
Swellow: “Mainin bener, pelajarin sound-nya, musiknya… kalau itu maksimal, masa nggak ada yang manggil, sih?”
Mengobrol dengan Idam (Gt.), Miska (Ba.), dan Opay (Dr.) of Swellow, berputar sekitar scene musik Bogor yang solid, hard disk Reid Voltus yang hilang, sampai momen pertemuan ‘kebetulan’ Idam dengan gitaris sekaliber yang satu lagi.
Words by Whiteboard Journal
Words: Garrin Faturrahman
Photo: Agung Hartamurti/Whiteboard Journal
Jika Bogor kerap diingat sebagai kota indie rock, maka tidak heran kalau ia banyak melahirkan nama-nama penting yang bernadikan elemen-elemen tersebut; Reid Voltus, Rrag, sampai label Tromagnon Records (simak obrolan kami dengan label tersebut di sini). Ada satu lagi outfit yang pekat berlaburkan warna khas indie rock, namun dengan suara-suara gitar yang dijadikan centerpiece, dan songwriting yang serba jujur—bahkan, kejujuran tersebut terasa sampai treatment-nya untuk teman-temannya, pendengar, dan tamu dalam rilisan. Mereka adalah Swellow.
Obrolan kami dengan Swellow terjadi beberapa waktu sebelum showcase 30 Mendaki… Konser Musik Spesial Bersama Swellow resmi dibatalkan. Tertulis pada 9 September di akun Instagram mereka, ‘Sebuah keputusan yang sangat amat sulit mengingat konsep acaranya yang sengaja dibuat untuk kita bisa memiliki momen kebersamaan di tengah keseharian yang berat belakangan ini. Menghadapi bersama adalah tujuannya. Namun kami tidak cukup bertahan untuk melewati persiapannya.’
Tetap merangkul bareng-bareng beberapa bulan setelahnya, ikuti obrolan kami dengan Idam (Gt.), Miska (Ba.), dan Opay (Dr.) yang berputar sekitar scene musik Bogor yang solid, hard disk Reid Voltus yang hilang, sampai momen pertemuan ‘kebetulan’ Idam dengan gitaris sekaliber yang satu lagi.
Mendengar nama Bogor, aku banyak teringat akan bentuk scene di Singapura yang memang sangat berbasis akan pertemanan, sampai-sampai rasanya seperti kota itu melahirkan banyak sekali superband. Menurutmu, apakah solidaritas seperti ini justru yang dibutuhkan oleh suatu scene untuk mampu hidup berkepanjangan/tetap relevan?
Miska: Melihat Bogor, memang culture-nya dari dulu kayak gitu. Sejak gua lumayan aktif, 2000-an di scene Bogor, karena emang kota kecil juga. Kota yang sebenarnya, kalau gua bilang, cross-culture dari Jakarta sama Bandung, kali ya? Kita selalu, mungkin bisa dibilang linglung, “Kita berkiblat ke kota mana ya? Bandung apa Jakarta?” Sampai akhirnya mungkin terasa, “Oh, karakter musik Bogor kayak begini nih.”
Mungkin baru sekarang-sekarang ya, kalau dulu mungkin, scene-nya kecil terus aktifnya awal dari Room ya?
Idam: Kalo untuk temen-temen, mungkin dari sebelumnya lagi, dari Keluarga Berputar-
Miska: Lucu juga tuh, nama Keluarga Berputar.
Idam: -karena bandnya banyak, cuman orangnya itu-itu aja. Jadinya namanya Keluarga Berputar.
Miska: Awalnya mungkin dari situ kali, ya? Orangnya dikit banget, tapi pengen bikin band beda-beda. Jadi sering tukaran personil. Sering Idam ngeband di mana, di Reid Voltus misalnya. Mungkin itu kebiasaan yang akhirnya kebawa, atau mungkin karena kotanya kecil juga, yang minat mainin musik kayak gitu juga kecil, jadi muter-muter aja.
Opay: Solidaritasnya juga nggak cuman di band atau musik doang. Kalau di medsos, nggak cuman sekadar saling posting. Kita juga kadang, contoh: ada satu band yang harus manggung, ketika temen-temen band lain bisa jadi tim produksi, mereka nggak ada gengsi atau gimana, karena udah sesama player, semua bisa bantu. Bahkan turun sebagai tim produksi pun, kita gas.
