
Dari Album Baru Danilla, Kita Bisa Merasakan Kemuakan Tentang Bagaimana Ranah Digital Menyeragamkan Selera Kita
Dalam submisi Open Column ini, S. Pramudita membaca album terbaru Danilla, Candramawa, lewat kacamata yang lelah menyaksikan pola konsumsi digital yang kian menumpulkan kisah dalam rilisan musik, ekspresi yang dikecilkan oleh metrik kuantitatif, hingga bagaimana algoritma justru menyeragamkan selera kita.
Words by Whiteboardjournal
Ketika Danilla Riyadi merilis album Candramawa pada 5 Juni 2026, industri musik Indonesia sedang berada di kebingungan estetika. Musik dikompresi menjadi latensialisasi algoritma, potongan audio 15 detik demi konten atau penenang tidur. Di ekosistem yang serba permukaan ini, Candramawa hadir membawa delapan trek lagu.
Album ini sedikit banyak menyiratkan pergulatan batin musisi yang tercekik oleh dikotomi antara seniman murni dan tuntutan sebagai Key Opinion Leader (KOL). Kemunculannya menguji kebanalan media, membersamai konsumerisme, serta alienasi seni di bawah tirani algoritma. Seberapa banyak ulasan mendalam tentang upaya Danilla menjaga musicianship lewat keluhan, kompleksitas aransemen, dan rasa sekarat akibat masa jaya yang perlahan habis?
Lagu “Pertunjukkan Terakhir” representasi rasa sekarat itu hadir secara denotatif. “Isak tangismu menghiasi hari terakhirku,” tulis Danilla. “Wajah sembapmu, menghantarkan hari terakhirku,” lanjutnya. Rasa sekarat ini ia tutup dengan, “kenanglah aku”. Apakah Danilla merasa dirinya sudah cukup? Atau kelelahan?
Rasa lelah bergulat di top chart ini rasanya menggambarkan bagaimana pergulatan kelas terjadi di industri musik. Gagasan seniman dalam kapitalisme tak lepas dari reifikasi. Marx (Richard Marx) menegaskan bahwa di bawah sistem kapitalistik, karya cipta teralienasi menjadi sekadar komoditas yang dinilai dari harga tukar. Danilla mengalami krisis ini dalam dua album terakhirnya. Pada era Pop Seblay (2022), terasa sikap acuh tak acuh Danilla sebagai figur publik yang humoris. Tercecap rasa kesal Danilla di album ini terhadap penikmat album Telisik (2014). Ia terdengar teralienasi dari karyanya akibat disonansi antara musisi bebas dan persona pemuas ekspektasi masyarakat digital.
Pergulatan Danilla mencapai puncak kontemplatifnya di Candramawa. Judulnya memancarkan dualitas hitam-putih. Lagu “Pertunjukan Terakhir” dan “Anaking” mengartikulasikan kelelahan menjaga perilaku performatif. Namun, keraguan untuk tetap bertahan ikut pasar juga muncul kok di lagu “Kata Siapa” yang bercerita tentang perselingkuhan, atau lagu “Cinta Pertama”. Jadi, kebingungan dan keraguan Danilla cukup terlihat di sini, bukan? Kebingungan arah yang berkelanjutan ini sangat manusiawi, kok. Makhluk hidup yang tidak bisa beradaptasi, akan punah. Berat memang beradaptasi di ekosistem yang tidak alami dan jauh dari berkelanjutan ini.
Menukil Max Weber melalui konsep Entzauberung menjelaskan bagaimana rasionalisasi modern merampas nilai sakral kehidupan. Proses bermusik Danilla yang dahulu katarsis emosional kini terdegradasi oleh rasionalitas efisiensi, oleh jumlah streams, engagement, dan impresi. Danilla kini menjadi merek dagang tempat banyak orang menggantungkan hidup. Tragis? Mungkin, tapi ini hal tentu sudah (dan akan) dilalui semua musisi top tier. Harga tawar semakin turun seiring dengan kulit yang tak lagi kencang, rambut yang memutih, ide yang tak lagi segar, dan kecerdasan emosional yang semakin menurun.
