Originally came from Nigeria, Afrikan Boy is one of UK’s emerging and independent artist that has been consistently working in the music industry for more than 10 years. Through his music, he’s able to speak up about his personal life up to social issues. During Archipelago Festival, we had the opportunity to chat with him about his creative inspirations, grime music, and the role of the internet in the success of his career.
Archipelago Festival memupuk sebuah harapan dan semangat baru bagi para penggiat musik hari ini agar bisa saling mendukung dan melahirkan buah-buah ide segar.
Selain aktif dan tergabung di sebuah kolektif muda yang banyak menginisiasi acara-acara kreatif khususnya di bidang musik, yakni Studiorama, Madrim juga aktif menghadiri berbagai macam festival dan acara musik internasional untuk memperkaya wawasannya. Untuk itu, pada episode Gimme 5 kali ini, kami menanyakan 5 acara musik terbaik yang pernah ia hadiri.
Saya ingat sekali momen ketika Damon Albarn meneriakkan “We love London!” saat konser reuni Blur di Hyde Park, 8 tahun lalu. Konser ini diramaikan 60.000 orang yang bernyanyi bersama pada tiap lagu sembari menari dan berteriak antusias. Tentu sangat bagi saya. Tapi ada 1 lagu, yaitu “Park Life” yang membuat mata beberapa orang sembab (mungkin karena lokasinya di Hyde Park?) dan bagi saya lagu tersebut memiliki kesan berarti karena saya ingat ada seorang laki-laki melempar botol plastik bau pesing ke kepala saya (tertawa).
Trish Keenan adalah idola saya sejak masa kuliah hingga hari ini. Saya menyukainya karena karyanya menemani saya saat mengalami depresi. Saya bersyukur bisa melihat penampilannya langsung sebelum ia meninggal. Broadcast akan selalu memiliki tempat spesial di memori saya, RIP Trish.
Ini merupakan berdurasi 3 hari terbaik yang pernah saya datangi. Belle & Sebastian, Joanna Newsom, Hawkwind, Os Mutantes dan The Besnard Lakes adalah penampil terbaik menurut saya kala itu. Saya tidak akan pernah lupa bagaimana indahnya pemandangan di dekat Meredith Amphitheatre, sebuah bukit terpencil yang terlihat seperti sebuah taman batu romantis. Benar apa yang dibilang oleh para warga lokal di sana,
(tertawa). Tempat festival ini cukup karena mereka menggunakan besar yang dimodifikasi menjadi sebuah area bermain khusus untuk orang dewasa. Saya ingat saat itu suasananya berantakan, panas, dan pengap seperti yang saya perkirakan karena, ya, ini adalah acara All Tomorrow's Parties (tertawa). Untuk mengerti maksud saya, mungkin bisa cek dokumenternya. Saya merasa waktu melambat ketika menonton SWANS, My Bloody Valentine, Einsturzende Neubauten, Sleepy Sun, Pere Ubu, GodSpeed You! Black Emperor dan setelah saya menangis bahagia.
Sebenarnya ada beberapa momen seru di periode 2014 sampai 2016, tapi karena saya hanya bisa menulis 5 penampilan musik terbaik, saya memilih festival terakhir yang saya hadiri tahun ini, yaitu Field Day Festival di London Timur. Festival ini layaknya representasi masa kini dengan nuansa 90-an yang kental. Beberapa penampilan musik di festival ini yang akan selalu saya ingat adalah Aphex Twin, Slowdive, Flying Lotus, Death Grips, Jon Hopkins, Nicolas Jaar, Ikonika, Moderat dan Silver Apples. Selain itu, festival ini menjadi semacan nostalgia saya akan masa-masa di London saat saya kuliah di sana. Rasanya seperti pulang kembali ke rumah.
To enrich our readers’ music reference (laugh), we asked Dreems - the eccentric DJ with mind-bending music - about his top 5 most-listened songs. This man is on a mission to free everyone from the divisive shackles of flags and tongues. We added “why” into the question, but apparently he got to run to somewhere else. So here you go, 5 current favs on his rotation outside of the disco. But before that, keep what he said in mind, "Whatever your culture, sex, or species, there is a place in your heart for light, sound, and dance, and that is where I will make my home.”
