Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Kadang graffiti dan street art terasa aneh jika dilepaskan dari konteksnya sebagai seni yang dipamerkan di jalanan. Namun tak jarang, ketika graffiti masuk ke galeri sebagai karya seni, ada tantangan baru juga ruang eksplorasi baru bagi seniman juga publik. Darbotz sebagai salah satu seniman graffiti mencoba untuk membawa graffiti keluar dari comfort zone beberapa kali dalam pameran kolektif hingga solo. Kali ini Darbotz kembali mempersembahkan pameran solo bersamaan dengan ulang tahun ke-8 viviyipartspace. Berjudul “Monster in Disguise #2,” pameran ini merupakan kelanjutan dari pamerannya pada tahun 2009 di Singapura. Perjalanan Darbotz dan viviyipartspace pun sudah dimulai sejak 2012 ketika pameran “The Boy Who Became A Monster” mengelaborasikan kesan yang tercipta dari tata letak sebuah karya. Kekuatan Darbotz untuk menciptakan konteks menjadi nilai utama dari karakter graffitinya yang kuat. Kali ini dalam “Monster in Disguise #2,” Darbotz akan kembali memposisikan street art dalam bentuk resin, wood cut, kanvas dan eksperimen medium lainnya. - Pembukaan pameran: 11 Agustus 2016, 18:00 Periode pameran: 11-28 Agustus 2016 Ex GAP Kids Pacific Place, Lantai 3
Buku menjadi salah satu pelengkap imajinasi dan mengarahkan pembacanya untuk menelaah realita yang tercetak di dalamnya. Kekuatan literatur dalam menstimulus pikiran pembaca menjalin hubungan yang lekat antara penulis dan pembaca melahirkan banyak komunitas atau kolektif tulisan yang produktif. Adapun untuk merayakan buku, cinta dan makna yang timbul dari tiap kata, sebuah Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) kembali hadir pada 26 – 30 Oktober mendatang di kota Ubud. Mengangkat tema Tat Tvam Asi, sebuah filosofi Hindu dari abad ke-6 yang berarti ‘Kita semua satu’, ajang melting pot ini ingin menekankan latar belakang identitas bangsa Indonesia yang kompleks dan kaya akan budaya di antara negara-negara di dunia. UWRF akan diisi oleh rangkaian acara selama lima hari yang berupa panel-panel diskusi, workshop, acara khusus menikmati hidangan bersama penulis, tur kuliner, adu puisi, pameran seni, pemutaran film, peluncuran buku, dan banyak lainnya. Adapun bintang yang akan mengisi acara tahun ini tak lepas dari Eka Kurniawan dan Seno Gumira Ajidarma yang akan berbagi pengalamannya di dunia sastra yang erat kaitannya dengan medium alternatif ketika fakta dalam media massa tak lagi bisa diungkap. Ratih Kumala dan Iswadi Pratama pun akan hadir untuk membahas bagaimana interpretasi dan saduran naskah tertulis dalam sebuah pentas teater. Selain itu, UWRF dengan bangga mengumumkan kehadiran penulis-penulis terbaik dunia yang telah memenangkan penghargaan, yaitu Charlotte Wood, pemenang Stella Prize 2016, Hanya Yanagihara, novelis asal Amerika yang sempat mendapatkan nominasi The Man Booker Prize in 2015, Juan Pablo Villalobos, penulis yang pernah memenangkan The Guardian First Book Award Mexican, dan dari negara tetangga, Amanda Lee Koe, pemenang 2016 Singaporean Book Award. Tema Tat Tvam Asi yang mengeksplorasi ketiadaan suatu batas di dunia ini juga turut dibahas oleh Suki Kim, jurnalis investigasi keturunan korea yang berasal dari Amerika yang akan menceritakan hidupnya dalam penyamaran di Korea Utara. Lalu Stan Grant, jurnalis dan koresponden mancanegara yang baru saja menyelesaikan bukunya “Talking to My Country” juga akan bicara tentang fakta yang dialami nenek moyangnya; suku Aborigin di Australia. Anastasia Lin, Miss Canada 2015 dan pegiat hak asasi manusia pun akan melengkapinya dengan sudut pandang mengenai batasan dalam suatu bangsa. - Informasi Tiket dan Acara: 26 – 30 Oktober 2016 Lokasi: Beberapa tempat di sekitar Ubud, Bali, dengan program-program utama yang dipusatkan di Jalan Raya Sanggingan. Tiket Early Bird bisa dibeli mulai tanggal 27 Juli 2016 di
