
Artist on Artist: Meiske Taurisia Interviewed by Lutesha, Rachel Amanda, and Hannah Al Rashid on How Filmmaking Can be Safer for Women
Dari cara mempertahankan rasa aman di skena film, sampai cara untuk menjamin keamanan bagi perempuan di dunia filmmaking hari ini, Meiske Taurisia diwawancarai oleh Lutesha, Rachel Amanda, dan Hannah Al Rashid untuk merespons hal-hal tersebut.
Words by Whiteboard Journal
Foto: Palari Films
Bagaimana cara mempertahankan rasa aman di skena film? Bagaimana kiat membangun cerita yang memiliki keberpihakan? Juga, adakah cara untuk menjamin keamanan bagi perempuan di dunia filmmaking hari ini?
Berbekal ketajaman dan pengalaman yang telah ia tumbuhkan sedari awal-awal harinya di balik layar (fun fact, beliau memulai perjalanannya di film Garasi (2006) sebagai seorang costume designer), banyak merilis film kolaborasi bersama Edwin di Babibutafilm, hingga sebagai salah satu penggerak skena film independen, rasanya ada banyak yang penting untuk membekali kita sebelum menavigasi dan menggeluti industri film.
Karena itu, terkumpullah Lutesha, Rachel Amanda, dan Hannah Al Rashid yang sama-sama membawa pertanyaan seputar topik-topik filmmaking tersebut – terlebih untuk dua aktor ini yang akan bisa kita temukan di Monster Pabrik Rambut, 4 Juni 2026 di bioskop.
Rachel Amanda
Apa bedanya jadi produser perempuan saat memulai dulu sama sekarang?
Tahun 2006, saat saya mulai belajar produksi karena produserin Edwin, yang paling kerasa bedanya dengan sekarang adalah ketersediaan informasi sedikit dan akses sangat terbatas. Contohnya, saya mencari informasi ada ‘film fund untuk SEA filmmakers’ apa saja di luar sana lewat DVD bajakan, saya pause opening-nya dan catat segala funding yang terdaftar. Dari sana baru browsing satu-satu ke website masing-masing. Kebayang kan?
Saat itu produser film Indonesia yang film-nya travelling ke International Film festival juga terbatas, dan kebetulan cewek-cewek juga: Mba Mira, Mba Shanty, dan Teh Nia, untungnya semua gak ada yang pelit ilmu, semua mau meluangkan waktu saat diajak ketemuan, berbagi pengetahuan dan pengalaman. Saya diuntungkan karena memang berdomisili di Jakarta, tapi saya kebayang, kalo saya di luar Jakarta, bisa jadi beda lagi ceritanya.
Sekarang ini semua informasi tersedia dan dapat di akses dengan mudah, belum lagi layanan AI yang bisa diminta untuk mengkompilasi semua informasi tersebut, personalized and sangat cepat. Interview para produser juga cukup banyak, dan bukan dari Indonesia saja, sehingga bisa baca dahulu sebelum bikin janji untuk konsultasi lebih mendalam. Konsultasi tatap muka mungkin tetap diperlukan, karena biar bagaimanapun bisa lebih tajam, kritis, dan in depth saat bertemu. Tempat ketemuan pun sudah semakin terbuka, ada festival film, ada film market, atau workshop lainnya.
Tapi ya, namanya juga Indonesia yang pulaunya aja ada 17.000 ini udah pasti bikin ketimpangan akses apapun itu. Jangan2 kalo semua pulau itu sama kaya Jakarta (diluar urusan macet nya), persoalan gender akan sangat minim.
Departemen apa di industri Film yang Mbak Dede pengen lihat lebih banyak perempuan di dalamnya?
Sutradara.
Buat saya, sutradara itu sama dengan chef – dia yang masak dengan mencampurkan berbagai ingredients, dari mulai beli bahan baku di mana, jenis apa, bumbu apa, prosesnya gimana, dan seterusnya. Tak lupa juga melalui proses ngobrol dengan pemilik restorannya – produser film.
Seluruh proses memasak itu melibatkan perspektif dan pengalaman, persis sutradara saat menyiapkan sebuah film dari ide, nulis, produksi, hingga editing film. Semua ini disiapkan dengan se-detail mungkin sehingga menjadi sebuah makanan baru atau pengalaman baru untuk para penontonnya. Oleh karena itu, menurut saya, gender akan mempengaruhi POV filmnya.
Tentunya tidak semua makanan cocok dengan penontonnya, ini umum terjadi. Ada rasa-rasa yang mungkin baru atau tidak biasa, perlu waktu untuk dikonsumsi kembali sehingga familiar. Namun, di luar rasa yang dihasilkan tersebut, ada sets of knowledge and experience yang ingin dibagikan. Karena itu, kita jangan gampang kapok – malah, coba aja dulu. Kayak ke restoran aja, menu lainnya bisa jadi beda pengalamannya.
Percayalah, saat semua makanan sama rasanya, maka kita akan bosan banget. Dan bahan yang sama, bisa diolah menjadi makanan yang berbeda; kayak wortel di kroket dan carrot cake, beda banget, kan? Oleh karena itu, keragaman perspektif dan produk film wajib ada.
Lutesha
Palari Films dikenal dengan film-filmnya yang memiliki pendekatan artistik yang kuat. Dalam menghadapi visi artistik yang khas dari sutradara (mas Edwin), bagaimana Mbak Dede memaknai peran sebagai produser dalam menjembatani kebutuhan kreatif dengan realitas produksi?
