Music

20.09.17

Seni dan Bebunyi bersama Duto Hardono

Duto Hardono adalah salah satu seniman dan juga edukator berbasis di Bandung yang mengeksplorasi sound dan waktu dalam berkarya. Whiteboard Journal menemuinya di rumah sekaligus studio untuk membahas looping study, silence sebagai sound hingga eksperimentasi seni.

15.09.17

Gimme 5: Adhyatmika

Adhyatmika alias Mika adalah lokal yang telah menghasilkan beberapa film pendek, salah satunya adalah "Masih Belajar." Film ini menjadi salah satu dari enam pemenang kompetisi tahunan Democracy Video Challenge (DVC), di Amerika Serikat pada 2010. Terlepas dari kecintaannya terhadap film; baik membuat maupun menonton, musik menjadi hal kedua yang ia nikmati, terutama The Beatles. Cek 5 lagu The Beatles pilihannya pada episode Gimme 5 kali ini! Pada tahun 1966, generasi Bunga belumlah dimulai, dan generasi baru mencoba-coba marijuana. John Lennon dan Paul McCartney bertaruh untuk membuat lagu dengan komposisi sekompleks mungkin dengan seminim mungkin. Paul menulis Paperback Writer, John menulis lagu ini, Rain. Inovasi The Beatles dimulai dari era ini, eksperimentasi teknik perekaman, pengunaan efek hingga penggunakan video sebagai media promosi 20 tahun sebelum MTV lahir! Musisi britpop berutang budi pada lagu ini. Selipkan Rain di yang berisi "Live Forever," "High and Dry," atau "Bittersweet Symphony," Anda tidak akan menyangka Rain berumur 30 tahun lebih tua. Kegemaran Liam Gallagher menyanyikan lirik bisa jadi dimulai karena lagu ini. Dan, tolong, dengarkan suara bass-nya. Menggangap Paul Mccartney hanya seorang penulis lagu cengeng adalah sebuah penghinaan yang hakiki. Oh ya, Ringo memilih Rain sebagai permainan drum terbaiknya! Proto-punk, proto-grunge, sebelum proto-proto lainnya, The Beatles menaikan volume amplifier ke angka 11 dan menghasilkan bunyi distorsi yang lazim kita dengar di skena Seattle tahun 90-an, bahkan Dave Grohl sendiri pernah lagu ini. Band yang lebih medioker mungkin akan mencari ketenaran dengan model lagu seperti ini, tapi bagi The Beatles, Hey Bulldog hanyalah iseng di studio. John iseng memainkan riff di piano, Paul iseng mengguguk ketika sesi rekaman, dan George iseng mengotak-atik untuk menghasilkan distorsi gitar yang menjadi pondasi bagi banyak genre musik di kemudian hari. Mungkin itu sisi terbaik tentang lagu ini, dan mungkin juga tentang perjalanan The Beatles secara keseluruhan. Eksperimentasi. Untuk apa membuat sesuatu yang sudah pernah kita buat sebelumnya? The Beatles mulai beranjak tua, merefleksikan ketenaran dan mencari arti kehidupan. Mereka muak menjadi yang menyanyikan lagu-lagu cinta dan mulai menulis lirik dengan tema serius. John, khususnya, mulai gelisah dengan arti hidup. Melankolis. Pergulatan batin John tercermin di lagu “Nowhere Man” atau “In My Life,” di mana John mencoba menemukan kembali akar masa kecilnya di Liverpool, dan di Norwegian Wood, yang mungkin adalah lagu tentang perselingkuhan paling manis yang pernah diciptakan. Haruki Murakami menulis sebuah novel yang terinspirasi lagu ini dan menangkap esensi melankolia dengan sempurna. Norwegian Wood mengingatkan Anda pada gengaman tangan seorang wanita disuatu sudut kenangan yang mungkin tak akan pernah anda kunjungi lagi. Seperti rindu, John Lennon menuliskannya dengan sempurna, Sering terdengar di acara reuni orang tua sampai anak SMA yang baru belajar bermain gitar. yang membuat berdansa, lirik tentang menggoda wanita, keriaan masa muda, apa lagi yang Anda cari? Pattie Boyd pastilah seorang wanita yang cantik jelita. Dua gitaris terhebat sepanjang masa mencoba merebut hatinya dengan menulis dua lagu paling romantis dalam sejarah musik rock. Eric Clapton menulis "Wonderful Tonight' dan George Harrison menulis “Something.” George pertama kali bertemu Pattie di lokasi film “A Hard Days Night,” romansa terpercik di antara mereka, dan pada tahun 1966 mereka menikah. Tahun 1977 mereka memutuskan untuk bercerai, dan dua tahun kemudian, Eric Clapton, sahabat baik George, menikah dengan Pattie. George si pendiam adalah sebuah enigma. Entah apa yang dirasa ketika sahabatnya menikahi mantan istri yang juga dewi inspirasinya. Tapi setidaknya Frank Sinatra, yang sering mengira lagu ini ditulis oleh Lennon - McCartney, mempunyai definisi sempurna tentang lagu ini,

13.09.17

Musik dan Rasa bersama Eros Djarot

Musik di balik film Badai Pasti Berlalu merupakan karya Eros Djarot yang monumental dan masih dipuja hingga hari ini. Berbekal kenekatan dan rasa, ia berhasil membuat musik yang mampu bercerita dengan sendirinya. Kami menemuinya di rumahnya untuk membahas originalitas di blantika musik lokal dan pesta disko berisi lagu Indonesia.