Tahun 2000an adalah tahun yang unik. Jika di Indonesia terjadi dinamika pasca reformasi, di luar sana juga terjadi berbagai hal menarik. Mulai dari perayaan milenium baru, pengangkatan George W. Bush sebagai presiden Amerika, pengeboman gedung WTC, terpilih kembalinya George W. Bush sebagai presiden, juga meledaknya sosial media myspace, beserta band-band emo/pop punk yang menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Melalui acara Sugar, We're Going Down Singing!, kolektif zine Sobat Indie bersama We Hum Collective mengajak kita mengunjungi kembali masa-masa itu dalam suasana karaoke bersama yang seru. Bertempat di Mondo by The Rooftop, di hari Sabtu, 23 Juli 2016 ini, mari bernyanyi bersama. -- “Being grown up isn’t half as fun as growing up. These are the best days of our lives.” (“In This Diary”, The Ataris, 2003) Untuk generasi kelahiran akhir 1980-an hingga awal 1990-an, emo adalah sebuah term yang sangat familiar di telinga kita. Emo bahkan adalah sebuah fase yang pernah dilewati oleh hampir seluruh remaja di generasi tersebut. Third wave emo muncul pada kami di momen yang tepat, momen di mana kami, para remaja yang belum dewasa, mencoba untuk dewasa dengan memahami dan mempertanyakan ketidak-dewasaan kami. Emo was our grunge, sadness was our manifesto and Carabba was our Cobain. Tidak bisa dipungkiri, Emo was a memorable phase, sebuah fase Myspace yang memalukan secara visual, menyedihkan, namun juga sebuah fase di mana kita pernah begitu memuja lirik yang cheesy, merasa cuma musik yang bisa mengerti apa yang kita rasakan, fase di mana kita menyanyi tulus dari hati karena simply “Lagu ini gue banget!” Lewat Sugar We’re Going Down Singing! kami hendak membawa sebuah generasi yang pernah merasakan fase yang sama untuk reminiscence back to the sad yet good old days. Melalui karaoke, sebuah aktivitas yang kami percaya begitu sederhana namun komunal, ijinkan kami membawa kalian kembali ke momen di mana kalian pertama kali merasakan sakit hati, jatuh cinta dan kehilangan. #SOBATHUMMING present SUGAR WE’RE GOING DOWN! An open mic karaoke night for early 2000’s emo and poppunk bands. with Yudhis Tira [Vague] and Ditto Pradwito [Barefood] as DJs Saturday, 23 July 2016, from 6 PM. At Mondo by the Rooftop, Rossi Musik, Jln. Fatmawati Raya no. 30, Jakarta Free entry for all! FB page: http://bit.ly/SobatHumming Twitter: @sobatindi3 @wehumcollective #SobatHumming #EmoNightJKT
Walau telah meninggalkan dunia pada tahun 2014 lalu, Priyanto Sunarto atau biasa dipanggil Pri S.; seorang perupa yang dikenal di kalangan desain grafis Indonesia, tetap mempengaruhi perkembangan desain sampai sekarang. Pengajar yang telah mendedikasikan hidupnya selama beberapa dekade di FSRD ITB ini menjadi pemersatu skena seni rupa antara Yogyakarta dan Bandung dengan keliatannya dalam membaca suasana dan kreativitas yang cair. Sayangnya, kesenjangan yang dulu dapat dihilangkan oleh Pri S. kini muncul kembali justru di dalam skena lokal. Untuk mengingat peran Pri S., Desain Grafis Indonesia (DGI) berupaya menghadirkan kembali sosok Pri S. melalui catatan dan uraian gagasan beliau dalam sebuah buku berjudul “Pri S.: Serumpun Tulisan” untuk para desainer muda sekaligus nostalgia para desainer kawakan yang pernah bekerja sama maupun menjadikannya panutan. Sebagai sebuah tribut, DGI bekerja sama dengan Selasar Sunaryo Art Space untuk menghadirkan karya-karya beliau yang beragam mediumnya yang dihadirkan dalam pameran karya dan arsip Priyanto Sunarto. Dalam rangkaian acara ini, DGI juga mengadakan bedah buku serta diskusi mengenai seni rupa Indonesia 1970-an dengan deretan panel pembicara yang ahli pada bidangnya. "Pri S.: Sepilihan Karya dan Arsip" Diselenggarakan pada: 22 Juli - 14 Agustus 2016 Kurator: Chabib Duta Hapsoro Selasar Sunaryo Art Space Jalan Bukit Pakar Timur No. 100 Bandung 22 Juli 2016 19.00 WIB - selesai Pembukaan oleh A.D. Pirous - "Pri S.: Serumpun Tulisan" 29 Juli 2016 15.00 - 17.00 WIB Ismiaji Cahyono (Desain Grafis Indonesia) Vera Rosana (Detego Studio) Triyadi Guntur (FSRD ITB) Riama Maslan (FSRD ITB) Arief Adityawan - "Priyanto Sunarto dan Seni Rupa Indonesia 1970-an" 5 Agustus 2016 15.00 - 17.00 WIB Jim Supangkat (kurator seni rupa senior, salah satu eksponen GSRB) Bambang Bujono (kritikus seni rupa) Aminudin TH Siregar (Direktur Galeri Soemardja & sejarawan seni rupa) Chabib Duta Hapsoro
