
eleventwelfth: Sebenarnya kita nggak pernah secara gamblang bilang eleventwelfth itu band midwest emo, sih.
Setelah rilisnya album keempat mereka, kami menyempatkan untuk mengobrol dengan eleventwelfth mengenai lanskap musik emo, proses pengerjaan karya, hingga konsep album berikutnya.
Words by Whiteboardjournal
Words: Garrin Faturrahman
Image: Agung Hartamurti/Whiteboard Journal
Dengan adanya wong kalahan, siapakah wong menangan itu?
Apa pun itu, rupanya terma overused ini dibantahkan for good oleh band yang ramai dianggap sebagai forerunner dalam genre midwest emo pun math rock, eleventwelfth. Tapi, mereka pun juga punya sanggahan terhadap penempelan label dua genre tersebut ke nama mereka.
Selain membantah anggapan tersebut, eleventwelfth juga bercerita banyak di obrolan kami bersamanya: dari album terbarunya, 11 (2026), yang kali ini diperkaya oleh karakter yang hidup di sela-sela lagunya, bagaimana sekuelnya masih terus relevan dalam semesta yang mereka cipta, hingga prosesnya dalam melepas referensi-referensi lawas sambil mempertahankan apa yang tetap menggariskan mereka sebagai eleventwelfth.
Midwest emo dan math rock kini telah menemukan dirinya jauh di atas niche-nya. Kita bisa melihatnya di media sosial macam TikTok dan Instagram, dan eleventwelfth menjadi forerunner fenomena ini. What are your honest opinions on this spurt of the genre’s popularity?
Rona: Kalau mulai dari gua, sebenarnya kita gak pernah secara gamblang bilang eleventwelfth itu band midwest emo, sih. Maksudnya, dari awal kita keluar pun kita nggak pernah bilang “Hey, kita eleventwelfth, band midwest emo dari Jakarta!” itu nggak pernah.
Kessa: Bahkan math rock juga.
Rona: Cuma emang pas kita ngerjain EP yang eleventwelfth self-titled itu, tahun 2017, memang kebetulan banyak Influence datang bukan dari midwest emo sebenarnya, tapi dari fourth wave emo yang waktu itu keluar sekitar tahun 2011, 2012 sampai tahun kita ngerjain EP itu di 2015.
Jadi emang banyak tuh misalnya kayak model-model band kayak Tigers Jaw, Title Fight, Into It. Over It., The World Is A Beautiful Place, dan segala macam. Emang arahnya kesana, dan even band-band yang di sana pun, kayak misalnya The World Is A Beautiful Place, nggak nge-branding mereka sebagai band midwest emo pula, gitu. Mereka kan nge-brandingnya sebagai fourth wave emo yang kebetulan memang lagi banyak di situ, kan. Jadi, gua rasa dengan adanya obrolan-obrolan midwest emo sekarang pun, mungkin hanya beberapa persen yang tahu kalau sebenarnya ada movement fourth wave emo itu sekarang sudah ada fifth wave gitu kan mulai band-band kayak glass beach, Mom Jeans, Marietta, segala macam itu kan sudah masuk fifth wave tuh, jadi ya emang namanya genre pasti terus berevolusi lah jadi kita ngeliat popularity di indonesianya pun ya emang Indonesia… suka selalu telat ya, haha.
Kessa: …mungkin karena jauh juga ya. Suka telat dan suka salah kaprah. Terutama soal genre, ya?
Rona: Karena masih ada tuh orang yang kayak, “Bedanya midwest emo sama math rock tuh apa sih?” Maksudnya kan, kalau kita ngobrolin midwest emo kan roots-nya udah dari punk, masuk ke hardcore, dari hardcore masuk ke emocore, dari emo dulu baru tuh masuk ke midwest segala macam lah, mau dari mall emo lah, segala gitu dari emo itu. Cuma kan kalo math rock berangkatnya nggak dari hardcore gitu, dia kan berangkatnya mulai dari Slint, yang bahkan dulu post rock gitu kan. Tapi kalo kita ngomongin math rock, Battles juga kita bisa sebutin sebagai math rock. Apakah Battles itu midwest emo, kan nggak sama sekali, gitu!
Jadi ya, mungkin orang Indonesia aja nggak pengen ngulik apa itu bedanya midwest emo dan apa itu bedanya dengan math rock, padahal emang ada midwest emo yang terinspirasi math rock, dan math rock yang terinspirasi midwest emo juga. Sama kayak genre lain—pop ada yang terinspirasi indie, ada yang terinspirasi shoegaze lah kayak zaman-zaman sekarang modelan segede Olivia Rodrigo yang ternyata ter-influence sama Paramore yang emo juga. Terus kayak Beabadobee yang tiba-tiba di album barunya bakal ada gitarisnya Title Fight! Gue suka banget single barunya, itu menurut gue keren banget sih.
