
Bagaimana AXEAN Festival menjadi Ajang untuk Musisi Melebarkan Panggungnya sampai Berbagai Belahan Dunia
Berbicara tentang AXEAN Festival, kami mengundang beberapa alumninya, Batavia Collective dan The Panturas, untuk mengulik atmosfer di dalam festival musik tersebut yang seperti konsisten melambungkan nama-nama up-and-coming ke berbagai festival musik besar lainnya di mancanegara.
Words by Whiteboard Journal
Foto: Jimbaran Hub
Selama beberapa tahun terakhir, kita melihat naik–turunnya geliat festival musik di Indonesia. Meski sempat disebut bagaimana festival musik mulai merampingkan diri akibat situasi global, tapi rasanya masih banyak saja poster acara musik-musikan yang berseliweran di media sosial.
Namun, sebagai warga pun aspiring musicians, tak jarang kita dihadapkan dengan dilema dalam memilih festival musik mana yang ingin kita hadiri (terlepas dari the big ones yang mungkin muncul di kepalamu ketika membaca teks barusan).
Misalnya, sebagai musisi: “Ada nggak ya festival musik yang strategis untuk band baruku ini?”
Atau, sebagai penonton: “Festival musik mana ya yang cocok buatku nemuin band baru?”
Festival musik tahunan yang diadakan di Jimbaran Hub, Bali ini sering dianggap sebagai pagelaran yang mengajak para pendengarnya berkenalan dengan unit-unit up-and-coming dari berbagai bilangan Asia Tenggara.
Bahkan, ada yang bilang manggung di AXEAN Festival malah membuka jalur-jalur baru untuk musisi ini meluaskan suara-suaranya hingga ke wilayah luar negeri asalnya.
Lantas, kami mengumpulkan beberapa alumni festival musik ini untuk mencari tahu apa yang bisa kita expect, sebagai penonton juga aspiring musicians, dari dalam AXEAN Festival (sekaligus mengulik apakah benar setelah main di sini malah diboyong ke luar negeri).

Image via Raka Syahreza
Batavia Collective
Aku banyak mendengar bagaimana AXEAN Festival kerap menjadi ajang ‘scouting’ bagi festival directors di luar sana untuk mencari unit-unit baru yang bisa di-include ke dalam kurasinya. Bolehkah tahu what do you think about that dan apakah itu memengaruhi permainanmu di panggung AXEAN Fest?
At its core, AXEAN Festival adalah sebuah showcase festival. Sebuah platform di mana musisi (baik yang baru maupun yang sudah established) bisa tampil langsung di hadapan para pelaku industri, festival director, curator, booking agent, label, dan PR agent. Jika dimanfaatkan dengan tepat oleh musisi dan timnya, kesempatan ini akan membuka pintu dalam perjalanan karir mereka.
Dari pengalaman kami tampil di AXEAN Festival (2024), kami bertemu banyak pelaku industri dari Australia, Eropa, Asia Tenggara, hingga Asia Timur. Beberapa berlanjut menjadi diskusi, dan sebagian bahkan menjadi teman. Dalam konteks showcase festival, networking bukan side quest, tapi bagian inti dari ekosistemnya.
Menjawab apakah hal ini memengaruhi cara kami bermain di panggung: tidak. What you see is what you get. We play the same way we do on any stage, whether it’s a small room or a large festival. We trust the music to speak for itself.
And our approach was received positively.
Setelah AXEAN Festival, kami diundang tampil di Les Escales Festival (2025) di Perancis, yang kemudian jadi anchor show kami tour di sana. Kami juga diundang ke Playtime Festival (2025) di Mongolia dan Maho Rasop Festival (2025) di Thailand. Undangan-undangan ini datang karena para festival booker yang melihat langsung penampilan kami di AXEAN, bukan dari demo atau pitch deck.
Selain itu, tim dari The Orchard Singapore juga melihat kami tampil di AXEAN, yang kemudian berlanjut menjadi kerja sama distribusi untuk EP terakhir kami, CODED.
Buat kami, AXEAN Festival adalah investasi yang masuk akal.
Kita juga mendengar bagaimana narasi Global South semakin diminati oleh publik luas, sampai-sampai roots itulah yang dicari oleh pendengar. Menurutmu, apakah AXEAN Festival benar mengeluarkan kekhasan negara asal masing-masing band yang tampil di dalamnya?
We’re mindful of how the Global South narrative is discussed, especially when “roots” are framed as something artists are expected to present in a certain way. For us, that idea can be limiting, because it doesn’t always reflect how artists actually live and work today.
AXEAN Festival tidak meminta artis untuk “menampilkan” identitas negaranya. Justru yang kami rasakan, AXEAN Festival memberi ruang bagi musisi untuk hadir sebagai dirinya sendiri, dengan konteks hidupnya masing-masing.
Dan kenyataannya, banyak dari musisi yang tumbuh dalam realitas yang hybrid. Urban. Terpapar banyak referensi global, dan tidak selalu bisa ditarik lurus ke satu akar budaya yang rapi.
Apakah Batavia Collective bisa dibilang band electronic jazz dengan roots Indonesia? That’s a very shaky claim… at least for us. We don’t really approach our music as a way of representing Indonesia or ASEAN. We’re not trying to carry a flag. What we do represent is our lived context. Where we’re from, what we listen to, how we move between scenes.
Dalam konteks ini, semua anggota Batavia Collective berangkat dari skena jazz, di playlist DSP kita bukan hanya ada Thelonious Monk, Miles Davis, Indra Lesmana, Yussef Dayes, Kamasi Washington tapi juga ada Goldie, Addison Groove, Lil Silva, Dennis Ferrer. Kami juga hidup di Jakarta, kota yang chaotic, raw, dan messy… dan dari situ lahir sound Batavia Collective.
Apa yang kamu rasa spesial di dalam AXEAN Festival yang sudah semestinya ada juga di festival musik lainnya? Boleh tolong di-list down 3 hal.
— Format yang intimate
Untuk ukuran showcase festival, AXEAN Festival terasa intim, making it easy for artists, delegates and industry people to connect without formal barriers.
— Delegates yang relevan dan well-connected
Delegates (pelaku industri, festival director, curator, booking agent, label, PR agent, dst.) yang datang ke AXEAN Festival benar-benar aktif dan punya jaringan kuat di negara masing-masing, bahkan lintas regional.
— The afterparty
A lot of the real conversations, ideas, and connections actually happen there.
Boleh sebutkan 3 nama darimu yang pantas untuk diajak ke AXEAN Festival berikutnya?
— Greybox
— Hondo
— Basajan

