Backstage Life Bareng Grrrl Gang di Episode Kelima Vindy Ngapain?
Tahun ini Grrrl Gang mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu line up di We The Fest 2019, dan Vindy diperbolehkan untuk mengikuti aktivitas mereka.
Tahun ini, acara biennale boneka sampai pada gelaran ke lima. Sebagai penggagas sekaligus penggerak acara, Papermoon Puppet Theater terus konsisten dalam misi menumbuhkan budaya tutur dan cerita melalui medium boneka. Masih dengan semangat swadaya, rencananya tahun ini Pesta Boneka akan dilangsungkan akhir tahun dengan konsep acara yang semakin mendekatkan diri pada publik umum. Dan, untuk mendukung berjalannya misi mulia ini, Papermoon Puppet Theater bekerja sama dengan Edwin's Gallery menggelar "The New Version : Secangkir Kopi dari Playa", penggalangan dana sekaligus pameran karya. Bertempat di Edwin's Gallery, Kemang Raya No.21, dimainkan kembali lakon Setjangkir Kopi Dari Plaja. Memang, bukan cerita baru yang dimainkan disini - Setjangkir Kopi Dari Plaja telah dimainkan lima kali pada berbagai tempat berbeda, namun layaknya hikayat abadi lainnya, kisah ini terus hidup dan selalu mampu menemukan tempatnya di relung hati penontonnya. Dan ini bukan tanpa alasan, beberapa detil ditambahkan, sesuai cerita baru yang didapatkan Ria dan Iwan dari tokoh yang menjadi inspirasi kisah ini. Dengan bekal itu, ruangan Edwin's Gallery dibuat hangat, sebelum berubah temaram dan diakhiri oleh sendu pada gerak-gerik Pak Wi - sapaan akrab dari Widodo Suwardjo beserta sang kekasih, tokoh utama kisah ini. Dan, tepat ketika sang kekasih menundukkan muka pada akhir cerita, Papermoon Puppet selalu berhasil menemukan celah untuk menyentuh benak pemirsanya, tak peduli apakah mereka awam atau kawakan dengan cerita ini. Penghargaan tinggi juga tercurahkan pada Ria beserta tim puppeteer yang selalu mampu menempatkan jiwa pada setiap gestur tokoh yang mereka mainkan. Pentas Setjangkir Kopi dari Plaja dimainkan 5-7 Oktober 2016 pada jam 6 dan 8 malam, serta 8-9 october 2016 pada pukul 3 sore dan 7 malam dengan tiket seharga Rp. 300.000, dikabarkan tiket telah terjual habis hingga show tambahannya. Namun, kesempatan terbuka untuk mengunjungi pameran set dan pameran karya Iwan Effendi yang bisa dikunjungi kapanpun. Tersedia pula merchandise booth Papermoon Puppet serta beberapa pilihan donasi untuk ikut merayakan Pesta Boneka #5. Long live Pak Wi, long live Papermoon Puppet Theater!
Whiteboard Journal kembali membuka program internship bagi individu berkemauan keras dan memiliki terhadap dunia kreatif dan sekitarnya. Selama menjadi intern, beragam departemen dalam Whiteboard Journal akan menjadi keseharian, mulai dari editorial hingga marketing yang mengolah data untuk konten situs kami. Intern juga akan mendapat proyek khusus yang didesain untuk mendorong kreativitas dalam mengolah sebuah konten di bawah supervisi Whiteboard Journal. Ini merupakan kesempatan untuk menunjukkan potensi dalam mengonsepkan sebuah ide dan mendapat platform untuk menunjukkannya langsung ke publik. Jika tertarik, dengan judul email . Untuk info lebih lanjut, silahkan kirim ke pertanyaan ke email yang sama. Syarat: - Tinggal di Jakarta, karena kantor kami terletak di Kemang - Bisa dan bersedia menjadi intern full-time, 5 hari seminggu - Memiliki kemampuan berbahasa Inggris dan Indonesia - Memiliki ketertarikan terhadap beragam hal, mulai seni, desain, musik, fashion, kultur bahkan sosio ekonomi - Memiliki pengetahuan luas dan keinginan untuk terus belajar - Memiliki skill Photoshop menjadi nilai lebih!