Miska: Mungkin kalau bisa dibilang, kalau udah dua gelombang dari scene Bogor, angkatan yang Texpack dan Rrag ini, gua rasa kenapa solidaritasnya terjaga banget dari angkatan mereka nih, selain karena kecil dan itu-itu juga, estafet ke angkatannya Rrag dan Texpack itu kebetulan kebanyakan lahirnya dari satu SMA gitu, SMA 7.
Makanya solidaritasnya kuat banget tuh, karena SMA 7 terkenal banget sebagai sekolah yang rajin bikin acara-acara gigs dan pensi, tapi bukan pensi band-band top—pensinya punk rock. Agak aneh sih SMA itu. Biasanya pensinya band-band indie, tapi ini band-band hardcore punk, no sponsor, terus kolektifan. Mungkin gara-gara itu juga ya.
Memang sudah karakternya dari dulu ya. Dan nggak cuman secara player, bahkan secara produksi juga.
Miska: Itu memang dibentuk banget sama si Lacbor (Afiandi D. Lacborra) itu, si tim produksi. Dia mulai ngumpulin tuh yang kayak, “Oh, dia oke nih kerja sama gue nih,” dikumpulin. Dia sengaja-atau-nggak-sengaja buat agensi tim produksi dari Bogor. Dia mencoba distribusi juga, kayak “Band ini butuh ini nih, lo mau gak?” Dia mengatur itu semua. Akhirnya [tim produksi] jadi kepakai juga di band-band Jakarta.
Idam: Sempet bikin diskusi workshop untuk tim produksi. Kita bikin di satu tempat dan ngomongin hal-hal kayak gitu. Jadi, kayaknya penting banget sampai akhirnya “Oh, kita kayaknya harus bikin workshop produksian khusus untuk bahas tentang produksi,” sampai hal-hal kayak gitu yang, di era yang bisa dibilang gelombang pertama, nggak ada tuh.
Gelombang kedua, semakin exciting ngeliat anak-anak semangat banget nih sampe ngurusin tetek-bengek produksian. Jadi buat gua dan lainnya di angkatan gua, jadi kebakar lagi semangatnya.
Idam: Bogor itu emang, gua rasa, skenanya tuh asik sendiri aja, gitu. Karena musik-musik di luar genre punk, metal, contohnya band gua dan temen-temen gua di komunitas namanya Room, itu jarang dapet gigs di luar kota. Tapi karena bandnya aktif, kita dikasih akses tempat yang juga gratis, dan entah kenapa justru orang-orang dari luar Bogor merasa, “Wah kayaknya Bogor nih seru banget,” – padahal kita jarang ada yang ngajak main di luar. Hahaha.
Dari gelombang baru ini, apakah ada yang ngasih support dari eksternal terhadap semua dinamika ini? Misalnya dari pemerintah setempat?
Miska: Gua ngerasa gak ada sampai saat ini. Mungkin belum ya. Sama halnya dengan kota lain atau negara ini, pemerintah emang nggak terlalu melihat industri yang menghasilkan. Jadi yaudah, dilepas aja. Ada beberapa teman-teman kita yang dulu aktif di scene gigs gelombang pertama itu, sekarang lumayan dekat sama pemerintah. Ada beberapa yang dikasih space Bogor Creative Center. Tapi ternyata, tempat itu malah kisruh. Maksudnya, nggak bisa dipakai sama teman-teman di Bogor karena tanah itu kepemilikan Pemerintah Pusat Jawa Barat.
Tempatnya di kota Bogor, tapi secara administratif milik kota di Jawa Barat, gitu. Jadi kalau mau izin itu sulit.
Idam: Padahal yang ngelola tempat itu adalah temen-temen juga, yang dulu aktif di scene.
Miska: Itu tempatnya bagus banget, sebenarnya, dan bangun pertama Swellow di situ. Itu salah satu bukti kalo pemerintah emang nggak support juga, sih. Akhirnya kita jadi manggung pun karena pakai drum sendiri.
Opay: Kita diajak main, tapi mereka nya aja nggak provide alat gitu.
Miska: Pas dateng gak ada alat… nggak ada drum doang, yak?
Opay: Nggak ada panggung! Panggung di selasar bangunan gitu.
