
Illustrators Interviewed by One of JICAF Curators, Ferry Dermawan
Di program Artist on Artist kali ini, Ferry Dermawan berdialog dengan Ula Zuhra, Resatio, dan Ria Ridwana untuk perhelatan JICAF 2025.
Words by Whiteboard Journal
Selayaknya ‘supermarket for artworks,’ kita melihat bagaimana JICAF 2025 ini mengajak teman-teman ilustrator dari berbagai disiplin untuk berkolaborasi dengan teman-teman seniman yang (juga) dari bermacam-macam genre dan ketajaman. Kita melihat ilustrator yang membuat karya spesial dengan penyanyi pop papan atas, girlband yang belakangan semakin sering kita jumpai di festival musik, sampai film yang membentuk beragam sutradara (dan pengamat film) di hari ini.
Adjektiva di pembuka paragraf ini sebetulnya dipinjam dari tamu Artist on Artist kali ini, Ferry Dermawan, yang kemudian berdialog dengan beberapa ilustrator terpilih: Ula Zuhra, Resatio, dan Ria Ridwana.
Ferry Dermawan: Tema “New Heights” tahun ini mengajak seniman untuk bereksperimen dan melampaui batas. Bagaimana tema ini kamu terjemahkan dalam karya yang kamu tampilkan di JICAF 2025?
Ria Ridwana: Di sini kan mungkin rata-rata background-nya ilustrator atau desain grafis, tapi di sini aku background-nya tuh arsitek—jadi thank you buat JICAF sudah berani bereksperimen—dan itu pun bakal berdampak ke karyaku juga.
Misal, aku temanya rumah-rumah tradisional, jadi memang pengen ngenalin kalau rumah tradisional gak hanya itu-itu aja kok. Aku coba ngangkat tema itu untuk JICAF kali ini dengan teknik yang aku punya.
Kalau di arsitek, diajari “gambar teknik” namanya. Kita belajar lagi nih teknik arsir, teknik detailing, aku mencoba mengangkat dari materi itu, aku coba bawa ke karya aku kali ini. Jadi orang-orang gak hanya melihat visualnya aja tapi bisa melihat “Oh, denahnya tuh kayak gini rumahnya,” terus ada potongannya juga dari Rumah Gadang, misalnya. Ada juga detail-detail ornamen yang mungkin otentik dari daerah tersebut.
Resatio: Ini sebenarnya semenjak 2021 itu terakhir kita rilis merchandise dan produk, jadi udah cukup lama sih. Seperti yang kita tahu, tahun 2020–2021 itu kan zaman-zaman pandemi, jadi orang-orang itu banyak yang beraktivitas digital, nggak ke luar rumah. Begitu pula dengan kekaryaan gue pribadi, jadi sejak 2021 gue lebih sering bergerak di digital art. Contohnya, kalau gue pameran itu hanya cukup tinggal kirim file, terus di-display di kota manakah, di negara manakah.
Lalu, tahun 2025 ini gue tergerak untuk, “Wah, gue harus ikutan event offline lagi nih,” karena semenjak dulu tuh mulainya memang dari berkarya manual, lalu bikin merchandise juga. Jadi saat ada momentum JICAF ini, mereka buka pendaftaran, gue langsung apply deh. Di JICAF kali ini, gue juga berkolaborasi bersama dua brand dari Bandung dan Bali. Yang dari Bandung itu namanya Lucas & Sons, gue bikin skate deck dan T-shirt. Lalu, satu lagi gue berkolaborasi dengan brand Bali namanya Tangan-Tangan. Mereka fokusnya bikin linen shirt, karena linen shirt itu cocok dipakai di Bali yang panasnya mungkin hampir sama kayak Jakarta.
Ula Zuhra: Mungkin kalau buat aku, aku sebelumnya belum pernah ikutan art market, jadi ini my first foray ke dalam situasi yang kayak gitu. Aku jadi lebih banyak bereksperimen dengan proses produksi. Karena kita mendorong seniman-senimannya untuk mencoba berbagai proses printing agar produk yang lebih unik gitu untuk di-launch designnya dan lebih eksperimental untuk kategori hero productnya. Tadinya aku gak begitu peduli sama bikin merchandise, atau bikin poster yang kualitasnya lebih baik, atau bereksperimen dengan eksekusi printingnya, Tapi dengan ikut JICAF jadi aku lebih bereksperimen karena biasanya aku bikin komik aja. Jadi lebih banyak eksplor metode printing yang sebenarnya itu keluar dari comfort zone-ku, sih.
