
Artist on Artist: Petra Sihombing Interviewed by Hindia, Nadin Amizah, to Aya Anjani
Dalam rangka merayakan album terbarunya, kami menyempatkan untuk mengajak beberapa sosok yang beberapa lagunya memang diproduseri oleh Petra Sihombing, untuk melihat sejauh mana role seorang produser itu mengharuskannya menggawangi proses songwriting, sampai perpindahannya dari seorang musisi/performer ke musisi/produser.
Words by Whiteboard Journal
Foto: Rendha Rais
Jika kamu merasa familier dengan lagu “Rehat” dari Kunto Aji, “Dari Awal Pertama” karya Aya Anjani, sampai “Tidak Ada Salju di Sini, Pt. 4” bawaan Hindia, maka rasa kenal tersebut bisa dipusatkan pada satu orang yang ada di balik lagu-lagu tersebut: Petra Sihombing.
Dalam rangka merayakan album terbarunya, kami menyempatkan untuk mengajak beberapa sosok yang beberapa lagunya memang diproduseri oleh Petra Sihombing, untuk melihat sejauh mana role seorang produser itu mengharuskannya menggawangi proses songwriting, sampai perpindahannya dari seorang musisi/performer ke musisi/produser.

Image via Kunto Aji
Kunto Aji
Menurut lu, penulis/musisi yang seperti apa yang paling mudah diajak kerja bareng? Dan kenapa seperti gw? Canda. Jawab beserta alasan.
Petra Sihombing: Yang pasti musisi/penulis yang tidak seperti Kunto Aji ya… (hehe).
Menurut gua, penulis atau musisi yang bisa cukup berani dengan mengutarakan idenya dan nggak takut bikin salah—bukan berani terus gerasak-gerusuk—cuma ngga takut bikin salah, pengen bereksperimen, pengen cobain dulu idenya.
Terus orang yang sensitif enough untuk kayak… engeuh kalau “Oh, ini nggak works sih, idenya,” dan yaudah gapapa yang penting udah dicoba dan ga sakit hati. Selalu menyenangkan dengan orang orang yang level egonya nggak seheboh-heboh.
Orang-orang selalu menanyakan soal end game. Mid game lo sebelum end game tercapai. Apa kira-kira yang dengan sadar lo kejar, sebagai checkpoint menuju visi yang lebih jauh?
Petra Sihombing: Gua selalu bingung sebenernya end game gua apa. Tapi mid game… Kalau ditanya kayak gini, gue tuh akan selalu fokus on getting better setiap harinya—gimana caranya bisa lebih baik setiap harinya.
Gua percaya 1% increase setiap hari itu in the long run sangat sangat valuable. Bukannya gua bilang harus bikin sebanyak-banyaknya ya, tapi dengan tempo yang gua bisa, gua akan bikin terus aja. Itu sih mid game-nya. Karena sebenarnya early game gua banyak takut, banyak menunda, banyak kayak, “Ah, gua belom bisa bikin ini kalo belum punya ini, gue belum bisa punya apa tanpa punya apa,” dan itu yang kayaknya shaped mid game gua akhirnya menjadi, yaudah bikin aja apa yang gue bisa hari ini, gimana caranya besok 1% atau lebih baik dari itu di keesokan harinya. Gue percaya ini seperti investasi di hidup lo sendiri.

Image via Farid Renais Ghimas
Maul Ibrahim
Perunggu
Dari semua lagu musisi lain yang pernah lo produce, ada nggak lagu yang bikin lo ngerasa ‘Duh, lagu ini tuh harusnya gue yang bawain/nyanyiin.’
Petra Sihombing: Sejauh ini ga ada, karena gue tuh ngerasa apa pun yang gue buat, gue ngerasanya sudah cocok dengan artis yang akhirnya bawain, gitu. Kalau lagu yang gue suka dan gue pengen nyanyiin, ada lah, cuma bukan kayak “Wah, harusnya gue nih.”
Gue nggak ada pikiran itu sih, karena gue selalu ngerasa kayaknya lebih masuk di artis yang gue bikinin—misalnya gue bikin atau produksiin lagu buat artis ini, gue rasanya cocoknya di dia, gitu.
Ada satu lagu sebenarnya yang gue pernah nulis bareng Ben Sihombing (adek gua) gue suka banget chorusnya terus dia yang nemuin versenya. Judulnya “Sebegitunya”, mungkin itu kali lagu yang masih gue kayak “Ini lagu kalo gue yang kelarin dan gue yang bawain bagus,” cuman ternyata pas dia nemuin versenya gue ngerasa masih lebih bagusan dia yang bawain.

