Di mana Dekolonisasi Biennale Jogja?
Dalam submisi Open Column ini, Febrian Adinata Hasibuan mendedah bagaimana perspektif dekolonisasi dalam Biennale Jogja 18 menimbulkan lebih banyak tanya—yang banyak diberatkan kepada tata kelola pameran.
Dalam submisi Open Column ini, Febrian Adinata Hasibuan mendedah bagaimana perspektif dekolonisasi dalam Biennale Jogja 18 menimbulkan lebih banyak tanya—yang banyak diberatkan kepada tata kelola pameran.
Amidst his committed schedule for Museum MACAN, we met Olafur Eliasson to talk about his immediate view of Indonesian’s local and colonial history, art and sustainability, and artwashing.
We sat down with Banu Mushtaq during Ubud Writers & Readers Festival 2025, exploring her award winning book, Heart Lamp: Short Stories, and how solidarity can be one of the hopeful movement in tackling patriarchy.
We have Precious Bloom, Diskoria, and Thee Marloes to chat with L’Impératice, talking about how films have been their DNA, their connection with the French language, and music inspirations with questions we gathered from three Indonesian disco and soul units.
Dalam liputan yang didukung oleh Pulitzer Center ini, Antonia Timmerman dan Rio Tuasikal mengupas bagaimana AI generatif berat kaitannya dalam membuat kita tumpul akan kekaryaan.
Mengunjungi Biennale Jogja 18, Ibrahim Soetomo menyadari bagaimana tema besar acara biannual ini, Kawruh, yang berarti ‘pengetahuan sebagai akumulasi pengalaman yang menjadi kebijaksanaan,’ bisa saja luput dari fokus kuratorial.