
W_Circle: Sepedahan Centil
Dalam segmen W_Circle kali ini, kami bertemu dengan komunitas sepeda perempuan di Jakarta Selatan, Sepedahan Centil. Berawal dari Girls Ride, mereka ingin membangun komunitas yang aman bagi perempuan untuk mengekspresikan diri sambil bersepeda.
Words by Whiteboard Journal
Teks: Jemima Panjaitan
Foto: Agung Hartamurti
Sepeda sudah jadi bagian dari komunitas sejak lama, namun Philip Amaral, bagian dari Policy and Development European Cyclists’ Federation (ECF) menyatakan bahwa kegiatan bersepeda masih ada ketimpangan gender yang mencolok.
Menarik data dari survey oleh Strava yang dilakukan pada tahun 2024 menyatakan perempuan yang bersepeda merasa kurang nyaman jika jumlah pesepeda di sekitarnya masih sedikit. Ketimpangan ini pun disebabkan beberapa faktor, termasuk fakta bahwa perempuan rentan terhadap pelecehan seksual ketika bersepeda.
Selain itu, faktor keamanan seperti kualitas infrastruktur dari jalur yang mulus, pencahayaan yang terang, barrier yang memisahkan jalur dengan transportasi lain juga memainkan peran penting.
Untuk itu, kami menyempatkan untuk ngobrol dengan Icha dari Sepedahan Centil, komunitas sepeda yang berbasis di Jakarta Selatan. Berawal dari menyalurkan ketertarikan mereka dalam fashion dan sepedaan santai untuk hangout, mereka mempunyai mimpi yang lebih besar, dan dengan movement Girls Ride, Sepedahan Centil hadir untuk memberikan ruang aman bagi pesepeda perempuan.
Apa itu Sepedahan Centil? Boleh diceritain gimana terbentuknya, dan siapa saja orang-orang di baliknya?
Sepedahan Centil itu, atau biasa teman-teman komunitas nyebutnya itu Sentil, awalnya dibangun di tahun 2023 oleh aku dan temanku, Joko. Kita punya interest yang sama, yaitu sepeda dan fashion. Dari situ kita pengen bikin movement, kita pengen ngasih tau orang-orang bahwa sepeda itu gak sekedar sport equipment, tapi sepeda juga alat untuk commuting.
Jadi kembali ke fungsi awal sepeda, yaitu alat transportasi. Jadi kayak kita pengen hangout kemana, tetap naik sepeda, tapi outfit-nya sudah dengan outfit untuk hangout, jadi emang nggak berniat untuk sporty.
Terus muncul mimpi yang lebih besar, yaitu Girls Ride. Nah, Girls Ride ini kita bikin dengan harapan ingin jadi wadah yang aman dan nyaman buat para pesepeda perempuan. Walaupun perempuan itu banyak di komunitas sepeda, tapi tetap aja, pasti didominasi oleh laki-laki. Pasti ada perempuan, tapi satu atau dua orang aja. Movement ini sih diharapkan bisa menginspirasi teman-teman seluruh Indonesia, cyclist perempuan terutama, untuk memulai kegiatan dan movement serupa. Jadi lebih banyak lagi pesepeda perempuan lainnya di Indonesia.
Seberapa sering Sepedahan Centil mengadakan event atau acara kumpul-kumpul komunitas?
Kalau kami sepedaan biasanya itu Rabu malam, jadi culture-nya di sepeda itu ada namanya Raboo-Raboo. Terus biasanya weekend pagi, atau Sabtu atau Minggu. Mostly casual ride aja sih.
Untuk yang sering ngumpul dengan Sepedahan Centil, biasanya profesinya apa aja?
Beragam banget, kayak aku pegawai swasta, ada pegawai BUMN juga, ada fotografer, terus creative workers juga ada. Sebenarnya macam-macam banget, tapi kita semua sama-sama suka sepedaan, suka centil-centilan, interest in fashion, jadi tergabung aja gitu semuanya.
Di dalam acara-acara kalian biasanya ngapain aja selain riding bareng, dan kalau riding daerah mana saja yang dieksplor?
