
Muhammad Fadli: “Orang kini menjadi lebih visually literate, namun di saat yang sama, medianya declining.”
Kembali ke area JIPFest 2025 lalu, kami sempat duduk bareng Muhammad Fadli untuk membahas seputar perubahan lanskap media, mengasah ketajaman kita dalam menyadari hal di sekitar, hingga bagaimana fotografer kini bisa hidup di berbagai koridor fotografi di waktu yang sama.
Words by Whiteboard Journal
Teks: Garrin Faturrahman
Foto: JIPFest
Bagaimana jika algoritma yang dihadapkan ke wajah kita setiap harinya adalah hal yang semakin dikontrol dan di luar kendali kita?
Pada JIPFest 2025 lalu, kami sempat berbincang dengan Muhammad Fadli seputar perubahan lanskap media, mengasah ketajaman kita dalam menyadari hal di sekitar, hingga bagaimana fotografer kini bisa hidup di berbagai koridor fotografi di waktu yang sama.
Kami ingin melihat dari lensa fotografer: Menurut Anda, sebetulnya apa yang membedakan situasi fotografer di awal 2000-an dan post-2020?
Aku tuh mulai sebetulnya ya pas masih kuliah, 2003/04, di Padang, dan mulai 2010 aku pindah ke Jakarta. Tapi justru bedanya yang terasa sebetulnya bukan di tahun-tahun itu, kayaknya malah beberapa tahun belakangan aku merasa perbedaannya jadi lebih cepat, terutama di dunia editorial – majalah, koran. Yang lumayan berubah dan yang paling berpengaruh mungkin adalah: jumlah media berkurang dan lumayan drastis, kan? Terutama dalam negeri nih. Kalau luar negeri kayaknya masih lumayan, walaupun terjadi declining juga, jadi kebutuhannya otomatis berubah. Media juga, yang tadinya cetak kemudian jadi online.
Sebetulnya juga, di saat yang sama, walaupun decline tapi sebetulnya juga membuka kesempatan-kesempatan baru. Kalau yang aku perhatiin, malah lebih terbuka ke berbagai gaya fotografi. Mungkin pengaruhnya karena dengan adanya media sosial pasca-2010, general audience itu, walaupun mereka nggak belajar fotografi, tapi mereka secara nggak langsung juga lebih visually literate dibanding sebelumnya.
Kalau dulu, kalau ngomongin dokumenter ya, karena terkait dengan praktik aku sendiri yang lebih banyak dokumenter dan portrait. Kalau dulu lebih memang dikuasai oleh traditional documentary, kalau sekarang lebih banyak mix dengan yang lain-lain sebetulnya, karena salah satunya dengan adanya media sosial, jadi kebutuhan foto dan praktiknya juga lebih fluid dan bisa pindah-pindah tuh yang motret: Hari ini motret dokumenter, besoknya mungkin dia ada motret fashion.
[Di meja yang sama, Ng Swan Ti turut merespons dan menambahkan ke dalam obrolan.]
Ng Swan Ti: Aku bisa jump-in nggak? Kalau itu mungkin [perbedaan lainnya adalah] regenerasinya lebih cepat. Jadi dari Fadli ke fotografer lainnya lebih mudah dan lebih cepat, gitu. Jadi eksplorasi visualnya mereka juga lebih kaya karena aksesnya pun lebih gampang. Kalau aku dulu, misalnya, kayak buku foto itu saja harus nitip teman yang luar negeri karena nggak ada buku foto di sini, dan internet belum ada. Ya nggak sih, Fadli? Kalau zaman aku semua kayaknya harus lihat James Nachtwey, kalau sekarang kan banyak nama-nama yang nggak dikenal tapi juga karyanya bagus-bagus banget.
Fadli: Betul, betul, sesuai dengan yang dibilang mbak Swan Ti. Nah, tapi sebetulnya itu kayak jadi ada drawback-nya juga sebetulnya dengan terlalu banyak inspirasi.
Orang sekarang malah lumayan banyak tuh yang bikin, “Oh, kayaknya orang suka style-nya yang kayak gini nih,” dan orang semuanya bikin kayak gitu.

Image via JIPFest
Jadi summary-nya ya, kira-kira, orang jadi lebih visually literate, cuma di saat yang sama medianya declining. Sekarang outlet terbesar justru malah ada di media sosial, dan bahkan media-media besar pun sekarang kayak harus juga memikirkan kontennya di media sosial. Bahkan artikel kayak di New York Times, TIME, mereka tuh juga kalau nugasin orang juga mikir “Eh, entar sekalian ya, kita butuh foto yang kayak gini yang buat nanti di-crop untuk vertikal nih,” gitu. Jadi kadang mikirnya social media-first karena di situ kayaknya buat nge-grab perhatian orang, terus kalau mau baca yang panjang ya baru website atau membeli majalahnya.
Dengan this overwhelming amount of references, bisa malah meracuni our own visions nggak, ya?
