In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
Pada submisi open columnya, Ikrar Raksaperdana menyoal tentang konsepsi ruang di era sekarang. Tentang bagaimana terjadi pergeseran fungsi di dalamnya dari waktu ke waktu, dan bagaimana dinamika sosial yang terjadi di dalamnya juga turut berubah.
In her open column submission, Livina Veneralda share her view regarding the psychology behind the term, introvert and extrovert and how this kind of dichotomy affects human personality and its relation to other person.
Melalui submisi open column, Muhammad Rahaddis Adiyoga menangkap resah hati dan ketakutan dari pengungsi Rohingya dalam gambar dan tulisan. Ia bercerita mengenai kronologi dan masalah yang dihadapi oleh para pengungsi di bawah kuasa peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi.
In his open column submission, Aufa Ahdan mainly talks about how he sees stand up comedy as a self-heckling medium, or so-called comedic sociology, and relates it to the current divisive nature of (some) Indonesian people.
Melalui submisi open column, Noor Adha menuliskan kegelisahannya mengenai pola pikir yang tak jarang menyederhanakan realita dalam dua warna saja: hitam dan putih, serta bagaimana pola pikir seperti ini bisa menimbulkan masalah pada lingkungan sosial yang penuh warna. Tentang kita yang tak jarang merendahkan orang lain sembari merasa paling benar.
In her open column submission, Fulca Veda highlights how the culture of boundaries have change for centuries. Through one of the most popular poem in modern literature, she tried to connect Robert Frost’ “Mending Wall” to understand the increasing chants of building walls by world leaders.