
Love as Punishment: Medan memang rumah kami, tapi di sisi lain, Jakarta beri peluang jaringan dan bisnis yang lebih luas.
Kami berbicara dengan Love as Punishment (Arick Ahong dan Ais Marciano) tentang inspirasi trip-hop, scene musik Medan, hingga menjadi DJ di hari ini.
Words by Whiteboardjournal
Words by Rajan Nausa
Photo by Yoel Petuel/ Love as Punishment
Musik elektronik memang seringnya mengajak kita bergerak, tapi bisakah ia juga mengajak kita untuk… merasa? Duo asal Medan ini mungkin jadi satu nama terdepan yang bermain di antara keduanya.
Lewat Play The Hits (2025), mereka mengolah bongkahan emas milik musisi lain menjadi perhiasan yang bergemerincing. Kini, lewat Kunang-Kunang (2026), mereka membawa bongkahan emas milik sendiri ke permukaan.
Kami berbicara dengan Love as Punishment (Arick Ahong dan Ais Marciano) tentang inspirasi trip-hop, scene musik Medan, hingga menjadi seorang DJ hari ini.
Dalam penguratorian lagu-lagu yang kalian racik untuk Play The Hits (2025), kalian bilang “Five tracks, adoring friends.” Apa yang membuat kalian mengambil keputusan ini—dan nggak langsung terjun dengan sebuah rilisan orisinil?
Arick: Malah sebenarnya kami ngegarap Home-listening Plaza (2025) dulu. Tapi, sesuai hasil diskusi sama Loide Records—untuk memudahkan kami ngenalin diri ke publik—kami taruh Play The Hits (2025) duluan di rollout rilisan.
Kebetulan band-band yang kami rework juga masih dalam lingkaran pertemanan yang juga memudahkan kami buat clearance semua track-nya sampai ke tahap perilisan. 5 lagu itu juga emang heavy-rotation yang ada di playlist kami. Jadi selain accessible, sebagai pendengar kami juga ngerasa lagu-lagunya lengket di kami secara personal.
Bagaimana kalian memikirkan angle dalam men-tackle lagu-lagu tersebut dan memastikan bahwa apa yang kalian bawakan tetap fresh? Walk us through the process!
Ais: Kami membayangkan bagaimana rasanya kalau lagu-lagu original di EP Play The Hits (2025) tersebut disusun ulang dengan warna kami sendiri, walaupun musik mereka secara genre dan komposisi lumayan berbeda dari musik kami.
Tapi, tetap ada beberapa elemen yang mirip, dan ketika dipadu menjadi satu warna yang baru lagi.
Arick: Semua lagu yang kami garap sebagai Love as Punishment Version itu vokalnya kami retake pake vokal kami berdua. Jadinya lebih leluasa untuk memilih part lirik yang kami rekam ulang.
Prosesnya Alhamdulillah cepet. Biasanya kami rekam dulu versi sendiri, baru minta izin ke masing-masing artis, dan kebetulan dapet izin semuanya. Kurang lebih gitu aja sih untuk pemilihan lagunya secara spesifik bener.
Speaking of friends, ada Home-listening Plaza (2025). Rilisan kompilasi yang saya rasa dapat menyebabkan kita seakan berada di sebuah ruang liminal – namun hangat, karena ruangan itu berisikan teman-teman. Sebagai inisiator project ini, bagaimana kalian menjaga EP tetap konsisten dalam menghasilkan warna yang sesuai dengan visi kalian?
Ais: Karena moodboard-nya udah kami tentukan dari awal berdasarkan musik yang sering kami dengar dan personally terasa familiar dengan kami, yang akhirnya elemen dari musik-musik tersebut kami rangkum menjadi sebuah guidance untuk produksi kam dan temen-temen Home-listening Plaza lainnya juga punya pakem nya masing masing.
Sebagai musisi asal Medan yang aktif meniti karir di Jakarta, apa perbedaan paling signifikan yang bisa ditemukan jika kita bandingkan skena dan industri musik keduanya?
Arick: Mungkin buat ngejawab ini, bukan membandingkan—karena keduanya punya peran masing-masing buat kami.
Kami sangat nyaman punya ruang diskusi untuk tukar pikiran, referensi, sampai visi dengan kawan-kawan kami di Medan. Dari apa yang sudah kami rilis, juga rilisan yang bakal keluar di depan, semuanya kami rekam di Medan.
Medan memang rumah kami. Banyak talent yang seru buat dikulik seperti Kognes Park, room, Nether, Silmi, dan Deep Sweep! Party-nya juga nggak kalah seru walau jarang ke-expose.
Di sisi lain, kami juga menyadari Jakarta punya ruang untuk peluang yang lebih luas secara jaringan dan bisnis, khususnya buat project kami. Selain itu, faktor logistik juga punya peran yang pengaruhnya besar dalam kalkulasi bisnis terkait pulang dan pergi.
Walau genre rasanya udah nggak begitu relevan lagi, LaP sering kali dijumpai menyelam di dalam kolam trip-hop–genre yang bisa dibilang besar di tahun 90-an sampai awal 2000-an. Apa pandanganmu soal genre tersebut di hari ini? Dan apakah memicu kebangkitannya sudah menjadi tujuan utama kalian selama ini?
Arick: Kalo ditarik ke belakang, pengaruh musik LaP itu berkembang dari kesukaan kami terhadap dengerin musik yang listening-experience-nya mantep, yang rasanya kayak wahana in sequence. Lumayan kesana-kemari, tapi accessible untuk dinikmati.
Beberapa contohnya itu kaya; Four Tet – There’s Love In You (2010), Ultramarine – Every Man and Woman Is A Star (1991), Caribou – Up In Flames (2003), dan Air & Vegyn – Blue Moon Safari (2025).
Jadi, melebur aja dari situ. Plus kami juga suka banget ambient dan texture-nya Cornelius dan Shibuya-kei. Less-performative, kalem, tapi damage-nya dalem. Cool banget hahaha.
Dari situ kecampur-campur aja referensi kami secara musikal, artistik, experience, dan visinya.
Ais: Oh iya, ada Thievery Corporation juga sama Air.
Belakangan ini, kita bisa melihat bagaimana profesi DJ juga semakin mengisi ruang-ruang di luar budaya nightlife itu sendiri. Kolektif DJ banyak yang aktif turun ke dalam aksi sambil menyuarakan aspirasi warga, rave semakin digemari dan semakin sering ditemukan. Apa yang menurut kalian mendorong hal ini hingga terjadi? Dan apakah semua ini hanya sebatas tren yang—sooner or later—akan ditinggalkan?
Ais: Menurut kami, di zaman sekarang ini DJ set adalah salah satu format yang sangat compact untuk menyuarakan musik dengan jelas dan simple.
Terkait pertanyaan terkait apakah hanya sebatas tren atau tidak, mungkin karena kami tidak kebanyakan mikir jadinya ya… Kami nikmati aja apa yang ada. Semakin ramai, semakin seru. Banyak pilihan party-nya juga. Nggak perlu dipusingkan.