Miska: Kita udah ngundang temen-temen kan. Yang dateng lumayan ramai lah, terus anak-anak kumpul semua, “Eh ini gimana? Panggungnya di mana?” Pas dah nyampe, “Loh kok gak ada ya?”
Idam: Tiba-tiba dari panitianya ngomong, “Jadi sekarang kondisinya gini, terserah lu mau main apa nggak.” Lu bayangin lah kayak gimana.
Miska: Kita kan nggak enak, ya. Yaudah kita nyari-nyari yang punya drum—waktu itu pakai drumnya Abo, gitaris, katanya “Ada, tuh! Di base camp-nya Texpack.” Akhirnya kita patungan GoCar ngambil itu. Yaudah, berarti ya nggak didukung, kan? Walaupun pertama kali Swellow manggung di area pemerintahan. Di BCC, yang sekarang sudah nggak ada tempatnya lagi.
Idam: Tapi didukungnya setengah-setengah.
Miska: Sayang banget, padahal bagus ada amphitheater, buat stage outdoor, pameran, semuanya bagus.
Mengenai gelombang 1, gelombang 2. Secara garis besar, apa sih bedanya sebenarnya?
Miska: Jelas lebih proper secara pengetahuan produksi musik, rekaman, manggung, sama promo. Karena makin lama [makin banyak] anak Bogor yang lumayan aktif di Jakarta, misalnya kayak Pram, Lacbor, gue sendiri, semakin banyak akses di temen-temen di Jakarta, mungkin bisa dibilang aksesnya udah nasional juga. Jadi mungkin itu mempermudah juga untuk saling ngebantu temen-temen band Bogor promosi.
Idam: Kalau dulu bandnya banyak, terus gigsnya juga lumayan intens gitu. Tapi, entah kenapa penontonnya nggak ada. Ya, kalau masalah produksi mah pasti terkendala, tapi tetap paksain aja.
Miska: Perbedaan paling signifikan penontonnya sih. Dulu gelombang pertama penontonnya gitu-gitu juga, yang main juga.
Idam: Tapi lucunya itu, dulu medsosnya nggak rame, tapi ternyata bray, tiba-tiba kayak Zeke and the Popo main di tempat kita, Monkey to Millionaire, Efek Rumah Kaca.
Agung Hartamurti: Sinjitos juga kayaknya pernah.
Idam: Sinjitos pernah, yang di UFO gitu, tuh. Lu dateng, Gung?
Garrin: Itu tahun berapa berarti, mas Agung?
Agung Hartamurti: 2010-an, kayaknya.
Miska: Sampe ada di titik, satu momentum kita akhirnya ngomongin, “Itu siapa ya? Kita gak kenal, nih,” kayak, seneng banget nih ada yang dateng dan nggak dikenal. Ada penonton lain gitu, ternyata! Nah itu sebenernya transisi pas, kayak temen-temen Abo dkk. gitu udah mulai manggung aktif, Rrag dan Texpack, akhirnya dia bawa massa lain. Itu seneng banget sih ada kayak sekitar 5 orang yang kita gak kenal.
Makanya pas kemarin ASBUN terakhir, hampir 400 orang dateng, dan itu pasti kita nggak kenal semuanya, kan. “Ini aneh juga, ya. Banyak juga yang dateng,” gitu!
Idam: Karena konsistennya itu mungkin, ya. Orang ngeliatnya, “Wah ini dari dulu scene Room dan Keluarga Berputar tuh gak pernah berhenti,” selalu jalan gitu, mau kondisi kayak gimana aja.
Miska: Mungkin itu yang bedain scene Bogor sama kota-kota lain kali ya. Kita merasakan transisinya yang dari nggak ada penonton, terus akhirnya ada penonton yang asing, itu aneh sih rasanya, seneng-seneng-aneh gitu.

Image via Agung Hartamurti/Whiteboard Journal

Image via Agung Hartamurti/Whiteboard Journal

Image via Agung Hartamurti/Whiteboard Journal

Image via Agung Hartamurti/Whiteboard Journal
Dalam topik kolaborasi, kita melihat Swellow banyak berkolaborasi dengan musisi-musisi lain—lintas genre, pun generasi. Secara kreatif (songwriting, misalnya), apa yang menggerakkanmu untuk mengajukan diri dalam berkolaborasi?