Train to Busan adalah film yang sangat menghibur. Dengan cerita yang berpusat kepada penumpang-penumpang kereta yang berusaha untuk melarikan diri dari epidemic virus zombie, hasil karya sutradara Yeon Sang-ho ini patut dipuji, terutama karena ia mengambil sebuah tema (zombie) yang sudah cukup sering diangkat, namun membuatnya menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan untuk ditonton tanpa perubahan signifikan pada formula jenis film ini. Seperti film zombie lainnya, kisah Train to Busan berkisah mengenai bagaimana karakter-karakternya bisa bertahan hidup dan meloloskan diri dari malapetaka yang selalu mengejar mereka. Salah satu elemen yang membuat film ini seru adalah zombienya, tidak seperti zombie di film lain, disini mereka bisa berlari dan bergerak dengan cepat. Ketegangan di film zombie biasanya datang dari rasa paranoia pada monster-monster yang secara pelan mengejar tokoh utama - membangun sebuah atmosfir yang pelan-pelan tumbuh di kepala penonton sembari filmnya berlangsung. Dengan zombie yang bergerak sangat cepat dan berbondong-bondong, Train to Busan membuat setiap adegan melarikan diri seperti layaknya film action - tegang dan penuh adrenalin. Tentunya, film ini tidak hanya menawarkan adegan action yang bertubi-tubi. Yeon Sang-ho memberi waktu istirahat dari adegan-adegan tegang serta memajukan plotnya melalui interaksi dan drama antar karakter. Seperti hubungan antar bapak dan anak, pasangan muda, dan hubungan antar karakter lain yang berkumpul dalam usaha melawan zombie. Meskipun adegan drama berhasil memberi ruang untuk istrahat dari dan juga mengamplifikasi bagian serunya, adegan tersebut kadang terasa berlebihan. Pesan-pesan moral klise tentang persahabatan, loyalitas, dan gotong royong yang menyolok dan memancing emosi penonton terasa terlalu dipaksakan. Sebelum Train to Busan, Yeon Sang-ho telah menyutradarai sejumlah film animasi, dan mungkin adegan drama yang pantas melalui animasi tidak berhasil diterjemahkan dengan baik pada film live-actionnya. Tetapi secara keseluruhan, Train to Busan adalah film menyenangkan yang patut ditonton jika anda mencari film action yang menghibur. Suksesnya sudah terbukti dengan gosip bahwa akan ada sebuah sequel atau prequel yang akan menyusul di waktu yang dekat. Train to Busan (2016) Sutradara: Yeon Sang-ho Sinopsis:
Dari renungan mengenai pengalaman perempuan di keseharian Jakarta, analisa mengenai cara video game berkomunikasi, cerita pendek tentang harimau dan pasangan, section Column Whiteboard Journal adalah rumah untuk berbagai bentuk esai dan tulisan kreatif. Kami senang bisa membaca dan memahami perspektif yang berbeda, serta memperkaya bahasan yang ada. Kami ingin mengajak Anda, pembaca kami, untuk berbagi tulisan Anda dengan kami. Format artikel kami serahkan kepada Anda - kirim tulisan seputar topik yang Anda minati. Kami akan membaca setiap esai, dan tim editorial kami akan memilih artikel yang akan dipublikasikan di website kami setiap minggunya. Kami berharap untuk bisa segera membaca tulisan-tulisan Anda! - Ketentuan jumlah kata Esai dan Creative Writing 800 - 2000 kata. - Kami terbuka jika pada format diluar artikel esai dan creative writing (foto esai dan semacamnya). - Submisi bisa dalam bahasa Indonesia atau Inggris. - Email karya Anda ke info@whiteboardjournal.com dengan subject: OPEN COLUMN - Sertakan foto diri dan biografi singkat dengan submisi Anda (Jika Column Anda terpilih, kami akan mencantumkan profil Anda) - Tiap orang bisa mengirim lebih dari satu submisi. - Selamat menulis! -- From ruminations on the experiences of women in Indonesia’s capital city, analysis of the video game language, to short stories about a tiger and a couple, Whiteboard Journal’s Column has made itself home to a diverse range of essays and creative writing. We love learning new subjects and understanding different perspectives, so to further diversify our content we would like to invite you, our readers, to share your writings with us. The subject of the essays are entirely up to you, so send us writings on topics that interest you, and be sure to give your personal take on the subject. Past Columns have housed topics ranging from music, art, literature, politics, travelling, to video games, food, and environmental issues. We will read every essay, and every month, our editorial team will select a submission to be published on our website and promoted via our social media. Published writers will also receive a goodie bag courtesy of Whiteboard Journal’s team. We hope to read your writings soon! - Submission should be in Bahasa Indonesia or English. - Essay or Creative Writing should be 800 – 2000 words in length. - We are open to different formats (example: Photo Essay) - Email your writing to INFO@whiteboardjournal.com with the subject: OPEN COLUMN - Include a photograph of yourself and a short bio in the email (If your Open Column is selected, we will feature your profile in the article). - Multiple submissions are accepted. - Have fun!