Jadi kayak ya emang banyak orang yang jadinya FOMO kan. Terus kayak “Wah yuk midwest emo, math rock.”
Kessa: Karena susah dicerna, orang ambil gampangnya… wong kalahan.

Image via Agung Hartamurti/Whiteboard Journal
Rona: Dan, ya, itu udah sesuatu yang nggak bisa dikontrol sama siapa pun sih, menurut gue. Jadi ya maka dari itu apakah kita happy dengan perkembangan genre-nya? Pasti ada happy-happy-nya juga ya. Maksudnya, kan, kayak kita termasuk salah satu band pertama yang mainin that kind of music lah.
Waktu itu kan barengnya ada Beeswax, ada Indigo Moiré, ada siapa lagi…
Kessa: Murphy Radio juga termasuk.
Rona: Ya tapi kalau Murphy Radio kan math rock banget gitu, ya. Tapi kalau math rock, kita juga salah satu yang pertama, kan—bukan kita yang paling pertama ya—selain bareng sama Murphy Radio. Dulu ada Lefty Fish juga. Kayak jatuhnya dia mathcore gitu ya, lebih ke metal soalnya. Ada ini juga, Direct Action.
Almas: Kalau math rock itu bukan midwest emo, midwest emo bukan math rock. Emang beda jalan, dan happy banget orang jadi banyak yang tahu juga sih.
Rona: Ada happiness cuma ada sebelnya juga. Kalau dari gue sih karena jadinya, karena itu tadi lagi gak bisa diatur. Jadi banyak orang-orang ya, pahamlah… general audience yang nggak ngulik, tapi jadi ingin ikutan. Tapi kayak malah jadi disinformasi, gitu lho. Karena ada saja yang bilang American Football band math rock—ya, nggak salah juga sih. Karena emang ada satu lagu yang… gue bahkan nggak tahu dia tuh ngitungnya berapa, kayak 15 per berapa, gue nggak ngerti. Cuman dia berangkatnya dari Cap’n Jazz, ya bapaknya [emo] lah itu kan hitungannya, kan.
Mengetahui itu, dan melihat pergeseran di album 11, apakah penciptaan album terbaru ini banyak dipengaruhi oleh kebutuhan pasar itu?
Rona: Sebenernya nggak sih, karena emang kita juga dari awal nggak pengen jadi band yang one trick pony, kan. Maksudnya kita nggak pengen mainin musik yang itu lagi, itu lagi, itu lagi. Karena kita ini nanti juga bosan anyway, kan.
Kita pengen bisa terus eksplor juga, lah. Dan memang kebetulan kita nggak menghilangkan segi math rock-nya di album itu pula anyway, kan—karena banyak polyrhythm-nya, banyak ketukan-ketukan drum yang emang khasnya math rock, banyak gitar-gitar yang juga khas math rock.
Kayak lagu “Turbulence” itu kan bisa dibilang… Amat sangat terinfluence band-band Japanese math rock, kayak LITE, Kayak Te’—walaupun Te’ itu rada post-rock, sih. Cuman maksudnya kita banyak terinfluence band-band yang tetap math rock juga. Cuman emang kita pengen inkorporasi sesuatu yang kayaknya di Indonesia belum ada yang berani nih bikin sesuatu yang se-hybrid ini.
Jadi kita juga mikir apakah 11 itu album yang kecepetan untuk Indonesia. Atau mungkin apakah ini udah waktu yang tempat untuk eleventwelfth mencoba hal baru?
Almas: Prioritasnya buat kami, pokoknya yang kami bikin selama ini… yang harus happy itu ya kami dulu, lah.
Kessa: Betul. Satu itu. Kedua, kalau dari gue tuh, selalu ngerasa selagi bisa, selagi kesempatannya ada… ya, pokoknya boundariesnya semua harus di-push. Jadi kalau dari album sebelumnya A terus berikutnya jadi B, ya selama kami semua sepakat, happy ngejalaninnya—gas terus. Dan harapannya ke depannya justru malah biar nanti buat temen-temen yang senang sama eleventwelfth, ya biar dia bisa ngikut perjalanan kami. Jadi gak stuck di satu fase atau momen aja, gitu. Harapan besarnya gitu sih.
Petir: Dan balik lagi ke referensinya juga sih di album 11 ini tuh kita sudah nggak dengerin band yang waktu kita dengerin, pas kita bikin album SIMILAR (2023).
Rona: Sama kayak Garrin, kan juga pasti selama sembilan tahun terakhir kan nggak dengerin yang itu-itu saja. Pasti berevolusi, kan? Pasti kan ada yang didengerin sembilan tahun lalu terus ngerasa, “Okay, I grew up, I grew out of it,” gitu—kita juga.
