In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
[Tulisan ini mengandung spoiler] Pada submisi column kali ini, Sarah Monica mengutarakan argumen tentang betapa pentingnya film populer layar lebar bertema seni yang dieksekusi dengan baik sebagai pemantik sekaligus keberlangsungan diskursus seni rupa Indonesia.
Pada submisi column kali ini, Oki Mardai menelusuri alasan yang menjerumuskan dirinya dan banyak orang ke dalam jurang konsumerisme hingga depresi, meskipun hidup kian mudah dan dimanjakan teknologi modern.
Pada submisi column kali ini, Muhammad Rizki Ardhana melihat fenomena percintaan modern yang sering kali kandas dalam usia singkat, bahkan beberapa di antaranya belum sampai tahap "resmi" berhubungan. Selain pengaruh teknologi, menurutnya hal tersebut dapat diamati dari bagaimana cinta menjadi hiperrealitas dalam kehidupan masyarakat modern.
Pada submisi column kali ini, Adella Putri berargumen bahwa pernikahan merupakan norma sosial yang usang dan bagaimana kita dapat menyikapinya secara bijak, dengan tidak menjadikan hal tersebut sebagai tahap kehidupan yang wajib ditempuh setiap orang.
Pada submisi column kali ini, Hamima Nur Hanifah menuliskan secara personal bagaimana menjalani hidup sebagai penyintas kekerasan seksual dan bagaimana caranya menghadapi "hantu" yang terus menggentayanginya sejak peristiwa tersebut.
In this open column submission, Era Yusnita Febriyanti deciphers the underlying causes of the Javanese tradition's grasp on so many young people's lavish weddings, despite their desire for a simple one.