Ferry Dermawan: JICAF dikenal dengan konsep supermarket for artworks yang membuat seni terasa lebih dekat dan accessible. Menurutmu, seberapa penting aksesibilitas seni bagi masyarakat luas?
Ula Zuhra: Saya sebenernya untuk dua sisi: untuk kolektornya dan untuk senimannya juga. Kebanyakan seniman mungkin nggak punya platform untuk memamerkan karyanya, jadi JICAF memberi platform itu.
Tapi kurangnya kalau di Indonesia, acara-acara kayak gini sebenarnya selalu centralized di Jakarta. Jadi kalau misalnya bisa lebih menyebar ke berbagai daerah, orang-orang yang nggak tinggal di Jakarta bisa mendapatkan keseruan-keseruan ini juga, dan seniman-seniman luar Jakarta juga mungkin bisa mendapatkan exposure lebih.
Resatio: Tadi Ula saat bilang event-event kayak gini tuh tersentral di Jakarta, tuh, bener banget. Padahal kalau teman-teman ngelihat karya-karya ilustrator dan seniman di sini bisa kelihatan, dari Jakarta, Bandung, Bogor, dari sekitarnya doang, sementara representasi luar Jakarta kurang banget.
Contohnya: beberapa temen gue dari Purworejo kemarin gue suruh dateng kesini kan. Karyanya tuh gak kalah keren juga. Mereka gue suruh datang ke sini, “Ayo dong lo dateng ke sini lalu lo lihat-lihat, terus kalau lo memang tertarik, tahun depan daftar aja.” Padahal representasi luar Jakarta itu masih kurang banget. Nah, untungnya beberapa dari mereka kayaknya akan daftar.
Kita lihat aja tahun depan, apakah ilustrator dan seniman yang dipamerkan di JICAF itu bakal dia lagi-dia lagi, atau bakal bisa menjangkau temen-temen di luar Jakarta juga. Karena gue pengen banget ngeliat karya-karya seniman dan ilustrator dari luar Jakarta.
Ferry Dermawan: Sebagai seniman yang terhubung dengan audiens internasional, bagaimana kamu melihat posisi ilustrasi Indonesia di mata dunia?
Ria Ridwana: Cukup kuat, ya. Terutama mungkin kayak di bidang keberagaman Indonesia, misal dari segi budaya, sejarah. Karena kalau melihat dari pengalaman aku sendiri, bagaimana aku membawa rumah adat Indonesia dalam bentuk visual sketch. Dari aku sendiri, aku sempat buka website gitu buat komersil. Bahkan yang banyak beli tuh malah dari internasionalnya gitu—misalnya ada dari US, ada dari Eropa juga.
Ula Zuhra: Menurut aku, sebenarnya ilustrasi kita dibandingkan ilustrator mancanegara kita nggak jauh-jauh lah ya. Cuman, emang apresiasinya di Indonesia sama di luar negeri itu beda, gitu.
Kalau di luar negeri, orang bisa kerjanya satu aja dan mereka bisa make a living dengan bayar kosan, bayar mortgage semua dari bayaran ilustrasi mereka. Sedangkan kalau di sini, ya, kebanyakan kita double job, kita punya kerjaan lain untuk sustain kerja ilustrasi kita ini, untuk produksi, untuk ya macem-macem. Dan memang mungkin perbedaannya kalau di luar negeri itu exposure dan aksesibilitasnya lebih banyak.
Jadi yang mau aku tekankan adalah lo gak usah terlalu peduli sama pendapat atau reach lo ke luar negeri. Itu bukan standard lo bagus atau enggak, atau standard that you’ve made it or not. Itu kan sebenarnya persepsi yang Westernized banget. Tapi ya mungkin harus lebih diapresiasi kita sebagai seniman dan ilustrator. Dengan itu kita mungkin hidupnya lebih enak jadi ilustrator aja, jadi seniman atau ilustrator saja sehari-hari, dan hidup lo bisa sustainable dari situ.
Alangkah baiknya kalau emang passion kita tuh di ilustrasi dan seni itu kita bisa sustain hidup kita dari pendapatan itu aja gitu. Jadi lo gak harus back and forth atau pusing dengan kerjaan lain.
Resatio: Gue setuju terus sama Ula. Secara kualitas tuh, kalau kita perhatiin, kualitas-kualitas ilustrasi, seniman Indonesia tuh nggak kalah lho sama ilustrator-ilustrator luar. Bahkan beberapa jauh lebih oke sebenarnya.