Photo by Yoel Petuel/ Love as Punishment

Photo by Yoel Petuel/ Love as Punishment

Photo by Yoel Petuel/ Love as Punishment
At last, lahirlah Kunang-Kunang (2026). Bisa ceritakan peran yang 4 track dalam EP ini berikan untuk chapter baru LaP?
Arick: Secara garis besar, Kunang-Kunang (2026) jadi checkpoint kami dalam belajar untuk eksplorasi dan menentukan pakem secara keseluruhan—mulai dari sound, artistik, identitas dan kerja sama berdua.
Secara internal, jadi pembelajaran untuk ngelatih keseimbangan ego dan visi.
Yang kami berdua sangat syukuri, makin banyak pintu yang terbuka hari demi hari tanpa harus keluar dari garis yang sudah kami sepakati dari awal. Poin yang paling penting, kami bersyukur kalau musiknya bisa didengar luas. EP ini juga jadi penanda untuk chapter LaP yang baru pastinya—excited!
room nitip pertanyaan, katanya: “Ceritakan lore dibalik ep Kunang-Kunang!”
Ais: Sebenarnya, kalau mau menjawab ini bingung juga karena semua tercipta secara spontan. Mungkin intensinya lebih ke penyusunan urutan track nya sih, mengenai musik dan lirik itu terjadi secara spontan dan tidak ada alasan khusus di baliknya.
Soal penyusunan urutan track. Ada apa di balik urutan yang di buka genjrengan gitar di “Hujan Tepat Waktu,” ke track berbahasa inggris di “Fingers,” balik lagi ke Bahasa Indonesia di “Kunang-Kunang,” sampai akhirnya sebuah rilisan kolaborasi dengan Silmi?
Arick: Sebenarnya lagu-lagunya kami rekam tidak secara berurutan, dan kami selalu ngebayangin listening-experience in sequence yang paling nyaman itu gimana sebagai pendengar. Akhirnya, yang paling nyaman untuk kami itu jadinya yang seperti ini, semoga kenyamanannya bisa dirasakan bersama.
“Pa… Pa… Pa… Pa…” kembali terdengar di track “Hujan Tepat Waktu.” Is it intentional? Kalau ya, kenapa repetisi itu penting untuk membangun semesta?
Arick: Yes, intentional hahaha. Menurut kami repetisi ini [memudahkan pendengar] untuk lebih merasa familiar, lebih gampang juga untuk diterapkan sesuai kapasitas kami dan bahasanya universal.
Lastly, beauty requires interruption. How do you guys cope with the interruptions caused by this fuckass country that often wears down our sanity?
Arick: Kami pikir “Hujan Tepat Waktu” sudah merepresentasikan how we feel about all the ups and downs of our daily lives; be it on a smaller or larger scale.
Nggak berusaha untuk menjadi overly positive about everything, tapi kami percaya dalam segala keterpurukan dan kegagalan, akan datang the rainbow after the rain.