Kessa: Ya, walaupun maksudnya gini, walaupun referensinya si album 11 ini beda, tapi kan kita masing-masing ini kan emang punya referensi yang masing-masing juga. Dan kita punya yang kita suka bareng-bareng gitu. At the end karena yang main itu masih kita berempat, menurut gue sih masih terdengar eleventwelfth, gitu. Walaupun referensinya udah ke mana-mana.
Petir: Jadi ya, album 11 ini sebenarnya penyempurnaan, lah. Dari perjalanan si eleventwelfth dari dulu, musik yang kita udah dengerin dari dulu sampe sekarang… nah, jadi kita sempurnain di album 11 ini, gitu.
Teman-teman eleventwelfth, ada nggak sih hambatan yang ditemukan ketika menulis lagu yang dibelenggu oleh kekhawatiran jika karya tidak bisa diterima oleh audiens?
Rona: Waktu itu Almas pernah bilang pas di Kios Ojo Keos, pas hearing session. Eleventwelfth is for anyone, but not for everyone, gitu. You cannot win everyone, lah. Band segede The Beatles saja ada yang nggak demen.
Kessa: Tapi balik lagi kayak yang diomongin Almas tadi. Kayak kita bikin lagu atau karya itu tuh, yang penting kita happy dulu berempat. Kita suka banget sama karyanya, gitu. Jadi ya… Kalau khawatiran sih gak ada ya.
Yang penting kita itu, sih, balik lagi—kita happy ngerjainnya. Meski prosesnya berantem dulu. Tapi belajar juga banyak. Ada kompromi satu sama lain. Cuma pada akhirnya pokoknya yang penting semuanya happy.

Image via Agung Hartamurti/Whiteboard Journal
Ya kalau kata Rona nggak bisa muasin semua orang. Jadinya ya kita ngurusin buat orang-orang yang suka aja. Kalau misalkan ada yang suka, ada yang rajin nonton, bela-belain ngeluarin waktu, tenaga, uang—itu yang kami urusin.
Rona: Bahkan, siapa tahu ada orang yang tadinya nggak suka, jadi suka. Itu yang kami ladenin.
Petir: Terus kan kalau si eleventwelfth-nya udah suka nih, berempat. Kayaknya itu energinya berasa, gitu. Jadi ya sebetulnya nggak ada sih kekhawatiran itu. Karena yang penting kita happy, kita yakin.
Memang friksi yang paling kencang di mana?
Rona: Di album ini? Hampir semua, sih. Apalagi single pertama, ya, ascending faster than before.
Karena kan kita pas bikin album ini, nggak cuma sekadar kita bikin lagu, bikin lagu, bikin lagu, kumpulin dan jadi album. Kita ingin bikin konsepnya dulu—apa hal yang ingin dipresentasiin di sini. Di situ, baru kita bikin lagunya. Dan dari segala lagu ini, kita jadinya menentukan “Mana nih lagu yang mau kita presentasiin untuk menjadi single pertama?” Karena kan ini akan set mood ke depannya, kan. Kita semua punya pilihan yang berbeda, cuma at the end of the day, akhirnya kita setuju untuk pilih si “ascending faster than before.” Lebih cepat dari lagu-lagu eleventwelfth sebelumnya—bahkan ini salah satu lagu kita yang paling cepat. Yang paling keras, paling teriak-teriak, segala macam.
Oke, udah nih, kita sudah milih lagunya untuk jadi single pertama. Begitu kita masuk post-production, nah… itu tuh another friction lagi. Karena, [pertanyaannya adalah] “Oke, ini direction-nya mau kayak gimana?” Karena gue pengennya A, Kessa pengennya B, Almas pengennya C, Petir pengennya D—beda-beda lagi. Tapi, ya, semua akhirnya ujung-ujungnya kita cari jalan tengahnya.
Kessa: Begitu juga kenapa kita kerja sama producer, itu biar nengahin ego kita masing-masing juga.
Rona: Oke, misalnya Petir pengennya “Udah, ini kita bikin ngeband.” Gue pengennya bikin digital. Kessa pengennya, “Nggak, ini kita harus ada dua-duanya.” Akhirnya kita diskusikan lagi what’s best for the band.
Kessa: Karena tadi itu sih, Rona maunya digital banget, gitu kan. Sementara, gue atau Almas pengennya ngeband banget.
Petir: Kan jadi itu awalnya kan kayak digital intronya, sampai masuk drumnya Almas, itu juga kita kayak… “Ini kayaknya begini, nih.” Kan karena gue bisa main drum juga, jadi gue tau gimana rasanya main drum. Karena Rona gitaris, jadi gue tau juga gimana dia ngebayangin drumnya, gitu. Akhirnya gue bilang, “Di sini, ini udah paling pas.”