Iya, dan itu nggak cuman visual, lho. Bahkan, sekadar berpendapat di media sosial, orang malah belakangan merasa takut untuk menjadi berbeda, gitu. Ketika kalau berbeda bisa diserang juga kan.
Ya… tapi ya, di banyak [hal] ini, nggak cuma dokumenter. Bahkan kalau secara konseptual, kita mulai dulu dari “Kita pengen apa, sih?”
Kalau yang aku pahami, karya tuh harus sangat ke dalam dulu supaya memahami “kamu itu seperti apa orangnya,” baru bisa mengeluarkan apa pun itu.
Ng Swan Ti: Perbincangan orang muda ini. Isu-isu personal.
Fadli: Isu-isu personal?
Ng Swan Ti: Yang lihat ke dalam diri.
Benar, kalau di generasi aku, rasanya karya itu sangat-sangat introspektif, jadi kadang mulainya justru dari dalam dulu.
Fadli: Itu mungkin nggak soal generasi aja ya, tapi kan kecenderungan personal juga, kan. Ketertarikan personal gitu. Kalau aku memang lebih tertarik ke banyak isu di luar sana, tapi bukan berarti itu nggak terkoneksi dengan sisi personalnya—karena memang secara personal, aku tertarik ke banyak-banyak hal. Misal ini, tentang tambang. Jadi kalau dibilang karya yang personal harus selalu mengeksplor self? Nggak, nggak selalu sih. Tapi ketertarikan personal itu-
Ng Swan Ti: Ketertarikan personal, kepedulian, concern.
Fadli: Concern. Kan memang ada yang orang concern-nya memang lebih ke self-nya. Tapi kalau dia concern ke sesuatu yang lain, itu kan berdasarkan dari diri sendiri, gitu lho. Dan kalau menurutku pribadi, dan nggak harus juga orang lain setuju, itu tetap personal juga—karena landasannya personal, kan.

Image via JIPFest
Ng Swan Ti: Kalau eraku dulu—apalagi di sini—orang tuh nggak umum ngomongin diri sendiri. Karena cara dan pola didik, pola asuh, tumbuh kembangnya beda, kali ya? Orang tua kami lebih mengutamakan nama baik, rasa malu, jadi kayak selalu melihat keluar.
Jadi kayak [pemahaman akan] introspeksi diri dan mengetahui emosi-emosi kita itu aja nggak seluas sekarang kesempatannya gitu. Sementara, kalau yang generasi yang lebih muda, pola orang tua dalam mendidik anak juga beda, kan.: Mendidik anak itu mungkin sekarang kayak “Kenapa nak? Kamu tadi gimana di sekolah? Senang apa nggak?” itu kan ditanya. Jadi kesadaran emosional self-nya itu lebih terbangun, gitu. Aku dulu pertama bikin buku foto Illusion (2014) juga kayak aneh, gitu. Kayak, 2018 ngomongin emosi sendiri gitu. Karena kita kan selalu melihat keluar tuh, social documentary yang akhirnya jadi traditional documentary tadi: Melihat kemiskinan, melihat ketimpangan, ketidakadilan, gitu. Nah, kalau sekarang mungkin berbeda, ya. The personal is political itu kayak baru dikenal sekarang-sekarang gitu. Dulu, kebanyakan pasti mulainya dari isu sosial dan human interest kalau kita belajar motret. Nggak melihat dari “rumahku juga menarik ini aku fotoin,” gitu. Nggak melihat dari isu-isu itu gitu, Nggak hanya di Indonesia juga, kemarin di Philippines kita juga ngomongin gitu dengan mentor di sana itu “Kok nggak pada senang keluar ya fotografer, nih?” gitu. Ada hal yang selalu ada aksi–reaksi lah.
Termasuk juga dari referensi bacaan, referensi film, referensi musik, internet, orang kan jadi “Oh, cara mendidik anak seperti ini,” dan akhirnya kan anak juga tumbuh berbeda. Kalau kita dulu emosi-emosi itu nggak di-acknowledge dan disampaikan, “Halah, gitu aja.” Kalau sebenarnya dulu dianggap lebay kali, gitu kan, “Ih, cowo nangis,” kalau sekarang kan omongan itu mungkin nggak sekuat dulu, gitu.
Fadli: Dan orang secara juga menjadi lebih terbuka dalam menerima isu-isu itu. Contoh karya-karya mbak Swan soal mental health, dan memang juga relevan dengan zamannya, kan.
Tapi bersamaan dengan itu, AI (dan generative AI) semakin terlihat menyusupi kehidupan sehari-hari, bahkan sampai ‘menipu’ warga biasa yang mungkin belum memahami bahaya-bahayanya AI. Bagaimana cara Anda melihat fenomena ini dalam kacamata fotografer?