Idam: Kalau gua sih… ketika gua bikin lagu itu, misalnya kalo gua produce sama Zeke itu ada momen “Nih kayaknya nadanya Zeke, gitu,” jadi nggak tahu kenapa, gue harus dapet, nih, momen featuring-an sama doi. Sesimpel itu sebenernya. Ketika sama Harlan pun sama kayak gitu – gue ngefans banget sama bang Harlan, jadi gue seolah-olah bikin lagu aja buat dia, meski belum ada pembicaraan atau apa pun gitu tapi “Gue harus nih.” Suatu waktu ada ngajak Harlan sama Zeke featuringan, terus gua ngajak gitu, kan, “Eh, gua ada lagu nih, tapi kayaknya cocoknya yang nyanyi bukan Bayu, gua ada kepikiran mau featuring sama ini sama ini,” “Oh, oke tuh, gas gas.” Langsung aja, Alhamdulillah sih, gak ada kendala gitu, responnya cepet.
Opay: Dan selalu dari wak Idam. Kayak langsung aja, nggak ada pertimbangan ini–itu.
Idam: Emang nggak ribet, sih. Kadang kayaknya emang sayang banget kalo nggak dijadiin.
Miska: Kalau dari gue, kayaknya yang menggerakkan itu adalah kita ngefans dulu sama mereka—kayak sama Harlan, gue pribadi ngefans banget sama C’mon Lennon. Suka banget sama album itu. Gue pertama kalinya datang ke festival awal banget, ya di Pestapora 2024. Jam 14.00, demi C’mon Lennon.
Idam: Awal gue bikin Swellow pun, “Ini kita mau mainnya pake bahasa Inggris atau bahasa lokal nih, Dam?” Si Bayu gitu. “Indonesia, lah. Nggak usah ribet-ribet deh liriknya, udah lu ambil aja style-nya, Harlan.”
Miska: Iya. Sebenarnya yang nomor satu sih yang gerakin itu. Kita ngefans sama The Cottons juga kan—walaupun The Cottons band baru, tapi kita udah tahu band mereka sudah lama, kan? Jude, Jeskul dan Keko. Keren banget ini bandnya.
Idam: Pas butuh isian untuk keys, itu gue langsung kepikiran dari awal: The Cottons.
Miska: Karena kita suka juga, dan akhirnya ya udah kolaborasi aja. Sama Zeke juga gitu, karena ngefans. Reid Voltus hampir dirilis di labelnya Zeke, Black Morse. Tapi nggak jadi, nggak kesampaian. Tahun 2004, 2005?. Jadi mungkin kayak membayar kegagalan waktu itu, akhirnya ada yang dikeluarin bareng akhirnya. Kayaknya gue pernah ngomong gitu juga sama Zeke, “Akhirnya ada yang bisa dikeluarin. Dulu kan, nggak jadi nih.Sayang banget kan soalnya, nggak dirilis… album? Full album, ya?
Idam: Sudah rekaman. File-nya hilang.
Miska: Rekaman proper pertama band gue—maksudnya yang anak-anak, bukan band-band yang besarnya, rekaman di rumah Zeke. Gua suka banget sama materi band dia. Sampai sekarang hal yang paling gua sesalin yang harusnya keluar dari di scene Bogor itu adalah album Reid Voltus pertama. Hilang masternya, hard disknya. Kalau itu ketemu sih… –padahal itu gimmick, yak? Ey… gimmick yang disiapin beberapa tahun. Tapi semoga ada rencana di rekam ulang gitu ya, album pertama Reid Voltus itu. Walaupun ada part-part nya yang di Swellow.
Kolaborasi pun bisa dilihat seperti salah satu kiat taktis dan strategis untuk urusan marketing suatu band. Bagaimana tanggapan Swellow akan argumen tersebut?
Miska: Bukan berarti gue membatasi kalau kolaborasi itu harus yang mental banget ya. Gue pribadi lebih enak dilihat kalau memang dari awalnya sama-sama kenal dulu, terlihat nggak dibuat-buat dan organik aja.
Soalnya akan terasa di karyanya juga kalau emang diagendain banget, ya, “Kolaborasi yuk, gara-gara pendengar gue ini beda sama lo algoritmanya,” itu bukan hal yang salah sih, tapi kalau buat Swellow, masih pakai cara yang kita kenal dulu, asik dulu, baru kolaborasi.