Akhirnya dia setuju.
Kessa: Makanya, “ascending faster than before” tuh, kita punya master paling banyak.
Rona: Ada 8 versi post-pro. Pas demo itu ada 5. Jadi total lagu ada… 13 versi.
Kessa: Karena memang si “ascending faster than before” pengennya jadi template buat semua lagu—drumnya kayak gini, dan vokal maunya kayak gini, terus gitarnya harus se-distorsi ini. Jadi blueprint-nya, lah.
Rona: Jadi itu banyak banget perdebatan di situ. Karena kita nggak mau albumnya juga terasa belang, kan.
Kessa: Kita aja pas rilis itu, deg-degan parah banget, itu.
Almas: Momen krusial. Gue jadi mikir, “Gue jadi DJ aja kali, ya?” Tapi seru banget, sih, bisa ngelewatin itu semua.
Ngomongin album barunya lagi, kita tahu bahwa ada karakter yang hidup dalam semesta 11. Sebetulnya, bagaimana dengan approach songwriting eleventwelfth – yang lahir duluan itu karakternya atau lagunya?
Kessa: Konsepnya dulu, sih. Waktu itu Rona udah punya konsep kalau kita bakalan bikin double album tahun ini. Konsep awalnya itu, album pertama namanya 11, album kedua namanya 12, yang 11 adalah 11 lagu, yang 12 adalah 12 lagu. Terus, gue emang biasanya berdua sama Almas tuh suka mikirin visualnya dulu. “Kita mau visualnya kayak gimana, ya? Biar nih album emang terlihat seperti double album yang akan nyambung.”
Terus gue lagi liat-liat internet, terus gue nemulah gambar langit sama laut. Terus akhirnya gue bikin moodboardnya, gue presentasikan ke anak-anak.
“Gue pengennya moodboardnya gini, album 11 gambarnya langit, album 12 gambarnya laut, warnanya biru, kita foto harus begini, angle-nya begini-begini gitu, terus nanti font-nya harus warna pink gitu-gitu.” Nah dari visual yang gue idekan itu, baru Rona datanglah dengan konsep lagu-lagunya.
Rona: Oke nih sekalian nih, ini kan udah ada konsep langit sama laut, kita beneran konsepin aja sekalian. Jadi langit ini ceritanya tentang aviasi—karena ada di langit—album 12-nya ceritanya di laut. Makanya sebenernya kalo kita diving through ke albumnya ini, banyak banget istilah-istilah tentang langit, tentang penerbangan. Jadi kayak tiap lagu juga kita bikin objek langit yang merepresentasikan lagu tersebut.
Karena ujung-ujungnya ini jadi sebuah narasi cerita, makanya kita bikinnya “two-part narrative sophomore album” gitu sih, marketingnya. Karena memang kita bikin naratif ceritanya tentang tokoh utama yang ingin mengejar mimpinya, dan di tengah-tengah ternyata harus gagal, dan itu dimetaforakan dengan naik pesawat.
Karena, di saat kita naik pesawat, dari take off Jakarta pengennya, misalnya, ke Jerman, Eropa—negara lain lah. Jadi, kalau kita menuju ke suatu tempat, kan, itu berarti ada mimpi kita di situ, kan.
[Pertanyaannya], kita pengen ngapain di situ? Di saat kita mau ke sana, pasti akan selalu ada halangan—halangannya salah satunya ada turbulence, ada kondisi landing dan semacamnya, gitu. At the end of the day, di akhir cerita album 11, ternyata pesawatnya jatuh ke laut.
Jadi sebenernya metaforanya tuh lebih ke saat kita mau ngejar mimpi kita nih, akan selalu banyak halangan, tapi yang paling penting gimana caranya disaat kita jatuh kita bisa bangkit lagi. Dan itu akan kita ceritakan di album 12 nanti. Makanya di intronya si lagu track pertama di album 11 itu kan, suaranya kayak kita mau naik pesawat, kayak di airport, terus ada pasang seatbelt sebelum kita take off.
Sedangkan di track terakhir, di track 11 itu diakhiri dengan suara laut dan suara burung—jadi nanti akan bersambung ke album 12, ceritanya.

Image via Agung Hartamurti/Whiteboard Journal
That’s nice worldbuilding. Karena itu, sejujurnya, aku banyak teringat akan Yellowcard. Si album Lights and Sounds (2006), yang ada pesawat dan juga ada kecelakaannya.
Kessa: Bener juga, ya! Lumayan dengerin soalnya album itu.
Pertanyaanku, sebenarnya dengan adanya worldbuilding kayak gitu—karakter, metafora—does it make your points a lot easier untuk disampaikan, meskipun layered?