11.09.17

Oscar Lolang dan Folk Americana

Mendengarkan ode dan kegelisahan Oscar Lolang yang ia nyanyikan di album pertamanya. Sembari memahami pandangannya mengenai folk lokal, hingga keinginannya berkolaborasi dengan Vira Talisa.

08.09.17

Gimme 5: KZA

Ikuzumi Kitazawa atau lebih dikenal dengan nama panggungnya sebagai KZA adalah seorang DJ asal Jepang yang tergabung dengan unit Force of Nature bersama DJ Kent. Pada episode Gimme 5 kali ini, kami menemuinya di Mondo by the Rooftop untuk menanyakan lima lagu terbaik di tahun 2017 versinya. Sebenarnya, sebelum menemukan lagu inipun sudah tertarik untuk mendalami musik R&B, namun entah kenapa baru pada saat musim panas tahun inilah kemudian saya banyak mendengarkan lagu-lagu R&B yang berpotensi. Kemudian setelah itu baru mulailah mencari tahu lagu-lagu lainnya. Kurang lebih jawabannya mirip dengan alasan untuk lagu pertama (tertawa). Sebenarnya lagu ini pertama kali keluar di tahun 80-an dan di re-edit tahun 2017. Saya mendapatkannya pun lewat email promosi dan langsung menyukainya. Lagu inipun sebenarnya adalah Saya menyukai lagu ini karena terdengar atau terasa seperti memiliki dan rasanya cocok untuk anak muda zaman sekarang yang kebanyakan sangat melankolis dan mendayu-dayu. Saya tahu lagu ini karena sempat menjadi jawara di antara semua musik-musik Balearic lainnya. Biasanya musik-musik Balearic cenderung sangat tetapi tidak untuk lagu ini. Menurut saya lagu ini sangat pas dan karena itu saya menyukainya. Lagu ini sangat saya rekomendasikan untuk didengarkan di tahun 2017. Karena terdengar and sehingga terkesan bahaya. Saya pribadi sangat suka lagu ini. Saksikan penampilan DJ KZA di Never Too Disco 3rd Anniversary! - 8 September 2017 21:00 the SAFEHOUSE KZA (Force Of Nature/JP) Gerhan Omar Belda

01.09.17

Gimme 5: Merdi Simanjuntak

Tidak banyak yang tahu kalau DJ yang tergabung dalam Diskoria ini memiliki referensi musik lebih luas dari disko. Sempat tergabung dalam Whoopdemfunk dan band pop Sweaters dan sekarang menjadi bagian dari PTT Family membuat dirinya terpapar ragam genre musik. Berdasarkan hal tersebut, kami menanyakan lima lagu terbaik versinya, di Gimme 5 kali ini. Pertama kali dengar ini di Prins Thomas di Blowfish sekitar tahun 2010. ini muncul setelah Thomas menghipnotis satu dengan instrumental tanpa selama 4-5 menit di jam-jam setelah . sudah penuh, ada yang sudah dan malah dikasih lagu tanpa , saat itu lumayan sih (tertawa). Begitu drum lagu ini masuk, semua orang langsung mulai joget lagi, termasuk saya tentunya. Saya sampai kirim Facebook berkali-kali ke Thomas untuk menanyakan ini, karena tahun itu belum ada Shazam (tertawa) sampai akhirnya berhasil dapat lagu dan piringan hitamnya. Baru setelah saya dapat ini, Thomas akhirnya membalas DM () saya dan bilang saat itu dia belum mau judulnya karena masih berstatus Pertama kali dengar ini juga di set Prins Thomas Blowfish tahun 2010, ini salah satu yang berhasil 'nyangkut' dan setiap dengar -nya masuk langsung bikin ingin joget. Jadi lumayan sering saya mainkan kalau lagi mengisi disco/house. Sebenarnya saya tidak terlalu suka Bag Raiders, tapi pas dengar lagu ini pertama kali dimainkan kalau tidak salah di Love Garage tahun 2012, saya ingat langsung joget dan pulang-pulang langsung cari ini saking sukanya. Apa yang saya suka dari ini mungkin karena sangat dan ada mistisnya sedikit - mungkin dari perkusi yang mirip gamelan dan suara suling -nya di tengah-tengah lagu. Tapi ya itu tadi, berhasil membuat saya joget-joget. Satu yang agak beda dengan sebelumnya, karena lebih lebih mengarah ke ; sub-genre yang sebenarnya jarang saya kulik. Tapi ya gitu, buat saya musik bagus ya musik bagus saja, apapun genre dan batasan lainnya. Saya pertama dengar ini di salah satu di Potato Head Garage, kalau tidak salah Dipha Barus yang memutar. Kebetulan saya kerja di sana dari awal buka sampai akhirnya tutup, jadi lumayan bermacam musik di luar zona aman saya (tertawa). Saya tanya ke dia ini lagu remix siapa dan ya itu, begitu dapat, langsung saya cari -nya karena ini berhasil bikin saya joget tiap mendengarnya. Satu Indonesia yang emang selalu ingin saya mainkan di DJ pas pertama kali dengar, karena dan juga Liriknya juga khas musik Indonesia zaman itu, puitis dan banyak menggunakan kosakata yang tidak biasa. Lumayan bisa bikin orang joget juga sih kalo dipasang sama Diskoria (tertawa), apalagi teman kami; Munir dari Midnight Runners bikin versi -nya yang jadi lebih - Dengarkan Merdi bersama Diskoria di sini.

Load More Articles whiteboardjornal, search

Subscribe to the Whiteboard Journal newsletter

Good stuff coming to your inbox, for once.