Fadli: Kalau dari fotografi, yang jadi concern sebenarnya terkait dengan belum adanya regulasi yang pas untuk mengatur bagaimana perusahaan-perusahaan teknologi ini, karena dia sebenarnya kan mengambil data dari miliaran foto yang sudah ada, terus kemudian untuk melatih si model itu. Jadi, ada pelanggaran yang sudah terjadi—dan sudah berlangsung lama sebetulnya ya—tapi mereka karena belum di-regulate dengan benar gitu, lho. Akhirnya, mereka mengambil keuntungan dari ini.
Kemudian juga soal bagaimana generative AI bisa digunakan untuk berbagai keperluan yang nggak selalu baik juga, kan?
Terus kemudian [mengenai adanya kepentingan untuk] menekan biaya produksi, tapi itu nggak berarti fotografi akan mati—justru malah menurutku, value fotografi malah bisa jadi lebih tinggi, gitu lho. Di saat semakin banyak yang menggunakan AI, menurutku akan sampai masanya [itu semua] balik lagi: Kayak, dari digital, terus orang mulai appreciate analog lagi.

Image via JIPFest
Tapi memang ada ancaman di situ, dan menurutku AI itu sangat problematik ya, mulai tadi bagaimana dia nge-draw data dari foto-foto yang ada dan tanpa izin, terus juga bagaimana kemudian sekarang juga dampak lingkungannya juga sangat besar. Bagaimana data center-data center di Amerika Serikat sudah mulai jadi masalah terutama bagaimana data center itu mulai ada di dekat-dekat pemukiman, dan itu menggunakan energi dan air yang sangat banyak. Dan menurutku, [masalah] AI ini nggak cuma di fotografi, tapi di semua!
Aku tuh baru nonton si Yanis Varoufakis, mantan Menteri Keuangan Yunani itu, tentang gimana sekarang tuh ada shifting sebenarnya dari kapitalisme, kemudian sekarang jadi kayak feodalisme. Term yang menarik sih, menurutku, buat menggambarkan bagaimana sebenarnya bukan feodalisme yang lama, tapi ini adalah bentuk yang lebih advanced lagi. Kalau virus, kayak dia bilang, ini sudah bermutasi! Yang kalau dulu virusnya cuma kapitalisme, tapi dengan banyaknya ini ya dia lebih ganas gitu loh.
Jadi bukan dengan adanya teknologi orang jadi akan lebih bebas dan lebih sejahtera tapi malah, kayaknya-
Makin dikontrol.
Fadli: Ya! Makin dikontrol, gitu. Mulai dari soal algoritma, bagaimana itu mengarahkan kecenderungan orang mau ke mana-mana aja, kan? Gila, sih!
Lantas, bagaimana menurut Anda caranya fotografer bisa mempertahankan ketajamannya di tengah proliferasi AI?
Salah satunya adalah dengan menyadari. Sebagai fotografer—nggak cuma sebagai fotografer ya, sebagai manusia sebelum sebagai fotografer, memang kita di zaman kayak gini, kita lebih butuh wawasan lebih banyak sebetulnya, tentang apa saja, dibanding zaman sebelumnya—bahkan, tadinya kan nggak terpikirkan, dengan era yang semakin maju, kita malah berharap kita bisa lebih nyaman, tapi justru kok yang terjadi malah sebaliknya?
Apa harapan Anda untuk scene fotografi di Indonesia di masa depan?
Kalau aku sendiri sih berharap lebih banyak yang berkarya aja, sih.
Ke depan, fotografi itu memang harus selalu disertai dengan yang lain juga, sih. Prinsip kolaborasi dengan ini yang lain, jadi makin penting lho sekarang. Karena dengan kolaborasi, channel-nya lebih lagi kan.
Membuka kesempatan dan memanfaatkan platform yang mungkin sekarang belum ada, jadi nggak terpaku harus pameran, terpaku pada media cetak, dengan media sosial.
Ng Swan Ti: Kalau aku melihat progress, kayak, kalau dulu kita selalu melihat referensi buku-buku foto itu selalu ke Barat. Di Pannafoto, dalam sekian tahun itu, udah dilihat website-nya Fadli, Rony Zakaria, orang kayak ingin melihat dan ketemu Meidiana Tahir, misalnya.
Misal, kita interview [yang mau masuk Pannafoto], dan jawabannya: “Karena lihat karya alumni-alumninya, kok bisa sih mereka menghasilkan karya seperti ini?” Capaian-capaian seperti itu mungkin, kalau aku boleh berharap, bisa lebih banyak gitu. Positioning-nya fotografer Indonesia di luar Indonesia itu lebih kuat.
Kalau di dalam negeri, aku sendiri berharap ada peran fotografer yang lebih kuat dalam mendukung dan menggerakkan perubahan, dalam menginisiasi campaign sesuatu, lebih bersolidaritas, lebih bersuara. Nggak harus yang besar, ya. Apalagi di tengah suasana kita yang juga tidak baik-baik saja.