Tak banyak yang tersisa dari Parc - kelab malam yang melegenda di awal 2000an berkat gig musik yang diadakan disana - gedungnya di Kebayoran Baru pun telah berganti fungsi, meninggalkan reruntuhan kebisingan serta keceriaan yang pernah terjadi disana. Tapi satu hal terus hidup hingga nyaris dua dekade kemudian, bahkan tanpa eksistensi bangunannya, adalah tawa dan cerita yang membekas dalam di setiap kepala yang pernah ada di dalamnya. Fadhila Jayamahendra alias Aca, vokalis band hardcore veteran Straight Answer adalah salah satu sosok yang pernah menjadi bagian dari sejarah yang tercipta di Parc. Disebutkan bahwa Thusrday Riot berhutang banyak pada Aca yang selalu aktif dalam membantu berjalannya acara hingga kompilasi musik yang terjadi disana. Tak lama setelah mendengar berita mengenai Aca yang jatuh sakit, teman-teman lamanya di Parc berkumpul kembali untuk mengumpulkan donasi bagi biaya pengobatan Aca yang terakhir dikabarkan siuman dan telah mampu berkomunikasi kembali ini. Bersama Rururadio, Thusrday Riot Family menggalang dana untuk Aca lewat penampilan musik, yardsale, dan lelang pada Kamis (29/9) mulai pukul 17.00 WIB di Gudang Sarinah Ekosistem, Jakarta. Berjudul “For the Love of Aca Straight Answer”, akan tampil Superglad, The Adams, Harlan, Bequiet, Indische Party dan Loco9trio yang terdiri dari Aat, David Tarigan, dan Alvin Yunata. Akan ada pula penampilan pertama teman lama Thusrday Riot Family, Sir Dandy sekembalinya dari Eropa. Harga tiket donasi Thusrday Riot Family and Rururadio, for the Love of Aca ditetapkan Rp 25 ribu dan dapat dibeli langsung pada hari H di lokasi acara. Selain donasi pintu masuk, metode sumbangan lainnya juga dilakukan lewat lelang, belanja di yardsale, serta pembelian kaus Riot dan Seringai.
Gitar adalah instrumen yang sangat mempengaruhi suara dan gaya musik pada abad ke 20 dan 21. Dari petikan jazz Charlie Christian, suara yang dipakai Jimi Hendrix, sampai permainan gitar agresif dan penuh distorsi dari Youth of Today, gitar, khususnya gitar listrik, menawarkan pembaharuan pada warna musik, membentuk musik populer yang kita nikmati hingga hari ini. Salah satu inovasi yang datang bersama instrumen ini adalah pedal efek. adalah beberapa jenis pedal yang menambah warna dan karakter kepada suara gitar, dan di era sekarang sudah menjadi aksesoris umum bagi musisi, baik untuk yang sering pentas di atas panggung atau yang lebih gemar bermain di rumah. Karakter gitar yang sempurna adalah suara yang dicari oleh banyak gitaris, dan meskipun tone yang bagus adalah hal yang subjektif, ada banyak hal-hal teknis seputar gitar dan pedal yang patut dimengerti oleh pemainnya. Salah satu sumber pengetahuan gitar listrik yang sangat menarik adalah That Pedal Show, acara reguler yang bisa ditonton di Youtube. Bersama 2 reguler yakni Daniel Steinhardt, salah satu penemu perusahaan TheGigRig yang membantu gitaris menemukan gitar yang mereka cari melalui konsultasi dan beberapa produk rilisan mereka, dan Mick Taylor, gitaris profesional, jurnalis musik dan mantan editor-in-chief Guitarist Magazine, That Pedal Show menelusuri dan menjelaskan berbagai macam amplifier, pedal, dan gitar di setiap episode. Biasanya, satu episode That Pedal Show akan membahas satu jenis suara, misalnya pedal modulasi, dan mereka akan menelusuri berbagai pedal modulasi. Sembari mencoba pedal-pedalnya, mereka menjelaskan bagaimana jenis gitar, , pedal dan ampli berinteraksi sehingga membuat karakter unik pada permainan gitar. Percakapan mereka seputar hal teknis sangat menarik bagi musisi atau yang ingin mendalami pedal dan gitar. Selain itu, Daniel dan Mick selalu bisa menyelipkan candaan diantara penjelasannya, sehingga tiap episode yang berdurasi 20 menit terasa ringan namun tetap berisi. That Pedal Show memperbaharui acara mereka secara reguler dan bisa ditonton di tautan berikut: That Pedal Show on Youtube
Temukan siapa dirimu dan bagaimana karaktermu menentukan arah masa depan.