Image via Creathink Publicist
The Panturas
Aku banyak mendengar bagaimana AXEAN Festival kerap menjadi ajang ‘scouting’ bagi festival directors di luar sana untuk mencari unit-unit baru yang bisa di-include ke dalam kurasinya. Bolehkah tahu what do you think about that dan apakah itu memengaruhi permainanmu di panggung AXEAN Fest?
AXEAN Festival adalah gerbang perdana kami bagaimana mengenal sebuah showcase festival itu seperti apa. Kami menganggap festival ini akan menjadi salah satu pintu yang akan membawa kami ke tempat yang tidak terbayangkan sebelumnya. Secara performance, Mempengaruhi secara langsung sih tidak, karena pada dasarnya kami mencoba untuk selalu total di setiap panggung kami. Mungkin yang kami sedikit atur adalah Setlist, sebisa mungkin Set yang kami bawakan adalah lagu yang bisa menonjolkan segala potensi yang kami punya secara musikal. bukan hanya lagu-lagu “fan favorite”.
Kita juga mendengar bagaimana narasi Global South semakin diminati oleh publik luas, sampai-sampai roots itulah yang dicari oleh pendengar. Menurutmu, apakah AXEAN Fest benar mengeluarkan kekhasan negara asal masing-masing band yang tampil di dalamnya?
Dari yang kami lihat sih tidak secara gamblang terlihat seperti itu. Band yang diundang tidak melulu yang memperlihatkan elemen “khas” dari negara asalnya. Namun, yang kami notice adalah setiap band punya hook dan energinya masing-masing. Mereka bisa mengekspresikan musik mereka tanpa terhalang perbedaan bahasa. Itu yang saya rasakan ketika menonton line-up AXEAN Festival.
Apa yang kamu rasa spesial di dalam AXEAN Festival yang sudah semestinya ada juga di festival musik lainnya? Boleh tolong di-list down 3 hal.
Adanya momen speed dating di mana setiap delegasi dan band bisa saling berkenalan dan bisa bekerjasama di masa depan. Waktu itu The Panturas nyiapin beberapa brosur dan rilisan fisik untuk dipresentasikan secara cepat ke delegasi.

