
Exclusive Digital Release Haul – Magna Kalahar: “Ketika cahaya perlahan padam, senja kehilangan warnanya, dan langit seolah turut meratapi runtuhnya tatanan semesta.”
Dalam percakapan singkat ini, kami berbicara dengan HAUL tentang perjalanannya menembus labirin kelam, pencarian bentuk baru, sampai makna di balik masing-masing lagu di Magna Kalahar (2026).
Words by Whiteboardjournal
Words by M. Hilmi
Photo by Aldiansjah
Merengkuh sauh, berlayar masuk ke dalam… badai? Setelah empat belas tahun terkubur dalam keheningan, unit death metal asal Bandung ini akhirnya bangkit lagi. Kali ini, mereka menuangkan semua amarahnya ke dalam satu pusaran amukan yang menjemput kita untuk masuk.
Dalam percakapan singkat ini, kami berbicara dengan HAUL tentang perjalanannya menembus labirin kelam, pencarian bentuk baru, sampai makna di balik masing-masing lagu di album Magna Kalahar (2026).
HAUL adalah unit yang akan selalu kami identikkan dengan eksplorasi musikal. Dan di ranah musik, belakangan lompatan artistik pelan-pelan juga dilakukan oleh unit-unit lain. Bagaimana proses kalian untuk terus mencari bentuk baru? Dan kenapa arahan di album ini cenderung kuat di psikedelik?
Latar belakang dan keseharian sedikit banyaknya mempengaruhi emosi atau mood dalam proses kreatif kami. Dalam perjalanannya, kami pun memutuskan untuk mengajak Alyuadi (Heals, Fuzzy, I) bergabung menjadi produser. Mungkin karena hal-hal tersebutlah, pada akhirnya menjadikan keragaman (secara umum) ini, baik secara tematik maupun sonik sebagai alur utama dalam proses pembuatan Magna Kalahar.
Dengan psikedelia yang lebih kental di album ini, kami merasa bahwa musik HAUL jadi lebih terasa Indonesia. Apakah ini intensional? Dan bagaimana melihat identitas metal seharusnya dibangun menurut kalian?
Semua mengalir begitu saja ketika kami memulai seluruh proses penulisan album ini. Tidak ada intensi atau niatan untuk menjadikan album Magna Kalahar ini menuju satu titik tertentu. Kami pikir musik HAUL lebih organik pada album ini, apa adanya dan mengikuti arus kemanapun muaranya, dengan gagasan utama tetap berada di koridor musik ekstrem.
Secara penulisan, lirik kalian selalu punya kedalaman (dan sampai sekarang, “Rima Penghitam Cakrawala” adalah salah satu judul terbaik di lokal), sebuah hal yang sampai sekarang rasanya banyak band lokal masih kesulitan. Apa yang kalian baca dalam penulisan album ini?
Tidak ada bacaan spesifik dalam proses penulisan album ini. Kebanyakan mengalir secara intuitif dan subconscious.
Di situasi dunia dan negara yang jauh dari baik-baik saja, bagaimana ini memengaruhi kalian dalam menulis album ini?
Kami memulai Magna Kalahar di era akhir pandemi (sekitar 2021), dinamika politik pasca-pandemi (2023–2025), pilpres (2024). Maka sudah pasti secara alam bawah sadar keadaan-keadaan tersebut berpengaruh besar dalam penggarapan album ini. Maka Magna Kalahar kami jadikan sebagai sarana untuk menjadi tetap “gila.”
Kalau suka album ini, apa further listen yang kalian sarankan?
– Uriah Heep – “If I Had the Time”
– G.I.S.M. – “Death Agonies and Screams”
Kami pun sempat diceritakan semesta dan atmosfer di balik masing-masing lagu yang memenuhi album kedua dari HAUL. Mari menyimak sembari mendengar satu per satu nomor yang ditawarkan oleh Magna Kalahar, atau yang mereka pandang sebagai “Sebuah monumen kekacauan.”
01. “Sekapur Sirna”
Merupakan neologisme dari “Sekapur Sirih” yang melambangkan gerbang atau sambutan terhadap awal halaman Magna Kalahar.
02. “Matasayat”
Sebuah perjalanan sakral di tengah rasa sakit dan dorongan untuk terbebas dari jurang paling dalam.
03. Agenda dalam Siklon Kelabu
Sebuah penggambaran sebuah episode terakhir dalam perjalanan suatu entitas, ketika ingatan akan masa lalu berpadu dengan bayang-bayang takdir yang tak terhindarkan. Yang tersisa hanyalah perjalanan menuju akhir yang sunyi, kelabu, dan tak terelakkan.
04. Tanasalarasa
Keadaan di tengah lanskap yang meredup, ingatan dan keberadaan melebur bersama pergantian waktu. Bahwa kebinasaan bukanlah akhir yang mutlak, melainkan putaran abadi antara kelahiran, kehancuran, dan ketiadaan.
05. Omegat Roh
Gambaran tentang angkasa luar, konstelasi, kosmos, dan lubang putih membangun visi tentang alam semesta yang terus bergerak melalui kekacauan, dan kehancuran.
06. Bina Runtuh
Membina kehancuran. “Bina Runtuh” menjadi penghantar menuju gerbang kedua Magna Kalahar.
07. Benam
Tentang keruntuhan tatanan yang ditelan gulita.
08. Menjilat Sangrawi
Ketika cahaya perlahan padam, senja kehilangan warnanya, dan langit seolah turut meratapi runtuhnya tatanan semesta.
09. Nista-Nista
Sebuah perjalanan menembus labirin kelam. Pertanyaan tentang kehampaan sebelum melebur dengan kehampaan itu sendiri.
10. Sabda Malaprosa
Bahwa tak semua yang telah runtuh dapat dibangkitkan kembali, sebagian hanya menunggu untuk larut dalam kesunyian.