Opay: Pengalaman gue di Swellow juga, balik lagi ke yang tadi, kolaborasinya memang based on wak Idam. Ketika lagi nulis, kepikirannya sih nggak ada sama sekali ke cross-marketing atau apa buat promo atau ngejar audience mereka.
Idam: Setuju sih gua. Ketika bikin lagu, itu emang bentuk tribut gua di mereka. Ketika ada responsnya bang Harlan, “Wah, gila lu, Dam?” Dan buat gue, sentimentilnya dapet. Justru itu yang gue lebih pengen tujuannya, di situ. Dapet respons dari mereka seperti itu aja sudah puas.
Kembali mengenai relevansi, Swellow sanggup dan mampu untuk tetap eksis di panggung lokal. Boleh tahukah manuver-manuver seperti apa yang Swellow ambil demi terus mendapatkan panggung dan tawaran hari ini? Apakah itu sesuai dengan rencana?
Miska: Sebenarnya kalau kita dari awal ada pengennya tuh jadi band rekaman. Maksudnya nggak apa jalan panggung juga, asal kita rilis album terus. Bahkan kalau setiap tahun bisa rilis album terus, makin seneng. Jadi sebenarnya nggak ada strategi biar dapet panggung terus, biar relevan di market, festival atau apa. Balik lagi ke internal bandnya sendiri: Mainin bener, pelajarin sound-nya, musiknya, kayaknya itu aja—kalau itu maksimal, masa nggak ada yang manggil, sih?
Opay: Sama managernya jago.
Miska: Managernya kita kan mantep lah ya.
Idam: Kalau di personil, kayaknya nggak terlalu mikirin strategi, gitu. Gue, misal, fokus di estetika si band-nya aja, di estetika si musiknya. Tiap orang itu ada peran masing-masingnya.
Ngomongin teknis musikmu sedikit, aku mendengar banyak penekanan di tone dan progresi gitar Swellow. Menurutku, me-maintain untuk terus mengedepankan gaya songwriting seperti itu butuh banyak energi dan—for the lack of a better word—faith. Bagaimana cara Swellow bisa terus mempertahankan songwriting seperti itu?
Miska: Tadi kita sempat ngomongin Hans (C’mon Lennon, Pandai Besi, Seaside). Gue melihat karakter Idam dan Hans itu lumayan mirip, sebagai gitaris dan sebagai manusia: Orangnya kikuk-kikuk, gajelas gitu. Hahahaha.
Gue ngeliatnya Idam mirip juga jagonya sama Hans. Dalam menulis lagu, terus Idam juga dengan progresi chord-nya yang berkarakter. Buat gue, di Indonesia, makin jarang gitaris yang nulis lagu tapi karakternya “Wah, ini dia nih pasti yang nulis.” Gue ngeliat Idam sama Hans tuh, secara penulisan lagu, mereka sudah tahu [mau kayak gimana].
Kita pada dasarnya kalau produksi agak cepet karena pertimbangannya nggak banyak.
Idam: Kalau dari gue, gue nggak terlalu banyak terjebak di lingkaran referensian, jadi lumayan intens dengerin musik yang anak-anak lain sudah tahu kalo itu favorit gue. Bukan berarti gua nggak dengerin musik lain, tapi entah kenapa output-nya gua seperti itu.
Kalau di internal Swellow itu sudah pada bisa ngebaca, karena gua dari awal sama Swellow langsung gue persempit aja. “Gue maunya kayak gini, kita jalanin dulu konsepnya yang gini.” Sebenarnya gue sudah tahu siapa yang mau gue tarik. Misalnya si Miska gue cekokin referensi apa pasti masuk; Abo, sempat kaget karena range umur jauh, tapi pas ngobrol kayaknya seru buat ngeband; Bayu karena temenan dari dulu; Opay karena session player di band Top 40, jadi dia fleksibel.
Opay: Karet itu uniknya adalah personilnya itu ngulik materinya ketika diajak main.
Idam: Ketika gua bikin materi sama Opay, jadilah materi Karet. Gak punya planning apa-apa, yang penting gua publish. Ternyata responsnya lumayan, dan gue langsung bingung.
Miska: Album Karet awalnya instrumen doang: belum ada vokal, belum ada Bayu. Yang rekaman Idam sama Opay “Eh bro, gue ada materi nih.” “…harus ada vokalnya, sih.”