Rona: Mungkin karena gue yang paling banyak part nulis lirik, ya. Emang perspektifnya tuh pasti berubah. Kenapa? Karena apa yang kita design ini, at the end of the day, emang fiksi.
Karena yang kita build itu, gimana caranya kita bikin suatu naratif yang emang ceritanya dibuat—bukan pengalaman hidup sendiri. Jadi itu sesuatu yang memang malah lebih challenging.
Misal kita nonton film, mungkin ada beberapa orang yang kayak nonton film dan melihat tokoh utamanya, tapi kan nggak relate ke diri dia sendiri, kan. Kayak nonton The Odyssey (2026) kemarin. Mungkin ada beberapa orang yang nggak bakal relate kalau dia harus pulang ke rumah, kalau dia emang tinggalnya di situ-situ aja, gitu. Tapi kan untuk orang-orang yang emang kayak Odysseus nonton The Odyssey, dia udah lama banget keluar dari kampungnya tapi mesti pulang ke rumah lagi [dan menemukan] banyak halangan—mungkin akan jauh lebih relate di situ. Jadi untuk relatability-nya emang menurut gue jauh lebih challenging.
Tapi kan yang bikin perbedaan di sini, porsi gue nyanyi dan Petir nyanyi itu ada maksudnya. Jadi gue itu nyanyi ibaratnya sebagai tokoh utamanya, siapa pun yang dengar itu akan menjadi suara gue, gitu. Dan petir ini adalah subconscious dari gue—tokoh utamanya. Jadi sebenernya di saat Petir nyanyi, itu tuh suara hati dari tokoh utamanya tersebut. Jadi lebih ke gue mencoba untuk mendesainnya menjadi lebih inner face, lah.
Cuma emang pasti ada kesulitan di situ. Karena pas kita bikin eleventwelfth sama SIMILAR kan, itu berangkat dari pengalaman kita kehilangan orang tua—yang mungkin pasti orang lain akan bisa lebih relate juga. Nah, bedanya di sini, kita nggak ngangkat tentang kehilangan orang tua, tapi kita mengangkat tentang cara mengejar kehidupan, karena kita mengejar mimpi atau goal kita masing-masing.
Jadi emang challenge-nya ada di situ: gimana caranya mengemas cerita yang dibuat untuk menjadi lebih relatable ke orang yang mendengar.
Kessa: Makanya simpelnya tuh, sebenernya, kalau pada baca liriknya, apa yang Rona nyanyiin itu “I,” yang Petir nyanyiin itu “you.” Kan kita ada Biru Baru juga, Biru Baru tuh dia bilangnya “them” atau “they.”
Rona: Jadi ada first person perspective, second person perspective, sama third person perspective.
Secara sound design pun sekarang banyak eksplorasinya – drums dikotorin di “collision,” sampai banyaknya ornamen elektronik yang memperkaya rona lagu-lagu. Apakah pertimbangannya untuk memperkuat worldbuilding, demi kompleksitas lagu, atau ada hal lain?
Almas: Biar orang tau aja sih gue jago men.
Semua: Huahahaha.
Almas: Nggak, nggak, nggak.
Rona: Karena kita melihat di Indonesia itu belum ada yang berani untuk eksplor post-production segininya. Kita mau nge-challenge diri kita untuk nunjukin—makanya kayak tadi gue bilang, apakah 11 ini way ahead of its time atau tidak? Itu cuma waktu nanti yang menentukan.
Tapi kita melihat juga dari segi apa yang kita pengen kerjain, gitu ya. Emang kita pengen explore ke sana, sih. Karena balik lagi ke reference tadi, apa yang kita dengerin udah bukan yang apa yang kita dengerin pas 9 atau mungkin 5 tahun yang lalu. Jadi apa yang kita dengerin 5 tahun lalu, sudah pasti berbeda dengan yang kita dengerin sekarang. Kebetulan, kayak gue sama Kessa juga, banyak banget kayak dengerin kayak FKA Twigs, gue suka banget sama musisi-musisi kayak hyperpop, Aphex Twin, gitu-gitu. Kita pengen nyobain sesuatu yang different lagi, gitu, dibanding kita ngerjain album yang cuma sekadar SIMILAR volume 2.0. Kayak Turnstile Never Enough (2025), tuh, cuma GLOW ON 2.0. Intinya kita pengen nyobain yang beda terus, lah.