Cuma, gue tau sebenarnya permasalahan utamanya kenapa banyak ilustrator dan seniman-seniman Indonesia itu tidak sustain secara penghidupan. Satu yang paling mempengaruhi itu adalah peran pemerintah.
Kayak promosi si ilustrator dan seniman Indonesia ke luar negeri, atau pendanaan juga kayak grant gitu. Maksud gue, nggak terlalu banyak lho grant untuk ilustrator—yang gue tau grant itu biasanya buat seniman doang ya, misalnya kayak seniman kontemporer gitu. Cuma untuk ilustrator seperti yang ada di JICAF itu kayaknya gue belum pernah menemukannya ya. Mungkin ada, cuman gue tidak terekspos.
Lalu juga program internasional juga, itu salah satu cara promosi scene ilustrasi Indonesia. Kalau mau dibandingin—gue sebel sih kalau mau dibandingin sama negara lain, tapi kenyataannya begitu—karena gue sudah tinggal di Australia bertahun-tahun, di Australia itu pemerintahnya itu suka membuka grant. Mereka kayak, oke gue punya dana hibah sekian ribu dolar untuk usaha apapun gitu.
Apakah itu bisa terjadi [di Indonesia], gue nggak tahu. Tapi gue yakin kalau pemerintah melakukan sesuatu, scene ini tuh akan lebih akan lebih maju, karena yang gue perhatiin, sekarang tanpa ada peran pemerintahnya aja, kita-kita tuh sudah kayak survive sendiri, udah kayak berusaha sendiri untuk membesarkan scene ini. Bayangin kalau ada peran pemerintah.
Ferry Dermawan: Kamu sudah cukup lama berkarya di dunia ini. Bagaimana caranya menjaga agar semuanya terasa tetap fresh dan fun sejauh ini?
Resatio: Jujur, kalau gue ya—nggak tahu sama teman-teman yang lain— berkarya itu tidak selalu menyenangkan buat gue. Jadi kadang-kadang, apalagi saat stuck secara ide atau secara teknis gitu, nah itu tuh masa-masa yang paling gak menyenangkan buat gue. Caranya ya sebetulnya cabut aja dulu dari karya kita. Kadang beberapa jam di luar studio, kadang bisa berminggu-minggu, gue pernah tuh kayak 6 bulan nggak nyentuh sama sekali karya gue, ngerjain yang lain dulu.
Lalu saat balik itu, kita bawa pemikiran lain, perspektif lain, cara berpikir yang mungkin agak berbeda. Jadi kalau buat gue, kalau memang saat tidak mood untuk bikin sesuatu, gak usah dipaksa—kecuali untuk kerjaan ya. Kalau untuk karya pribadi sih, gue sarankan begitu ya.
Ria Ridwana: Nah kalau dari aku, yang terutama adalah satu: tujuannya apa? Kita mau buat karya apa, nih? Mungkin buat menyampaikan hobi, menyampaikan coretan atau ilustrasi, atau mungkin yang lainnya.
Kalau di sini, aku pengen mencoba menjaga tradisi kita. Mungkin yang sesuai dengan aku adalah bangunan. Jadi, aku berusaha mencoba menjaga rumah tradisional Indonesia. Jadi kayak ada ambisi. Karena sebenarnya kalau misalkan bukan kita, itu siapa lagi? Dari situ kayak ingin menjaga rumah-rumah ini biar tetap eksis. Biar tetap ada, tapi dengan penyampaian yang berbeda.
Ula Zuhra: Kalau buat aku, mungkin karena main practice aku bikin komik, jadi kalau misalnya kebanyakan proyek tuh suka nge-hang gitu otaknya. Karena kan bikin komik tuh bikin cerita, gitu. Kalau buat gue sama kayak Tio, memang harus banyak waktu untuk beristirahat, sama waktu untuk mikir. Jadi kayak misalkan gue punya free time untuk baca buku gitu, nonton film, jalan-jalan, ketemu teman.
Kalau buat gue, inspirasi datangnya dari interaksi antara gue sama orang lain, atau hal-hal yang gue lihat di jalanan Jakarta. Jadi emang gue harus lebih sering keluar rumah. Kalau nggak, ya… nggak terlalu banyak inspirasinya, gitu kan? Kalau ngelihat cuman dinding kamar tuh agak depressing, gitu.