Di tengah muatan psikologis di dalam Candramawa, beberapa media musik lokal terkini justru mempertontonkan kepailitan intelektual. Apakah baru kali ini? Tentu tidak. Dahulu musik televisi, kini podcast-podcast bayaran milik figur publik di lingkaran rezim dan video singkat pertanyaan trivial ecek-ecek, “Sebutkan 3 musisi favoritmu, sebutkan 3 album favoritmu, sebutkan 3 lagu lokal terbaik.” Media bertindak sebagai agen humas kapitalisme hiburan. Keluar cengkraman harimau, masuk rahang buaya. Hey, tapi berat jadi media musik in this economy! Ya memang. Itu pilihanmu. Namun, jelas media ikut andil dalam pendisiplinan selera. Nanti kita bahas mengenai pendisiplinan selera. Kita ke Gramsci dulu.
Antonio Gramsci dalam teori Hegemoni Budaya menjelaskan bahwa kelas penguasa mempertahankan dominasi melalui kesadaran budaya. Media “manis manja” ini menjinakkan daya kritis pendengar dan mengubah apresiasi seni menjadi daftar belanjaan. Ya, memang modus operandi ini nampaknya ini akan berlangsung lama ke depan, karena kita menikmatinya.
Ketika media mengabaikan depresi struktural musisi independen sebagai pekerja, mereka melanggengkan Culture Industry dari Theodor Adorno dan Max Horkheimer, serta Manufacturing Consent dari Noam Chomsky dan Edward S. Herman. Pembaca tidak diajak berpikir, melainkan diarahkan menjadi konsumen yang patuh. Ditambah sengkarut ekonomi dan kebijakan tengik, kita memang diarahkan menjadi tumpul. Toh di desa tidak pakai Dollar, kupas bawang pun berupah 700 ribu bukan? Ehem.
Pola konsumsi digital pun meruntuhkan konsep album sebagai grand narrative. Musisi mulai malas membuat album, karena tak sepadan antara hasil dan upaya. Pendengar dijejali “hidangan cepat saji” hingga mengalami “obesitas” yang sukar diobati dengan padel (sejenis olahraga kelas menengah yang bukan bulutangkis) seminggu tiga kali pun. Jürgen Habermas memperingatkan bahaya Kolonisasi Lifeworld oleh System, di mana ekspresi murni Candramawa dikolonisasi oleh metrik kuantitatif. Michel Foucault melengkapinya melalui konsep Panoptikon Digital, di mana algoritma mendisiplinkan selera kita. Lucu, bukan? Pendisiplinan selera. Selera ini didisiplinkan bagi kita, sedangkan banyak pejabat berselera Bottega Veneta, Hermes, Louis Vuitton, atau apalah itu. Pemilik podcast terkenal pun koleksi moge (motor gede), apalah Scoopy dan Vario-mu itu.
Kembali lagi. Candramawa berada di persimpangan tragis, jeritan organik manusia yang memproses trauma, tetapi langsung diserap logika kalkulatif begitu diunggah. Keheningan yang diusahakan Danilla berisiko menjadi ampas kelelahan. Album ini adalah cermin retak kebudayaan hari ini. Belum sempat menyentuh fikir pendengar, ketika beberapa hari kemudian muncul single baru dari artis lain yang lebih nyantol di telinga ‘konsumen’, suara lirih Danilla di Candramawa bergema pudar digulung ombak algoritma. Kenapa bahas Candramawa? Karena, bisa jadi album menawan ini akan luput dari radar AMI (Anugerah Musik Indonesia) yang pialanya diburu musisi seantero negeri bak naik haji, atau ya karena iseng saja. Yah, inilah resensi bitter yang terlalu panjang, untuk hidup yang terlalu pendek. Semoga pembacanya bisa merenung sedetik ketika menutup laman ini, dan kembali scrolling, scrolling, scrolling menikmati plasebo untuk penyakit yang kronis.