Image via Agung Hartamurti/Whiteboard Journal

Image via Agung Hartamurti/Whiteboard Journal

Image via Agung Hartamurti/Whiteboard Journal
Kessa: Selain kita pengen eksplor, kita juga mau challenge diri kita sendiri, sih. Gimana caranya kita bisa bikin musik yang mungkin referensinya tidak terdengar seperti eleventwelfth, tapi gimana caranya eleventwelfth bisa mengemas referensinya yang seperti itu. Makanya tadi, kayak Rona bilang, kita post-pro tuh (kayak mixing, mastering, segala macam) kita punya referensi dari FKA Twigs, dari Porter Robinson, dari Aphex Twin, segala macam yang berbau elektronik—kebanyakan gitu.
Makanya mungkin kalau banyak dengernya, ya, suara drumnya dikotorin, lebih ke sample bass, gitu. Makanya di album ini juga kita nyoba rekaman tuh dengan hal yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Kita tuh sekarang bikin rekamannya tuh di-sample. Jadi kita [pilih] apa saja yang mau kita rekam, [lalu] kita rekam, tapi nanti di post-pro bisa kita pilih-pilih, bisa kita crop, cop, bisa tiba-tiba verse-nya kita ilangin terus nanti jadi ini—banyak banget sih.
Rona: Ini “ascending faster than before,” nih. Almas nge-take drum di verse, tapi setelah kita bikin di post-pro, akhirnya dari producer kita dan kita sendiri juga… “Kayaknya ini nggak cocok, nih. Ini harus hilang.”
Kessa: Kita mikirin dinamikanya juga—nggak mungkin, kayak, kita bener-bener tabrakin terus, gitu. Beneran ada beberapa lagu yang bassnya Petir nggak ada, kita bikin pakai bass synth.
Rona: Jadi memang ingin approach-nya beda juga. Semua recording gitar kita bikin stereo biar tahu ini L/R bisa diapain. Soalnya, kalau kita dengerin eleventwelfth yang lama lama itu kan sudah jelas banget gitar gua di kanan, gitar Kessa di kiri.
Kessa: Dan itu masih terdengar kayak organik dan analog, gitu. Jadi kita recording masih pake ampli, kita masih mikirin banget “Oh, ini nanti akan kita bawa ke post-pro, nih kayak gini, gini, gini.” Tapi kalau di album, ini kita rekaman, ya, rekaman aja—nanti gitarnya berubah jadi suara synth, itu kita pikirin pas di post-pro. Makanya kita kebantu juga sama produser kita Uta (Poetra Tiarda) dari Angular//Momentum.
Iya, sih. Kalau aku ingat-ingat lagi, it does sound a lot more processed.
Rona: Iya, dan memang intentional. Bukan sesuatu yang kita “nggak pengen.” Buat orang-orang yang nggak suka musik yang heavily processed atau yang terlalu dipoles, mungkin dia akan ngerasa ini too much. Tapi buat orang-orang yang lebih suka yang ke model-model musik kayak gitu, ya, pasti aman aja. Jadi ya, kita hajar aja—yang penting kita demen, gitu.
Jadi, maka dari itu, kita sebenarnya gambling juga apakah sound design seperti ini, orang Indonesia udah nyampe sini belum, ya? Karena kan band Indonesia yang sound design-nya kayak gini tuh jarang banget. Gua cuma mungkin BAP., terus siapa lagi ya.
Lantas, adakah tips dari teman-teman untuk bisa tetap seproduktif itu – di luar dan di dalam eleventwelfth?
Almas: Lo harus bisa belajar memetakan goals, ujungnya tuh apa, dan ntar baru di-breakdown mundurnya tuh gimana biar sampai ke sana.
Karena kami kalau misalnya merencanakan apa pun (hal-hal recording, musik atau bahkan kayak media sosial dan lain-lain) selalu mau sepakatin dulu nih ujungnya—apa tujuannya? Nanti baru dipilih jalannya.
Kessa: Kalau waktu itu, dimulai ketika kita meeting, terus tiba-tiba Rona udah punya projectory eleventwelfth 10 tahun ke depan mau bikin apa aja.
Rona: Habis itu bubar. Nggak lah. Hahahaha.

Image via Agung Hartamurti/Whiteboard Journal
Dan untungnya ini yang amat gua rasakan sekarang. Kita sudah terbiasa produktif karena setiap tahun, tanggal 11 Desember, kita selalu mengeluarkan sesuatu, dan ternyata kita sudah jadi dipaksa produktif dengan ritual itu dari 2015 tidak pernah tidak mengeluarkan sesuatu di 11 Desember.
Jadi memang itu sudah jadi sesuatu yang kewajiban, ritualnya kita, jadi kita nggak ngerasain ini sebagai suatu beban karena, ya, memang kita harus mengeluarkan sesuatu aja, sih. Jadinya kan ngobrol terus, ketemu terus, “Kita mau bikin apa tahun ini? Besok mau bikin apa?”