Image via Jimbaran Hub

Image via Jimbaran Hub

Image via Jimbaran Hub

Image via Jimbaran Hub

Image via Jimbaran Hub
Festival ini cukup fokus sama pengembangan karier band-band yang emerging, bukan cuma soal tampil di panggung. AXEAN memberi ruang showcase, diskusi, dan pertemuan antara band, label, festival director, hingga media.
Atmosfer kolaboratif lintas negara yang cukup egaliter. di mana band tidak diposisikan sebagai “pengisi acara” saja, tapi sebagai bagian dari komunitas Asia Tenggara yang saling belajar dan bertukar perspektif. Sesimpel, ketika kita tur ke negara mereka, gak asing-asing amat. Ada yang bisa kita kontak untuk nongkrong bareng.
Seru juga sepertinya kalau ada showcase festival versi lokal kali ya biar band-band yang jauh bisa ketahuan adanya.
Boleh sebutkan 3 nama darimu yang pantas untuk diajak ke AXEAN Festival berikutnya?
— Leipzig
— Tarrkam
AXEAN Festival
We’ve caught wind of how AXEAN Festival was perceived to be a ‘scouting moment’ for global festival directors who are in the search for newer units that can be included in their curations. May we know, from a management standpoint, what do you think about that statement/sentiment?
From a management standpoint, I’m glad AXEAN is being perceived that way, because it’s very much intentional. One of our core objectives is to create real opportunities for the artists we feature by placing them in front of the right people. We actively invite and attract music business delegates—festival directors, bookers, curators, label executives, distributors, and music supervisors—from Southeast Asia, across Asia, and internationally, with the specific purpose of discovering artists who are ready to be presented to their respective markets.
That perception is a validation rather than an accident. AXEAN is deliberately designed as a B2B2C platform. While public audiences and the live music experience are important to us, the engine of the festival is business-to-business connection, carried by a lively, friendly, and organic atmosphere. It’s a space where artists connect with delegates for career opportunities, artists connect with other artists for collaboration, and delegates connect with one another to expand their networks and business relationships.
So if AXEAN is being seen as a “scouting moment,” it tells us the system is working. More importantly, it tells us that the bridge we are building between Southeast Asia and the international music ecosystem is both relevant and valuable—for the artists and for the industry at large.

Image via Jimbaran Hub

Image via Jimbaran Hub

Image via Jimbaran Hub

Image via Jimbaran Hub
We’ve also heard how the Global South narrative is becoming much more appealing to the greater public, so much so that the ‘roots’ of these are really what appeals to listeners. For you, does the curating process in AXEAN Fest really do play a part in bringing out the true colors of each band that are playing in your music festival?
The reality today is that music no longer travels in a straight line from the “center” to the “periphery.” Streaming and social media have flattened access, and phenomena like K-pop have proven that global audiences don’t need music to be in English to connect with it. Platforms like TikTok further accelerate this by allowing music—whether contemporary, non-mainstream, traditional, or even decades old—to be recontextualized and rediscovered through creative use. As a result, listeners are increasingly drawn to music that feels rooted, specific, and authentic rather than polished to fit a global mold.
That said, I’m cautious about labels like “Global South,” much in the same way I’ve always been uncomfortable with the term “World Music.” These categories tend to flatten vastly different cultures and scenes into a single box. What we’re really seeing is not a rise of the “Global South,” but the visibility of local, domestic, and regional artists whose relevance has always been strong—just not historically centered on the Western global stage.
Curation at AXEAN Fest is very intentional in this sense. Our role isn’t to package artists into a narrative that feels exotic or digestible, but to create a context where each artist can present themselves on their own terms. AXEAN is a platform for the world to hear music from Southeast Asia in all its forms—tribal, traditional, contemporary, Western-influenced, or hybrid—without forcing it into a single identity.
May we know the curatorial process of AXEAN Festival, notably in how your picks are always worthy to be witnessed (and can be catapulted to bigger festivals in the international stage)?
Unlike many showcase festivals that rely primarily on open calls and volume-based selection, AXEAN operates on a model of active curation. Our artist selections are made either by our co-organizers—who are deeply embedded and respected within their local music scenes—or by partner curators who run festivals, lead national music export offices, or operate at the center of regional and international music networks. This allows us to curate with insight rather than scale.
A key criterion in our process is export readiness. Beyond musical quality, artists must demonstrate professionalism, international relevance, and a clear strategic intention to engage with global markets. We curate artists who understand that playing AXEAN is not just about performing well on stage, but about taking a deliberate career step.
This approach allows us to maximize the likelihood that artists are not only memorable to audiences, but also actionable for international industry professionals—making them credible candidates for larger festivals, tours, collaborations, and long-term international opportunities.
View this post on Instagram
How would you define the three defining points in AXEAN Festival that can’t be found in other music festivals?
1. Non-genre-specific, artist-first curation built for discovery
AXEAN is curated around artists, not genres or charts. Our lineup can include established domestic superstars alongside artists who are virtually unknown outside niche circles, as long as they have a strong identity and a compelling point of view. Whether traditional, experimental, or contemporary, artists are presented for who they are—not for how well they fit a category. You don’t come to AXEAN to hear familiar hits; you come to discover new music and new perspectives.
2. A professional gateway, not just a showcase stage
AXEAN is designed as a working ecosystem rather than a passive festival experience. Running alongside the festival is the AXEAN Music Conference, where artists engage directly with industry professionals in structured, meaningful ways. Performances are not the end goal but the starting point—for touring opportunities, collaborations, partnerships, and long-term career development. At AXEAN, exposure is intentional and followed by access.
3. Southeast Asia presented on its own terms
AXEAN does not position Southeast Asia as an “emerging” scene seeking global validation. Instead, it presents the region as already diverse, complex, and self-sustaining—home to local, domestic, and regional artists whose relevance exists independent of Western benchmarks. This is not about exporting a sound or translating culture for a global gaze, but about creating a platform where artists can be seen and heard as they are.




