In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
Dalam submisi Open Column ini, Fatia Maulidiyanti menyingkap bagaimana aspirasi, inspirasi, dan psikis rakyat semakin diberangus jika sejarah ditulis ulang secara sepihak.
In today’s Open Column submission, Sheilla Njoto pulls down the veil behind the overly euphemised—yet vague—sheen of AI to reveal yet another increasingly insidious by-product of AI in today’s field of human work.
Dalam submisi Open Column kali ini, Iqbal Ramadhan, salah satu korban yang ditangkap dan disiksa saat demo #IndonesiaDarurat 22 Agustus 2024 lalu, menuliskan memoir dari momen ia dibawa sang ibu ke halaman Gedung DPR/MPR saat runtuhnya Orde Baru, hingga memori mengalirnya darah segar dari hidungnya di hadapan tawa para penegak hukum.
In this Open Column submission, Kenny Andriana comments (as a man himself) on how fiction works could actually help readers (and specifically, men) to be more in touch with their emotions and therefore empathize as human beings—more so in the growing epidemic of male loneliness.
Dalam submisi Open Column ini, Aldhi Franciscus, dalam perjalanannya menempuh gelar pascasarjana di Fakultas Hukum, menyingkap ketidaksinambungan antara hukum di lapangan dan Hukum di ruang pendidikan.
In this Open Column submission, Gitasya Ananda Murti uncovered an unspoken nuance from the death of Pope Francis, one that has been ingrained within ourselves in the age where performance is much celebrated than presence.