Jadinya selalu ada hal-hal kayak gitu sih.
Almas: Gimana, Tir? Ada tips nggak biar tetap produktif dalam band lu yang banyak itu?
Petir: Sebetulnya kalau gue pribadi sih, gue itu kayak ikut menyelam ke band yang ada guanya di dalam. Kayak, gue pahamin semua karakter orang-orangnya, terus komprominya, terus ide-idenya juga coba gue tangkep, gitu.
Rona selalu bawa ide yang, bisa gue bilang, ide-idenya gila-gila, terus kami bertiga tuh kayak, “Ini sanggup nggak, ya? Mampu nggak ya ngeladenin Rona yang kayak gini?” Ternyata kita di 11 sanggup, nih. Bisa nemu jalan tengahnya. Terus kita juga jadi kayak belajar lagi, kita berhasil nih kompromi ke diri masing-masing, walaupun awalnya mungkin, kayak, Almas, anjing susah banget nih ketukan drumnya harus begini-begini. Terus Rona bersikeras “Harus kayak gitu mas.
Kalau nggak, lu cari solusi,” akhirnya Almas cari solusi dan si Rona yang ngerti gitu, yang belajar gitu-gitunya. Nah itu yang bikin kita tetep mau berusaha keras untuk produktif. Jadi kayak kebawa sesuatu yang baru lah, gitu. Jadi moodnya nggak flat.
Dari EP pertama, terus kita pindah ke rilisan everything after (2021), itu kan juga everything after itu menurut gue moodnya bener-bener beda-beda semua. Ada yang kita main math rock banget, ada yang kita main twinkle emo banget, ada yang kita main experimental, akustik juga, kan. Nah, itu selalu ada gitu-gituannya tuh kalau di eleventwelfth. Jadi kenapa kita nggak bosen dan tetep produktif, ya salah satunya itu sih, kalau gue rasa.

Image via Agung Hartamurti/Whiteboard Journal
Rona: Dan nambahin lagi, untungnya eleventwelfth ini termasuk band yang nggak pernah ganti personil. Pas pertama kali berempat, ya sudah, berempat ini aja. Jadi kita nggak perlu ada adjustment dengan adanya personil baru, ketemu kepala baru lagi, segala macam. Kita sudah pada kenal satu sama lain lebih dari 10 tahun—mereka sudah tahu gua kayak gimana, gue sudah tahu mereka kayak gimana. Kita sudah tahu gue harus kompromi ke setiap orang kayak gimana, pun sebaliknya. Jadi kita sudah understand tiap karakter masing-masing, gitu, dan itu yang bikin prosesnya jauh lebih cepat. Karena berantemnya nggak lama-lama banget, gitu, kalau saat ini ada yang nggak setuju.
Kessa: Dan kita bukan band nongkrong, sih. Kita masing-masing punya circle sendiri-sendiri, jadi bukan band yang berangkat dari pertemanan yang gimana-gimana. Jadi, beruntungnya kita, jadi nggak ada nggak enak-nggak enakannya, gitu.
Petir: Nggak pernah ngambek-ngambekan juga.
Kessa: Iya, jadi misalnya ada sesuatu, yaudah bilang aja, gitu. Memang kita pun habis manggung, ya udah, nongkrong sendiri-sendiri. Petir ke mana, Rona ke mana, Almas ke mana, gue ke mana, gitu.
Kayak gitu, sih. Jadi menurut gue, yang bikin kita fresh lagi kalau ngumpul dan pengen punya semangat lagi, ya, itu: Karena kita ngumpul mau bikin musik. Kita kompaknya pas lagi latihan, lagi recording, lagi manggung.
Rona: Gue aja sama Almas pertama kali kenal Petir langsung di studio. Latihan pertama kali…
Petir: …terus beberapa minggu kemudian recording. Jadi nggak sempet, kayak, “Lahir tanggal berapa?” gitu!
Kessa: Gue kenalan sama Rona dan Almas itu dari dua temen yang berbeda. Jadi ada temen gue, Fadil (Matter Mos), dia ngenalin gue ke Rona. Terus ada temen gue juga, Rama, dia ngenalin gue ke Almas. Jadi kita gak pernah yang bener-bener- bahkan gue misah, gitu. Kebetulan gue kenal sama Petir sebelumnya, tapi ya kenalnya kenal dari musik aja.
Rona: Bukan temen nongkrong. Cuma, gue sama Almas itu emang sudah kenal dari SMP. Udah ngeband-bandan, cover Blink, MCR. Intinya, gue sudah lost contact tuh sama dia pas ngampus, karena dia ngampusnya di Bandung, gue di Jakarta. Terus, pas dia udah selesai ngmpus, balik ke Jakarta, baru kita ngobrol lagi dan langsung ajakin ngeband.