Image via Julius Juan Justianto
Aya Anjani
Gimana rasanya produserin diri sendiri?
Petra Sihombing: Produserin diri sendiri itu paling susah nge-manage waktu dan mood sendiri menurut gua, karena bener bener depending on gua sendiri, dan kadang tidak punya kuping kedua itu lumayan susah.
Tapi ada serunya sih, gua bisa kerja dengan tempo dan deadline gua sendiri.
Lebih enak mana, jadi produser apa penyanyi?
Petra Sihombing: Menurut gua jadi produser, karena gua suka ini dari awal. Gua juga suka nyanyi di rekaman-rekaman yang gua bikin.
Kalo jadi penyanyi itu sangat one sided. Pekerjaannya tuh bernyanyi, meskipun banyak hal yang harus lo ngelakuin dan rasain waktu lo nyanyi.
Cuma, jadi produser tuh banyak yang harus diurusin, dan rasanya kecil-kecil cuma pas di tambahin semuanya bareng kayak, ‘Oh, jadi penting ya perannya produser,’ itu yang gua suka sih dari producing.
Lebih susah menulis lagu sendirian buat diri sendiri, atau nulis barengan buat orang lain?
Petra Sihombing: Relatif sih, tergantung hari, tergantung orangnya juga. Nggak ada yang lebih gampang atau lebih susah menurut gua. Bener-bener tergantung hari itu gimana aja dan orang-orangnya siapa.
Kalau prefer sih, nulis ramean sebenernya. Cuman kalau lagu sendiri enaknya nulis kayak diary, bener-bener lo nggak mikirin perasaan orang lain, lo nggak mikirin cara pemikiran orang lain, bener-bener lo dan apa yang lo nulis menyenangkan, sih.
Cuman nggak ada yang gue prefer, kalau kerjaan gue lebih banyak barengan sama orang lain. Tapi kalau musik sendiri, gue kerjain sendiri, jadi gue ada dua output yang gue suka.

Image via Meidiana Tahir
Hindia
Momen apa yang bikin lo yakin untuk shift dari musisi/performer murni ke musisi/produser, dan willing ngerjain lagu untuk temen-temen dan bahkan musisi yang lo baru kenal?
Petra Sihombing: Di luar gue udah suka banget producing dari awal, dari gua mulai karir gua, dan gua masih umur belasan tahun. Semakin ke sini, semakin kayak ‘Eh, gua udah nyobain itu, gue udah nyobain nyanyi di panggung,’ yang udah cukup besar. Terus juga sudah sejauh main film, jadi gue ngerasa gue udah cobain banyak hal, dan menjadi producer ini hal yang gue suka banget, dan ternyata feedback-nya cukup baik in terms of banyak temen temen yang actually mau kerja ama gua.
Rasanya natural aja, sih. Sehabis gue bikin sesuatu, ada yang kayak ‘Eh, bikin apa yuk!’ Itu terjadi banget di karir gue sebagai produser. Makanya itu rasanya cukup natural untuk shift dari yang tadinya gue banyak nyanyi untuk project solo gua, sampai akhirnya gua produce dan nulis untuk orang lain.

Image via Nadin Amizah/Instagram
Nadin Amizah
Sebagai Nadin yang nggak memproduseri musik sendiri dan amazed dengan yang memproduksi musik sendiri. Gue pengen tau—bagaimana suara-suara musik dan tambahan aransemen terbentuk dari demo mentahan yang dikirim oleh seorang musisi?
Petra Sihombing: Setiap orang pasti beda.
Kayak, Nadin gitu, nulis lirik. Gue cukup yakin kalau lo lagi nulis lirik, kadang bisa dapet satu line gitu, misalnya liriknya ‘A’ gitu di ‘line 1,’ terus lagi nyari ‘line 2-nya’ kadang tuh kita bisa denger ‘Oh, lirik berikutnya ini nih,’ atau ‘Oh, karena lagi ngebahas ini, lirik berikutnya kayaknya ini deh,’ terus dicobain, dan terus dibunyiin liriknya, dicoba dinyanyiin, ‘Oh, ternyata ‘A’ sama ‘B’ itu masuk gitu, make sense, nyambung, dan saling support sama lain,’ gitu. Sebenarnya kayak gitu, tapi dalam bentuk bunyi harmoni.
Kita bisa tahu ada harmoni yang masuk sama nggak, gitu. Jadi gue ngeliatnya kayak menebak-nebak terus mencari, apa ya abis ini? Karena kan, lagu itu sesuatu yang linear, kan. Kita melewati perjalanan dari detik 0 sampai menit ke-3, misalnya gitu. Dan itu kan setiap detiknya tuh, sebuah perjalanan yang linear—abis ini apa, itu tuh cara mikirnya mungkin agak mirip sama kalau lagi bikin lirik. Dan kadang, gue bikin musik kadang dapetnya ‘Oh, chorusnya gue pengen rasanya kayak gini,’ gitu.
Sama kayak orang bikin lagu juga kadang dapetnya chorus dulu, gitu, atau kadang dapat verse dulu. Tapi intinya bagaimana gue menambahkan sesuatu itu, gue mencoba untuk lebih mendengar daripada ngasih apa yang menurut gue benar.
Atau bahkan kalau udah ada liriknya, pun kalau udah ada demonya, bakal lebih enak lagi. Gue bisa, kayak, [memikirkan] sehabis ini apa yang bisa mensupport si liriknya lebih baik, atau si nadanya dengan lebih baik, gitu. Jadi menurut gue, it’s all about support—support terhadap si lagunya, atau gambar besar lagunya, tapi juga support terhadap bagian-bagian lainnya, gitu, seperti dinamika lagunya: apakah bagian A itu lebih rame dari yang sebelumnya, atau bagian B yang lebih rame.
Stream album terbaru Petra Sihombing, senang ok, sedih gpp. di streaming platform favoritmu.