Saat bekerja dengan sutradara macam Edwin, atau writer/director yang umumnya disebut auteur dan pada dasarnya mereka seniman; sebaiknya produsernya atau partner kerjanya juga memiliki apresiasi terhadap karya artistik multidisiplin, dan mau percaya serta terbuka pada insting artistik yang ingin dicoba.
Biasanya mereka belum tahu juga apakah akan berhasil atau tidak, dan oleh karena itu, butuh kepercayaan tinggi antar sesama pekerja film termasuk seluruh jajaran HOD (Head of Department) di produksi film. Dan ini berlanjut ke proses rewriting the film di tahap editing, karena masih ada scoring, music, vfx.
Dan semua visi (artistik maupun tidak) memiliki risiko (apa sih yang gak ada resiko nya di hidup ini kakkk…)
Jadi yang penting adalah mengenali diri sendiri sebagai produser, “willingness to take risk” nya dimana? Kalo saya kombo artistik dan aksesibel. Dannnn saya suka surprise (kejutan).
Rasanya kaya bikin makanan padat gizi, dengan kompleksitas keragamannya. Saya rasa, ini makna saya bikin film. Tentunya ini sekaligus menjadi sebuah tantangan akses penonton, bagaimana supaya dapat dinikmati oleh banyak penonton.
Saat produksi film, realitas produksi bukan hanya dihadapi produser sendirian, tapi seluruh lini departemen dalam produksi film, dari sutradara, production designer, cinematographer, hingga line producer, astrada – semua juga kena. Karena itu, tim produksi film yang ideal, menurut saya, adalah yang mampu berpikir analitis, kritis, dan kreatif.
Film itu kerja kolektif, namun chef-nya tetap satu yaitu sutradara. Tugas kita semua adalah membantu supaya visi chef/sutradara bisa direalisasikan. Jadi realitas produksi itu selalu ada, di skala produksi mana pun. Percayalah, kita belajar banyak malah jadi lebih kreatif saat banyak keterbatasan.
Kesimpulannya, saat realitas produksi muncul, semua harus dikomunikasikan dengan jelas ke semua departemen termasuk sutradara, sehingga sutradara dan semua kolaboratornya mampu mencari solusi bersama, sehingga masih mendekati mimpi si sutradara.
Catatan penting: ini bukannya produser nggak penting ya, tentu penting banget juga. Coba saja minta sutradara suruh jadi produser, pasti mereka nggak akan mau. Karena produser kerjaannya jadi bemper juga, ayo siapa yg mau?
Balik ke contoh restoran dan chef: Produser itu semacam pemilik restoran yg mikirin semuanya kecuali masak (bisa ikutan masak, tapi a smaller part lah). Jadi, mau jualan apa dibahas bersama, produser dan writer/director, buat saya doesn’t matter siapa yg punya ide – yang lebih susah itu sepakat mau bikin apa.
Lalu, saat chef mengarang menu, maka produser siapin tuh semua peralatan, bumbu-bumbu, bahan yang bagus beli di mana, nanti jualan kapan, nentuin hari baik, bikin budget, nyari duit, dsb. dst., semuanyaa…
Apa nilai atau kekuatan yang menurut Mbak Dede justru menjadi keunggulan dalam menjalankan peran di industri film sebagai produser?
Suka hal-hal lain di luar film tuh penting banget dalam menjalankan fungsi kita sebagai produser, supaya nggak bekerja dengan kacamata kuda.
Contoh: suka fesyen jadi bisa membantu tim wardrobe kalo kepepet, suka matematika ini membantu buat ngitung-ngitung logika ekonomi, suka baca berita dinamika kondisi dunia (lokal maupun internasional) ini membantu saat bahas relevansi skenario, suka baca hal-hal yang bersifat makro ini membantu untuk membaca pemetaan dan konektivitasnya – apa pun bisa bermanfaat kok.
Jadi nonton film sebanyak-banyaknya bukanlah satu-satunya modal jadi filmmakers apalagi produser, karena nonton banyak saja tidaklah cukup. Kosakata kita justru berkembang saat kita baca/dengar banyak hal.
Hannah Al Rashid
When some of us started speaking out about sexual harassment on film sets in 2020, you were one of the first female film makers we called to talk about continued advocacy on making our work environments safer. From your perspective as a producer, how have things changed on this issue in the past 6 years?
Waktu itu, tantangan terbesar adalah bagaimana membuat sebanyak-banyaknya crew, cast, dan industri film saling belajar memahami. Saat ini hampir semua crew dan cast pernah mendengar istilah safe space atau ruang aman.
Salah satu milestone penting buat saya adalah saat APROFI bikin buku panduan dan SOP KS. Selain kedua dokumen tersebut, ada Pakta Integritas yang harus disebarkan dan ditandatangani oleh semua cast dan crew saat produksi.
Di Palari Films, sebelum mulai produksi saat acara selamatan, saya selalu membaca buku panduan dan Pakta Integritas bersama seluruh crew dan cast. Saya rasa, saat keduanya dibaca dan didengarkan bersama (bukan hanya dibaca sendiri-sendiri), maka kita semua akan semakin aware akan bermacam peristiwa KS yg pernah atau potentially terjadi di dalam atau luar produksi film.