Kessa: Ya, mungkin Almas mau temenan sama Rona karena mau ajakin ngeband doang! Bisa jadi, kan?
Rona: Karena kita sudah lost contact banget. Pas dia di Bandung, gue di Jakarta, jarang banget ngobrol.
Kessa: Ya tapi, memang kita juga kalau berempat ngobrolnya ngomongin musik dan ngomongin eleventwelfth, jarang ngomongin hal-hal lain.
Kolaborasi juga masih ada di album ini, seperti halnya di album sebelumnya. Dalam menggaet seorang kolaborator, yang dipikirkan duluan itu ‘dampak dari kolaborasinya’ atau ‘keinginan untuk main sama musisinya?’
Rona: Kita demenin dulu. Kalau kitanya nggak demen, ya…
Kessa: Makanya kita bikin album DIFFERENT (2025). Kita suka mereka secara musik, mereka masing-masing, dan kebetulan kita temenan sama mereka, jadinya kita nggak terlalu mikirin dampak.
Rona: Karena yang penting demen dulu. Kayak misalnya kita sama Mario Camarena. Itu kan juga karena kita demennya Chon dulu, bukan karena kita mikir, “Oh, kira cari gitaris luar, siapa ya…” Kita berangkatnya dengan kita demen Chon, Chon-nya demen eleventwelfth, jadi kita cobain saja.
Sama kayak pas DIFFERENT juga gitu. Kan tujuannya DIFFERENT ada kan memang buat nunjukin spektrum yang ada di eleventwelfth juga—kita demen Little Fingers yang jazz banget, demen Enola yang shoegaze banget, demen Mardial yang EDM, demen Individual Distortion yang DnB-jungle banget (yang malah kalau kita dengerin lagu-lagu dia yang lain isinya banyak bercanda, kan), ada Morgensoll yang metal, gitu.
Kessa: Dan pemilihan kolaboratornya itu, kita biasanya emang menyesuaikan konsepnya juga. Kayak kita featuring Mario Camarena tuh gak ujug-ujug kita punya lagu dan gimana caranya ini diisi sama satu gitaris yang kebetulan Mario Camarena—nggak!
Kita memang pas kita dapet kabar Mario Camarena mau isi di album kita, kita langsung… “Wah, kita harus bikin lagu yang buat Mario Camarena tuh meant to be, memang buat dia,” gitu. Begitu juga waktu kita mikirin collab buat album 11 tuh. Gue waktu itu idein ke Rona, gue bilang gue nggak mau featuringnya lagi sama solois…
Rona: …karena kita sudah pernah sama Asteriska.
Kessa: Dan DIFFERENT itu kan kita featuring-nya sama band. Terus gue bilang, “Kita cari band aja, Ron,” gitu. Akhirnya kita nemu lah Biru Baru.
Rona: Dan Biru Baru itu lucu, karena album 11 ini kan warnanya biru, dan ini album baru. Jadi, apa kita featuring Biru Baru, ya? Karena ternyata, Biru Baru ngeluarin double album baru judulnya BIRU BARU (2026). Terus kita dengerin salah satu interview-nya Biru Baru, waktu itu mereka ditanya rekomendasi band lokal yang disukai. Mereka jawabnya eleventwelfth.
Kessa: Berarti kan kita didengerin sama mereka. Jadi, kita nggak ujug-ujug datang untuk ajak featuring [yang bisa menimbulkan reaksi] “Lah, gue aja nggak dengerin band lo.”
Bahkan waktu kita featuring Asteriska sama Ade Liesa tuh emang lagunya itu tuh kita udah kepikiran kalau vokalnya harus perempuan, dan akhirnya kita pilih lah itu.
Dari pertemanan dan dari suka sih awalnya, memang. Jadi kita featuring sama Biru Baru nggak mikirin kayak biar gimana gitu, sih. Memang secara estetika, secara karyanya Biru Baru.
Rona: Kalau kita mikirin dampaknya doang, kita mah featuring sama Raisa sekalian.
Kessa: Ya lucu-lucuannya tadi itu, Biru Baru, dan ternyata album baru kita warnanya biru. Terus Biru Baru kita paksa buat nyanyi bahasa Inggris lagi—sama kayak Perunggu!
Apa hal mendatang yang bisa kita harapkan dari eleventwelfth?
Almas: 12, tungguin deh. Approach-nya, we want to do something different lagi. Kita mau jadi seseorang yang beda.
Rona: Apa lagi yang bisa ditunggu? Showcase.
Kessa: Rilisan fisik. Vinyl, kaset, CD. Terus, TikTok.
Almas: Langsung gas terus. Habis itu baru deh, kita nggak bikin lagu lagi.
Semua: Hahahaha.