Find out how those 5 songs influence or inspire his mix and see him live at Dekadenz this Saturday at FJ on 7!
Sulit tidak menyebut nama Prabu Pramayougha saat membicarakan pop punk lokal. Melalui salah satu bandnya, Saturday Night Karaoke, ia menunjukkan bagaimana pop punk harusnya dimainkan: dengan penuh senang-senang. Beberapa waktu lalu, Saturday Night Karaoke memutuskan untuk menempatkan akhiran di perjalanannya, sebuah penutup yang manis setelah sejumlah album menawan, serta tur impian ke Jepang. Pada edisi Gimme 5 ini, kami mengundang Prabu untuk memilih lima lagu dari salah satu ikon pop punk, Descendents.
Album "Milo Goes To College (MGTC)" emang rilisan yang paling bagus dari mereka menurut saya. Salah satu elemen di album ini adalah permainan bass dari Tony Lombardo (bassist pertama Descendents) yang super melodik (bahkan lebih nge- daripada gitarnya) dan hampir semua lagu di album ini diisi sama kelas wahid dari dia. Lagu ini contohnya. Semua personil seperti menghantam langsung karakter unik masing-masing instrumennya termasuk lirik kesal-tapi-sebenarnya-galau dari Bill Stevenson pas masih remaja di lagu ini sangat mematenkan posisi Descendents sebagai band punk yang (Cupu di bahasa Sunda) pada zamannya
Di album "I Don`t Wanna Grow Up," mereka mulai main lebih nge-pop dibanding album MGTC plus keluarnya gitaris Frank Navetta - yang biasanya menulis dan main lagunya yang mulu - dari Descendents & masuknya Ray Cooper berpengaruh juga dalam musikalitas di album ini. Sebenarnya banyak kandidat lagu-lagu nge-pop di album ini, tapi "Christmas Vacation" benar-benar jadi pondasi awal lagu-lagu mid-tempo dengan progresi gitar yang agak miring tapi tetap nggak tuh!
Album dengan materi edan dari mereka. Edan dalam artian beneran gila. Thrash, pop punk sampai experimental ada di satu album ini. Ada satu "lagu" isinya kentut semua. Di sini mereka mulai bikin lagu lebih humoris - yang sebenernya kebanyakan - dan malahan beberapa lagu yang makin nge-pop juga, seperti "Sour Grapes" atau "Get the Time," bahkan ada Beach Boys terselip satu buah. Tapi ya lagu ini sih yang paling berkesan. Gitar ke mana, bass ke mana, drum ke mana tapi tetap bagus!
Album "ALL" kalo didengerin pas ALL (band setelah Descendents bubar di 1987, cuma ganti vokalis ) formasi awal pas Dave Smalley jadi vokalis rilis album "Allroy For Prez" malah terdengar jadi albumnya ALL. Masuknya Karl dengan Stephen banget ke musik Descendents yang sebelumnya agak sederhana, jadi tidak sederhana. gitar yang dan naik turun ke kunci mana mulai keliatan di album ini. Tapi ada 2 lagu yang berkesan buat saya, "Coolidge" dan "Pep Talk." Dua lagu itu masih ngasih kesan kalo Descendents masih band yang sama, yang masih ngepop. Cuma secara lirik & komposisi, "Coolidge" ini paling nempel. Kalo kamu pas sekolah ngerasa dijauhin karena jadi diri sendiri, (dan menurut orang-orang itu nggak banget) lagu ini buat kamu.
Akhirnya Descendents masuk label juga di tahun 1996. Epitaph rilis album "Everything Sucks" yang sekaligus jadi momen reuni mereka setelah bubar sebelumnya. Materi di album ini mulai lebih "megah" secara komposisi juga lebih tenang dibanding "Enjoy" atau "ALL." Lagu "Sick-O-Me" ini malah bikin kangen lagu-lagu mereka di album-album sebelumnya. Cepat, nge-pop dan tentunya progresi yang agak : di album ini juga vokal Milo yang paling enak selama dia main di Descendents