In this Open Column submission, Sheilla Njoto invites us to consider one thing in the pursuit that is modern love: Are we dating, or are we just self-marketing?
In this Open Column submission, Tri Subarkah took a look back and collected the memories from his childhood, which happened to have witnessed May 1998 and the wake of Reformasi, and juxtaposed said recollections to how things are standing today and forwards.
Dalam submisi Open Column kali ini, Adinan Rizfauzi menantang ide 'pemilihan umum' yang semakin hari mulai kehilangan arti 'umum' di dalam pelaksanaannya, meski proses ini masih penting demi konsolidasi demokrasi.
Dalam submisi Open Column ini, Julia Prabarani menginvestigasi dan mengeksplor segala yang bersangkutan dengan ciu Bekonang—dari sejarah hingga pabrik dan relasi kuasa pemilik modal–tenaga kerja di dalamnya.
Dalam submisi Open Column ini, Bivitri Susanti mengingatkan kita bahwa sebetulnya titik terang dari pelik dan suramnya Pilkada 2024 masih bisa ditemukan berkat tumbangnya para titipan oligarki, dan bagaimana masing-masing dari kita bisa bersama-sama memperjuangkan hak kita sebagai warga.
Dalam submisi Open Column kali ini, Yudhistira menitikkan kembali bagaimana dibakarnya buku Catatan Najwa mengisyaratkan bahwa kita jauh dari kata "aman", hingga merefleksikannya ke kutipan Heinrich Heine yang menjadi semacam premonisi untuk hari ini: "Where they burn books, at the end they also burn people."
In this Open Column submission, Gitasya Ananda Murti wrote a short story that tells of two inmates exploring the profound connections between belief and skepticism, and discovering that the lines separating faith and doubt are not as clear-cut as they once believed.