Falsas” (feat. Shinjoko)
Lagi-lagi, saya harus berterima kasih kepada algoritma karena telah menyajikan “As Falsas” di telinga saya. Di lagu ini, Alahad dan Shinjoko sepertinya menemukan “Secret Recipe” milik Antonio Carlos Jobim dan Ade Paloh yang dimasak menjadi satu. Pantas telinga saya dibuat kenyang. [RP]
Gascoigne – “Catatan Kaki”
Banyak band beralih dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, banyak di antaranya yang tersesat dalam diksi-diksi aneh penuh ambisi, Gascoigne bukan dari kategori itu. Lyrics-wise, “Catatan Kaki” mengingatkan pada kualitas Swellow di “Berita Harian”. Harusnya, instead of menulis ulang sejarah, pemerintah buat beasiswa menulis bahasa Indonesia, Swellow dan Gascoigne bisa jadi guru-gurunya. Paling efek sampingnya, anak-anak sekolah akan jadi lebih anxious dan pessimist. But, aren’t we all? [MH]
Crayon Case – “Surabaya”
Jadi… kalau mencari tahu dari suatu wawancara mereka dengan seorang pegiat musik dari Hong Kong (2025), mereka adalah tiga orang yang belum pernah bertemu IRL? That might serve as a hooky intro, but the warm song does not build itself on immediate stimulation.
Ketika hangat itu sudah menemukan tempatnya, rupanya ada beberapa bagian (terutama chorus) yang berlagak seperti suatu pengingat yang sendirinya sehangat fuzz dari TV CRT. Kaget—serta terafirmasikan—setelah melihat Crayon Case ini menuliskan di laman Bandcamp-nya untuk lagu ini: “…our love letter for Cherry Bombshell.” [GF]
Sourmilk – “Toothpick”
Bingung tapi yakin. Ingin menangis sambil berusaha menahan tawa. Itulah perasaan yang muncul ketika mendengar lagu yang menggabungkan energi rock khas 90-an dengan sentuhan humor sinis yang menjadi ciri khas band asal Bali ini. Sesuai dengan judulnya, lagu ini seperti tusuk gigi yang kita perlukan saat ada benda asing mengganggu di gigi kita. [RN]
Bleach – “Silent Kill”
Jika dulu Bleach terdengar sebagai band hardcore yang trying to do too many things at once, di materi terbarunya, mereka terdengar finally found the thing that they should explore. Dengan leaning towards H-8000 metalcore, Bleach terdengar rougher than ever, dan rasanya itu yang kita butuhkan sekarang. [MH]