Ferry Dermawan: Apa yang paling menantang dalam proses kreatifmu saat menyiapkan karya untuk pameran ini?
Ula Zuhra: Karena aku nggak pernah ikut art market sebelumnya, the whole thing is menantang! Dan menurut aku, time crunch-nya lumayan menantang, especially karena aku bikin komik, jadi in the span of 2 months, I have to figure out the story, how to end it, karena aku nggak pernah dalam time crunch sepadat itu dan untuk menghasilkan banyak hal lain at the same time.
Resatio: Jujur bener sih timeline-nya tuh mepet banget. Kayak, saat kita dikasih lihat timeline kita hanya sekian bulan gitu. Gua tuh mikir-mikir, ‘bakal keburu nggak, nih?’
Apalagi gua posisinya saat ngerjain itu lagi gak di Indonesia. Gua berpikir kayak gimana caranya untuk kirim barang dan nggak kena masalah di bea cukai? Lalu kualitasnya juga gimana nih kalau gua harus bikin sesuatu di Indo yang gua gak bisa lihat secara langsung?
Pada akhirnya ya sebagian itu gua bikin di Australia, jadi gua bisa cek tuh kualitasnya apakah sudah sesuai standar yang gua inginkan atau belum. Sisanya yang gua produksi di Indonesia itu, yang seperti tadi gua cerita di awal, gua berkolaborasi sama dua brand yang cukup ternama, jadi gua bisa percaya sama standar produksi mereka gitu.
Ria Ridwana: Sebenernya benar-benar sih kata kak Tio, ini benar-benar menantang, dan juga sama juga kayak Kak Ula, ini pertama kali ya buat aku ada event seperti ini. Mungkin kalau arsitek kan biasanya produk hasilnya adalah sebuah pembangunan ya, dan hasilnya adalah sebuah produk kayak gitu itu… ‘Wah, gila ini gimana yang ngerjainnya??’
Challenge-nya juga tuh kalau ngelihat di sini kan kayak warna-warni, beragam warna ada gitu, dan ini aku hitam-putih doang dan bermodalkan teknik arsir, kira-kira gimana menciptakan sebuah produksi dengan basic gambar ini dan kayak ingin ngejaga juga ini kayak keaslian karakternya biar tetap ada di JICAF, tanpa meninggalkan karakter yang udah lama.
Ferry Dermawan: Kalau boleh bermimpi lebih tinggi lagi (soaring into new heights), kolaborasi seperti apa yang ingin kamu lakukan di masa depan, baik dengan artis lain, brand, atau institusi budaya?
Ula Zuhra: Aku ingin bikin kartun. Soalnya aku suka nonton kartun, dan menurut aku mungkin komikku kalau di-translate jadi kartun, lucu kali. Terus… apa ya, ingin book tour! Kayak, dulu kan aku inspirasinya banyak dari kartun buat anak-anak gitu—tapi nggak buat anak-anak juga sih, mungkin kayak kalau di MTV dulu ada TV Show namanya Daria, terus kalau di Nickelodeon dulu ada namanya As Told By Ginger itu tuh aku suka banget cerita yang kayak gitu, jadi menggambarkan cerita coming of age. Soalnya, Aca Ica tuh, komik aku, sebenernya coming of age tapi buat orang dewasa, dan sebenernya kayak aku merasa kalau bisa aku ingin sih bermimpi yang paling realistis buat aku tuh dibikin jadi seri kartun kayak itulah contoh-contoh aku tadi. Soalnya lucu aja sih ngebayanginnya!
Resatio: Kalau dari gue tuh… gue tuh suka takut gitu loh kalau mimpi kejauhan, gue tuh kayak takut aja nggak kesampaian, jadi kayak terlalu mencabang gitu. Kalau gue sih berkarya tuh lebih ke yaudah apa yang ada di depan mata gue kerjain aja semaksimal mungkin.
Jadi tugas gue adalah bikin-bikin aja nih apa yang ada di depan mata gue, kerjain dan biasa dari sana tuh suka banyak ketemu network ke mana lah, ketemu orang di sana-sini terus mereka nge-propose ‘Ayo kita bikin ini!’ Gue sih pada prinsipnya kalau berkarya itu mengalir aja apa yang ada di depan mata gue.
Ria Ridwana: Kalau aku pengen mengarsipkan seluruh rumah adat di Indonesia. Pengen bikin yang mungkin ada sekitar ratusan [rumah adat], yang mungkin sekarang yang aku gambar masih lima puluhan.