Kami sih biasanya daerah Jakarta Selatan atau Jakarta Pusat aja ya, karena tikum (titik kumpul) kami biasanya di Blok A atau di Blok M. Riding for coffee, riding for bakmi, main uno, atau hangout bareng, terus ngonten-ngonten fashion. Gitu aja sih kita paling.
View this post on Instagram
Di Sepedahan Centil ada sistem keanggotaan kah? Gimana cara untuk ikutan aktivitas Sepedahan Centil?
Oh, nggak ada. Semua bisa ikut, semua jenis sepeda boleh ikut, ada yang naik fixed gear, ada yang naik 26, ada yang gravel juga, ada juga yang road bike, gitu. Jadi semua boleh ikut. Kalau misalkan mau sepedaan sama kita, coba DM aja ke Instagram Sepedahan Centil.
Tanya, “Kak, lagi ada jadwal sepedaan nggak?” We would love to welcome you.
Boleh tolong ceritain pengalaman yang memorable selama kumpul-kumpul sama Sepedahan Centil?
Pernah ada satu momen, setelah Girls Ride pertama dibuat. Ada DM dari Balikpapan.
Ada cewek yang DM perkenalkan diri, “Kak, kami pengen banget ada Girls Ride di sini, tapi kami kan jauh, boleh nggak kami bikin Sepedahan Centil cabang Balikpapan?”, gitu. Cuma aku rasa kayaknya kalian bikin sendiri nggak apa-apa. Nanti kalau misalkan mau support exposure, kita bisa bantu.
Terus pernah juga Sentil bawa Girls Ride ke Bandung. Pas di Bandung, ternyata antusiasme pesepeda perempuan itu besar banget dan di sana disambut lumayan rame banget sih menurutku untuk movement pertama. Di sana juga kita ternyata ketemu sama komunitas pesepeda perempuan lainnya, kayak Cherry Cruisers, terus ada Pedal Puff Girls, dan dari Jakarta ada Pedal Pearl. Kemarin juga kami baru balik bikecation di Sukabumi. Nah, pas di Sukabumi itu kami juga disambut sama salah satu komunitas pesepeda perempuan juga, Spunky Girls namanya. Jadi happy banget sih ngeliat sekarang banyak cyclist perempuan.

Foto: Agung Hartamurti


Sepedaan kan sudah jadi hal yang disorot orang sejak lama, menurut kalian sendiri, tren wellness yang sedang naik akhir-akhir ini akan mendorong sepedaan untuk jadi tren lagi ke depannya nggak?
Oh, pastinya sih menurutku. Karena sepedaan walaupun dibilang bisa naik turun, kayak contohnya dulu fixed gear itu rame banget di tahun 2009–2010. Terus sempat hilang, naik lagi pas pandemi, udah mulai beragam sepedanya kayak Vintage 26, atau Gravel, gitu-gitu kan. Sekarang udah mulai bermunculan lagi karena menurutku sekarang sepeda itu lebih mudah untuk dipersonalisasi sesuai dengan style dari pemiliknya gitu loh. Orang tuh jadikan sepeda sebagian dari style mereka.
Jadi lebih akan booming lagi sih sekarang. Tren tuh akan ada lagi. Tapi untuk dari sisi wellness dan kompetitif juga ada. Kemarin tuh ada event tahunan namanya Bentang Jawa, ada yang naik fixed gear, ada yang naik Vintage 26 juga, dan itu 1.500 km dalam kurun waktu 7 hari. Jadi menurutku itu amazing, dan mereka semua finisher, jadi menurutku dari sisi wellness maupun dari lifestyle sepeda akan terus ada.
Ketika Sepedahan Centil kumpul-kumpul, ada dresscode tertentu nggak?
Nggak, kalau aku selalu encourage untuk jadi dirimu sendiri aja gitu, karena fashion itu kan termasuk identitas diri ya. Aku ya seperti ini, temen-temen lain ada interest lain, kayak lebih boyish, atau lebih girly, ada yang lebih suka warna pink, atau yang kayak gimana, itu menurutku dibebasin aja karena ya… itu adalah hal personal masing-masing. Semakin beragam menurutku, semakin menarik sih.