Musik menjadi salah satu alat untuk membuat seseorang menemukan dirinya yang terdalam. Bernafaskan beberapa elemen yang membangun sebuah musik menjadi sebuah suguhan manusiawi lengkap dengan rasa dan karsa, mereka yang lihai dalam bermusik memiliki sensibilitas yang tinggi. Adalah Efek Rumah Kaca (ERK), sebuah unit lokal yang perlahan menjadi penggerak batin dan aksi publik dalam beberapa tahun ini melalui lirik kuat dan vokal lirih akan situasi Indonesia. Setelah merilis album terbarunya “Sinestesia” beberapa bulan lalu, Cholil dan kawan-kawan sekali lagi membawa musik merakyat dengan mengajak kontribusi publik dalam memproduksi sebuah visual untuk melengkapi salah satu lagu dalam album tersebut, yaitu “Biru.” Di sini, ERK bekerja sama dengan kolektif berbasis di Jakarta, Cut and Rescue yang dikenal sporadis dan eksperimental dalam mengolah ide menjadi karya seni menggunakan perspektif modern akan konsep audiovisual. Lintas medium menjadi poin yang ditekankan dalam proyek ini. Publik diminta untuk memberikan sebuah interpretasi personal akan musik yang telah diciptakan ERK ke dalam bentuk video dengan konsep bebas dan seliar mungkin. Video bisa merupakan interpretasi tentang warna biru atau tentang dua bagian lagu “Biru” (Pasar Bisa Diciptakan, Cipta Bisa Dipasarkan). Dengan memberi batas waktu unggahan video sampai tanggal 30 Juni 2016, siapapun dapat berpartisipasi dalam projek klip video ini dengan cara mengunggah video berdurasi 5 hingga 15 detik di Instagram dengan menggunakan tagar #klipERKbiru #erkXcutandrescue atau mengirimkan file video tersebut ke .
Pameran biasa dibuat untuk dijadikan ajang untuk menunjukkan hasil karya seniman serta menikmati seni dan unjuk gigi dalam menganalisis karya dengan referensi masing-masing. Tak jarang, saat berkunjung ke galeri pun ada rasa riang bisa mendapat background atau konten foto yang pas untuk Instagram ataupun bertemu dengan kurator muda untuk tukar pikiran. Tapi semua hal di atas beda kesannya saat mengunjungi pembukaan pameran “Ruang Tunggu” di Edwin’s Gallery yang memiliki konsep unik. Diundang dengan poster di media sosial yang mengatakan kalau pameran ini mengajak publik untuk mencari kegiatan yang asyik selain main handphone saat menunggu, sebuah pancingan yang menggelitik rasa penasaran. Apalagi seniman yang diajak dikenal memakai medium beragam dalam berkarya. Kejutan datang bertubi-tubi saat pembukaan, karena publik diajak masuk ke dalam ruang pameran yang kosong. Sesaat terpikir kalau pengunjung memang diajak menunggu untuk sebuah pertunjukan seni di tengah ruangan berdinding putih. Tapi tak lama, para seniman, Ardi Gunawan, Lala Bohang, Emte, Ari Dina Krestiawan, Azer dan Vera Lestafa bersama-sama pengunjung mendokumentasikan ekspresi dan momen pameran yang hanya digelar satu malam itu. Ada nyinyir dan ironi dalam pameran ini. Handphone yang di media publikasi disarankan untuk tidak digunakan, justru mengisi kekosongan waktu dan ekspektasi publik yang datang ke pameran. Tak perlu waktu lama untuk menunggu satu per satu handphone terangkat untuk berfoto atau chatting mengabari teman bahwa pameran ini sungguh aneh. Konsep pameran yang memiliki periode semalam saja ini secara tidak langsung menyinggung budaya pembukaan pameran yang biasa dituju orang untuk sekadar bersosialisasi dan melupakan karya seni yang tersortir dan terpampang di dinding galeri. Nyatanya, memang selama ini apa yang ditawarkan di luar galeri saat malam pembukaan justru menarik massa lebih banyak, mulai dari beberapa band hingga kudapan dan minuman yang terus dihidangkan hingga tengah malam. Tapi khusus malam itu, galeri disulap jadi ruang peristiwa dan pengunjung menjadi objek sekaligus subjek seni, serta seniman berperan sebagai moderator akan pameran disposable. Pembukaan pameran telah menjadi inti acara, dalam arti seutuhnya. Kejutan terakhir membuat pengunjung menunggu lebih lama lagi. Ternyata karya memang sudah disiapkan, namun pengunjung harus menunggu karena seniman akan mengirimkan karyanya melalui paket yang akan dikirim dalam estimasi waktu 7 hari yang tentu membuat kami tak sabar melihat seperti apa dimensi karya yang akan kami terima. Walau tidak bisa melihat instalasi Ardi Gunawan akan barang di sekitar area galeri atau gambar-gambar estetik di dalam galeri, pameran ini memberikan rona baru akan eksklusifitas karya seni yang biasanya hanya bisa disentuh oleh kolektor. Pameran ini mungkin sebenarnya masih berlangsung sampai karya tersebut jatuh di tangan kami. Karena sampai sekarang kami, masih menunggu. Mungkin ini tantangannya untuk membuat fase menunggu ini jadi lebih menarik. Foto oleh Panji Purnama Putra
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.