Idam: Nggak pake vokal. Kayaknya… dibikin modelnya kayak post rock gitu.
Kalau gitu, Idam masih percaya di pedal analog atau digital?
Idam: Kayaknya analog deh, hahaha. Gua yang tipikal agak… udik gitu ngeliat digital, gitu. Padahal bisa-bisa aja, cuman kayaknya lebih enak pake analog deh, karena gue bisa cepet. Entah kenapa kuping gue tuh masih nyaman sama analog.
Tadi si Miska cerita kata dia lo ketemu sama Hans tuh tanpa saling mengetahui masing-masing. Kenapa itu (ceritanya)?
Idam: Jadi itu di FJB, gue majang gitar. Kan kalau ada yang mau beli, ada namanya gitu yak. “Andi Sabarudin,” ah, kata gue, siapa lagi?
Udah gitu, dia tiba-tiba ngajakin “Ntar COD di X aja, rumah temen gue,” wah… feeling gue di rumahnya Peter nih. Gue kontak dia “Pit, Hans ngontek elu nggak?” “Iyak, dia mau COD gitar,” “Itu gitar gua!!”

Hans dengan Teisco Starway MJ-2L yang dibeli dari Idam. (Image via Andi Sabarudin)
Indie Rock Was a Mistake, It’s Nothing but Trash (2020) ucapmu di Reid Voltus. Belakangan ini, kita melihat genre ini semakin masyhur dengan apresiasi besar dari pasar yang lebih luas. Bolehkah aku dengar dari mas Idam—why the statement?
Idam: Itu sebenarnya yang bikin statementnya si Deni, vokalisnya Reid Voltus. Gue sempet kaget juga. Itu kan, kompilasi track-track Reid Voltus yang belum sempet rilis, tiba-tiba “Dam, gue udah ngobrol sama Peter nih, gue mau rilis albumnya,” “Yaudah deh rilis aja”. “Terus gua bikin judul albumnya itu,” “…mending jangan, Den,” gue bilang, hahaha.
Terus dia bilang, “Gapapa, Dam. Lu tau ga ini dari siapa? Ini tuh statement-nya Hayao Miyazaki,” [meski statement aslinya] bukan “indie rock” sih, tapi “anime.”
Kita menantikan showcase 30 Mendaki… Swellow nanti di 11 Oktober 2025. Boleh dengar apa yang harus kami expect dari pembawaan 30 lagumu?
Opay: Yang pasti, banyak lagu yang belum pernah dibawakan secara live. Banyak banget track dari tiga rilisan Swellow yang belum pernah dibawakan sama sekali. Jadi salah satunya itu mungkin.
Miska: Ini kayak titik balik Swellow yang dari awal dibentuk spontan—mungkin terkesan ngasal ya, yang ada sudah rilis. Nah, ini satu hal yang lumayan kita pikirin banget showcase ini. Walaupun posternya kayak gitu. Buat gua, kalian pasti mendengarkan atau akan melihat suatu hal yang berbeda dari Swellow yang kalian kenal sebelumnya. Kita serius banget menyiapkan ini, kalau dari lagunya tadi seperti Opay bilang. Kalau total tuh album Swellow lagunya gak sampai 30 kan. Kita juga akan mengcover lagu populer Indonesia sama unreleased materi-materi yang dari Swellow awal banget. Ada tuh di Soundcloud kita sebenarnya.
Terus featuring sama kolaborator kita, kayak Zeke, lagi di Indonesia dia, terus The Cottons, terus… sudah boleh bilang belum, sih?
Opay: Dan kita tanpa ada jarak sih.
Miska: Oh, set nanti kita dibikin sedemikian rupa, ya, emang kayak Swellow aja: Panggungnya pendek tanpa barikade, benar-benar intimate, nggak ada backstage, penonton bisa naik, bebas.
Tahun ini kita nggak bikin album gara-gara fokus showcase. Seharusnya kita bikin album, karena materi ada aja. Tapi karena showcase ini, kita gak bikin album. Makanya showcase ini kayak persiapan kita bikin album. Jadi sebenarnya, jangan dilewatin, sih. Mungkin kita gak akan se-band ini lagi nanti untuk suatu panggung.