Menurut kamu, bagaimana desain perkotaan Jakarta untuk para pesepeda? Ada pengalaman atau tantangan pribadi yang pernah dirasakan? Dan apa yang perlu diperbaiki?
Jadi bike lane itu ada dua versi, ada yang khusus dengan barrier, ada yang tanpa barrier, jadi cuma semacam garis putih aja yang jadi pembatas.
Menurutku yang perlu diperbaiki adalah jalur sepedanya itu jangan selalu berada di tempat lubang-lubang air. Jadi selalu ada sela di antara jalur itu yang bikin bahaya banget. Sering banget, temen-temen kami kecelakaan di situ dengan sepedanya nyelip di antara sela-sela lubang air itu, dan itu bisa sampai kepala bocor, gigi patah… Jadi aku berharap dari pihak kota untuk bisa memperbaiki itu. Kita sepeda itu bannya kecil, nggak semantap motor atau mobil yang lubang kecil seperti itu bisa dilewati begitu saja, bagi kami yang bersepeda itu cukup berbahaya.
Untuk masalah jalur yang suka dimasukin sama motor juga, atau tukang tahu bulat, atau suka ada taksi juga yang parkir di situ, sebenarnya itu masih perjalanan panjang sih menurutku untuk diperbaiki, karena awareness-nya belum ada.
View this post on Instagram
Jakarta kan juga macet ya, kalau rush hour untuk jam pulang kerja, kalau misalkan ada yang masuk ke bike lane, kami berharap jangan diklaksonin dari belakang, sepeda itu dikayuh loh, nggak pakai mesin, jadi tolong tunggulah, kami lagi naik sepeda, dan kalian memakai jalur kami. Tolong toleransinya untuk tidak klaksonin dari belakang.
Ada tips bersepeda untuk beginner?
Tips bersepeda menurutku yang paling penting adalah size sepedanya. Kalau ukurannya, menyesuaikan dengan tubuh, pasti akan lebih mudah untuk naikin sepedanya.
Kalau untuk beginner, menurutku untuk memulai sepedaan, size sepedanya itu harus tepat. Jadi kalaupun mau beli online, harus bike fitting dulu di bike shop, atau tanya temen, atau coba sepeda temen dulu.
Terus yang penting adalah kenyamanan. Kalau untuk perempuan, terutama yang paling penting menurutku adalah saddle-nya, saddle-nya itu harus nyaman. Lalu, untuk temen-temen beginner, biasanya naik sepeda pas waktu kecil mungkin cara kita naik sepeda langsung naik ke saddle-nya, langsung naik ke jog, dan nanti mikir, aduh ketinggian nih sepedanya, aduh jinjit-jinjit. Tapi itu nggak bener, jadi harus naik ke top tube-nya dulu, setelah dikayuh baru naik ke saddle-nya, dan posisi kaki itu harus lurus biar kita nggak pegel.
Jangan takut juga ketika di jalan, kalau misalkan mau nyebrang dan kalian takut, turun dari sepeda, dan tuntun aja.

Foto: Agung Hartamurti


Kendala-kendala apa saja yang pernah dialami sebagai cyclist perempuan?
Oke, yang paling dikhawatirkan sama perempuan-perempuan itu biasanya catcalling-nya. Mau pakaian kita setertutup apapun, mau kita lagi ngapain, lewat doang aja tuh biasanya dipanggil. Walaupun mungkin ada orang-orang yang berpikir bahwa itu bukan bentuk dari sebuah pelecehan, tapi itu sebuah pelecehan menurut kami.
Dari Sentil sendiri, kami membentuk movement untuk berani jadi diri kamu sendiri. Kalau aku pribadi, ini mungkin nggak cocok dengan teman-teman yang lain, kalau aku yang digodain atau dipanggil, aku akan berhenti dan tanya kenapa manggil. Tapi kalau untuk perempuan yang takut, karena kalian naik sepeda, menurutku nggak usah takut, kalian lewatin aja.
Kami juga bikin awareness di teman-teman komunitas lain bahwa perlakuan seperti itu tidak baik dan tidak benar. Jadi dari situ kita memulai awareness untuk teman-teman lain agar tidak melakukan hal tersebut.



